Pada Akhirnya Aku Menyerah

Pada Akhirnya Aku Menyerah
LAMARAN GERAL


__ADS_3

" Memangnya apa keinginanmu?" Tanya Ruhi menatap Geral.


" Aku ingin kau menjadi istriku."


Jeduarrrrr...


Ruhi melongo membulatkan matanya dan membuka sedikit mulutnya.


" Bagaimana? Apa kau mau menikah denganku?" Tanya Geral membuat Ruhi sadar.


" Sepertinya kau sudah gila Kak. Kalau tahu maaf darimu semahal ini, aku tidak akan meminta maaf padamu." Ucap Ruhi.


" Enak aja mau jadiin aku istrinya dalam sekejap, Hans saja harus menunggu selama ini belum aku kasih jawaban." Gerutu Ruhi.


" Kau tidak bisa menolaknya Ruhi, karena.....


" Aku harus pulang Kak! Aku tidak mau membuang waktuku untuk mendengar ucapan konyolmu itu." Ucap Ruhi beranjak.


Ruhi mulai melangkah namun ucapan Geral menghentikannya.


" Kalau begitu aku akan membawa adikku pulang ke rumah sekarang juga."


Ruhi membalikkan badannya menatap Geral yang saat ini tersenyum smirk kepadanya.


" Apa maksudmu?" Tanya Ruhi kembali duduk di tempatnya.


" Kalau kau tidak mau menikah denganku, maka aku akan menggunakan kemarahan Danesha untuk meninggalkan Leon. Gimana? Cukup menarik bukan penawaranku? Kau akan tahu bagaimana hidup Leon selanjutnya tanpa adikku." Ucap Geral.


" Sial!!" Umpat Ruhi.


Ruhi menatap Geral.


" Aku tidak menyangka ternyata kau seperti para pria lainnya yang sangat senang memeras orang lain." Ujar Ruhi.


" Semua adil dalam cinta dan perang Ruhi." Sahut Geral.


" Cinta yang mana?" Tanya Ruhi.


" Tidak ada cinta yang memaksakan kehendaknya. Cinta sejati saja mampu merelakan orang yang kita cintai bahagia bersama yang lainnya." Ujar Ruhi.


" Itu bukan cinta sejati, tapi bodoh namanya. Cinta sejati itu dimana seseorang berusaha keras memperjuangkan orang yang kita cinta sampai menjadi miliknya." Ucap Geral.


" Hah terserahlah. Aku pikir dengan menemuimu aku akan merasa tenang. Tapi malah sebaliknya, aku merasa semakin stress saja." Ucap Ruhi membuat Geral tersenyum.


" Penuhi keinginanku maka kau akan bahagia hidup bersamaku." Ucap Geral.


" Tidak mau!" Ucap Ruhi cepat.


" Pernikahan itu bukan buat main main Kak. Pernikahan juga tidak bisa di paksakan. Kalau pernikahan itu di paksakan, yang ada kita tidak akan bahagia." Sambung Ruhi mencoba menolak dengan halus.


" Bahagia atau tidak tergantung bagaimana kita menyikapinya Ruhi. Kalau kau membuatnya bahagia maka pernikahan kita akan bahagia, tapi sebaliknya. Kalau kau menganggapnya sebagai penderitaan maka kau akan hidup menderita." Sahut Geral.


" Tapi Kak umur kita terpaut jauh, aku masih dua puluh dua tahun sedangkan kau.... " Ruhi menjeda ucapannya.


" Tiga puluh tahun, baru terpaut delapan tahun bukan lima belas tahun." Sahut Geral.


" Tapi aku ingin menikah dengan pria yang masih muda seumuran denganku. Aku...


" Apa aku terlihat tua di matamu? Bagian mana yang kau anggap tua itu? Mata? Hidung? Pipi? Atau bagian bawahku?" Tanya Geral membuat Ruhi melotot.

__ADS_1


Jika di lihat dengan seksama memang Geral tidak terlihat tua karena ia memiliki wajah babby face.


" Bahkan aku terlihat seperti pria berumur dua puluh tiga tahun." Sambung Geral.


Ruhi menghela nafasnya pelan. Ia tidak bisa lagi menghindar dari keinginan Geral.


" Mau alasan apa lagi?" Tanya Geral menatap Ruhi.


" Aku.. Aku..


" Terima kasih telah menerimaku sebagai calon suamimu. Aku akan segera mengurus pernikahan kita." Ucap Geral.


" Hei.. Apa apaan kau ini? Aku tidak bilang seperti itu Kak. Kau jangan asal mengambil keputusan sendiri seperti itu! Ini menyangkut kehidupanku juga Kak." Ujar Ruhi tidak terima.


" Kau terlalu lama berpikir untuk mencari alasan, terima saja takdir yang telah Tuhan tentukan untukmu. Anggap saja aku adalah jodoh yang Tuhan kirimkan untukmu." Ucap Geral.


Ruhi menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Ia menghirup nafasnya dalam dalam. Ia memijat pelipisnya berharap pusingnya akan berkurang.


" Deal?"


Ruhi menatap Geral dengan tatapan entah. Tanpa mempedulikan Geral, Ruhi beranjak meninggalkan Geral begitu saja. Geral menatapnya sambil tersenyum simpul.


" Aku mendapatkanmu Ruhi. Entah mengapa aku ingin sekali memilikimu. Aku melihatmu berbeda dengan wanita lainnya. Aku harap aku bisa hidup bahagia bersamamu." Gumam Geral.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jam tujuh malam Danesha dan Ruhi menyiapkan makan malam. Danesha memang belum pandai memasak, namun dengan telaten Ruhi mengajarinya. Mereka memasak rica rica ayam dan rendang sapi.


" Sudah selesai Kak, rasanya juga enak." Ucap Ruhi mencicipinya.


" Syukurlah, terima kasih telah membantuku." Ucap Danesha.


Mereka menata makanannya di meja makan. Tak lama Leon datang menghampiri mereka.


" Malam sayang." Ucap Leon menatap Danesha.


" Hmm." Sahut Danesha bergumam saja.


" Ambilkan aku makan donk!" Ucap Leon duduk di kursinya.


Mau tak mau Danesha pun mengambilkannya lau menyajikannya di depan Leon.


" Kamu harus makan yang banyak sayang, biar kamu dan debaynya sehat." Ucap Leon menatap Danesha.


Danesha memutar bola matanya malas. Berbeda dengan Ruhi yang terlihat tercengang.


" Debay? Jadi Kak Dane hamil?" Tanya Ruhi memastikan.


" Jangan berpikir buruk tentangku Ruhi! Aku hamil anak kakakmu." Ucap Danesha.


" Ah iya Kak, tapi bukan itu maksudku. Aku hanya terkejut saja, ternyata aku mau punya ponakan." Ujar Ruhi.


" Makanya jaga kakak ipar dan keponakanmu dengan baik saat Kakak tidak ada di rumah." Ucap Leon.


" Siap Kak." Sahut Ruhi.


" Selamat ya kak, semoga Kakak dan debaynya selalu sehat." Ucap Ruhi menatap Danesha.


" Amin... Terima kasih Ruhi." Ucap Danesha.

__ADS_1


Mereka melanjutkan maka sampai Geral datang menghampiri mereka semua.


" Malam." Ucap Geral.


Ruhi mendongak menatap Geral.


" Ngapain lagi si perusuh datang ke sini? Menghilangkan selera makanku saja." Batin Ruhi.


" Kakak, kenapa Kakak datang kemari? Bukankah aku bilang akan menemuimu besok pagi?" Tanya Danesha menatap Geral.


" Kakak ada perlu sama Leon, itu sebabnya Kakak kemari." Sahut Geral.


Danesha menatap Leon lalu kembali menatap Geral.


" Silahkan duduk!" Ucap Leon.


" Ruhi, layani tamu kita. Ambilkan makanan untuk Kakak ipar." Titah Leon.


Ruhi melakukan apa yang Leon perintahkan. Geral tersenyum menatap Ruhi, sebenarnya ia sudah makan malam tapi demi bisa menikmati makanan yang di ambilkan oleh Ruhi, ia diam saja.


" Apa ini cukup?" Tanya Ruhi.


" Sudah cukup, terima kasih." Ucap Geral.


" Hmm." Gumam Ruhi kembali ke kursinya.


Dnaesha dan Leon dapat menangkap ada yang aneh di sini.


" Ada perlu apa sehingga malam malam kau datang kemari Kakak ipar?" Tanya Leon menatap Geral.


" Aku datang untuk melamar Ruhi."


Uhuk... uhuk... uhuk..


Ruhi tersedak makanannya, Geral segera memberikan segelas air putih untuknya. Ruhi meminumnya sampai tandas.


" Bukan apa apa Leon, aku ingin menjaga nama baik keluarga kalian atas insiden tadi pagi. Aku juga sudah membicarakan ini dengan Ruhi sebelumnya, dan Ruhi menerimanya." Ucap Geral melirik Ruhi.


" Aku.. " Ruhi melirik ke arah Geral. Ia teringat ancaman yang Geral katakan.


" Kamu apa Ruhi?" Tanya Leon.


Ruhi tidak bergeming, ia bingung dalam mengambil keputusan. Di sisi lain ia tidak mau menikah dengan Geral, tapi di sisi lain ia tidak mau Leon kehilangan Danesha. Apalagi Leon terlihat begitu mencintai Danesha. Jika melawan Geral, keluarga Ruhi bukan tandingannya.


" Katakan saja jangan takut! Selama ini Kakak tahu kalau kamu tidak tertarik pada pria manapun. Jangan karena kejadian tadi kau jadi menerima pernikahan ini dengan terpaksa. Lagian kalian tidak melakukan apa apa kan? Jadi tidak perlu ragu ataupun malu. Kesalah pahaman ini sudah teratasi. Tidak ada satu anggota keluarga kita yang malu." Ucap Leon.


" Katakan Ruhi supaya kakakmu tidak khawatir." Ucap Geral.


" Aku.....


Kira kira berani nolak nggak nih?


Mohon maaf untuk semua readers di mohon untuk tidak meminta permintaan update ya karena bisa menurunkan popularitas Author dan karya. Author usahakan update satu bab setiap hari. Hanya saja waktunya yang tidak tentu, tergantung mood author ya... Mohon pengertiannya...


Terima kasih...


Miss U All...


TBC...

__ADS_1


__ADS_2