
Pagi hari Ruhi mengerjapkan matanya. Ia menoleh ke samping lalu..
Deg deg deg...
Jantungnya berdetak sangat kencang saat wajahnya begitu dekat dengan wajah Geral. Ia menatap tangan Geral yang melingkar di perutnya. Tanpa ia sadari ia mengembangkan senyuman di sudut bibirnya.
" Aku tidak menyangka kalau hari ini statusku berubah menjadi seorang istri. Seorang istri yang harus siap melayani suami dengan baik." Ucap Ruhi terkekeh.
" Sebelum melayani urusan lain, lebih baik melayani urusan ranjang dulu. Biar suami betah di rumah." Ucap Geral tiba tiba.
" Rupanya kau sudah bangun Kak. Aku akan rugi kalau kamu betah di rumah, yang ada kamu dan aku tidak akan bekerja. Terus kita mau hidup pakai uang siapa Kak? Hidup ini keras, tidak bekerja tidak makan." Sahut Ruhi paham akan ucapan Geral.
" Kau lupa kalau suamimu ini seorang CEO? Aku tidak akan kehabisan uang walaupun aku tidak bekerja selama sepuluh tahun sayang." Ujar Geral menatap Ruhi.
" Sekarang kau memang seorang CEO, tapi satu jam ke depan kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Bagaimana kalau kamu tiba tiba brangkut? Terus jadi miskin nggak punya uang, nggak punya apa apa, terus kita jadi gelandangan deh yang terlunta lunta di jalanan." Ucap Ruhi.
" Astaga doamu Yank! Jangan berdoa seperti itu donk! Berdoalah yang baik baik!" Ucap Geral.
" Bukan berdoa hanya seumpama saja, kita sebagai manusia harus siap dengan apa yang akan Tuhan berikan pada kita. Contohnya pernikahan kita ini. Tidak pernah terpikir olehku jika aku akan menikah dengan pria menyebalkan sepertimu." Ucap Ruhi mengejek Geral.
" Kau bilang aku menyebalkan? Baiklah akan aku tunjukkan bagaimana sikap menyebalkan yang sebenarnya." Ucap Geral beranjak.
Tiba tiba Geral menindih tubuh Ruhi membuat Ruhi terkejut.
" Ma.. Mau apa Kak?" Tanya Ruhi gugup.
" Mau apa saja terserah aku." Sahut Geral.
" Berani macam macam aku tendang kamu!" Ancam Ruhi.
" Kejam sekali, tidak baik bersikap seperti itu kepada suami sendiri." Ucap Geral.
" Maaf." Ucap Ruhi.
Geral tersenyum menatap Ruhi. Ia mengelus wajah Ruhi dengan lembut. Kali ini Ruhi tidak memejamkan matanya, ia juga menatap Geral. Tiba tiba...
Cup...
Ruhi membulatkan matanya dan sedikit membuka mulutnya saat Geral menempelkan bibirnya ke bibir Ruhi. Tidak mau membuang kesempatan, Geral menyusupkan lidahnya ke mulut Ruhi. Ia mengekspos setiap deretan giginya Ruhi. Ia juga mencecap bibir Ruhi dengan lembut membuat Ruhi terbuai dengan kelembutannya.
__ADS_1
Suara decapan memenuhi ruangan kamar mereka, di rasa kehabisan pasokan oksigen, Geral melepas pagutannya. Ruhi menarik baju Geral menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya. Geral terkekeh melihatnya, tanpa sadar ia mencium pucuk kepala Ruhi.
Sadar akan hal itu, Ruhi segera mendorong tubuh Geral ke samping. Ia berlari ke kamar mandi menyembunyikan rasa malunya karena ketahuan menikmati ciuman yang Geral berikan.
" Astaga Ruhi! Kenapa jantungmu berdetak sangat kencang seperti ini? Apa iya aku mulai ada rasa dengan Kak Geral? Tapi bukankah itu kan berita baik. Memang seharusnya aku mencintainya kan." Ujar Ruhi merasa bodoh.
Tidak mau memikirkan terlalu jauh, Ruhi segera mandi. Setelah selesai ia menyiapkan air hangat untuk Geral.
" Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu Kak, kau mandilah! Aku akan menyiapkan baju ganti untukmu." Ucap Ruhi.
" Iya sayang." Sahut Geral masuk ke kamar mandi.
Ruhi masuk ke ruang ganti. Setelah mberganti pakaian, Ruhi membuka kamari milik Geral untuk menyiapkan baju gantinya. Tanpa ragu ia mengambil baju, celana beserta under wearnya. Saat Ruhi menarik kaos, tiba tiba ada yang jatuh dari sana.
Klunting....
Sebuah cincin menggelinding ke lantai keramik. Ruhi segera mengambilnya, ia menatap cincin itu dengan seksama. Ada sebuah nama di balik ukiran cincin itu.
" Sofia." Gumam Ruhi.
" Apa ini cincin pertunangan milik kak Geral? Kenapa dia masih menyimpanya? Apa dia masih menyimpan perasaan untuk wanita masa lalunya? Apa kaka Gerak masih berharap dia kembali? Apa aku hanya menjadi pelariannya saja?" Berbagai pertanyaan muncul di kepala Ruhi.
Geral yang baru saja keluar dari kamar mandi segera menghampiri Ruhi.
" Apa apaan kau Ruhi? Kenapa kau mengambil cincinku hah?" Tanpa sadar Geral merebut cincin itu dari tangan Ruhi.
" Maaf Kak, tadi cincinmu jatuh saat aku mengambil kaosmu. Ini baju gantimu!" Ruhi memberikan pakaian ganti kepada Geral, ia melangkah keluar, sebelum sampai pintu ia menghentikan langkahnya.
" Dan ya, kau jangan khawatir! Aku tidak akan mengambil apa yang bukan milikku, dan aku juga tertarik dengan cincin mahalmu itu." Sindir Ruhi meninggalkan Geral.
Ya Ruhi tahu jelas jika cincin itu lebih mahal daripada cincin kawin yang Geral berikan kepadanya. Namun Ruhi tidak mempermasalahkannya.
Setelah ganti baju, Geral segera menyusul Ruhi di bawah. Ia menghampiri Ruhi yang sedang menyiapkan sarapan.
" Ruhi maaf! Bukan maksudku menyakitimu. Tapi aku memang tidak suka jika cincin itu...
" Tidak perlu memberitahuku apapun! Bukankah aku sudah bilang kalau aku tidak tertarik dengan cincinmu itu? Jadi kau tidak perlu membuang waktumu untuk menjelaskan itu. Sekarang makanlah! Aku harus pergi pagi ini!" Sahut Ruhi memotong ucapan Geral.
Geral menghela nafasnya pelan. Entah mengapa ia merasa Ruhi marah padanya.
__ADS_1
" Kau mau pergi kemana?" Tanya Geral menatap Ruhi.
" Ada latihan ujian di sekolah, dan aku menjadi pengawas di kelas mereka. Aku sudah membatalkan masa cutiku, karena aku tidak akan menggunakannya." Sahut Ruhi.
Ruhi makan dengan khidmat.
" Ruhi, apa kau marah padaku?" Tanya Geral memecahkan kesunyian.
" Tidak ada alasan untuk aku marah padamu Kak. Jangan berprasangka buruk ataupun berpikiran sempit." Sahut Ruhi.
Gerak hanya menganggukkan anggukkan kepalanya saja.
Selesai makan, Geral mengantar Ruhi ke sekolahnya. Sesampainya di sana Ruhi di sambut antusias oleh para murid muridnya terutama murid cowok.
" Miss Ruhi, aku sangat senang kau menjadi pengawas di kelasku. Tapi jangan salahkan jika nilaiku jelek nantinya." Ujar Galang, salah satu muridnya.
" Kenapa bisa begitu?" Tanya Ruhi.
" Kamu harus mendapat nilai terbaik donk!" Sambung Ruhi.
" Karena aku tidak bisa konsentrasi setelah melihat wajah cantikmu." Sahut Galang membuat teman temannya tertawa.
" I Miss you miss Ruhita." Teriak Galang membuat Ruhi menggelengkan kepalanya.
" Ayo Miss Ruhi! Aku antar ke ruanganmu." Galang menggandeng tangan Ruhi menuju ke kantor guru.
" Cie cie.... Cocok tuh." Teriakan murid murid yang lainnya.
" Tinggal nunggu lulus terus langsung tarik ke KUA deh."
Geral yang melihatnya dari dalam mobil mengepalkan erat tangannya. Ia merasa terbakar api cemburu melihat kedekatan Ruhi dengan murid murid prianya. Apalgi murid yang satu itu, si Galang maksudnya.
" Sepertinya aku harus memintamu berhenti bekerja. Kau hanya akan mengurusku di rumah Ruhi. Aku akan diam diam mengirimkan surat pengunduran dirimu ke kepala sekolah, dan akan aku pastikan besok pagi kamu tidak di terima lagi di sekolah itu. Semua adil dalam cinta dan perang kan? Maka apapun akan aku lakukan untuk mempertahankan apa yang menjadi milikku." Ucap Geral melajukan mobilnya meninggalkan tempat Ruhi mengajar.
TBC...
Jangan lupa dukung karya baru author...
__ADS_1