Pada Akhirnya Aku Menyerah

Pada Akhirnya Aku Menyerah
Jangan Anggap Kakakmu


__ADS_3

Radit mendekati nyonya Ratna. Ia menatap nyonya Ratna dengan tatapan yang sulit di artikan.


" Apakah benar kau mamaku? Apa tujuanmu membohongiku? Apa kau sedang mempermainkan hidupku?" Tanya Radit.


" Maafkan Mama sayang, Mama terpaksa melakukan semua ini demi membalas Gavin. Dia telah membuat Mama menderita sejak Mama menikahkannya dengan Vania." Ujar nyonya Ratna.


" Lalu soal pernikahanku dengan Vania?" Tanya Radit.


" Itu benar adanya."


" Jangan bohong nyonya Ratna!!!" Bentak Gavin membuat nyonya Ratna berjingkrak kaget.


" Kau tahu benar apa yang akan aku lakukan padamu nyonya Ratna, jadi katakan yang sebenarnya!" Ucap Gavin penuh penekanan membuat nyonya Ratna sedikit ketakutan.


" Katakan atau aku mencari tahu sendiri." Ucap Gavin.


" Baiklah aku akan mengatakannya. Radit dan Vania tidak pernah menikah." Ucap nyonya Ratna membuat mereka bernafas lega tapi tidak untuk Radit.


" Lalu?" Radit menatap nyonya Ratna.


" Sebelum aku menikahi Ziko, Radit mengalami kecelakaan dan koma. Saat itu aku bingung mau mencari uang kemana untuk pengobatannya, sedangkan uang peninggalan Tristan sudah habis. Itu sebabnya aku menikahi Ziko. Aku menguras uangnya untuk membiayai pengobatan Radit." Terang nyonya Ratna.


" Sampai saat Gavin membuangku, aku mendapat kabar dari dokter kalau Radit tersadar dari komanya. Aku bertemu dengan Burhan dan memintanya membawaku kembali ke sini. Saat aku menemui anakku untuk pertama kalinya aku hancur, Radit amnesia total. Dia bahkan tidak ingat denganku, kesempatan ini aku gunakan untuk menghancurkanmu Gavin. Aku ingin kau dan Vania berpisah selamanya, aku ingin melihat kehancuranmu karena kau telah merebut semua hartaku, kau telah membuatku menderita." Teriak nyonya Ratna.


" Aku tidak merebutnya, uang itu kau sendiri yang menggunakannya." Sahut Gavin.


" Tapi kau membuatnya sebagai pinjaman pada Bank, kau membuat hidupku sengsara karena tidak punya apa apa." Nyonya Ratna masih berteriak.


" Kau juga membuat hidupku menderita!!" Bentak Gavin membuat semua orang berjingkrak kaget.


" Apa kau tidak ingat hah? Bagaimana kau merebut papaku dari kami? Kau mengusir kami di saat hujan lebat tanpa sepersen uangpun. Apa kau punya rasa iba saat itu? Mamaku menggendong adiku dan menggandeng tanganku menerobos derasnya air hujan, apa kau merasa kasihan hah!!!" Gavin kembali membentaknya.


" Tidak.... Kau justru tertawa bahagia melihat semua itu, kau merasa telah mengalahkan mamaku, aku paham betul saat itu walaupun aku masih kecil nyonya Ratna. Sejak saat itu aku bersumpah akan membalas semua perbuatanmu, aku bersumpah akan membuat hidupmu menderita sama seperti apa yang aku dan ibuku rasakan." Sambung Gavin.

__ADS_1


" Aku akan membunuhmu." Gavin mencekik leher nyonya Ratna.


" Mas jangan!" Ucap Vania.


Gavin tidak mendengarkannya ia semakin mengencangkan cekikannya, nyonya Ratna melotot menahan sesak di dadanya.


" Lepaskan Gavin!" Rangga mencoba melepaskan tangan Gavin.


" Gavin ingat Gava! Dia ada di sini." Ucap Rangga.


Gavin menoleh ke arah Gava, ia menjauhkan tangannya dari leher nyonya Ratna. Ia menghirup nafas dalam dalam mencoba mengontrol emosinya.


" Kau harus menerima akibat dari semua perbuatanmu ini nyonya, aku akan membuatmu membusuk di penjara." Ucap Gavin.


" Jangan Gavin! Aku mohon maafkan aku!" Nyonya Ratna bersujud di bawah kaki Gavin.


" Kalau aku di penjara siapa yang akan merawat Radit, dia masih dalam masa pemulihan. Aku mohon Gavin! Aku akan melakukan apapun yang kau mau." Ucap nyonya Ratna.


Vania mendekati Gavin ia mengelus bahu Gavin.


" Aku tidak sudi mengakuinya sebagai adikku, adikku hanya Sandia." Sahut Gavin.


" Darah ayahmu mengalir dalam tubuhnya Mas, kau tidak bisa mengingkari itu." Ucap Vania membuat hati Gavin mencelos.


Gavin terlihat sedang memikirkan sesuatu. Ia berpikir keputusan apa yang akan ia ambil.


" Pergilah sejauh mungkin dari kota ini! Aku tidak mau melihat wajah kalian lagi, jangan sampai mamaku melihat kalian berdua karena aku tidak mau terjadi hal buruk padanya." Ucap Gavin akhirnya.


" Baiklah kami akan pergi!" Sahut nyonya Ratna.


Radit mendekati Gavin, ia menatap Gavin dengan seksama begitupun sebaliknya. Ada kemiripan dengan wajah mereka.


" Kau kakakku, saat aku kecil papa selalu bilang kalau aku punya seorang kakak dan adik perempuan, aku ingin sekali bertemu dengan mereka, aku ingin bermain bersama mereka tapi papa selalu melarangku. Papa bilang papa terlalu malu untuk bertemu dengan kalian karena papa melakukan kesalahan yang sangat besar yang tidak akan pernah bisa di maafkan. Apa kau tahu? Selama puluhan tahun papa tidak hidup bahagia walaupun dia bersama kami. Setiap malam dia selalu bermimpi bertemu denganmu dan adikmu. Gavin... Sandia... Maafkan papa! Aku tahu jika selama ini papa selalu diam diam mengintaimu dari jauh, dia sangat menyayangi kalian semua. Sebelum papa meninggal dia memintaku untuk menemuimu dan menyampaikan maafnya kepadamu. Tapi sayangnya aku tidak tahu siapa kamu dan dimana kamu tinggal. Itu satu satunya hal yang tidak akan terhapus dari ingatanku Kak. Papa sangat menyayangi kalian semua." Ucap Radit meneteskan air matanya.

__ADS_1


Gavin tidak bergeming, benarkah apa yang di ucapkan oleh Radit?


" Walaupun lahirku karena kesalahan dan akibat dosa yang ibuku lakukan, tapi aku. bahagia karena aku memiliki Kakak sepertimu. Asal kau tahu, walaupun aku tidak pernah bertemu denganmu tapi aku sangat menyayangimu, aku menantikan moment moment saat ini tiba, dimana aku bisa berhadapan dengan kakakku. Papa benar, kau sangat tampan dan mirip dengan papa. Aku menyayangimu."


Grep....


Radit memeluk Gavin meluapkan kerinduan yang ia pendam selama puluhan tahun.


" Maafkan aku hiks.... Jangan membenciku Kak! Aku tidak tahu apa apa, jika aku bisa memilih aku tidak mau di lahirkan dari hasil merebut ayah orang lain. Maafkan aku! Hiks..." Air mata menetea deras di pipi Radit hingga membasahi pundak Gavin.


Gavin terpaku, ingin sekali ia mendorong Radit menjauh darinya namun entah mengapa hatinya tidak tega melakukannya


( Huaaaa Author mewek...😭😭😭sedih g sih?)


Vania mengusap air matanya. Ia bisa merasakan ketulusan yang Radit tunjukkan padanya. Radit benar benar merindukan sosok kakak yang tidak pernah di temui nya.


" Pergilah!" Titah Gavin.


Radit melepaskan pelukannya. Ia kembali menatap Gavin.


" Kau tidak mau memaafkan aku?" Tanya Radit.


" Entahlah! Yang jelas bersikaplah seperti sebelumnya. Lebih baik aku tidak mengenalmu ataupun mengetahui kebenaran jika kau putra dari papaku. Jangan anggap aku kakakmu karena aku memang bukan kakakmu. Aku pria asing yang punya masalah dengan ibumu. Sejak ayahku lebih memilih kau dan ibumu, sejak saat itulah aku menganggap ayahku telah mati. Aku memutuskan semua hubungan darah dengannya. Aku bahkan mengeluarkan segelas darahku dan aku buang ke laut. Aku tidak ada hubungan darah dengan tuan Tristan Mahardika walaupun aku menyandang namanya di belakang namaku. Itu semua aku lakukan hanya untuk menghargai ibuku saja. Kita bukan siapa siapa, pergilah sejauh mungkin! Aku tidak mau mengenalmu." Ucap Gavin meninggalkan mereka semua.


Vania dan Rangga mengikutinya dari belakang. Vania tahu bagaimana kesedihan yang Gavin alami saat ini.


Gavin masuk ke mobil bagian belakang, Vania duduk di sampingnya sambil terus menggenggam tangannya. Rangga melakukan mobilnya menuju rumah kembali.


Penasaran dengan kelanjutannya?


Tekan like dan vote dulu donk...


Terima kasih untuk readers yang telah mensuport author semoga sehat selalu...

__ADS_1


Miss U All..


TBC....


__ADS_2