Pada Akhirnya Aku Menyerah

Pada Akhirnya Aku Menyerah
ADA APA DENGAN LEON?


__ADS_3

" Apakah kau mau memaafkan aku atas kesalahan yang sekarang aku lakukan?" Tanya Lukman menatap Rangga.


Rangga menghela nafasnya, Sandia menggenggam tangan Rangga.


" Suamiku akan memaafkan kalian, tapi kami tidak akan membantu kalian. Cukup kata maaf dan memaafkan saja. Andai saja kalian tidak mencoba membodohi suamiku, maka aku dan suamiku akan membantu kalian. Tapi sayangnya kalian memilih jalan yang salah." Ucap Sandia tegas.


" Ayo Mas kita pulang! Aku rasa Mas tidak perlu ke sini lagi. Biarkan mereka merenungkan kesalahan yang mereka lakukan padamu." Sandia menggandeng tangan Rangga keluar dari rumah Lukman.


" Kenapa kau diam saja Mas?" Tanya Sandia terus berjalan.


" Mas tidak tahu apakah keputusanmu itu benar atau tidak. Mas hanya merasa kasihan saja pada Lukman." Ucapan Rangga menghentikan langkah Sandia.


" Kalau begitu silahkan bantu dia! Kau terlalu polos hingga dengan mudah di permainkan oleh orang lain." Ucap Sandia meninggalkan Rangga.


" Sayang tunggu!" Teriak Rangga mengejar Sandia.


Sandia tidak mempedulikannya, ia kembali ke kedai rujak lalu memesan rujak kembali.


" Sayang maafkan Mas!" Ucap Rangga.


Setelah mendapatkan pesanannya, Sandia masuk ke mobilnya.


" Sayang buka pintunya!" Rangga menggedor pintu mobil Sandia.


Sandia melajukan mobilnya tanpa menoleh ke arah Rangga sedikitpun. Rangga segera mengejar Sandia dengan mobilnya.


" Rupanya Sandia ke rumah Vania." Ujar Rangga terus melajukan mobilnya.


Sesampainya di rumah Gavin, Sandia masuk ke dalam di ikuti Rangga dari belakang. Sandia masuk ke kamar Vania, Vania menatapnya dengan tajam.


" Kamu beli rujak dimana? Apa kau beli rujak di negara tetangga hingga kau harus naik pesawat dulu untuk mendapatkannya." Ucap Vania kesal karena menunggu berjam jam.


" Maaf Kak, tadi ada masalah." Sahut Sandia nyengir kuda.


" Masalah? Masalah apa? Apa kau menabrak orang? Terus kamu gimana? Apa kau terluka" Tanya Vania cemas.


" Tenanglah Kak! Aku tidak apa apa. Bukan aku yang menabrak orang tapi Mas Rangga." Sahut Sandia.


Vania menatap Rangga.


" Kau tidak apa apa Mas?" Tanya Vania.


" Tidak apa apa." Sahut Rangga.


" Ya udah kita makan rujaknya Kak, biar Gava sama Mas Rangga." Ujar Sandia.


" Sini Gava gendong Om. Kita jalan jalan ke taman belakang yuk!" Ucap Rangga menggendong Gava.


" Om... " Ucap Gava dengan jelas.

__ADS_1


" Pintar!" Ucap Rangga mencium pipi Gava.


" Kak kaya'nya enak nih makan rujak di taman belakang, kita susul Mas Rangga yuk!" Ujar Sandia.


" Iya kamu benar, ayo!" Sahut Vania.


Vania dan Sandia menyusul Rangga ke taman belakang. Mereka duduk di gazebo di bawah pohon rindang. Vania nampak asyik memakan rujaknya.


" Mas cobain!" Sandia menyodorkan satu sendok rujak ke mulut Rangga.


" Nggak mau ah masam." Sahut Rangga.


" Massss." Tekan Sandia.


" Baiklah, maaf!" Ucap Rangga membuka mulutnya. Ia mengunyah rujak buah yang terasa pedas, manis asem asem seger.


" Gimana? Enak nggak Mas?" Tanya Sandia.


" Masam." Sahut Rangga membuat Sandia cemberut.


" Eh manis. Maaf salah ngomong." Sambung Rangga.


Sandia tersenyum mendengarnya. Vania hanya menggelengkan kepalanya saja. Jika Gavin ada di sampingnya maka ia juga akan melakukan hal yang sama.


" Aku suapin juga donk sayang."


Vania menoleh ke belakang, ia tersenyum saat melihat Gavin yang berdiri di belakangnya.


" Sudah donk sayang, orang sudah di rumah juga." Sahut Gavin duduk di samping Vania.


" Mau rujak buah?" Tawar Vania.


" Buat kamu aja, sini biar aku yang suapi." Ucap Gavin mengambil sendok di tangan Vania.


Gavin menyuapi Vania membuat Vania nampak bahagia.


" Kamu mau juga aku suapi sayang?" Tanya Rangga menatap Sandia.


" Nggak usah! Udah habis juga." Sahut Sandia.


Selesai bersantai mereka kembali ke kamar masing masing. Rangga mendekati Sandia yang sedang duduk bersandar di atas ranjang sambil memainkan ponselnya.


" Sayang Mas minta maaf! Mas akan mengikuti keputusanmu untuk membuat mereka sadar akan kesalahannya." Ujar Rangga duduk serong di tepi ranjang menatap Sandia.


" Baguslah kalau begitu Mas. Sekarang istirahatlah! Kita akan pulang setelah makan malam." Ucap Sandia.


" Kamu memaafkan Mas?" Tanya Rangga memastikan.


" Aku tidak bisa marah padamu Mas, aku memaafkanmu." Ucap Sandia menatap Rangga sambil tersenyum.

__ADS_1


" Terima kasih sayang." Ucap Rangga mencium kening Sandia.


Rangga naik ke atas ranjang, keduanya berbaring saling memeluk satu sama lain menuju alam mimpi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Leon baru saja pulang kerja. Ia segera masuk ke kamarnya. Tatapannya terpaku pada Danesha yang tidur miring di atas ranjang. Ia mendekatinya lalu menyelimuti Danesha.


Cup..


Leon mencium kening Dane. Tiba tiba ia ingin mengelus perut Dane, ia mengelus pelan perut Dane agar tidak mengganggu tidurnya.


" Malam sayangnya Papa, lagi enak bobok ya di dalam? Sehat sehat di dalam sini ya sayang, Papa sangat menyayangimu. Papa sudah tidak sabar menanti kehadiranmu ke dunia ini." Lirih Leon.


Merasa terusik, Danesha mengerjapkan matanya. Awalnya ia terkejut namun ia tidak mau mengganggu interaksi Leon dan calon bayinya.


" Sayang apa kau membenci Papa? Kenapa sepertinya mama kamu begitu membenci Papamu ini? Apa Papa punya salah? Bukankah kejadian waktu itu keinginan mama kamu? Mama kamu yang memaksa Papa untuk melakukannya. Lalu dimana kesalahan Papamu ini Nak? Tapi tidak apa apa, Papa akan selalu sabar menghadapi sifat mama kamu. Papa berharap suatu saat nanti mama kamu bisa membalas perasaan Papa. Kita akan hidup bahagia bertiga, berempat bahkan berlima selamanya. Jika suatu hari nanti Papa tiada, kamu jaga mama kamu ya buat Papa. Karena Papa tidak bisa selamanya berada di samping kalian berdua. Tapi sebelum itu Papa akan memberikan yang terbaik untuk kalian berdua. Papa mencintai kalian sayang." Ucap Leon.


Danesha kembali memejamkan matanya.


Cup...


Leon kembali mencium kening Danesha.


" Aku mencintaimu sayang, tidurlah yang nyenyak dan selalu jaga kesehatanmu. Jika nanti aku tidak ada lagi di dunia ini, setidaknya aku pernah hidup bahagia bersamamu. Jaga anak kita untukku." Lirih Leon.


Tes...


Air mata Leon menetes di pipi Danesha. Ia segera mengusapnya.


" Kenapa Leon berbicara seperti itu? Apa ada yang terjadi dengannya? Tapi apa? Kenapa dia menyembunyikannya dariku?" Batin Danesha.


Leon beranjak masuk ke dalam kamar mandi. Danesha membuka matanya menatap pintu kamar mandi itu.


Dengan pelan Danesha mendekati kamar mandi. Ia menempelkan telinganya ke daun pintu.


" Hiks... Hiks... Inikah hukuman dari manusia kotor sepertiku? Kenapa di saat aku ingin hidup bahagia bersama keluargaku Kau justru memberikan penyakit ini padaku. Aku bahkan belum bisa mendapatkan cinta Danesha. Jika Kau mau mengambil nyawaku setidaknya tunggu aku melihat anakku lahir ke dunia ini. Biarkan aku menggendongnya untuk beberapa saat saja Ya Tuhan... Hiks... " Isak Leon memukul dadanya yang sesak.


" Aku harus semangat melakukan kemoteraphy untuk mengulur waktu kematianku." Ucap Leon.


Danesha yang mendengar semua ucapan Leon mendadak menjadi sedih. Ia merasa tidak mau kehilangan Leon untuk selamanya.


" Apa yang sebenarnya terjadi padamu Leon? Penyakit apa yang sedang kau derita saat ini?" Gumam Danesha.


Penasaran?


Beri like koment vote dan 🌹yang banyak dulu buat author..


Terima kasih...

__ADS_1


Miss U All...


TBC..


__ADS_2