Pada Akhirnya Aku Menyerah

Pada Akhirnya Aku Menyerah
Salah Paham


__ADS_3

Jeduarrrrr...


Tubuh Sandia bagaikan di sambar petir di siang bolong. Sandia tidak menyangka jika Leon akan mengalami hal seperti ini.


" Apa Dok? Kakakku koma?" Pekik Ruhi yang baru saja datang. Ia langsung menghampiri dokter.


" Iya Nona, sepertinya ada sesuatu yang terlalu berat untuk ia hadapi sehingga tuan Leon lebih memilih berada di alam bawah sadarnya. Berikan support dengan terus mengajak bicara tuan Leon untuk mempercepat kesadarannya." Ucap dokter.


" Kapan Kakak saya bisa sadar Dok?" Tanya Ruhi.


" Melihat keadaannya saat ini, kami tidak bisa menjanjikan apa apa Nona. Kita berdoa saja semoga ada keajaiban dari Tuhan." Sahut Dokter.


" Ya Tuhan Kak Leon... " Tubuh Ruhi terhuyung ke belakang, beruntung Gavin segera menopang nya.


Gavin membantu Ruhi duduk di kursi.


" Saya permisi!" Dokter meninggalkan mereka semua.


" Silahkan Dok! Terima kasih." Sahut Sandia.


" Sandia aku mohon bantu aku!" Ucap Ruhi menatap Sandia.


Sandia duduk di sebelahnya.


" Apa yang bisa aku bantu Hi?" Tanya Sandia.


" Bantu kak Leon melewati masa komanya San, aku yakin kau satu satunya orang yang kak Leon inginkan. Aku mohon Sandia kembalikan kak Leon padaku! Temani kak Leon! Ajak kak Leon bicara! Buatlah dia segera sadar San hiks... " Ruhi memeluk Sandia.


Sandia menatap Rangga yang di balas anggukkan kepala oleh Rangga.


" Baiklah Hi, aku akan membantumu supaya kak Leon segera sadar. Kamu tenang ya! Kita harus sama sama support kak Leon supaya dia bisa segera sadar." Ujar Sandia.


" Terima kasih Sandia, kau memang calon kakak ipar yang baik." Ucap Ruhi.


" Tapi Ruhi aku dan kak Leon...


Sandia menatap Rangga yang menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


" Kau dan kak Leon kenapa Sandia?" Tanya Ruhi menatap Sandia.


" Apa hubungan kalian baik baik saja? Apa kecelakaan kak Leon ada hubungannya denganmu Sandia?" Sambung Ruhi.


Sandia menjadi salah tingkah, ia tidak berani menatap Ruhi.


" Mereka baik baik saja Ruhi, kau jangan khawatir! Jangan berpikir macam macam! Sekarang fokuslah pada kondisi kakakmu." Ucap Rangga.


" Iya Kak." Sahut Ruhi.


Rangga duduk di samping Sandia.Tangan kiri Sandia menggenggam tangan kanan Rangga tanpa sepengetahuan Ruhi. Rangga tersenyum menatapnya begitupun dengan Sandia. Entah mengapa senyuman Rangga terasa meneduhkan hati Sandia.


Setelah Gavin menemui Leon di dalam ia pamit pulang. Tinggal Sandia, Rangga dan Ruhi yang masih menunggu Leon di pindahkan ke ruang rawat.


Setelah Leon di pindahkan ke ruang rawat, ketiganya masuk ke dalam mendekati ranjang Leon.


Sandia menatap Leon yang terbaring tak berdaya di atas ranjang, kepalanya di perban dan banyak alat medis yang menempel di tubuhnya.


Rangga tahu dengan kesedihan yang Sandia rasakan saat ini, ia menggenggam tangan Sandia seolah memberikan kekuatan kepadanya.


" Bangunlah Kak! Aku merindukanmu. Di sini ada Sandia yang sedang menantimu. Apa kau tidak merindukannya? Kau bilang mau melamar Sandia dan menjadikannya iparku, bagaimana kau bisa melakukan itu jika kau hanya diam saja seperti ini. Nanti keburu Sandia di ambil orang kak." Ucap Ruhi mencoba meledek kakaknya berharap Leon mau membuka matanya. Namun semuanya sia sia, Leon tidak bergeming, ia masih setia menutup matanya.


" Tenanglah Ruhi! Kita doakan semoga kak Leon cepat sadar." Ujar Sandia.


" Sandia bagaimana kalau kak Leon tidak juga sadar? Bagaimana kalau kak Leon tidak selamat? Bagaimana kalau kak Leon meninggalkan aku untuk selamanya hiks.. " Isak Ruhi.


" Ruhi jangan berbicara hal buruk! Kamu harus kuat Ruhi, kalau kamu rapuh seperti ini terus siapa yang akan menguatkan kak Leon? Kuatlah demi kakakmu Ruhi!" Ucap Sandia.


Ruhi mengusap air matanya, Sandia benar ia harus kuat demi memberikan suport pada Leon.


" Terima kasih Sandia." Ucap Ruhi yang di balas anggukan kepala oleh Sandia.


" Aku tunggu di sofa ya." Ujar Sandia menuju sofa di ikuti Rangga.


Keduanya duduk berdampingan.


" Kenapa kamu tidak ingin Ruhi mengetahui yang sebenarnya Mas?" Sandia menatap Rangga.

__ADS_1


" Dia sahabatmu Sandia, Mas tidak ingin kamu menambah beban pikiran sahabatmu dengan mengatakan yang sebenarnya tentang hubungan kita. Dia cukup terpukul dengan musibah ini." Sahut Rangga.


" Tapi dia berpikir kalau aku calon kakak iparnya Mas, kalau dia memintaku merawat kak Leon bagaimana? Apa kamu tidak akan terluka melihat semua itu?" Ujar Sandia.


" Kalau terluka itu pasti Sandia, tapi Mas percaya penuh padamu kalau kau tidak akan mengkhianati Mas, Mas yakin kau tidak akan mengingkari janjimu walaupun kau masih mencintai Leon sekalipun." Sahut Rangga membuat Sandia terharu.


" Kau memang pria yang baik Mas, kau pantas mendapatkan cinta dariku. Mulai sekarang aku kekasihmu dan kau kekasihku. Kau tidak boleh melirik wanita lain selain aku." Ucap Sandia membuat hati Rangga senang.


" Begitupun denganmu! Kau sudah menautkan hati Mas pada hatimu jadi jangan hancurkan hati Mas dengan pergi bersama pria lain termasuk Leon." Ujar Rangga.


" Aku akan berusaha Mas." Sahut Sandia.


" Aku akan berusaha lebih keras untuk menumbuhkan cinta untukmu Mas, aku merasa damai berada di dekatmu. Semoga Tuhan memberkati hubungan kita hingga pelaminan." Batin Sandia.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Satu bulan berlalu, kondisi Leon masih sama. Bahkan dokter hampir menyerah menangani Leon, tapi Gavin meminta dokter untuk berusaha lagi.


Pagi ini dokter meminta Sandia untuk menemani dan mengajak Leon berbicara sedangkan Rangga dan Ruhi pergi bekerja. Selama satu bulan ini Rangga juga selalu menemani Sandia menunggu Leon.


Sandia menatap wajah Leon yang nampak pucat. Ia menghela nafasnya untuk menetralkan perasaan dalam hatinya. Ada rasa sedih dan ingin memiliki Leon tapi ia sadar jika ada hati dan kepercayaan yang harus ia jaga.


" Bangunlah kak! Kasihan Ruhi jika kau meninggalkannya sendirian. Dia tidak punya siapa siapa selain kamu. Bangunlah kami semua merindukanmu kak! Jangan buat kami semua sedih karena keadaanmu. Kak Gavin sangat sedih melihatmu seperti ini, apalagi kalau nanti mama... Mama sangat sedih melihat kamu seperti ini. Kamu orang yang kuat, kamu pasti mampu melawan rasa sakit ini. Sadarlah kak kami semua menunggumu, apa kau tidak merindukan aku? Sudah satu bulan kamu setia menutup matamu kak." Ucap Sandia menggenggam tangan Leon.


" Maafkan aku jika aku penyebab semua ini! Jujur saat itu aku memang masih mencintaimu tapi rasa kecewa yang kau torehkan di hatiku menutupi semua rasa itu membuat hatiku tidak mampu lagi untuk mencintaimu kak. Entah mengapa rasanya begitu berat untuk memberikanmu kesempatan lagi. Mari berdamai dengan keadaan kak! Jalani hidup kita masing masing dengan bahagia. Bangunlah kak! Aku juga merindukanmu." Ucap Sandia menyandarkan kepalanya ke pinggir ranjang.


Tangannya terus menggenggam tangan Leon.


" Aku berjanji kalau kau sadar aku akan memberikanmu kesempatan untuk dekat denganku kak, tapi aku mohon bangunlah! Bangunlah demi aku!" Ucap Sandia.


Tanpa Sandia sadari kalau Rangga mendengar ucapannya. Hati Rangga terasa berdenyut nyeri mendengar semua itu.


Akankah usahanya membuat Sandia membalas cintanya selama satu bulan ini sia sia? Akankah Sandia kembali memilih Leon dan meninggalkannya? Atau memang keduanya tidak berjodoh?


Ingin tahu kelanjutnnya? Jangan lupa tekan like koment dan 🌹 yang banyak buat author...


Terima kasih untuk readers yang telah mensuport author semoga sehat selalu..

__ADS_1


Miss U All...


TBC...


__ADS_2