
Selesai makan Ruhi dan Geral segera pulang. Geral melajukan mobilnya ke rumah Leon karena Ruhi minta di antar ke sana.
" Sayang aku tidak suka kamu dekat dekat dengan Galang. Sepertinya dia menyukaimu dan aku tidak mau sampai dia merebutmu dariku." Ucap Geral.
" Kak, kami hanya sebatas murid dan guru saja. Dia sering membantuku saat di kelas. Lagian aku tidak suka dengan berondong Kak. Jadi kamu tidak perlu khawatir! Aku tidak akan menduakanmu. Kecuali kalau kau duluan yang menduakan aku." Ucap Ruhi.
" Tidak sayang! Aku juga tidak akan menduakanmu. Aku mencintaimu dan hanya kamu yang aku mau. Kalau tidak buat apa aku memaksamu untuk menikah denganku? Aku tidak akan menyia-nyiakan kehadiranmu." Sahut Geral menggenggam tangan Ruhi.
" Semoga aku bisa membalas perasaanmu secepatnya Kak." Ucap Ruhi.
" Amin." Ucap Geral kembali fokus pada kemudinya.
Sesampainya di rumah Leon, mereka turun dari mobil lalu masuk ke dalam.
Huek...
Terdengar suara orang muntah dari kamar mandi dapur.
" Kak Dane." Gumam Ruhi berlari ke dapur.
Tok tok
" Kak kamu di dalam?" Tanya Ruhi mengetuk pintu.
Ceklek...
Dane membuka pintunya.
" Kamu di sini? Mana kak Geral?" Tanya Dane menatap Ruhi.
" Sepertinya duduk di ruang tamu, apa Kakak baik baik saja?" Tanya Ruhi.
" Tenanglah! Aku baik baik saja. Bukankah sudah biasa kalau ibu hamil mengalami hal seperti ini? Jadi jangan khawatir!" Ucap Dane berjalan menuju kulkas.
Dane meminum air dingin lalu duduk di meja makan.
" Apa Kakak sudah makan siang?" Tanya Ruhi duduk di depan Dane.
" Sudah barusan. Selesai makan aku minum air putih, e malah muntah. Rasanya mual setelah minum air itu." Ujar Dane.
" Debaynya nggak mau air putih biasa, maunya yang dingin Kak." Ujar Ruhi di balas anggukkan kepala oleh Dane.
" Kak, bagaimana hubungan kalian berdua?" Tanya Ruhi.
" Baik baik saja, tapi ya beginilah aku Ruhi. Entah mengapa jika melihat kakakmu rasanya aku benci banget. Saat dia mendekatiku rasanya aku ingin pergi menjauh darinya." Ujar Dane.
" Itu bisa saja karena bawaan bayi Kak, besok kita lihat kalau debaynya udah lahir. Apa Kakak masih membenci kak Leon atau tidak. Kalau tidak itu berarti memang bawaan bayi. Tapi kalau iya, hanya kakak dan Tuhan yang tahu penyebabnya." Sahut Ruhi.
" Iya." Sahut Dane.
Mereka lanjut mengobrol di ruang tamu bersama Geral.
Di rumah Gavin, saat ini Vania dan Sandiaga sedang bermain dengan Gava. Mereka duduk di lantai beralaskan karpet. Gava yang sudah mulai berjalan pun dengan lucunya melangkah selangkah demi selangkah.
" Kak anak kedua ini inginnya laki laki apa perempuan?" Tanya Sandia menatap Vania.
__ADS_1
" Kalau inginnya sih perempuan, tapi sedikasih Tuhan aja sih San. Apapun jenis kelaminnya yang penting sehat karena aku yakin itu pasti yang terbaik yang Tuhan berikan kepada kami." Sahut Vania.
" Iya Kak. Aku kalau hamil juga akan berpikir seperti itu." Sahut Sandia.
" Apa sudah ada tanda tanda San?" Tanya Vania.
" Belum Kak. Bulan ini aku masih dapat." Sahut Sandia.
" Ya sudah sabar aja! Mungkin Tuhan masih memberikan waktu untuk kalian berdua dulu. Semoga bulan depan dia hadir di dalam rahimmu." Ujar Vania.
" Amin." Sahut Sandia.
" San tiba tiba aku kepingin makan rujak buah ya." Ujar Vania membayangkan enaknya rujak buah.
" Mau aku belikan?" Tawar Sandia.
" Boleh deh!" Sahut Vania menganggukkan kepala.
" Oke, kakak tunggu di sini!" Ujar Sandia keluar dari kamar Vania.
Sandia melajukan mobilnya menuju kedai yang menjual rujak buah. Sampai di sana, ia segera memesan dua bungkus rujak. Saat ia melihat ke sebrang jalan, ia melihat Rangga bersama seorang anak kecil sedang membeli es krim.
" Mas Rangga sama siapa?" Tanya Sandia dalam hati.
Ia segera menyebrang jalan hendak menghampiri Rangga, belum sempat ia memanggilnya tiba tiba seorang wanita menghampiri keduanya.
" Ayo Mas kita pulang."
Deg...
" Silahkan duduk Mas!" Ucap wanita itu.
" Mas saat ini aku sedang hamil, lalu bagaimana...
" Aku akan bertanggung jawab."
Jeduarrrr.....
Bagai di sambar petir di siang bolong, tubuh Sandia terasa kaku. Tiba tiba tubuhnya terhuyung ke belakang hingga menubruk pintu.
Brak...
Rangga dan wanita itu segera keluar dan....
" Sayang." Ucap Rangga mendekati Sandia.
" Jangan sentuh aku!" Ucap Sandia saat Rangga hendak menyentuh bahunya.
" Kenapa sayang?" Tanya Rangga.
Tanpa berkata apa apa lagi Sandia segera pergi dari sana.
" Sayang tunggu!" Ucap Rangga mencekal tangan Sandia.
" Lepas!" Ucap Sandia memberontak.
__ADS_1
" Sayang sebenarnya kamu kenapa? Terus ngapain kamu di sini?" Tanya Rangga.
" Seharusnya aku yang bertanya sama kamu Mas, ngapain kamu di sini?" Sandia balik bertanya.
" Siapa perempuan itu?" Sandia menunjuk wanita itu yang berdiri di depan pintu.
" Apa dia selingkuhanmu? Bagaimana bisa kau sedekat itu dengannya dan putranya? Apa kau sudah tidak tahan ingin segera memiliki seorang anak begitu? Apa kau..
" Sandia diamlah! Dengarkan penjelasan Mas dulu! Jangan berprasangka buruk tentang Mas sayang! Mas tidak seburuk itu!" Ucap Rangga.
" Apa yang akan kau jelaskan Mas? Bukankah semuanya sudah jelas?" Ujar Sandia.
" Ikutlah dengan Mas! Kau akan tahu semuanya." Rangga menarik tangan Sandia kembali ke rumah itu.
" Sayang kenalkan ini Reni. Reni ini istriku." Ucap Rangga.
" Hai Mbak, senang bertemu denganmu." Ucap Reni di balas senyuman oleh Sandia.
" Silahkan masuk Mbak, Mas!" Ucap Reni.
Ketiganya masuk ke dalam lalu duduk di sofa ruang tamu. Sandia menatap sekeliling, rumah sederhana yang jauh dari kata layak.
" Sayang Reni ini istrinya Lukman. Lukman itu teman Mas saat masih sekolah dasar dulu. Mas..
" Mas menghamilinya? Dan ingin bertanggung jawab kepadanya?" Tanya Sandia memotong ucapan Rangga.
Rangga menghela nafasnya pelan.
" Lakukan saja kalau begitu, aku mau pulang. Kak Vania sudah menunggu pesanannya." Sambung Sandia beranjak.
" Sayang dengarkan Mas dulu!" Rangga menarik tangan Sandia hingga membuatnya duduk kembali.
" Apa sih Mas!" Ucap Sandia kesal.
" Kamu salah paham sayang, dengarkan Mas sampai selesai dan jangan di potong sebelum Mas selesai bicara!" Ucap Rangga.
Sandia nampak cemberut mendengarnya.
" Dengarkan Mas! Reni itu memang sedang hamil, tapi dia hamil dengan suaminya sayang bukan sama Mas. Yang Mas bilang mau tanggung jawab itu, Mas mau menanggung semua biaya pengeluaran Reni dan keluarganya sampai Lukman kembali bekerja. Karena...
" Wah murah hati sekali kamu Mas mau membantu mereka." Ucap Sandia.
" Mas tidak sebaik itu sayang, Mas melakukannya karena Mas telah membuat Lukman tidak bisa bekerja."
" Apa maksudmu Mas?" Tanya Sandia menatap Rangga.
" Tanpa sengaja Mas menabrak Lukman hingga membuat kakinya cidera."
" Apa??"
TBC....
Author mohon dukungan di karya baru Author yang berjudul TERJEBAK DUDA ANAK SATU & DERITA ORANG KETIGA ya...
Terima kasih...
__ADS_1