
Malam ini Sandia sedang memasak makan malam untuknya dan Rangga. Tiba tiba..
Grep...
" Astaga!!" Pekik Sandia saat Rangga memeluknya dari belakang.
" Mas kamu mengagetkan ku saja." Ujar Sandia.
" Maaf sayang!" Sahut Rangga.
Rangga menyusupkan wajahnya ke ceruk leher Sandia membuat tubuh Sandia meremang.
" Mas lepas! Aku sedang memasak, nanti gosong gimana?" Ujar Sandia.
" Baiklah lanjutkan masaknya, tapi nanti kau tidak boleh beralasan lagi. Kau harus menuruti apa yang Mas mau." Ujar Rangga duduk di meja makan.
" Aku akan menurutinya, apa sih Mas yang nggak buat kamu." Sahut Sandia mengerlingkan matanya.
" Kau memang istri terbaik sayang." Ujar Rangga.
" Istri siapa dulu? Mas Rangga." Ucap Sandia bangga.
Sandia melanjutkan acara masaknya.
" Oh ya Mas, bagaimana kabar Siren?" Tanya Sandia sambil membalik ayam gorengnya.
" Sekarang dia ada di rumahnya sayang, tadi om menelepon Mas dan meminta maaf pada kita berdua atas apa yang Siren lakukan pada kita. Om bilang beliau sangat menyesal perbuatan Siren. Om berjanji kalau Siren tidak akan mengganggu kita lagi." Sahut Rangga.
" Syukurlah kalau begitu, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada pernikahan kita jika kau tidak mendengar semuanya waktu itu. Mungkin kau akan mengabaikanku sampai sekarang. Dan hal itu membuat Siren leluasa mendekatimu dan semakin membuat jarak di antara kita." Ujar Sandia.
" Maafkan Mas sayang! Mas tidak berpikir luas saat itu. Mas terlalu cemburu melihatmu dengan Leon." Ujar Rangga.
" Ya sudah tidak perlu di bahas Mas! Mending kita bahas masa depan saja." Sahut Sandia.
" Iya, di masa depan Mas ingin hidup bahagia bersamamu dan anak anak kita. Mas ingin punya banyak anak supaya rumah ini ramai dengan tawa mereka. Mas jadi tidak sabar membuatnya."
Uhuk uhuk uhuk...
Sandia tersedak salivanya sendiri mendengar ucapan Rangga. Rangga segera memberikannya segelas air putih.
" Minum sayang!" Ucap Rangga.
Sandia meminumnya hingga tandas.
" Lain kali hati hati!" Ucap Rangga di balas anggukkan kepala oleh Sandia.
" Baru Mas bilang gitu aja udah tersedak, apalagi kalau Mas bilang yang lebih vulgar dari itu." Sambung Rangga.
" Apa sih Mas, gara gara Mas aku jadi tersedak. Udah ah nggak usah gangguin aku lagi, nggak kelar kelar nanti masaknya." Ujar Sandia.
Selesai masak Sandia menata masakannya di meja makan. Ia melayani Rangga dengan baik. Keduanya makan dengan khidmat. Setelah selesai mereka masuk ke dalam kamar.
" Aku ke kamar mandi dulu Mas." Ucap Sandia masuk kamar mandi membersihkan dirinya.
Setelah selesai gantian Rangga, Sandia naik ke atas ranjang duduk bersandar pada headboard sambil memainkan ponselnya. Tak lama Rangga menghampirinya. Ia duduk di samping Sandia membuat Sandia langsung menyandarkan kepalanya ke bahu Rangga.
__ADS_1
Rangga mengelus elus kepala Sandia.
" Bikin ngantuk Mas kalau di elus gitu, katanya mau.... " Sandia menjeda ucapannya karena malu meneruskannya.
" Mau apa sayang?" Tanya Rangga.
" Mau itu." Jawab Sandia.
" Itu apa sih sayang? Kalau bicara yang jelas donk! Mas nggak paham apa yang ingin kamu ucapkan." Ujar Rangga menggoda Sandia.
" Tau ah, dasar nggak peka." Cibir Sandia mengerucutkan bibirnya.
" Nggak baik sayang mencibir suami seperti itu." Ujar Rangga.
" Iya maaf Mas!" Ucap Sandia memeluk perut Rangga.
Cup...
Rangga mencium pucuk kepala Sandia. Sandia mendongak menatap wajah Rangga. Rangga menundukkan kepalanya lalu..
Cup..
Rangga mencium bibir Sandia. Ia menahan tengkuk Sandia memperdalam ciumannya. Rangga *****@* lembut bibir Sandia. Suara decapan memenuhi ruangan kamar mereka.
Ciuman yang semula biasa saja kini semakin menuntut. Rangga menindih tubuh Sandia. Ia memulai permainannya dengan lembut membuat Sandia mendes@h memanggil namanya.
Malam ini mereka kembali melakukan penyatuan cinta untuk yang kesekian kalinya. Setelah selesai Rangga merebahkan tubuhnha di samping Sandia.
" Semoga akan ada Rangga junior di sini sayang." Ucap Rangga mengelus perut rata Sandia.
" Amin." Sahut Sandia.
Mereka tidur sambil berpelukan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di tempat lain, saat ini Leon sedang melajukan mobilnya di jalanan sepi. Ia baru saja pulang dari club malam menghadiri acara salah satu temannya. Dari kejauhan nampak seorang gadis menyetop mobilnya, Leon segera menghentikan mobilnya.
Ia membuka separuh kaca mobilnya.
" Maaf Tuan, apa saya boleh menumpang sampai di lampu merah depan sana?" Tanyanya.
Leon memindahkan wanita itu dari atas sampai bawah. Rok levis selutut, kemeja putih panjang. Sepertinya gadis itu baru saja pulang kerja, pikir Leon.
" Masuk!" Sahut Leon.
Gadis itu masuk ke dalam, ia duduk di kursi samping kemudi.
" Terima kasih Tuan." Ucapnya.
" Hmm." Gumam Leon melajukan mobilnya kembali.
" Oh ya Tuan, kenalkan nama saya Luna." Ucap gadis yang mengaku bernama Luna.
Leon menganggukkan kepalanya. Ia tetap fokus pada jalanan di depannya. Tiba tiba Luna nampak gelisah seperti cacing kepanasan.
__ADS_1
" Kamu kenapa?" Tanya Leon menatap sekilas ke arahnya.
" Tubuhku panas Tuan." Sahut Luna.
" Kamu darimana?" Selidik Leon.
" Saya baru saja dari acara party teman saya Tuan, di sana saya di beri jus anggur. Setelah saya meminumnya tiba tiba ada yang aneh dengan tubuh saya. Tubuh saya terasa panas, makanya saya buru buru pergi dari sana." Jelas Luna mengipas ngipas tangannya.
"Sial.. Sepertinya dia dalam pengaruh pil biru." Batin Leon.
" Panas Tuan, bolehkah saya membuka baju?" Tanya Luna.
" Ah tidak tidak! Jangan lakukan itu!" Sahut Leon panik.
" Saya tidak kuat Tuan, panas sekali rasanya."
Tiba tiba Luna membuka kemejanya hingga menampakkan bra hitam yang nampak sangat kontras dengan kulit putihnya.
Leon segera menutup full kaca mobilnya. Ia menepikan mobilnya di pinggir jalan.
Glek...
Leon menelan kasar salivanya. Sesuatu di bawah sana tiba tiba menegang saat melihat dada Luna yang terekspos begitu saja.
" Ya Tuhan panas sekali... Tolong acnya di tambah Tuan, saya tidak kuat menahan rasa panas ini." Ujar Luna.
Leon memaksimalkan AC dalam mobilnya.
" Dimana rumahmu? Aku akan mengantarmu pulang sekarang." Ujar Leon.
Tiba tiba Luna mengelus wajahnya, ia menangkup wajah Leon membuat jantung Leon berdebar sangat kencang.
Cup...
Leon membulatkan matanya saat Luna mencium bibirnya. Luna menggigit bibir bawahnya membuat Leon membuka sedikit bibirnya. Luna menyusupkan lidahnya mengekspos setiap inchinya. Suara decapan memenuhi mobil Leon saat ini.
Luna menarik tangan Leon lalu meletakkannya di dadanya. Leon yang sudah terpancing nafsu pun meremaa salah satu gundukan kembar milik Luna membuat Luna mendes@h.
Luna tidak menyadari jika suaranya membuat jiwa kelakian Leon meronta ronta. Leon segera mendorong tubuh Luna hingga punggungnya terpentok pintu mobil. Keduanya saling menatap satu sama lain.
" Tolong aku! Rasa ini begitu menyiksaku, aku akan berterima kasih padamu jika kau mau melakukannya. Aku yakin kau orang yang baik, aku berada di tangan orang yang tepat." Bisik Luna di telinga Leon.
" Apa kau tidak akan menyesal?" Tanya Leon.
" Tidak... " Sahut Luna.
Leon yang sudah di kuasai nafsu pun segera melakukan penyatuan. Luna memekik kesakitan saat Leon mengarahkan senjatanya ke miliknya. Setelah itu yang ada hanya suara erangan dan des@h@n saja dengan mobil yang bergoyang mengikuti irama yang mereka ciptakan.
Leon nampak bahagia menatao wajah cantik Luna. Ia merasa terikat batin dengannya.
" Aku akan bertanggung jawab atas malam ini Luna." Batin Leon.
Kira kira Luna mau gak ya?
Jangan lupa tekan like koment vite dan kasih 🌹yang banyak buat author...
__ADS_1
Thank you...
TBC...