Pada Akhirnya Aku Menyerah

Pada Akhirnya Aku Menyerah
Raditya Mahardika


__ADS_3

Hingga malam hari Gavin belum juga menemukan Vania membuatnya nampak resah tak karuan. Saat ini ia sedang berdiri berkacak pinggang di ruangannya berhadapan dengan Rangga.


" Rangga bantu berpikir kira kira kemana Radit membawa Vania!" Ucap Gavin.


" Aku juga sedang berpikir Vin." Sahut Rangga.


" Sebentar, kata Leon Gava memakai gelang kan?" Tanya Rangga memastikan.


" Iya, kenapa?" Tanya Gavin.


" Leon meletakkan GPS di sana yang terhubung dengan ponselmu. Sekarang coba buka dimana lokasi mereka." Ujar Rangga.


" Oke." Sahut Gavin membuka ponselnya.


" Leon memang bisa di andalkan." Gumam Gavin tersenyum senang.


" Dimana?" Tanya Rangga.


" Di perumahan xx, ayo kita ke sana." Ujar Gavin segera beranjak.


Rangga dan Gavin menuju mobilnya, Gavin melajukan mobilnya menuju rumah Radit dengan kecepatan kencang. Lima belas menit kemudian mereka sampai di sebuah rumah mewah milik Radit.


" Ayo kita turun!" Ajak Gavin.


Keduanya turun dari mobil lalu berjalan ke pintu rumah Radit.


" Buka saja Ngga!" Titah Gavin.


Rangga membuka pintunya, keduanya masuk ke dalam.


" Kenapa sepi? Apa Radit membawa mereka pergi lagi?" Gavin mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan.


" Aku tidak tahu Vin." Sahut Rangga.


Rangga membulatkan matanya saat melihat foto pernikahan yang tertempel di dinding.


" Gavin lihat!" Rangga menunjuk foto itu.


Deg....


Jantung Gavin terasa berhenti berdetak melihatnya.


" Apa mungkin Radit sudah menikahi Vania?" Ujar Rangga.


" Jika sampai itu terjadi aku akan membunuh Radit saat ini juga." Sahut Gavin mengepalkan tangannya.


Sampai terdengar perbincangan seseorang di ruang keluarga. Gavin dan Rangga mendekati asal suara.


" Maafkan mama Vania, tapi memang itulah kenyataannya. Kau lebih dulu menjadi istri Radit daripada Gavin."


Jeduarrr....


Bagai di sambar petir di siang bolong, tubuh Gavin dan Rangga terasa kaku. Keduanya hanya bisa saling melempar pandangan.

__ADS_1


" Nyonya Ratna? Bukankah aku meminta Leon untuk membuangnya di pelosok negeri? Bagaimana bisa dia kembali ke sini? Atau Radit yang membantunya?" Tanya Gavin dalam hatinya.


" Tidak mungkin Ma, kalau itu terjadi kenapa mama menikahkan aku dengan Mas Gavin?" Tanya Vania menatap ibu tirinya.


" Karena saat itu mama membutuhkan banyak uang untuk pengobatan papamu, tapi Gavin justru memperdaya kami. Dia menjebak kami dan mengurung kami di sebuah gudang tua sampai papamu meninggal, bahkan dia membuangku ke pelosok beruntung aku bertemu dengan temanku sehingga aku bisa kembali kesini." Sahut nyonya Ratna.


" Aku yakin kalian sedang membohongiku, aku tidak akan termakan oleh kebohongan mama lagi. Aku tidak pernah merasa mengalami kecelakaan bersama Radit, jadi berhentilah berbohong! Dan biarkan aku pulang." Ucap Vania.


" Jangan keras kepala sayang! Kau istriku, aku suami pertamamu jadi kau milikku dan kau harus nurut padaku jika kau ingin Gava baik baik saja." Ucap Radit sedikit mengancam.


" Jangan mengintimidasi Vania! Dia istriku."


Vania menoleh ke asal suara.


" Mas Gavin." Gumam Vania menatap Gavin dengan mata berbinar.


" Aku datang untuk menjemput kalian sayang." Ucap Gavin yang di balas senyuman. oleh Vania.


" Aku tidak menyangka kau bisa menemukan kami Gavin, aku akui kecerdasanmu. Itulah sebabnya perusahaanmu selalu lebih maju dari perusahaanku." Ucap Radit menghampiri Gavin.


" Aku tidak punya masalah denganmu sebelumnya, aku ingin meminta Vania baik baik darimu. Jadi kembalikan Vania dan Gava kepadaku!" Ucap Gavin menatap Radit.


" Vania juga istriku, jadi aku berhak atasnya." Sahut Radit.


" Bagaimana bisa kau mengakui Vania sebagai istrimu? Apa kau sudah menikahinya?" Tanya Gavin.


Radit menceritakan seperti yang ia ceritakan kepada Vania.


" Dia istriku, istri dari Gavin Mahardika. Di catatan sipil pun mengatakan seperti itu, aku menikahi Vania dengan tuan Ziko sebagai walinya, jadi seandainya benar kau pernah menikahinya, pernikahan kalian tidak sah karena bukan tuan Ziko yang menjadi walinya." Ujar Gavin.


Saat mereka berdebat, pelan pelan Vania mundur. Ia kembali ke kamarnya untuk mengambil Gava.


Ia masuk ke kamar menghampiri Gava yang sedang tidur di ranjang.


" Ayo sayang kita pulang! Papa sudah menjemput kita." Ucap Vania menggendong Gava.


" Aku harus menggendong Gava dengan kain, aku tidak mau Gava sampai jatuh saat aku bawa lari nanti." Gumam Vania.


Vania membuka almari di depanya, kemarin Radit membelikan gendongan untuk Gava tapi Vania tidak tahu dimana Radit meletakkannya.


" Dimana sih Radit menyimpannya." Kesal Vania.


Vania membuka almari berisi buku buku atau mungkin berkas berkas penting di sana.


" Hah tidak ada." Vania mengehrla nafasnya.


Saat Vania hendak menutup almari tiba tiba...


Plek...


Sebuah dokumen jatuh ke lantai.


" Dokumen apa ya?" Vania mengambilnya.

__ADS_1


" Akta kelahiran?" Vania mengerutkan keningnya.


" Raditya Mahardika, anak pertama dari Ratna slovania dan Tristan Mahardika." Ucap Vania.


Deg.....


Jantung Vania berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.


" Ja... Jadi Radit anak mama Ratna, dan... Tristan Mahardika, apakah dia ayahnya Mas Gavin?" Tanya Vania pada diri sendiri.


" Aku harus menunjukkannya pada Mas Gavin." Vania segera keluar kamar dengan membawa akta tersebut.


Sampai di ruang keluarga,


" Mas." Panggil Vania menghampiri Gavin.


" Lihat ini!" Vania memberikan akta itu kepada Gavin.


Gavin segera membacanya, betapa terkejutnya ia saat tahu jika pria yang berdiri di depannya adalah adik tirinya. Tubuhnya kaku, lidahnya kelu. Sampai sedalam inikah papanya mengkhianatinya dan mamanya?


Akta itu terlepas begitu saja dari tangan Gavin. Rangga segera mengambilnya.


" Jadi Radit.... " Rangga menatap Radit dan nyonya Ratna bergantian.


Nyonya Ratna merebut akta itu dari Rangga.


" Sialan!! Kenapa Vania berhasil menemukan akta kelahiran Radit? Hancur sudah rencana yang sudah aku susun serapi ini." Batin nyonya Ratna.


" Apa ada hal yang ingin kau akui Ma?" Tanya Vania menatap nyonya Ratna.


" Ah tidak!!!! Kau tidak pantas di sebut sebagai Mama ataupun orang tua, karena kau lebih pantas di sebut sebagai seorang iblis." Ucap Vania.


" Kau bicara apa Vania?" Tanya nyonya Ratna.


" Apa mama tahu? Karena perbuatan Mama merebut papanya Mas Gavin dulu, membuat Mas Gavin melampiaskan kemarahannya kepadaku selama hampir satu tahun Ma, dia menyiksaku tanpa ampun karena dia mengira aku anak Mama. Dia membalaskan rasa sakit mamanya kepadaku. Sadarkan jika kau telah menghancurkan hidup banyak orang? Kau tidak hanya tega menghancurkan hidupku saja Ma, kau bahkan tega menghancurkan hidup anak kandungmu sendiri. Aku yakin saat ini kau sedang memanfaatkan anakmu untuk membalaskan dendammu pada Mas Gavin. Lagi lagi aku yang harus jadi korbannya Ma." Ucap Vania tahu apa yang sebenarnya nyonya Ratna rencanakan.


" Apa maksudmu Vania?" Tanya Radit menatap Vania.


" Kau anak kandung mama Ratna, Radit." Ucap Vania membuat Radit melongo.


" Kau anak kandung mama Ratna dengan papanya Mas Gavin."


Jeduarrr.....


Radit menatap nyonya Ratna tidak percaya.


" Benarkah?" Tanya Radit.


" Jika aku anak kandungnya kenapa dia bilang kalau aku menantunya? Dia bilang kalau kau istriku, kenapa dia membohongiku? Apakah pernikahan kita juga hanya kebohongannya?"


Mau tahu kebenarannya? Tekan like koment vote dan kasih🌹yang banyak dulu biar author semangat...


Terima kasih untuk readers yang telah mensuport author semoga sehat selalu...

__ADS_1


Miss U All...


TBC...


__ADS_2