
Saat pesta berlangsung, seorang pria menghampiri Vania.
" Nona, bisakah anda tunjukkan dimana kamar mandinya?" Tanya pria itu.
" Ah iya Tuan, silahkan!" Sahut Vania.
Vania mengantar pria itu ke kamar mandi yang ada di ruang tamu.
" Silahkan Tuan!" Ucap Vania.
" Terima kasih." Sahutnya masuk ke dalam.
Vania hendak menutup pintu tiba tiba pria itu memanggilnya lagi.
" Nona."
" Ya." Sahut Vania.
" Bisakah anda membantu saya?" Tanyanya.
" Membantu apa Tuan?" Tanya Vania menghampirinya.
Tiba tiba pria itu membekap Vania.
" Hmmpttt." Vania memukul mukul dada pria itu.
Tak lama Vania tidak sadarkan diri. Pria itu merebahkan Vania di atas ranjang.
" Kau cantik sekali Vania.... Wajah keibuanmu membuat teduh di mataku. Maafkan aku jika aku melakukan semua ini. Aku sangat merindukanmu sayang, aku akan membawamu pergi dari sini." Ucapnya.
Tanpa membuang waktu pria itu mencium pipi dan bibir Vania.
Di ruang keluarga, Sandia dan Rangga nampak berkumpul bersama teman teman mereka.
" Aku tidak menyangka kalau kamu punya hubungan dengan bu Sandia." Ucap Ridho.
" Iya, padahal kalau di kantor kalian terlihat biasa biasa saja. Seperti tidak punya hubungan spesial sama sekali." Timpal Rosa.
" Harus bersikap profesional donk! Di kantor Sandia skretarisnya Gavin, kalau di luar kantor dia kekasihku." Sahut Rangga.
" Pantas saja Pak Rangga aku deketin selalu menghindar, ternyata ada yang lebih yuhui to." Ujar Rosa.
" Apa iya?" Tanya Sandia tidak percaya.
" Iya Bu, bahkan saya itu sampai pura pura jatuh biar di tangkap sama pak Rangga e malah di biarkan begitu saja. Alhasil saya jatuh ke lantai Bu, kan sakit." Ucap Rosa membuat Sandia tertawa.
" Tega kamu Mas." Ucap Sandia.
" Ya maaf sayang!" Ucap Rangga.
" Ya minta maafnya sama Rosa lah masa' sama aku." Ujar Sandia.
" Kan aku tidak salah, salah siapa dia yang pura pura jatuh." Sahut Rangga.
" Lha kalau Bu Sandia yang jatuh gimana Pak?" Tanya Rosa.
" Aku tangkap lah, tidak akan aku biarkan calon istriku terluka." Sahut Rangga mengerlingkan matanya ke arah Sandia.
" Cie cie... " Goda Rosa dan yang lainnya.
" Bu Sandia beruntung lhoh punya calon suami seperti pak Rangga, semoga lancar sampai ke pelaminan dan langgeng sampai akhir hayat." Ucap Rega.
" Amin." Sahut Rangga dan Sandiaga bersamaan.
" By the way jangan panggil Bu kalau di luar kantor! Aku kan lebih muda dari kalian semua." Ujar Sandia.
" Terasa formal banget tau nggak." Sambung Sandia.
__ADS_1
" Baiklah Sandia." Sahut Rosa di angguki teman teman yang lainnya.
Mereka terus mengobrol entah apa yang mereka bahas. Ada aja bahannya sampai...
" Sandia dimana kakakmu?" Tanya Gavin sambil menggendong Gava.
" Kak Vania... " Sandia menoleh ke kanan kiri mencari sosok Vania.
" Aku tidak tahu Kak, sepertinya tadi sama mama." Sambung Sandia.
" Mama juga nggak tahu kemana kakakmu, ya sudah Kakak cari di kamar saja kalau gitu." Ujar Gavin.
" Tadi saya lihat Nona Vania bersama seorang pria ke sana Pak." Ucap Rosa pelan menunjuk arah kamar tamu.
" Seorang pria? Kamu yakin?" Tanya Gavin mengerutkan keningnya.
" I.. Iya Pak." Sahut Rosa gugup.
" Kamar tamu." Gumam Gavin.
" Ya sudah terima kasih." Ucap Gavin.
" Kak Gava biar sama aku saja." Ucap Sandia mengambil Gava dari gendongan Gavin.
" Ya sudah Kakak titip Gava." Ucap Gavin berlalu meninggalkan mereka semua.
" Lagi ngapain kamu sama pria itu sayang... " Gumam Gavin terus berjalan menuju kamar tamu.
Ceklek....
Gavin membuka kamar tamu paling depan namun kosong. Ia beralih membuka pintu kamar tamu tengah, kosong.
Terakhir ia membuka kamar tamu paling belakang,
Ceklek....
Jantung Gavin terasa berhenti berdetak melihat pemandangan di depannya. Darah Gavin mendidih, ia segera menghampiri seorang pria yang sedang memeluk Vania.
" Kurang ajar!" Geram Gavin.
Bugh bugh bugh...
Gavin memukul wajah pria itu lalu mendorongnya hingga tersungkur ke lantai.
" Sayang." Gavin memeluk Vania yang sedang menangis.
" Mas... Hiks... " Isak Vania.
" Tenanglah sayang!" Ucap Gavin mengelus punggung Vania.
" Hiks... Mas... Dia menciumku." Ucap Vania tergugu.
" Hanya mencium?" Tanya Gavin.
Vania menganggukkan kepalanya. Gavin menahan tawanya, hanya di cium Vania udah nangis sampai segitu sedihnya. Gavin mengira jika mereka sudah melakukan hal itu. Hatinya menjadi lega setelah mendengar ucapan Vania.
" Bagian mana yang ia cium?" Tanya Gavin.
Vania melepas pelukannya, ia menunjuk bibirnya sendiri. Tiba tiba Gavin menciumnya. Ia ******* lembut bibir Vania di depan pria yang tadi dia serangnya.
" Aku sudah menghapus jejaknya, jangan bersedih lagi! Aku akan mengurusnya." Ujar Gavin menghampiri pria itu.
" Siapa sebenarnya kau? Kenapa kau berbuat kurang ajar pada istriku?" Tanya Gavin menatap tajam ke arahnya.
" Tanyakan saja pada istrimu siapa aku sebenarnya." Sahutnya.
Gavin menatap Vania yang di balas gelengan kepala oleh Vania.
__ADS_1
" Istriku tidak mengenalmu, lalu siapa dirimu?" Gavin bertanya lagi.
" Aku kekasihnya."
" Jangan bohong!" Bentak Gavin.
" Aku tidak berbohong, aku memang kekasihnya saat dia kuliah di kota Y. Dia meninggalkan aku begitu saja dan menikah denganmu Gavindra." Teriaknya.
Vania turun dari ranjang menghampiri pria itu.
" Aku tidak mengenalmu." Ucap Vania.
" Rey.. Hans." Tekan pria yang sering di sapa Hans.
" Hans? Tidak mungkin! Wajahmu tidak seperti ini. Aku masih mengingat bagaimana wajah Hans temanku." Ucap Vania tidak percaya.
" Saat aku mengejarmu ke Bandara, aku mengalami kecelakaan. Tiba tiba aku di hadang oleh sekawanan preman, lalu mereka menyiram wajahku dengan air keras. Aku melakukan operasi plastik, inilah wajahku sekarang Vania. Wajah baru pria yang kau tinggalkan begitu saja." Ujar Hans.
" Hans kita tidak ada hubungan apa apa." Ujar Vania.
" Bagaimana kau bisa bilang begitu Vania, aku menyayangimu, aku memberikan perhatian penuh padamu, aku selalu mensuportmu, bahkan di saat kau ada kesulitan aku selalu membantumu walaupun kita jarang bertemu." Ujar Hans menatap Vania.
" Aku tidak menyangka jika semua perhatianmu ternyata memiliki maksud tertentu Hans. Aku berpikir kau memang orang yang baik pada semua orang. Maafkan aku jika aku menyakitimu karena tidak peka akan perasaanmu." Ucap Vania.
" Vania apa kau tidak punya perasaanku padaku sama sekali?" Tanya Hans dengan tatapan sendu.
" Tidak Hans, maaf!" Sahut Vania menundukkan kepalanya.
" Aku datang jauh jauh dari luar negeri hanya untuk bertemu denganmu Vania, aku ingin menjemputmu dan menjadikanmu milikku, tapi kau menolakku. Bukankah kau di perlakukan Gavin dengan kasar, kau sering di siksa dia kan? Lalu untuk apa kau mempertahankan pernikahan ini Vania? Aku akan membuatmu pergi dari sini! Aku akan mengeluarkanmu dari neraka dan pria sekejam Gavin." Ujar Hans.
" Darimana kau mendengar cerita itu?" Vania mengerutkan keningnya.
" Tante Ratna. Dia menelepon papaku dan menceritakan semuanya padaku beberapa bulan lalu. Saat itu aku ingin langsung ke sini menjemputmu, tapi sayangnya aku masih dalam proses pemulihan." Ujar Hans.
" Vania pergilah bersamaku! Aku akan membuatmu bahagia." Ucap Hans.
" Aku sudah berkeluarga Hans, tolong jangan usik kebahagiaanku. Kau bisa mendapatkan wanita yang lebih baik darimu, maafkan aku!" Vania mengatupkan kedua tangan di depan dadanya.
" Masalah perbuatan mas Gavin padaku itu sudah berlalu Hans, jauh sebelum aku melahirkan putraku. Dia sudah berubah, dia sangat menyayangiku saat ini. Aku bahagia Hans, aku sangat bahagia. Jadi aku mohon jangan paksa perasaanku." Ucap Vania.
Hans menghela nafasnya pelan. Usahanya jauh jauh untuk mendapatkan Vania tidak membuahkan hasil. Sudah berhari hati ia mengintai rumah Gavin menunggu kesempatan untuk masuk ke dalam pada akhirnya hanya sia sia.
" Baiklah Vania, maafkan aku yang telah membuatmu menangis! Maafkan aku yang hendak berbuat jahat padamu! Beruntung kau keburu bangun kalau tidak kau pasti sudah menjadi milikku seutuhnya." Ucap Hans.
" Berani kau lakukan itu, kau mati di tanganku!" Sahut Gavin.
" Aku tidak berani Bro, aku masih menghormati Vania. Aku hanya mencium bibir manisnya saja." Ucap Hans.
" Sialan Lo! Sekarang enyahlah dari sini! Aku tidak mau melihat wajahmu lagi, sekarang pergilah sebelum aku menghajarmu lagi." Ucap Gavin.
" Aku pergi Van." Ucap Hans memeluk Vania.
Cup...
Hans mencium pipi Vania membuat Vania membulatkan matanya.
" Sialan lo Hans." Teriak Gavin.
Hans berlari keluar kamar sampai...
Brugh.....
Udah ketebak kan Hans kenapa? Kira kira siapa yang di tabrak oleh Hans nih? Pasti jodohnya...
Udah double up lhoh, tekan like untuk mendukung karya author... Terima kasih...
Miss U All....
__ADS_1
TBC....