Pada Akhirnya Aku Menyerah

Pada Akhirnya Aku Menyerah
Lebih Baik Mati


__ADS_3

Pagi ini Gavin mengajak Gava jalan jalan ke sekitar rumah. Ia nampak luwes menggendong Gava dengan gendongan bayinya.


" Wa wa wa wa wa" Gava terus berceloteh sambil menyesap tangannya sendiri.


" Apa sayang? Senang ya di ajak jalan jalan keliling komplek sama Papa." Ujar Gavin.


Gava terus berceloteh, sesekali encesnya menetes dari mulutnya.


Sampai di samping rumahnya seorang wanita berpakaian minim menghampiri mereka.


" Pak Gavindra, CEO GM Group kan?" Tanyanya.


" Siapa?" Tanya Gavin.


" Kenalkan Pak, aku Bela tetangga baru Pak." Ucap Bella menyodorkan tangannya.


Gavin hanya menatapnya saja tanpa mau membalas uluran tangannya. Bela menarik tangannya kembali.


" Ih anaknya lucu banget Pak, siapa namanya?" Tanya Bella hendak menyentuh pipi Gava namun Gavin segera menghindarinya.


" Jangan sentuh putra saya! Saya tidak mau dia terkontaminasi kuman yang kau bawa." Ucap Gavin dingin.


Bella menatap Gavin seolah tidak terima.


" Tanganku bersih Pak tidak ada kumannya, oh ya kalau bapak berkenan silahkan mampir ke rumah saya Pak. Kebetulan saya masak banyak hari ini." Ucap Bella.


" Saya rasa makanan di rumah saya lebih banyak, jadi tidak perlu menawarkan apapun pada saya, permisi." Gavin masuk ke gerbang rumahnya.


Bella menatapnya dengan tatapan sulit di artikan.


" Menarik... Aku harus mendekatinya." Gumam Bella.


Gavin masuk ke rumahnya menuju dapur.


" Mama udah matang belum masakannya? Papa udah lapar lhoh." Ucap Gavin menirukan suara anak kecil.


Ia menghampiri Vania yang sedang menata makanan di meja makan.


" Udah Mas, silahkan makan dulu biar Gava sama aku." Ujar Vania.


" Kita makan bareng donk! Kamu pangku Gava, aku yang akan menyuapimu." Ucap Gavin.


Vania tersenyum menatap Gavin.


Vania memangku Gava lalu Gavin mulai menyuapi Vania. Ia juga menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri.


" Anak Papa belum makan ya." Ucap Gavin.


" Sebentar lagi Pa, dedek makan bubur bayi dulu untuk pengenalan." Sahut Vania.


" Kalau udah makan pasti tambah besar nih pipi gembulnya, bikin Papa makin gemes aja." Gavin mencubit pelan pipi Gava.


" Ma... ma.. ma... " Seolah Gava menyahut ucapan Gavin.


" Ngomong apa sih sayang? Mama gitu ya, pintar sekali anak Papa." Ucap Gavin menciumi pipi Gava.


" Kapan selesai makannya Mas kalau kamu bercanda mulu sama Gava." Gerutu Vania.


" Iya iya sayang maaf... Sekarang lanjutkan makannya aku akan menyuapimu lagi." Ujar Gavin kembali menyuapi Vania.


Selesai makan mereka duduk beralaskan karpet di dalam kamar. Gava berguling guling di sana. Vania rebahan menjadikan paha Gavin sebagai bantalan. Dengan penuh kasih sayang Gavin mengelus kepalanya.


" Aku bahagia banget sayang bisa melihat perkembangan Gava, semoga kita bahagia selamanya." Ucap Gavin.


" Amin." Sahut Vania.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di dalam ruang rawat Leon, saat ini Sandia sedang menyuapi Leon sedangkan Rangga duduk si sofa. Ia tidak bekerja hari ini karena ia tidak mau sampai Leon berbuat sesuatu pada Sandia.


" Aku bahagia bisa selalu bersamamu Sandia." Ucap Leon menatap Sandia.


" Jangan pernah bahagia karena orang lain Kak, karena jika orang itu pergi kau akan merasa menderita. Bahagialah karena diri sendiri, itu akan jauh lebih baik." Ujar Sandia.


" Apa kau akan meninggalkan aku?" Selidik Leon.


" Aku punya kehidupan sendiri Kak, mungkin satu hari nanti aku harus meninggalkanmu demi masa depanku." Sahut Sandia.


" Sandia bukankah aku memintamu untuk tidak meninggalkan aku? Jadi ku mohon jangan pernah tinggalkan aku!" Leon menggenggam tangan Sandia.


" Sebelum aku mengatakan itu padamu aku sudah berjanji pada orang lain Kak, dan aku tidak mungkin mengingkari janjiku padanya. Aku harap kau mau mengerti Kak." Ujar Sandia.


" Tidak Sandia, aku lebih baik mati dari pada harus kehilanganmu." Teriak Leon.


Tiba tiba Leon mencabut jarum infus dari tangannya, ia turun dari ranjang lalu berlari menuju balkon ruangannya.


" Kak Leon." Panggil Sandia mengejarnya di ikuti Rangga dari belakang.


Leon memanjat pagar lantai empat membuat Sandia berteriak memanggil namanya. Jantungnya berdebar dia kali lebih kencang. Ia khawatir Leon akan berbuat nekat.


" Kak Leon turun Kak!" Teriak Sandia.


" Tidak... Aku tidak mau turun. Lebih baik aku mati daripada aku harus hidup sendiri tanpa kamu Sandia. Aku mencintaimu tapi kau lebih memilih orang lain di banding diriku." Teriak Leon merasa kesal.


" Astaga!!!" Sandia menarik kasar rambutnya.


Sandia menoleh ke belakang menatap Rangga yang tersenyum kepadanya.


" Aku harus bagaimana Mas?" Tanya Sandia.


Leon merentangkan kedua tangannya sambil memejamkan matanya, saat ia hendak melompat ucapan Sandia menghentikannya.


" Aku tidak akan meninggalkanmu." Teriak Sandia pada akhirnya.


Rangga memejamkan matanya sambil menahan rasa sakit dalam hatinya.


" Benarkah?" Tanya Leon.


" Iya, sekarang turunlah! Dan jangan melakukan hal seperti ini lagi!" Ucap Sandia sedikit berteriak.


" Kau harus berjanji dulu kalau kau tidak akan meninggalkan aku." Ujar Leon sedikit memaksa.


" Iya, aku tidak akan meninggalkanmu." Sahut Sandia.


Leon turun dengan hati senang. Saat ia hendak menginjak besi tiba tiba ia terpeleset dan....


" Kak Leon... " Teriak Sandia menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Brugh....


" Awh." Pekik Leon memegangi pinggangnya.


Leon jatuh terduduk di lantai. Rangga menahan tawanya, sedangkan Sandia langsung menghampirinya.


" Mas bantuin donk!" Ucap Sandia.


Rangga membantu Leon berdiri. Tiba tiba...


Grep..


Leon memeluk Sandia dengan erat.

__ADS_1


" Terima kasih Sandia." Ucap Leon.


Sandia menganggukkan kepalanya.


Tak kuasa melihat semua itu Rangga berbalik badan, saat ia hendak melangkah Sandia menggenggam tangannya.


Rangga menatap Sandia yang menggelengkan kepalanya seolah melarangnya untuk pergi. Rangga mengurungkan niatnya, ia mencium punggung tangan Sandia di balas senyuman oleh Sandia.


" Maafkan aku Mas karena lagi lagi aku melukaimu, akan aku beritahu alasanku melakukan semua ini." Batin Sandia.


" Mas tahu kau melakukan ini karena ada alasannya Sandia, Mas harap kau bisa memberitahu Mas apa alasan itu." Batin Rangga.


" Sekarang ayo kita kembali ke kamarmu Kak." Ajak Sandia kepada Leon. Leon menganggukkan kepalanya.


Mereka bertiga kembali ke kamar, Leon terus menggenggam tangan Sandia seolah takut kehilangannya.


Sampai di kamar, Sandia membantu Leon duduk bersandar pada tumpukan bantal.


" Minum obatnya dulu Kak biar cepat sembuh." Ujar Sandia memberikan obatnya.


Leon segera meminumnya


" Istirahatlah Kak! Aku akan menunggumu di sini." Ujar Sandia menyelimuti Leon.


" Iya, tapi jangan pernah tinggalkan aku!" Ucap Leon.


Sandia menganggukkan kepala. Leon memejamkan matanya mungkin karena efek obat membuatnya tertidur lelap.


Sandia menghampiri Rangga di sofa. Ia duduk di samping Rangga sambil menggenggam tangannya.


" Maafkan aku Mas! Aku kembali melukai hatimu." Ucap Sandia menatap Rangga.


" Mas selalu memaafkanmu sayang, Mas yakin kau pasti punya alasan untuk semua ini." Sahut Rangga di balas anggukan kepala oleh Sandia.


" Kalau boleh tahu apa alasanmu?" Tanya Rangga menatap Sandia.


" Aku terpaksa berjanji pada kak Leon demi menyelamatkan nyawanya, aku tidak mau sampai dia berbuat nekat seperti mengakhiri hidupnya. Aku memikirkan Ruhi Mas. Kalau sampai kak Leon tiada karena aku, aku tidak bisa menanggung kebencian Ruhi padaku. Aku memang berjanji untuk tidak meninggalkannya tapi bukan berarti aku akan menikahinya kan? Setelah kak Leon sembuh nanti aku akan mencoba menjauhinya dengan perlahan. Aku tidak akan meninggalkanmu Mas, itu janjiku padamu. Semoga Tuhan memberkati hubungan ini." Ucap Sandia.


" Amin.. Mas mendukung keputusanmu ini sayang, Mas selalu percaya padamu." Sahut Rangga merapikan anak rambut Sandia.


Keduanya saling tatap, Rangga memajukan wajahnya sampai.....


Sampai apa nih?....


Yang penasaran sama sosok Rangga nih author kasih yang bening bening...



Sandia...



Leon...



Ayo silahkan di pilih Rangga apa Leon?


Jangan lupa tekan like koment vote dan 🌹yang banyak buat Sandia.


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...


Miss U All...


TBC....

__ADS_1


__ADS_2