
Vania dan Gavin masuk ke dalam kamarnya. Vania menidurkan Gava di atas ranjang lalu mendekati Gavin yang duduk di sofa sambil menutup wajahnya dengan lengannya.
" Mas." Ucap Vania duduk di sebelah Gavin.
" Hmm." Gumam Gavin, tidak biasanya dia hanya bergumam saja.
" Kalau mau menangis, menangislah Mas! Aku siap memberikan ketenangan melalui pelukanku." Ucap Vania.
Gavin menurunkan tanganya, ia menatap Vania.
" Aku tidak selemah itu sayang." Ucap Gavin menarik kepala Vania ke bahunya.
Vania memeluk perut Gavin.
" Lalu? Kamu kelihatan sedih banget begitu, apa yang kau pikirkan Mas?" Tanya Vania menyusupkan wajahnya ke leher Gavin.
" Saat aku melihat tatapan Radit, aku merasa ada kerinduan di dalamnya. Apa benar selama ini dia merindukan dan menyayangiku? Sepertinya itu hanya bualannya saja." Uang Gavin mengelus rambut Vania.
" Mas.. Ada seseorang yang benar benar tulus merindukan dan menyayangi saudaranya walaupun mereka tidak pernah bertemu. Tergantung bagaimana orang tua kita mengajarkan kita untuk bersikap bagaimana pada saudara kita Mas. Mungkin papamu menanam sikap penyayang itu kepada Radit. Apalagi papamu ingin Radit menemuimu kan? Mungkin papamu ingin kalian bisa menerima satu sama lain dan bisa bersatu menjadi satu keluarga. Itulah sebabnya papa sengaja membuat Radit memiliki sikap penyayang sepertimu." Ucap Vania.
" Apa aku penyayang? Aku justru jahat sayang. Kalau aku memiliki sikap itu aku tidak akan pernah melakukan kesalahan padamu di masa lalu." Ucap Gavin kembali mengingat perbuatannya pada Vania dulu.
" Massss.... Sudah aku bilang jangan ungkit masa lalu menyakitkan itu! Aku tidak mau Gava sampai tahu bagaimana sikapmu padaku dulu. Cukup kita para orang tua yang tahu." Ujar Vania.
" Baiklah sayang maafkan aku! Aku bingung harus bagaimana bersikap pada Radit, seperti yang kau bilang bagaimanapun dia adalah adikku." Ucap Gavin.
" Jika melihatnya membuatmu merasakan sakit dan takut tidak bisa mengontrol emosimu, lebih baik kau tidak melihatnya sama sekali Mas. Apalagi kau memikirkan kesehatan mama. Keputusanmu menyuruhnya pergi sudah benar. Inilah yang terbaik untuk kita semua. Keluarga kita sudah damai, biarkan seperti ini selamanya tanpa melibatkan Radit di dalamnya, atau semuanya akan kacau." Sahut Vania.
" Kau benar sayang, terima kasih kau selalu membuat hati dan pikiranku tenang." Ucap Gavin mencium pucuk kepala Vania.
" Sudah kewajibanku Mas." Sahut Vania.
" Sekarang ayo kita istirahat, aku harap setelah bangun nanti aku sudah bisa melupakan apa yang terjadi hari ini." Ucap Gavin.
" Iya Mas." Sahut Vania.
Setelah ganti baju keduanya istirahat sambil berpelukan.
" Terima kasih Tuhan kau telah mengirimkan bidadari yang baik hati untuk selalu mendampingiku." Batin Gavin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Satu bulan berlalu, kondisi Leon kini sudah benar benar sehat. Ia kembali ke rumahnya dengan di antar Sandia dan Rangga. Mereka bertiga masuk ke kamar Leon.
" Istirahatlah Kak!" Sandia membantu Leon duduk bersandar pada tumpukkan bantal.
" Terima kasih." Ucap Leon.
" Aku ke luar dulu!" Ucap Sandia hendak melangkah namun Leon mencekal tangannya.
" Aku akan melamarmu besok malam."
Deg...
Jantung Sandia dan Rangga berdetak kencang. Sandia menatap Rangga begitupun sebaliknya.
" Persiapkan dirimu Sandia." Sambung Leon.
Sadar jika obrolan ini bersifat privasi, Rangga keluar dari kamar Leon. Sebelum sampai pintu Sandia menahannya.
" Tetaplah di sini Mas! Kau juga harus tahu keputusanku." Ucap Sandia.
Rangga menatapnya lalu menganggukkan kepalanya.
Sandia melepas cekalan Leon lalu ia menatapnya.
Jeduarrrr.....
Leon tidak percaya ini? Kenapa Sandia menolaknya? Apakah memang hati Sandia bukan lagi miliknya?
" Kenapa Sandia? Bukankah kau berjanji untuk tidak meninggalkan aku?" Tanya Leon menatap Sandia.
Sandia menghela nafasnya.
" Kau salah mengartikan ucapanku Kak. Aku memang berjanji untuk tidak meninggalkanmu waktu itu, tapi aku tidak berjanji akan menikahimu kan?" Sandia menatap Leon.
Leon mengerutkan keningnya.
" Kau mempermainkan aku Sandia?" Selidik Leon.
" Tidak Kak. Dulu saat kau meninggalkan aku kau memiliki keputusan, begitupun denganku sekarang. Aku memiliki keputusan sendiri untuk hidupku. Aku..
" Tapi kau mencintaiku, kita saling mencintai Sandia. Kenapa kita tidak bersama saja?" Tanya Leon memotong ucapan Sandia.
__ADS_1
" Cintamu tidak lebih besar dari cinta Mas Rangga kepadaku Kak. Dan rasa cintaku terkikis oleh rasa kecewa atas pengkhianatan yang kau lakukan. Sedangkan Mas Rangga mampu membuatku berpaling meninggalkan cintamu, dia terus memupuk cinta di dalam hatiku hingga sampai saat ini hatiku terisi penuh dengan namanya. Tidak ada ruang untuk nama pria lain di dalam hatiku termasuk dirimu Kak. Maaf aku harus mengatakan hal yang menyakitkan ini!" Ucap Sandia.
" Apa di dalam hatimu tidak ada rasa cinta yang tersisa untukku sedikit saja? Jika ada aku berjanji akan mengembalikan cinta itu seperti semula Sandia." Ucap Leon menatap Sandia.
" Tidak Kak." Sandia menggelengkan kepalanya.
Hati Leon mencelos melihatnya. Usahanya selama ini sia sia.
" Baiklah Sandia aku mengikhlaskanmu, mungkin ini karma yang harus aku terima karena telah menyakitimu. Terima kasih untuk kebersamaan ini." Ucap Leon sedih.
" Aku pulang dulu Kak, aku harap hubungan kita tidak mempengaruhi hubungan kekeluargaan kita. Tetaplah bersikap seperti biasa, aku adikmu." Ucap Sandia.
Leon menganggukkan kepalanya.
" Ayo Mas." Sandia menggandeng tangan Rangga, saat mereka membalikkan badan tiba tiba...
Deg....
Ruhi menatap tajam ke arah mereka. Ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat dan ia dengar barusan.
" Kenapa kau lakukan ini Sandia? Kenapa kau membiarkan aku menganggap jika hubungan kalian baik baik saja? Kenapa kau membuatku begitu berharap dengan hubungan kalian hah?" Tanya Ruhi.
" Dan apa ini? Mas Rangga?" Ruhi menatap Rangga.
" Aku memintamu merawat kakakku dan kau membiarkan aku menyakiti Mas rangga setiap harinya Sandia? Jika kau sudah tidak mencintai ataupun berharap mau menerima kakakku kembali, kenapa kau mau merawatnya? Kenapa kau memberikan semua perhatianmu padanya? Apa kau tidak berpikir bagaimana perasaan Mas Rangga melihat semua itu? Apa kau tidak berpikir jika kakakku semakin mengharapkan dirimu Sandia. Kenapa kau tega melukaimu dua orang pria sekaligus. Aku tidak mengharapkan semua ini darimu Sandia... Kau mempermainkan perasaan mereka berdua." Ucapan Ruhi menohok hati Sandia. Semuanya benar...
" Jangan menyalahkan Sandia, Ruhi, aku sendiri yang mengijinkan Sandia untuk merawat Leon. Yah walaupun kau benar, hatiku sakit melihat kedekatan mereka. Tapi aku bangga dengan semua ini. Setidaknya Sandia tidak egois yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Dia ingin Leon baik baik saja dan cepat sembuh, itu saja. Dia tidak tega melihat Leon sakit dan terpuruk karena keputusannya. Apalagi dokter mengatakan jika otak Leon belum bisa menerima berita buruk. Sandia melakukannya demi Leon, Ruhi.. Pahami Sandia dari sudut pandangnya." Ucap Rangga.
" Tapi....
" Sudahlah Ruhi! Semua sudah terjadi tidak perlu di bahas lagi. Aku minta maaf jika aku menyakitimu dan kakakmu. Aku hanya melakukan apa yang menurutku terbaik untuk kami semua tanpa memikirkan salah atau benar. Yang jelas sekarang kakakmu sudah baik baik saja. Masalah perasaan tidak bisa di paksakan. Maafkan aku!!" Ucap Sandia.
Sandia keluar dari kamar Leon di ikuti Rangga dari belakang. Leon mengheoa nafasnya.
" Ternyata rasa sakit yang aku torehkan di hatinya begitu dalam sehingga tidak bisa di sembuhkan. Maafkan aku Sandia, jika tahu akhirnya akan seperti ini aku tidak akan pernah menikahinya. Memang ini takdir yang sudah Tuhan gariskan untukku untuk menebus semua dosa dosaku di masa lalu." Batin Leon.
Next Part kita fokus pada hubungan Sandia dan Rangga ya...
Jangan lupa tekan like, beri koment, vote dan 🌹yang banyak buat author donk...
Terima. kasih untuk readers yang telah mensuport author selama ini semoga sehat selalu...
__ADS_1
Miss U All....
TBC....