
Jeduarrrrr...
Bagai di sambar petir di siang bolong, tubuh Sandia kamu tidak bisa di gerakkan. Sesak di dalam hatinya tidak mampu ia tahan. Ingin rasanya ia menangis di sana, tapi sekuat mungkin ia memilih bungkam.
" Kapan kau akan menikahi Lorenza? Aku akan melamarnya untukmu." Ucap Gavin yang tidak tahu menahu tentang perasaan Sandia.
" Nanti malam."
Belum hilang keterkejutan Sandia, kini Leon membuatnya lebih terkejut lagi. Bagaimana Leon bisa melakukan semua ini padanya? Dimana kata kata cinta dan perjuangan yang Leon ucapkan waktu itu?
Merasa di permainkan oleh Leon, Sandia memilih pergi dari sana.
" Sandia." Panggil Vania.
Namun Sandia tidak menghiraukan nya. Ia berlari menuju kamarnya lalu menguncinya. Ia membanting tubuhnya di ranjang lalu menyembunyikan kepalanya di bawah bantal.
" Aaaaargh..." Teriak Sandia.
" Kenapa kau lakukan ini padaku Kak? Kenapa kau melakukannya? Apa salahku? Dimana kekuranganku? Hiks.... Hiks... " Isak Sandia tak kuasa menahan sakit dan kecewa di hatinya.
" Bagaimana dia bisa menikahi orang lain setelah mengucapkan cinta kepadaku? Dimana perasaannya? Apa kata kata cinta yang keluar dari mulutnya hanya kebohongan belaka? Hiks... Ya Tuhan... Kenapa rasanya sesakit ini. Sakit..... Hiks... Aku negara di khianati oleh orang yang aku cintai hiks...." Sandia terus menangis mengeluarkan sesak di hatinya.
Tok tok...
Sandia mengusap air matanya, ia tidak mau terlihat lemah di mata orang lain termasuk kakaknya sendiri.
" Sandia boleh aku masuk?"
" Kak Vania." Gumam Sandia.
" Ya Kak." Teriak Sandia.
Sandia segera berlari ke kamar mandi untuk mencuci mukanya. Setelah itu ia membuka pintunya.
" Sandia kau.., " Vania menatap wajah Sandia yang terlihat sembab.
" Masuk kak!" Sandia duduk di tepi ranjang.
" Sandia apa aku boleh mengurangi bebanmu?" Tanya Vania duduk di samping Sandia.
" Apa maksudmu Kak?" Sandia balik bertanya.
" Aku tahu kau punya rasa dengan Kak Leon."
Ucapan Vania membuat Sandia terkejut.
" Kau bisa menyembunyikan semua ini dari mama ataupun Mas Gavin, tapi kau tidak bisa menyembunyikan perasaanmu dariku." Ucap Vania.
Sandia menghela nafasnya pelan.
" Bukan hanya aku Kak, tapi Kak Leon juga." Sahut Sandia.
" Jadi kalian saling mencintai?" Tanya Vania tidak percaya.
__ADS_1
" Tidak!!!! Aku sadar jika hanya aku yang mencintai di sini. Jika dia mencintaiku seharusnya dia tidak berbuat seperti ini. Dia janji akan melamar ku pada kak Gavin, tapi kenyataannya dia malah meminta ijin untuk menikahi orang lain. Aku tidak percaya dengan kata kata cintanya Kak." Sahut Sandia.
" Sandia... Aku yakin kak Leon pasti punya alasan melakukan semua ini. Mungkin dia...
" Apapun alasannya aku tidak mau menerimanya Kak. Bagiku dia telah membuangku dan aku tidak akan membiarkannya memungut ku kembali. Aku bukan barang yang tidak punya nilai harga jual, aku bahkan bisa mendapatkan lelaki yang lebih baik darinya. Aku akan membuatnya menyesal karena telah mempermainkan aku!" Sandia mengepalkan erat tangannya.
" Sandia setidaknya beri dia kesempatan untuk menjelaskannya padamu, jangan mengambil keputusan di saat kita sedang marah. Aku yakin kak Leon pasti akan menemuimu setelah ini." Ujar Vania.
" Aku tidak akan menemuinya Kak, dia bukan siapa siapa yang harus menjelaskan alasannya padaku. Detik ini perasaanku untuknya telah mati." Ucap Sandia.
" Baiklah terserah kau saja, tenangkan hatimu dan pikirkan kembali perasaanmu! Aku pergi dulu." Vania keluar dari kamar Sandia.
Saat Sandia hendak menutup pintu, Leon menahannya.
" Sandia dengarkan aku!" Ucap Leon.
" Aku sudah mendengarnya Kak, kau tidak perlu mengatakan apa apa lagi karena aku tidak mau mendengar apapun yang keluar dari bibirmu saat ini." Ucap Sandia menutup pintunya.
" Sandia setidaknya dengarkan penjelasanku! Aku punya alasan untuk semua ini Sandia." Teriak Leon menggedor pintu Sandia.
Tidak mau mendengar suara Leon, Sandia memasang head seat di telinganya mendengarkan musik dari ponselnya.
" Sandia aku mohon!" Ucap Leon.
Mendengar teriakan Leon, Gavin menghampirinya.
" Apa ada masalah dengan kalian berdua?" Selidik Gavin.
" Tidak! Aku hanya ingin berbicara dengan Sandia saja." Sahut Leon.
" Sandia maafkan aku! Aku harap kau sabar menungguku." Batin Leon.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam hari Gavin, nyonya Rindu dan Vania sudah bersiap, tinggal menunggu Sandia saja.
" Vania coba kamu panggil Sandia!" Ucap nyonya Rindu.
" Iya Ma." Sahut Vania.
Vania hendak menaiki tangga tapi Sandia sudah turun menghampirinya.
" Sandia kamu belum bersiap?" Tanya Vania.
" Kalian berangkat dulu saja Kak! Aku akan menyusul nanti, aku masih ada pekerjaan yang harus aku kerjakan." Sahut Sandia.
" Pekerjaan apa San? Apa pekerjaanmu lebih penting dari pernikahan Leon? Dia tidak punya siapa siapa kecuali kita." Ujar Gavin.
" Tidak ada yang lebih penting dari pekerjaanku Kak, kalian pergilah atau kalian akan terlambat." Ucap Sandia menuju dapur.
" Ya sudah mending kita berangkat dulu, ayo!" Ajak nyonya Rindu.
Mereka semua pergi tanpa Sandia.
__ADS_1
Di dapur Sandia membuat cokelat panas untuk mengembalikan moodnya. Ia menyesapnya sedikit demi sedikit.
" Aku datang ke pernikahan Kak Leon? Heh... Tidak akan! Untuk apa aku ke sana jika hanya membuat aku sakit hati saja, mending aku memikirkan cara untuk menghindarinya." Monolog Sandia.
Setelah menghabiskan minumannya Sandia kembali ke kamarnya. Ia tidur dengan nyenyak tanpa mau memikirkan Leon sedikit pun.
Pagi hari Sandia di buat kesal oleh Gavin. Bagaimana tidak? Sedang enak enaknya tidur, Gavin terus meneleponnya dan memintanya untuk segera sampai ke kantor.
Ya... Sudah dia bulan ini Sandia membantu Gavin di kantor. Ia harus belajar untuk mengembang bisnis keluarganya.
Ceklek...
Sandia masuk ke ruangan Gavin sambil cemberut. Gavin dan Leon menatap ke arahnya.
" Ada apa Kakak memanggilku kemari?" Tanya Sandia duduk di sofa dengan lesu.
" Memanggilmu? Kau bekerja di sini Sandia dan sudah tugasmu untuk datang tepat waktu bukan? Beruntung aku tidak menghukummu seperti karyawan lainnya." Ujar Gavin.
" Aku sudah mengajukan surat pengunduran diriku ke email Kakak, apa Kakak tidak membacanya?" Tanya Sandia menatap Gavin.
" Mengundurkan diri? Kenapa kau mengundurkan diri Sandia?" Tanya Leon mengerutkan keningnya.
Sandia tidak menghiraukannya, Ia malas berbicara dengan Leon. Pria yang telah membohonginya.
Leon menghela nafasnya pelan.
" Sandia jawab pertanyaan Leon!" Ucap Gavin.
" Aku mau merintis usahaku sendiri di kota S Kak."
" Apa? Kenapa jauh sekali? Kamu tidak biasa jauh dari kami Sandia, dan Kakak tidak mengijinkanmu merintis usaha sendiri. Emangnya kamu pikir merintis usaha itu gampang." Ujar Gavin tidak mengerti dengan pemikiran adiknya.
" Kalau begitu ijinkan aku melanjutkan kuliah di London." Ucap Sandia semakin membuat Gavin terkejut, begitupun dengan Leon.
" Sebenarnya ada apa denganmu Sandia? Kenapa kau berubah pikiran secepat ini?" Selidik Gavin.
" Alasannya karena aku ingin mandiri Kak, selama ini aku selalu menuruti apa kata Kakak, tapi maaf! Kali ini aku tidak bisa Kak, aku akan merintis usahaku di kota S bersama dengan temanku. Itu keputusan finalku dan tidak bisa di ganggu gugat titik." Ucap Sandia meninggalkan ruangan Gavin.
" Tidak... Sandia tidak boleh pergi! Pernikahanku dengan Lorenza hanya tiga bukan saja. Aku harus berbicara dengan Sandia dan menyelesaikan masalah ini." Batin Leon.
Tiga bulan? Ada apa nih dengan Pernikahan Leon dan Lorenza?
Penasaran?
Jangan lupa like koment vote dan kasih 🌹yang banyak buat Sandia donk...
Terima kasih untuk readers yang telah mensuport author semoga sehat selalu...
Miss U All...
TBC....
Author mohon dukungannya di karya author satu ini ya...
__ADS_1