
Pagi ini Gavin sedang menimang Gava sedangkan Vania sedang menyiapkan sarapan.
" Sayangnya Papa kita bobo'an aja ya, biar kamu bisa bebas guling guling di ranjang." Gavin menidurkan Gava di ranjangnya.
" Ha.. ha... aaa" Celoteh Gava.
" Apa sayang? Seneng ya bisa bebas? Coba tengkurap lagi!" Ujar Gavin.
" Ha.. ha." Gava mengangkat kedua kalinya ke mulutnya.
" Jangan donk sayang! Itu kotor." Ujar Gavin.
Vania masuk ke dalam menghampiri keduanya.
" Sarapannya udah siap Mas." Ucap Vania.
" Kamu udah makan?" Gavin menatap Vania.
" Belum, kamu duluan aja!" Ujar Vania.
" Nanti bareng aja, nunggu Sandia ke sini dulu." Ujar Gavin.
Vania menatap Gava yang sedang senyam senyum sendiri.
" Gava ceria sekali Mas, anak Mama hebat ya!" Ujar Vania.
" Anak Papa juga donk!" Sahut Gavin.
Gavin merangkul pundak Vania. Ia menciumi pipi Vania dengan gemas.
" Apa sih Mas! Malu tahu ada Gava." Ujar Vania.
" Gava masih kecil sayang kenapa harus malu? Dia malah senang kok, tuh lihat dia senyam senyum gitu melihat kita." Ujar Gavin.
Vania tersenyum menatapnya.
" Kak sarapan dulu!" Sandia masuk ke dalam menghampiri mereka.
" Ayo sayang kita makan dulu!" Gavin menggandeng tangan Vania.
" Titip Gava ya San." Ucap Vania.
" Siap Kak!" Sandia mengacungkan jarinya.
Keduanya keluar kamar menuju dapur. Vania mengambilkan makanan untuk Gavin. Di sana mereka makan hanya berdua saja karena yang lain sudah makan duluan.
" Aku pengin romantis sama kamu sayang." Gavin menyodorkan sesendok makanan ke mulut Vania.
Vania tersenyum ke arah Gavin.
" Ayo sayang! Keburu pegal nih tangan." Ujar Gavin
Vania menerima suapan demi suapan Gavin dengan senang. Gavin tersenyum menatap Vania. Keduanya nampak bahagia dan romantis seperti pasangan pada umumnya.
Di dalam kamar Gavin, Sandia sedang bermain dengan Gava. Tiba tiba ponselnya berdering tanda panggilan masuk.
" Mas Rangga." Gumam Sandia.
" Halo Mas." Sapa Sandia mengangkat panggilannya.
" Sandia bisa kamu ke sini? Mas butuh bantuanmu." Ucap Rangga.
" Memangnya kamu dimana Mas?" Tanya Sandia.
" Mas ada di gudang belakang rumah, entah siapa yang menguncinya dari luar tapi Mas terkurung di sini." Ujar Rangga.
" Tapi kamu baik baik saja kan Mas? Soalnya aku nggak bisa langsung ke sana, aku sedang nemenin Gava, kak Vania sama kak Gavin lagi makan." Ucap Sandia.
" Iya Mas tidak pa pa, ya udah Mas tunggu tapi jangan lama lama, Mas sumpek di sini nggak bisa nafas, pengap San." Ucap Rangga.
" Iya Mas." Sahut Sandia mematikan sambungan ponselnya.
" Ada ada aja kamu Mas." Sandia menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Sandia menggendong Gava turun ke bawah menghampiri Vania.
" Kak aku ada perlu sebentar, kalian udah selesai kan makannya?" Tanya Sandia.
" Iya udah, sini Gava sama Mama." Sahut Vania mengambil Gava dari Sandia.
" Aku pergi dulu Kak." Ucap Sandia yang di balas anggukan kepala oleh Vania.
Sandia keluar rumah, di depan pintu ia berpapasan dengan Leon.
" Pagi Sandia, mau kemana?" Tanya Leon menatapnya.
Sandia melirik nya sekilas lalu melanjutkan langkahnya. Leon menghela nafasnya, ia masuk ke dalam menghampiri Gavin.
Ceklek...
Sandia membuka pintu gudang, ia masuk ke dalam mencari Rangga.
" Mas Rangga." Panggil Sandia.
" Aku di sini." Ucap Rangga mendekati Sandia.
" Kenapa bisa terkurung di sini? Memangnya kamu mau ambil apa Mas?" Tanya Sandia.
" Ibu menyuruh Mas mengambil selang air yang baru, soalnya yang lama udah nggak bisa di gunakan. Mungkin ibu lupa kalau Mas ada di dalam makanya di kunci deh pintunya dari luar." Terang Rangga membuat Sandia tertawa.
" Ih kok tertawa sih? Jahat banget kamu mah." Ujar Rangga.
" Udah dapat belum selangnya?" Tanya Sandia menatap Rangga.
" Belum, nggak tahu tempatnya soalnya." Sahut Rangga.
" Sepertinya ada di atas itu Mas." Sandia menunjuk tempat yang ada di atas tumpukan barang barang lainnya.
" Oke akan aku ambil." Sahut Rangga.
Rangga mengambil kursi lalu naik ke atasnya.
Dengan susah payah Rangga menggapai selangnya, belum sempat tangannya menyentuh selang tiba tiba kursinya oleng dan...
" Sandia awas!!" Teriak Rangga.
" Aaaaaa"
Brugh....
Rangga jatuh menindih tubuh Sandia. Keduanya saling menatap dengan jantung yang berdegub kencang.
"Ya Tuhan Sandia.... Hatiku berdesir setiap melihat wajahmu. Aku semakin yakin dengan perasaanku, aku mencintaimu Sandia." Ujar Rangga dalam hati.
" Ternyata Mas Rangga tampan juga, matanya begitu meneduhkan hatiku. Bibirnya merah merona membuatku ingin mengecupnya." Batin Sandia.
Rangga tersenyum manis ke arahnya membuat hati Sandia seperti tersiram es.
Tiba tiba....
" Kurang aja kau Rangga!"
Leon menarik Rangga lalu..
Bugh... Bugh... Bugh...
Leon memukuli wajah Rangga.
Bugh Bugh bugh
Kali ini Leon memukul perut Rangga hingga tersungkur ke lantai.
" Kak Leon!" Teriak Sandia menarik Leon menjauhi Rangga.
Rangga mengusap darah di sudut bibirnya.
" Apa apaan kamu Kak! Main pukul gitu aja!" Bentak Sandia.
__ADS_1
" Dia berbuat kurang ajar padamu Sandia, dia harus di beri pelajaran." Teriak Leon.
" Siapa yang berbuat kurang ajar hah?" Sandia menatap tajam ke arah Leon.
" Kamu!!" Sandia menunjuk wajah Leon.
" Kamu yang kurang ajar dengan Mas Rangga. Tidak tahu apa apa main pukul orang sembarangan. Dasar sinting!" Cebik Sandia.
Sandia mendekati Rangga, ia membantu Rangga berdiri.
" Maaf Mas gara gara aku kamu jadi seperti ini." Ucap Sandia menatap Rangga.
" Tidak pa pa Sandia, ini bukan salahmu." Sahut Rangga.
" Aku obati Mas." Sandia menuntun Rangga masuk ke dalam rumah.
Leon segera mengikuti mereka.
" Duduk sini Mas!" Sandia membantu Rangga duduk di sofa.
" Astaga Rangga kamu kenapa Nak?" Bibi Tuti menghampirinya.
Nyonya Rindu, Gavin dan Vania pun menghampiri mereka.
" Sini Kak!" Sandia mengeluarkan rivanol dan kapas dari kotak p3k.
" Sandia, Rangga kenapa?" Tanya Gavin mrnatap Sandia yang sedang mengoleskan salep di pipi Rangga.
" Di pukuli sama Kak Leon." Sahut Sandia.
Semua orang menatap ke arah Leon.
" Aku melihat Rangga hendak berbuat hal tidak senonoh kepada Sandia, itu sebabnya aku memukulinya." Sahut Leon membela diri.
" Tidak Kak! Mas Rangga mau mengambil selang air dengan naik ke atas kursi, aku memegangi kursinya tapi tiba tiba kursinya oleng dan kami jatuh. Kebetulan Mas Rangga jatuh menindih tubuhku. Nggak tahunya ada mata mata yang langsung menyerang Mas Rangga tanpa bertanya lebih dulu." Terang Sandia melirik Leon.
" Benar begitu Rangga?" Selidik Gavin.
" Iya Vin." Sahut Rangga.
" Kau salah paham Leon." Ucap Gavin.
" Maafkan aku!" Ucap Leon.
" Bisanya cuma bikin masalah terus minta maaf. Gampang banget kamu minta maaf Kak, aku tidak akan memaafkanmu tentang masalah ini." Sahut Sandia.
" Sandia... " Rangga menyentuh tangan Sandia.
" Maafkan saja! Mas juga tidak pa pa kok. Lagian sesama manusia kita harus saling memaafkan kan." Ucap Rangga.
" Baiklah aku maafkan." Sahut Sandia.
Leon menatap Rangga dengan tatapan menyelidik.
" Aku lihat sepertinya kau menyukai Sandia, kau mencintainya kan? Itu sebabnya kau bersikap manis dengannya." Ujar Leon.
" Benar begitu kan Rangga?" Tanya Leon.
Semua orang menatap ke arah Rangga begitu juga dengan Sandia.
Rangga menatap mereka satu persatu sampai...
Sampai apa hayo...
Kira kira Rangga berani mengakui nggak ya?
Tekan like koment vote dan kasih 🌹yang banyak buat author donk biar makin semangat.
Terima kasih untuk readers yang telah mensuport author semoga sehat selalu..
Miss U All...
TBC....
__ADS_1