Pada Akhirnya Aku Menyerah

Pada Akhirnya Aku Menyerah
TERHARU


__ADS_3

Sandi masuk ke dalam kamarnya di ikuti Rangga dari belakang.


" Sayang maafkan Mas yang tidak percaya pada semua ucapanmu." Ucap Rangga berdiri di hadapan Sandia. Ia menggenggam tangan Sandia sambil menatapnya.


" Mas memang buka suami yang baik, Mas tidak bisa melihat ketulusanmu. Mas salah sayang, maafkan Mas!" Ucap Rangga menyalahkan dirinya sendiri.


Sifat inilah yang Sandia sukai dari Rangga. Jarang jarang ada pria yang mau menyalahkan dirinya sendiri kan? Rangga memang benar benar istimewa, pikir Sandia.


" Sayang jangan diam saja seperti ini! Jika kamu marah ataupun kecewa sama Mas, hukum Mas sayang! Pukul Mas! Tapi jangan mengabaikan Mas seperti ini." Bujuk Rangga.


" Bukankah Mas juga melakukan hal yang sama?"


Skakmat....


Rangga tidak bisa berbicara apa apa lagi.


" Aku melakukan hal sama denganmu Mas. Rasa sakit, kecewa ataupun kemarahan yang kau rasakan tidak sebanding dengan apa yang aku rasakan. Aku terluka saat Mas tidak mempercayai aku, aku kecewa saat Mas lebih percaya pada apa yang Mas lihat tanpa tahu yang sebenarnya, aku kesal saat Mas mengabaikan aku, bahkan mungkin jika tadi Mas tidak mendengar pembicaraan kami, Mas masih mengabaikan aku saat ini. Sekarang saat aku lebih memilih diam Mas memintaku untuk tidak mengabaikanmu, apa aku harus melupakan rasa sakit itu?" Sandia menatap Rangga.


" Ya... Kau harus melupakannya sayang, karena Mas akan mengobatinya. Mas tidak akan meninggalkan bekas pada luka itu. Mas akan menutupnya dengan cinta dan kasih sayang yang akan Mas berikan padamu." Sahut Rangga menangkup wajah Sandia.


" Mas mencintaimu." Ucap Rangga mencium kening Sandia.


Wanita mana yang tidak akan luluh dengan perhatian dan kasih sayang yang Rangga tunjukan. Sandia menghela nafasnya pelan, ia menatap Rangga yang saat ini juga sedang menatapnya dengan penuh penyesalan.


" Apa kau mau memaafkan Mas?" Tanya Rangga memastikan.


" Aku memaafkanmu Mas." Sahut Sandia.


" Terima kasih sayang." Ucap Rangga menarik Sandia ke dalam pelukannya.


" Mas sangat beruntung memiliki wanita sepertimu." Sambung Rangga menciumi pucuk kepala Sandia.


" Bukan kau Mas, tapi aku. Aku yang beruntung memiliki pria sebaik dirimu. Pria yang sangat mencintaiku." Sahut Sandia membalas pelukan Rangga.


" Mas akan mencoba lebih sabar lagi dalam menghadapi setiap masalah. Terima kasih sudah memberikan Mas kesempatan untuk memperbaiki diri Mas." Ujar Rangga.


" Sudah ah nggak perlu di bahas Mas! Kita bahas yang indah indah saja." Ujar Sandia.


" Sekarang istirahatlah sayang! Mas akan memelukmu." Ucap Rangga.


Sandia menganggukkan kepalanya. Malam ini Sandia tidur nyenyak dalam pelukan suami tercinta.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Huek huek...


Pagi ini Vania kembali muntah muntah seperti biasa. Gavin setia berdiri di belakang Vania sambil memijat pelan tengkuk Vania.


Merasa agak mendingan Vania membasuh mulutnya lalu mengeringkannya dengan tisu.


" Udah lebih baik?" Tanya Gavin.


" Iya Mas." Sahut Vania menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


" Ayo aku bantu ke ranjang." Ujar Gavin.


Gavin menuntun Vania kembali ke ranjangnya. Vania duduk bersandar pada headboard.


" Mau aku buatkan sesuatu?" Tanya Gavin.


" Aku makan sup ayam Mas." Sahut Vania.


" Baiklah aku akan menyuruh bibi Tuti membuatnya. Kamu tunggu disini! Sekalian aku mau mengambil Gava." Sahut Gavin di balas anggukkan kepala oleh Vania.


Gavin kelaur dari kamarnya. Tak lama ia kembali bersama Gava dalam gendongannya.


" Aku kangen pengin gendong Gava Mas." Ucap Vania.


" Kamu masih lemas sayang, untuk saat ini jangan menggendong Gava dulu. Takutnya nanti pas gendong Gava terus kamu jatuh kan bisa bahaya sayang." Ujar Gavin.


" Kasihan Gava ya Mas, dia jadi nggak minum asiku lagi." Ucap Vania menatap Gavin yang melempar senyum padanya.


" Tidak pa pa sayang, Gava pasti bisa mengerti suatu saat nanti. Lagian dia juga lebih suka susu formula kan? Jadi kamu tidak perlu memikirkan akan hal itu. Lebih baik. kamu fokus pada kehamilanmu yang sekarang." Ucap Gavin.


" Iya Mas." Sahut Vania.


" Gava duduk di sini ya, kita temenin mama kamu." Ucap Gavin menurunkan Gava di ranjangnya.


" Ma.. ma.. ma... " Celoteh Gava merangkak mendekati Vania.


" Apa sayang hmm? Kangen pengin di gendong sama Mama ya." Ujar Vania.


" Ma.. ma.. ma... " Gava terus berceloteh. Sesekali ia mengangkat kakinya lalu memasukannya ke mulutnya.


" Gava sangat aktif sayang, aku bahagia bisa melihat dia tumbuh dengan sehat." Ucap Gavin menatap Gava.


" Iya Mas, besok kalau adiknya udah lahir mereka akan terlihat seperti kembar." Ujar Vania.


" Aku sudah tidak sabar menantikannya sayang." Sahut Gavin.


Tok tok...


Bibi Tuti masuk dengan membawa nampan berisi semangkuk sup ayam beserta nasi dan lauknya untuk Vania.


" Ini Vania pesanannya, semoga debaynya suka ya." Ujar bibi Tuti memberikan nampannya kepada Vania.


Gavin segera menggendong Gava.


" Terima kasih Bi." Ucap Vania.


" Sama sama." Sahut bibi Tuti.


" Gava makan dulu yuk sama Nenek, papa kamu biar sekalian makan bareng sama mama kamu." Ucap bibi Tuti mengambil Gava dari gendongan Gavin.


" Mam.. mam.. mam.. " Gava seolah meyahut ucapan bibi Tuti.


" Pintarnya cucu Nenek, besok kalau udah besar mau jadi apa ya? Pengusaha atau dokter?" Bibi Tuti membawa Gava keluar dari kamarnya.

__ADS_1


" Bibi Tuti terlihat sangat menyayangi Gava sayang." Ujar Gavin.


" Iya Mas, dulu saja saat hamil Gava apa apa bibi Tuti selalu menurutinya. Bahkan pernah tengah malam aku kepengin wedang ronde Mas, bibi Tuti jalan kaki membelikannya di dekat jalan raya." Ujar Vania.


" Kenapa tidak Rangga? Memangnya dia kemana?" Tanya Gavin.


" Mas Rangga tour sama anak anak waktu itu." Sahut Vania.


" Oh iya sayang, selama ini kamu belum pernah menceritakan masa masa ngidam kamu saat hamil Gava dulu. Sekarang coba ceritakan! Aku ingin mendengar bagaimana anakku menyusahkan kalian bertiga." Ujar Gavin.


" Aku akan menceritakan semuanya tapi nanti setelah aku makan." Sahut Vania.


" Baiklah sekarang makan dulu, setelah itu ceritakan padaku!" Ujar Gavin.


" Suapin!" Ucap Vania manja.


" Siap sayang." Sahut Gavin.


Gavin menyuapi Vania dengan telaten karena memang supnya masih panas.


" Apa terasa mual?" Tanya Gavin.


" Tidak Mas." Sahut Vania.


Vania kembali melanjutkan makannya sampai habis.


" Wah anak papa pintar, makannya habis dan tidak muntah. Sehat sehat di dalam sini ya sayang." Ujar Gavin mengelus perut Vania.


" Iya Pa." Sahut Vania.


" Sekarang ceritakan bagaimana Gava membuat kalian bertiga menderita karena keinginannya." Ucap Gavin sangat antusias ingin mendengarnya.


" Saat aku hamil Gava, sebenarnya setiap malam aku selalu menangis karena merindukanmu Mas." Ucap Vania.


" Maafkan aku sayang!" Ucap Gavin.


" Semua sudah berlalu Mas, tidak perlu di ratapi lagi." Ujar Vania.


" Iya sayang." Sahut Gavin.


" Mau di teruskan tidak nih?" Tanya Vania menatap Gavin.


" Iya donk." Sahut Gavin.


Akhirnya Vania menceritakan suka dukanya saat hamil Gava dulu dari awal sampai ia melahirkan Gava. Gavin nampak terharu mendengarnya, kadang ia tertawa kadang ia juga menangis. Gavin terbawa suasana.


Jangan lupa like koment vote dan kasih 🌹 yang banyak buat author..


Terima kasih untuk readers yang telah mensuport author...


Miss U All...


TBC....

__ADS_1


__ADS_2