Pada Akhirnya Aku Menyerah

Pada Akhirnya Aku Menyerah
MENJENGUK VANIA


__ADS_3

Hari ini Sandia dan Rangga pulang ke rumahnya. Sandia benar benar terkejut karena rumah yang Rangga beli terlihat mewah, walaupun tidak semewah milik Gavin. Bangunan modern berlantai dia, dengan halaman yang cukup luas, serta taman depan yang di hiasi kolam ikan dan tanaman bunga mawar.


" Mas rumah ini... " Sandia menjeda ucapannya sambil mengedarkan pandangannya.


" Iya sayang, rumah ini Mas beli untukmu. Maaf jika tidak sesuai impianmu!" Ucap Rangga.


" Mas bicara apa sih! Apapun yang Mas berikan buat aku, aku menyukainya Mas. Dan rumah ini sesuai dengan rumah impianku. Terima kasih telah berusaha membuat aku bahagia, tapi seharusnya tidak perlu semewah ini. Katanya mau membuatku bahagia dalam kesederhaan, tapi nyatanya kau menghabiskan uangmu hanya untuk rumah dan pernikahan kita." Ujar Sandia menatap Rangga.


" Semua akan Mas lakukan untukmu Sandia. Mas takut kalau kamu tidak nyaman tinggal di rumah sederhana dan biasa biasa saja, apalagi kamu terbiasa tinggal di rumah mewah. Lagian Mas kan mau memiliki banyak anak. Nanti anak kita tidak bisa bermain kalau rumahnya kecil." Ucap Rangga merangkul Sandia.


" Baiklah terima kasih suami tercintaku, aku akan melahirkan anak yang banyak untukmu." Sahut Sandia.


" Ya sudah sekarang kita lihat dalamnya, terus kita istirahat sebentar. Nanti sore kita ke rumah Gavin untuk menengok Vania." Ujar Rangga.


" Iya Mas." Sahut Sandia.


Mereka masuk ke dalam sambil bergandengan tangan lalu berkeliling melihat seisi rumah baru mereka. Sandia benar benar kagum dengan tatanan rumahnya. Benar benar sesuai impiannya.


Setelah itu mereka masuk ke dalam kamarnya.


" Mas apa kau tidak mau makan siang? Mau apa biar aku masakin." Ucap Sandia.


" Mas masih kenyang sayang, mending buat istirahat saja." Sahut Rangga.


" Baiklah ayo kita istirahat." Sandia naik ke atas ranjang.


" Mas akan memelukmu." Ucap Rangga membawa Sandia ke dalam pelukannya.


Sore hari Sandia dan Rangga mengunjungi rumah Gavin. Mereka masuk ke dalam menghampiri nyonya Rindu dan bibi Tuti yang sedang memasak di dapur.


" Sora Ma, sore Bu." Sapa Sandia menyalami keduanya dengan takzim.


" Sore sayang, duh pengantin baru roman romannya berseri seri terus." Goda nyonya Rindu.


" Iya lah Ma, kan masih hangat hangatnya. Doakan supaya kami selalu bahagia dan segera di beri momongan ya Ma." Ucap Sandia duduk di meja makan.


" Amin.. Doa terbaik untukmu sayang." Sahut nyonya Rindu.


" Ibu, kenapa ibu tidak tinggal denganku dan Mas Rangga saja?" Tanya Sandia menatap bibi Tuti.


" Tidak Sandia, ibu di sini membantu Vania mengurus Gava, nanti kalau ibu tinggal sama kamu ibu harus bolak balik, capek Sandia." Sahut bibi Tuti.


" Lagian ibu mertuamu sekalian menemani Mama di sini sayang. Kalian tinggal berdua aja biar tidak ada yang menganggu." Timpal nyonya Rindu.

__ADS_1


" Ya udah kalau begitu." Sahut Sandia.


" Maaf ya Ma, Bu! Aku tidak bisa membantu kalian, aku mau ke kamar kak Gavin menemui kak Vania dulu." Ucap Sandia.


" Iya sayang nggak pa pa." Sahut nyonya Rindu, sedangkan bibi Tuti hanya membalasnya dengan anggukkan kepala.


" Ayo Mas!" Sandia menarik tangan Rangga menuju kamar Gavin.


Tok tok...


" Kak." Ucap Sandia.


" Ya, masuk aja San." Sahut Gavin dari dalam.


Ceklek....


Sandia dan Rangga masuk ke dalam, mereka menghampiri Vania yang sedang duduk bersandar di atas ranjang. Sedangkan Gavin sedang menggendong Gava.


" Bagaimana kabarmu Kak?" Tanya Sandia menatap Vania.


" Aku baik baik saja San." Sahut Vania.


" Gimana Kakak bilang baik baik saja, orang Kakak sakit gini kok. Lihatlah wajah Kakak! Pucat seperti orang tidak punya darah." Ujar Sandia membuat Vania tersenyum dengan perhatiannya.


" Kakakmu tidak sakit Sandia, dia hanya meriang karena sedang mengalami masa ngidam." Sela Gavin.


" Masa ngidam?" Sandia mengerutkan keningnya.


Gavin menganggukkan kepalanya.


" Berarti Kak Vania hamil lagi? Gava mau punya adik?" Pekik Sandia memastikan.


" Tidak perlu sehisteris itu Sandia, kau mengagetkan Gava." Ujar Gavin menimang Gava.


" He he maaf Kak, aku kan kaget aja. Ngebut bener kamu Kak, Gava masih kecil lhoh, baru tujuh bulan udah mau punya adik. Kasihan ponakan Aunti satu ini. Papamu benar benar tidak bisa mengontrol diri." Ucap Sandia mengambil Gava dalam gendongan Gavin.


" Mau gimana lagi, semua itu pemberian Tuhan Sandia. Dan kita wajib mensyukurinya." Ucap Gavin.


" Halah alasan. Bilang aja kamu yang pengin punya anak lagi, makanya Kak Vania nggak boleh pakai kontrasepsi." Cebik Sandia menjukurkan lidahnya ke arah Gavin.


" Sialan lo! Mau jadi adik durhaka kamu." Ucap Gavin.


" Bodo'." Sahut Sandia.

__ADS_1


Sandia menatap Gava yang saat ini sedang menatapnya sambil mengulum jempolnya, semua itu nampak menggemaskan di mata Sandia. Ia menciumi pipi Gava dengan lembut.


" Ya sayang ya.. Kamu mau punya adik? Minum asi aja belum genap dua tahun malah di kasih adik. Besok kalau papa kamu lebih sayang sama adik kamu, kamu cubit aja tuh adik kamu ya biar nangis." Ucap Sandia.


" Aha ha ha." Celoteh Gava.


" Kamu ngajarin Gava nggak bener San, lagian Kakak tidak akan membeda bedakan mereka. Kakak akan bagi adil kasih sayang Kakak pada mereka berdua." Sahut Gavin tidak terima.


" Semoga saja kau bisa adil pada mereka Kak, kalau enggak aku akan mengambil Gava untuk tinggal bersama kami." Ancam Gavin.


" Enak aja! Kamu buat sendiri lah, udah punya suami juga." Sahut Gavin.


" Ya sebelum aku di berikan momongan sama Tuhan, aku kan bisa mengasuh Gava dulu. Biar dia jadi anak pertamaku." Ujar Sandia.


" Tetap nggak boleh, Gava putraku dan dia hanya menjadi milikku." Sahut Gavin.


" Dih posesif." Cibir Gavin.


" Sudah sudah! Kalian ini kalau masalah Gava selalu saja rebutan. Kaya' anak kecil rebutan mainan aja." Ujar Vania melerai keduanya.


" Kak Gavin yang mulai." Ucap Sandia.


" Kamu dulu!" Sahut Gavin.


Vania menggelengkan kepalanya sedangkan Rangga mengulas senyumnya melihat kelakuan kakak beradik itu.


Gavin duduk di samping Rangga. Mereka mengobrol membicarakan pekerjaan. Sedangkan Sandia mendekati Vania di ranjangnya.


" Pengin makan apa Kak? Kalau pengin apa apa jangan sungkan sungkan minta kak Gavin untuk membelikannya. Pasti kak Gavin menuruti semua keinginanmu." Ucap Sandia.


" Sekalian balas dendam saat hamil Gava dulu." Bisik Sandia di balas senyuman oleh Vania.


" Tadi udah di buatin jus. Untuk saat ini aku belum pengin makan apa apa San, masih mual juga. Kalau makan takut muntah lagi." Sahut Vania.


" Kalau begitu pengin di pijitin aja Kak, kan jarang jarang tuh ngidam pengin di pijitin sama suami." Ujar Sandia menaik turunkan alisnya.


" Idemu luar biasa Sandia, nanti akan aku laksanakan idemu itu." Sahut Vania.


Mereka mengobrol sampai tak terasa hari sudah petang. Setelah makan malam Sandia dan Rangga pulang ke rumahnya.


Jangan lupa like koment vote dan kasih mawar yang banyak buat author..


Terima kasih untuk readers yang telah mensuport author semoga sehat selalu...

__ADS_1


Miss U All....


TBC


__ADS_2