Pada Akhirnya Aku Menyerah

Pada Akhirnya Aku Menyerah
KABAR BAHAGIA


__ADS_3

" Cintaku terbagi untuk yang lain."


Jeduarrrr.....


Gavin mengepalkan erat tangannya menahan emosi dalam jiwanya.


" Siapa pria itu Vania? Katakan siapa pria itu!" Gavin mengguncang bahu Vania dan menatapnya dengan tajam.


Melihat mata itu tiba tiba jantung Vania berdetak sangat kencang. Ia merasa sangat takut, ia teringat saat Gavin menyiksanya dulu. Perasaan dan hatinya menjadi tidak karuan. Niat hati ingin menggoda Gavin malah ia mendapat perlakuan seperti ini.


" Katakan siapa dia Vania!! Atau aku akan membunuhmu sekarang juga." Bentak Gavin hilang kendali membuat Vania berjingkrak kaget. Rasa takut kehilangan pada diri Gavin kembali muncul dalam hatinya. Ia merasa trauma dengan semua itu.


" Dia... Dia..... " Vania menjeda ucapannya.


" Dia siapa?" Tekan Gavin.


" Dia.....


Brugh...


Tiba tiba Vania tidak sadarkan diri.


" Sayang.. Sayang." Ucap Gavin panik sambil menepuk pipi Vania.


" Ya Tuhan, apa yang telah aku lakukan?" Gavin membaringkan Vania di atas ranjang.


Gavin segera menelepon dokter. Sambil menunggu dokter, ia mengusap usap telapak tangan Vania.


" Sayang bangunlah! Maafkan aku jika aku menyakitimu. Aku terbawa emosi saat kau mengatakan itu sayang, aku tidak mau kehilanganmu, aku tidak rela cintamu terbagi untuk pria lain. Aku mohon sadarlah!" Ucap Gavin menciumi tangan Vania.


Tak lama nyonya Rindu datang bersama dengan dokter Hera. Dokter baru keluarga Mahardika yang berusia lebih tua tiga tahun dari Gavin.


" Gavin ada apa dengan Vania? Kenapa kau memanggil dokter Hera ke sini?" Tanya nyonya Rindu.


" Vania pingsan Ma." Sahut Gavin.


" Tolong periksa istri saya Dok!" Titah Gavin menatap dokter Hera.


" Iya Tuan."


Dokter Hera memeriksa Vania mulai dari detak jantung dan denyut nadi. Ia tersenyum simpul menatap Gavin. Tak lupa, ia juga memeriksa perut Vania.


" Ada apa Dok? Kenapa anda tersenyum seperti itu? Apa istri saya baik baik saja?" Tanya Gavin.


" Istri anda baik baik saja Tuan, saya ucapkan selamat untuk anda yang akan menjadi ayah dari anak kedua kalian." Ucap dokter Hera.


" Apa? Apa maksudmu Dok? Apa maksud anda istri saya hamil begitu?" Tanya Gavin memastikan.


" Iya Tuan, saat istri anda sedang hamil." Sahut dokter Hera.

__ADS_1


Gavin melongo menatap mamanya.


" Ma, Vania hamil... Gava mau punya adik Ma." Ucap Gavin dengan mata berbinar. Ia merasa sangat bahagia dengan kabar ini.


"Apa ini kabar ketiga yang Vania maksudkan? Ya Tuhan... Aku sudah emosi mendengar Vania akan membagi cintanya tanpa mau mendengar kelanjutannya dulu. Maafkan aku sayang." Batin Gavin.


" Selamat sayang, semoga kehadiran anak keduamu membuat kalian semakin bahagia." Ucap nyonya Rindu.


" Terima kasih Ma." Ucap Gavin.


Setelah kepergian dokter dan mamanya, Gavin naik ke atas ranjang. Ia berbaring di samping Vania lalu memeluknya.


Gavin mengelus perut rata Vania.


" Sayang maafkan Papa ya, Papa tidak tahu kalau Mama kamu mau memberitahu tentang kehadiranmu. Papa malah keburu emosi, sehat sehat di dalam sini sayang, Papa menyayangimu." Ucap Gavin.


Tak lama Vania mengerjapkan matanya.


" Sayang kamu sudah sadar." Ucap Gavin.


" Kepalaku pusing Mas." Ucap Vania memegangi kepalanya.


" Sini aku pijat!" Ujar Gavin memijat kepala Vania dengan pelan.


" Mas aku kenapa?" Tanya Vania.


" Kamu tadi pingsan sayang, tapi tenang saja! Kamu sudah di periksa oleh dokter dan dokter mengatakan kalau kau sedang hamil saat ini. Aku bahagia banget sayang, akhirnya aku bisa melihatmu hamil anak kedua kita, aku berjanji akan menemani dan memenuhi semua keinginanmu untuk menebus masa masa kehamilan Gava yang terlewatkan waktu itu. Aku mencintaimu." Ucap Gavin mencium pucuk kepala Vania.


" Kamu kenapa sayang? Kenapa kamu diam saja?" Tanya Gavin.


" Aku kecewa Mas." Sahut Vania.


Deg...


Jantung Gavin terasa berhenti berdetak.


" Kecewa? Kenapa kamu kecewa sayang? Apa kamu tidak suka dengan kehamilanmu saat ini?" Tanya Gavin.


" Kau selalu berasumsi sendiri Mas. Aku kecewa karena bukan aku yang memberimu kabar bahagia ini. Saat aku mau mengatakannya aku malah pingsan. Rasa ketakutan saat kau membentak ku kembali menyeruak di hatiku, aku merasa dejavu merasakan semua itu Mas. Aku teringat saat kau menyiksaku dulu, aku benar benar merasa trauma yang mendalam. Padahal niatku ingin memberimu kejutan dengan sedikit menggodamu tapi malah jadi kacau seperti ini." Ujar Vania.


" Maafkan aku sayang, maafkan aku! Aku tidak akan membentakmu lagi, aku akan melakukan apapun yang kamu mau. Terima kasih telah memberikan kado terindah dalam hidupku lagi. Aku menyayangimu sayang, walaupun bukan kau orang pertama yang memberitahuku tapi aku sangat bahagia sayang. Sekali lagi maafkan aku! Maafkan apa yang telah aku lakukan padamu sehingga meninggalkan bekas luka yang begitu dalam. Maafkan aku." Ucap Gavin menyesal.


Vania menganggukkan kepalanya.


" Sekarang tidurlah! Aku akan memelukmu sampai pagi." Ucap Gavin memeluk Vania.


Vania terlelap dalam pelukan Gavin.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Sandia menggulung tubuhnya dengan selimut, ia duduk di ranjang berdampingan dengan Rangga.


" Aku akan membalasmu kak." Gumam Sandia kesal. Ia merutuki sikap jahil kakaknya itu.


" Sabar sayang, di suruh pakai baju Mas nggak mau." Ucap Rangga.


" Nggak ah, nanti Mas kedinginan lagi." Ujar Sandia.


" Gini aja, biar adil Mas akan membuka baju Mas. Jadi kita sama sama tidak pakai baju, biar kita sama sama kedinginan." Ucap Rangga membuka baju dan celananya.


Rangga masuk ke dalam selimut yang sama dengan yang di pakai Sandia. Rangga memeluk Sandia sambil menatap wajahnya.


" Sayang, malam pertama kita." Ucap Rangga.


" Lalu?" Tanya Sandia.


" Bolehkah Mas melakukannya sekarang? Biar kita tidak kedinginan lagi." Ujar Rangga.


Bagaimana tidak kedinginan kalau Gavin menyetel acnya terlalu rendah. Dan lebih repotnya, Gavin membawa remotnya entah kemana.


" Lakukan saja Mas! Aku sudah siap kok." Ucap Sandia.


Tanpa membuang waktu, Rangga menindih tubuh Sandia. Ia mengecup bibir Sandia dengan lembut. Sandia membuka mulutnya membiarkan Rangga mengeskpos setiap inchinya.


Ciuman Rangga turun ke leher Sandia. Ia membuat beberapa stempel kepemilikan di sana. Tangannya bergerilnya menyusuri tubuh Sandia sampai berhenti di area favoritnya. Ia meremasnya dengan pelan membuat Sandia mendesis. Jiwa kelakian Rangga semakin membara.


Setelah cukup lama melakukan foreplay, Rangga memulai permainan malam pertamanya. Ia mengarahkan senjatanya ke goa Sandia. Satu kali hentakan gagal, dua kali sampai ke tiga kali baru ia berhasil.


Sandia mencengkeram erat sprei menahan rasa sakit yang terasa begitu menyesakkan di bagian intinya. Melihat itu Rangga kembali mencium bibir Sandia untuk mengalihkan perhatiannya. Di rasa Sandia sudah terbuai dengan sentuhanya, ia mulai memacu tubuhnya dengan pelan.


Rangga benar benar menyentuh Sandia dengan lembut membuat Sandia terasa terbang ke atas nirwana. Suara des@h@n dan erangan memenuhi kamar pengantin mereka. Malam ini benar benar menjadi saksi penyatuan cinta mereka berdua.


Setelah satu jam lamanya akhirnya Rangga menyelesaikan permainannya.


" Terima kasih sayang telah menjaganya untuk Mas." Ucap Rangga mencium kening Sandia.


" Hmm." Gumam Sandia.


Rangga merebahkan tubuhnya di samping Sandia ia menyelimuti tubuh keduanya lalu membawa Sandia ke dalam pelukannya. Karena merasa lelah, keduanya terlelap ke alam mimpi bersama.


Tekan like untuk mendukung karya ini..


Terima kasih...


Miss U All..


TBC....


Author tunggu juga dukungan kalian di sini ya!!!!

__ADS_1



__ADS_2