Pada Akhirnya Aku Menyerah

Pada Akhirnya Aku Menyerah
TERUNGKAP SUDAH


__ADS_3

Telepon tersambung, dan tak lama seseorang di sebrang sana pun mengangkatnya.


" Halo Risa, bagaimana kabarmu?"


" Apa mereka memperlakukanmu dengan baik?"


" Kau tenang saja Kak, aku baik baik saja." Sahut Risa.


Klik...


Risa mematikan sambungan teleponnya. Risa menatap keduanya dengan senyum remeh.


" Kalian tidak mendapatkan apa apa kan? Dia kakak sepupuku yang berada di jawa." Ucap Risa.


Danesha maju merebut ponsel di tangan Risa.


" Hei apa apaan kau Danesha! Kembalikan ponselku." Teriak Risa.


" Kau tidak perlu berteriak Risa, permainan belum berakhir. Masih ada kelanjutannya." Ujar Danesha.


Danesha kembali menelepon kontak tadi. Begitu telepon tersambung dia langsung mengangkatnya.


" Halo Risa, kenapa teleponnya di matikan? Apa ada Danesha di sekitarmu? Bagaimana? Apa dia mencurigaimu? Ah jangan sampai itu terjadi, kalau tidak rencanaku akan gagal Risa. Dan aku akan membunuhmu. Aku sudah membayar mahal seseorang untuk menukar hasil tes DNA itu, aku juga sudah memberikan bayaran yang mahal kepadamu. Pastikan kalau semua berjalan lancar sesuai rencanaku. Aku ingin Danesha kembali hancur karena kehilangan suaminya."


Danesha dan Leon menatap tajam ke arah Risa. Risa hanya bisa menundukkan kepalanya.


" Kau bodoh Feni... Kenapa kau malah mengungkap semuanya tanpa menunggu sahutan dariku. Mati aku kalau seperti ini, mereka pasti akan mengirimkan aku ke penjara. Feni sialan.... " Gerutu Risa dalam hati.


" Wow... " Decak Danesha membuat tubuh Feni menegang.


" Kau memberikan kejutan yang luar biasa Feni. Aku tidak menyangka kau akan mengirim kejutan secepat ini kepadaku. Kenapa kau menggunakan orang lain untuk membalasku? Kenapa tidak kau saja yang langsung menghadapiku? Tapi aku tidak heran sih! Pada dasarnya kau seorang pengecut maka akan selalu jadi pengecut. Kau selalu bermain dari belakang karena kau tidak punya keberanian bermain di depanku. Kau tahu betul kalau kau akan kalah melawan orang sepertiku, baik dari depan maupun dari belakang." Ucap Danesha penuh penekanan.


" Ya.. Aku memang ingin membalas penghinaanmu padaku waktu itu. Karena kau, aku kehilangan segalanya Dane. Aku kehilangan suami dan semangat hidupku." Ucap Feni.


" Bukankah umurmu tidak akan lama lagi? Kalau tidak salah kau terkena kanker kan? Apa kabar sel kanker itu? Apa dia sudah merambat ke jantung?"


Feni terkejut dengan ucapan Danesha.

__ADS_1


" Seharusnya kau sibuk bertobat mengumpulkan amal untuk meringankan siksaanmu nanti, bukannya sibuk menghancurkan hidup orang lain. Apa kau lupa darimana aku berasal? Akan aku ingatkan lagi, aku berasal dari keluarga Geraline. Keluargaku bukan keluarga sembarangan Feni. Kau tidak akan menang walaupun mengirim puluhan orang sekalipun. Aku punya orang orang hebat yang siap membantuku. Bahkan aku punya puluhan bodyguard yang siap menyeretmu ke hadapanku sekarang juga. Aku pastikan besok pagi kau tidak bisa bernafas dengan baik karena telah bermain main denganku." Ucap Danesha menutup panggilannya.


Danesha menatap Risa dengan tatapan tajam.


" Sebenarnya siapa Leo?" Tanya Danesha. Risa diam tidak bergeming.


" Siapa Leo!!" Bentak Risa.


" Di.. Dia putraku." Sahut Risa gugup.


" Apa aku perlu mengirimkanmu ke penjara dan membiarkan putramu menjadi anak jalanan?"


Leon menatap Danesha dengan perasaan kagum dan takut secara bersamaan. Ia tidak menyangka jika istrinya benar benar galak seperti singa. Tidak bisa untuk bermain main.


" Aku mohon jangan lakukan itu! Kasihanilah putraku yang tidak punya siapa siapa di sini. Aku hanya orang suruhan Feni yang membutuhkan banyak uang untuk menghidupi putraku." Ujar Risa.


" Bagaimana putramu bisa hidup dengan baik jika yang dia makan uang haram darimu." Cebik Danesha.


" Hidup ini keras Danesha, mencari pekerjaan pun susah. Aku tidak tahu harus bagaimana, saat Feni memberikan tawaran itu padaku aku langsung menyetujuinya. Aku berpikir jika aku berhasil aku bisa memberikan putraku kehidupan yang layak."


" Dengan menikahi suamiku maksudmu?" Tanya Danesha memotong ucapan Risa.


" Kau lebih tua dariku, seandainya kita seumuran aku pasti sudah menampar dan menjambak rambutmu hingga terlepas dari kepalamu." Ucap Danesha membuat Leon bergidik ngeri.


" Sekarang berkemaslah! Sopirku akan mengantarmu ke..


" Tolong jangan penjarakan aku! Aku mohon Danesha!" Risa berlutut di depan Danesha.


" Bangunlah! Kau tidak pantas melakukan ini! Ini tidak sopan namanya karena aku lebih muda darimu!" Titah Danesha.


" Sopirku akan mengantarmu ke cafeku. Bekerjalah dengan baik di sana, dan syukuri setiap pendapatanmu."


Risa terkejut dengan ucapan Danesha.


" Kau memberikan aku pekerjaan?" Tanya Risa tidak percaya.


" Bukankah aku berjanji padamu untuk memberikanmu pekerjaan? Aku tidak bisa mempekerjakanmu di sini karena aku takut kau menggoda suamiku." Ucap Danesha melirik Leon.

__ADS_1


Leon menoleh ke arah Danesha.


" Sekarang pergilah sebelum aku berubah pikiran!" Titah Danesha.


" Baiklah Danesha, Leon aku minta maaf telah membuat kerusuhan di dalam rumah tangga kalian. Aku juga ingin mengucapkan banyak banyak terima kasih untuk bantuan yang kalian berikan kepada kami. Aku berjanji akan berusaha untuk menjadi manusia yang baik." Ucap Risa di balas anggukkan kepala oleh Danesha.


Risa menggandeng tangan Leo menuju kamarnya untuk berkemas. Leon menatap Danesha begitupun sebaliknya.


" Kenapa menatapku seperti itu Mas?" Tanya Danesha.


" Aku tidak menyangka jika istriku mempunyai hati bagai malaikat." Ucap Leon.


" Aku mengikuti bagaimana mereka memperlakukan aku Mas, aku merasa Risa tidak bersalah akan hal ini karena dia melakukannya karena uang. Aku memahami bagaimana susahnya mendapatkan pekerjaan di kota ini Mas, apalagi dia memiliki anak yang harus ia asuh. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika aku berada di posisinya. Mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama dengannya. Memilih melakukan pekerjaan buruk daripada anaknya mati kelaparan. Begitulah seorang ibu Mas, dia akan melakukan apapun demi anaknya. Itu menurut sudut pandangku saja." Ujar Danesha semakin membuat Leon terharu.


Leon menarik Danesha ke dalam pelukannya. Ia merasa sangat bahagia memiliki istri seperti Danesha. Ia menciumi pucuk kepala Danesha dengan penuh cinta.


" Aku menyesal sayang pernah menjadi cassanova, aku tidak berpikir hal seperti ini akan terjadi di kemudian hari. Jika tahu seperti ini, dari dulu aku menjadi orang baik." Ujar Leon.


Danesha melepas pelukannya, ia menatap Leon sambil tersenyum.


" Tidak perlu di sesali Mas! Yang penting sekarang kamu sudah tobat kan? Kalau belum aku akan meninggalkanmu pergi jauh bersama anakku." Ancam Danesha.


" Eh enggak ya, aku udah lama tobat. Sekarang aku menjadi pria sejati untuk istriku yang cantik ini." Ucap Leon mencium pipi Danesha.


" Syukurlah kalau begitu, aku lega mendengarnya." Ucap Danesha.


" Oh ya sayang, kenapa kau bisa kepikiran menelepon kontak panggilan terakhir di ponsel Risa?" Tanya Leon menatap Danesha.


" Sebenarnya tadi malam, aku mendengar Risa berbicara dengan seseorang lewat telepon. Entah apa yang orang itu katakan tapi Risa selalu menjawab iya, baiklah, akan aku lakukan sesuai perintahmu. Dari sana aku merasa curiga kalau Risa hanya di jadikan kambing hitam oleh seseorang. Itu sebabnya aku memintanya menelepon orang itu. Aku sudah curiga kalau Feni dalang di balik semua ini." Terang Danesha.


" Istriku memang pintar." Ucap Leo mencubit pelan hidung Danesha.


" Sepintar kamu Mas, semoga kelak anak kita menjadi anak yang genius." Ujar Danesha.


" Amin." Sahut Leon.


**TBC....

__ADS_1


Next partai mau kisah siapa nih? Tulis di kolom komentar ya...


Terima kasih**...


__ADS_2