Pada Akhirnya Aku Menyerah

Pada Akhirnya Aku Menyerah
SYARAT LAMARAN


__ADS_3

Brugh...


Tiba tiba Danesha tidak sadarkan diri. Beruntung Leon segera menopang tubuhnya.


" Danesha bangun!" Leon menepuk pelan pipi Danesha.


Danesha tak bergeming. Leon segera membawa Danesha keluar lewat pintu belakang. Entah sebuah keberuntungan atau apa, dengan mudah Leon membawa Danesha pergi dari sana tanpa ketahuan ketiga bodyguard Danesha. Ia melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.


Sesampainya di rumah sakit, dokter segera memeriksa Danesha.


" Bagaimana keadaan... " Leon menjeda ucapannya.


" Selamat Tuan, istri anda sedang hamil saat ini. Usia kandungannya memasuki minggu ke lima." Ucap dokter memotong ucapan Leon.


" Ha.. Hamil? Lima minggu?" Tanya Leon memastikan.


" Iya Tuan. Jaga baik baik kondisi ibu dan janinnya. Jangan sampai kecapekan! Dan selalu jaga kestabilan emosi istri anda. Setelah sadar anda bisa membawa istri anda pulang dari sini." Ucap dokter.


" Baik Dok, terima kasih." Sahut Leon tersenyum bahagia.


Setelah itu dokter keluar dari ruangan UGD. Leon duduk di kursi tepi ranjang menatap wajah Danesha.


" Kau tidak bisa mengelak lagi nona Danesha. Kau adalah Luna, Lunaku yang selama ini aku cari. Aku akan segera menikahimu apapun yang terjadi. Terima kasih Tuhan, kau benar benar memberkkan kejutan yang luar biasa kepadaku." Ucap Leon.


Leon membuka ponselnya, entah apa yang ia cari di sana hanya dia yang tahu.


" Engh... " Danesha mengerjapkan matanya.


" Shhh" Desis Danesha memegangi kepalanya. Ia duduk bersandar pada kepala ranjang.


" Kau." Ucap Danesha setelah menyadari kehadiran Leon.


" Iya sayang ini aku." Sahut Leon.


" Jaga kesopanan anda tuan Leon. Kita tidak punya hubungan apa apa ataupun sedekat itu hingga kau memanggilku dengan kata itu." Ucap Danesha.


" Kita memang belum mempunyai hubungan Dane, tapi sebentar lagi kita akan menjadi suami istri dan orang tua dari anak kita." Ucap Leon membuat Danesha mengerutkan keningnya.


" Maksudmu?" Tanya Danesha.


" Kau hamil anakku."


Jeduarrr.....


" A.. Apa?" Pekik Danesha menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


" Ya.. Kejadian satu bulan lalu telah membuahkan hasil sayang." Ujar Leon.


" Diam!!!" Ucap Danesha dengan nada tinggi.


" Jangan pernah memanggilku sayang lagi. Dan apa tadi? Kau mau menikahiku? Apa kau tidak tahu jika aku sudah menikah hah?" Danesha menatap Leon.


" Jadi kau mengakui kalau kau wanita itu?" Leon tersenyum simpul menatap Danesha.


" Oke oke.. Aku mengakuinya. Ya aku Luna, tapi itu bukan namaku. Namaku Danesha, aku sengaja menggunakan nama Luna supaya kau tidak bisa menemukan aku. Dan aku sudah menikah." Ujar Danesha.


" Menikah? Kapan?" Tanya Leon menatap Danesha.


" Satu bulan lalu." Sahut Danesha asal.


" Rupanya kau tidak pandai berbohong sayang. Kau melangsungkan pernikahan tiga bulan yang lalu tapi calon suamimu pergi meninggalkanmu begitu saja. Lalu dengan siapa kau menikah? Bahkan status di identitasmu saja belum menikah." Ucap Leon.


Danesha melongo menatap Leon.


" Kau...

__ADS_1


" Kenapa? Kau tidak menyangka jika aku tahu semuanya? Aku akan dengan mudah mendapatkan informasi segampang itu Dane." Ujar Leon tersenyum simpul.


" A.. Aku.. " Danesha menjeda ucapannya, ia tidak tahu mau bicara apa lagi.


" Biarkan aku bertanggung jawab kepadamu." Ucap Leon.


" Tidak! Aku tidak mau menikah denganmu." Sahut Danesha.


" Kenapa? Apa kau mau membesarkan anak itu sendirian? Apa kau akan membiarkan anak kita menjadi bahan tertawaan teman temannya karena tidak punya ayah? Apa kamu mampu memberikannya kasih sayang seorang ibu sekaligus seorang ayah?"


Pertanyaan Leon membuat Danesha terkejut. Ia menatap Leon dengan tatapan entah.


" Apa kau bisa?" Leon bertanya lagi.


" Aku.. aku...


" Kau tidak akan bisa Dane. Kasih sayang seorang ibu dan ayah itu berbeda. Jadi jangan keras kepala! Jangan pisahkan aku dengan anakku atau kau akan menjadi ibu yang paling kejam di dunia ini." Sahut Leon memotong ucapan Danesha.


Danesha menghela nafasnya pelan lalu menghembuskanya. Jika di pikir ucapan Leon benar. Ia tidak akan mampu memberikan kasih sayang ayah dan ibu secara bersamaan.


" Atau kau mau menikah dengan pria lainnya?" Tanya Leon menatap Danesha.


" Tidak." Sahut Danesha.


" Jika kau berniat melakukannya aku tidak setuju. Aku tidak akan membiarkan anakku di besarkan oleh orang lain. Aku akan mengantarmu pulang dan melamarmu sekarang juga." Ucap Leon.


" Tidak Leon! Sebenarnya aku trauma dengan yang namanya pernikahan. Aku takut calon suamiku ataupun suamiku meninggalkan aku lagi. Aku tidak mau sakit hati lagi Leon. Saat ini aku tidak percaya dengan ikatan apapun. Baik pacaran maupun pernikahan." Ujar Danesha nampak murung.


" Dengar Danesha!" Leon menangkup wajah Danesha.


" Tidak semua pria seperti kekasihmu waktu itu. Aku sangat berbeda dengannya. Aku akan mengobati trauma dalam hidupmu. Aku akan menjadi obat sakit hatimu. Aku berjanji akan membuatmu bahagia. Percayalah padaku!" Ucap Leon.


" Aku tidak bisa percaya pada siapapun saat ini. Aku tidak tahu apakah aku harus menerimamu atau tidak karena aku tidak akan pernah jatuh cinta lagi. Kau tidak akan bahagia jika hidup bersamaku karena hatiku telah mati bersama kepergiannya." Ujar Danesha.


" Apa kau yakin?" Tanya Danesha.


" Yakin seyakin yakinnya." Sahut Leon lantang.


" Baiklah, jika memang ini yang terbaik untuk kita, aku terima." Ujar Danesha.


Leon menuntun Danesha menuju mobilnya. Saat ia hendak membuka pintu mobilnya tiba tiba..


Bugh.. Bugh... Bugh...


" Leon." Teriak Danesha saat ketiga bodyguardnya memukul Leon.


" Hentikan! Hentikan semuanya!" Teriak Danesha.


Bodyguard Danesha langsung berhenti. Mereka bertiga berdiri tegap menatap Danesha. Danesha mendekati mereka satu persatu dan...


Plak.. Plak...


Danesha menampar mereka satu persatu.


" Beraninya kalian memukul calon suamiku." Ucap Danesha membuat ketiga bodyguardnya terkejut.


" Maafkan kami Nona!" Ucap salah satu bodyguardnya.


" Aku tidak akan memaafkan kalian, tunggu hukuman dariku setelah ini." Ujar Danesha.


" Kau tidak pa pa Leon?"


Danesha membantu Leon berdiri. Ia mengusap darah di sudut bibir Leon.


Deg... Deg... Deg...

__ADS_1


Jantung keduanya berdetak sangat kencang saat tatapan mereka bertemu.


" Maaf." Ucap Danesha salah tingkah.


" Tidak pa pa aku baik baik saja. Ayo aku antar kau pulang!" Ajak Leon.


" Tapi apa kau baik baik saja?" Tanya Danesha.


" Tenang Dane! Aku pria kuat kok, aku tidak akan tumbang hanya dengan bogeman mereka. Kalau kau ijinkan, aku akan membalas mereka semua." Ucap Leon melirik ketiga bodyguard Danesha.


" Lakukan saja! Mereka pantas menerimanya karena mereka memukulmu tanpa seizinku." Sahut Danesha.


Tanpa membuang waktu Leon memukul mereka satu persatu.


Bugh... Bugh...


Mereka hanya diam menerima balasan dari Leon. Danesha tersenyum melihatnya. Setelah puas Leon kembali mendekati Danesha.


" Sudah puas?" Tanya Danesha.


" Sudah." Sahut Leon.


" Baiklah ayo." Ucap Danesha masuk ke dalam mobil Leon.


Leon melajukan mobilnya menuju kediaman keluarga Geraline. Tiga puluh menit mereka sampai di rumah megah nanti besar milik kedua orang tua Danesha.


" Ayo turun!" Ucap Danesha turun dari mobil.


Dengan ragu Leon pun turun dari mobilnya. Ia mengikuti Danesha masuk ke dalam rumahnya.


" Kakak." Ucap Danesha memeluk pria tampan seusia dengan Leon.


" Sayang kamu darimana saja hmm? Para bodyguardmu bilang kau hilang setelah pamit ke toilet. Apa pria ini yang menculikmu?" Selidik Geral melirik Leon.


" Tadi aku pingsan Kak, dan pria ini yang menolongku. Namanya Leon, dia kekasihku." Ucap Danesha malu malu.


" Apa? Kekasih?" Tanya Geral memastikan.


" Iya Kak." Sahut Danesha.


" Sejak kapan kau menjalin hubungan dengannya?" Tanya Geral.


" Satu bulan lalu, dia ke sini selain mengantarku dia juga punya tujuan lainnya Kak." Ujar Danesha.


" Baiklah kita duduk dulu!" Ucap Geral duduk di sofa ruang tamu di ikuti Leon dan Danesha.


" Katakan siapa kau dan dari keluarga mana kau berasal!" Titah Geral.


" Aku Leon. Aku datang dari keluarga biasa dan aku bekerja menjadi asisten Gavindra Mahardika. Aku ke sini ingin melamar Danesha sebagai istriku nanti. Apa kau menerimanya?" Tanya Leon menunjukkan sikap gentle nya.


" Apa yang akan kau berikan pada adikku maupun aku jika aku menerimanya?" Tanya Geral.


" Aku akan memberikan apapun yang kau minta sesuai kemampuanku tuan Geral." Sahut Leon.


" Aku menginginkan kehancuran GM Group, apa kau bisa memenuhinya?"


Nah loh... Gimana nih kelanjutannya?


Tekan like, koment vote dan kasih mawar yang banyak buat author ya...


Terima kasih....


Miss U All....


TBC.....

__ADS_1


__ADS_2