
Selesai acara tiba saatnya Leon memboyong Danesha ke rumahnya. Geral, Vania, Gavin, Rangga dan Sandia mengikuti mobil pengantin dari belakang.
Tiga puluh menit mereka sampai di rumah Leon. Mereka masuk ke dalam di sambut oleh nyonya Rindu, bibi Tuti dan keluarga Leon yang lainnya.
" Selamat datang di keluarga kami sayang, semoga kalian bahagia." Ucap bibi Tuti menyambut Danesha dengan hangat.
" Terima kasih Bibi, aku pasti akan bahagia karena kau menyambutku dengan penuh kebahagiaan." Sahut Danesha.
Setelah itu mereka semua berkumpul di ruang keluarga.
" Kak aku ke kamar dulu ya." Pamit Ruhi di balas anggukkan kepala oleh Leon.
" Mari semuanya." Ucap Ruhi.
Ruhi berjalan menuju kamarnya yang berada di samping kamar tamu. Hal itu tidak lepas dari pengamatan Geral.
" Leon, apa aku boleh menginap beberapa hari di sini?" Pertanyaan Geral membuat semua orang menatap ke arahnya.
" Kenapa Kak?" Tanya Danesha mengerutkan keningnya. Ia heran, pasalnya selama ini Geral tidak mau menghuni kamar selain kamarnya ataupun kamar hotel.
" Kakak hanya ingin memastikan saja kalau Leon memperlakukanmu dengan baik. Berdasarkan masa lalu, Kakak tidak mau mengambil resiko Dane. Aku harap kalian semua mengerti akan kecemasanku kepada adikku." Ujar Geral menatap yang lain bergantian.
" Tidak apa apa Nak Geral, kami paham apa yang kau rasakan saat ini. Menginaplah sesuai yang kamu mau, bukankah begitu Leon?" Bibi Tuti menatap Leon.
" Iya Kakak ipar, menginaplah di sini sesuai yang kamu mau. Tapi ingat satu hal! Jangan merecoki malam pengantinku." Sahut Leon membuat semua orang tertawa.
" Terima kasih, kalau begitu dimana kamarku?" Tanya Geral.
" Kamarnya ada di sana Kakak ipar." Ucap Leon menunjuk kamar tamu.
" Baiklah, aku permisi mau istirahat dulu. Setelah mempersiapkan pernikahan kalian membuatku merasa lelah." Ujar Geral.
" Silahkan." Sahut Leon.
Geral berjalan menuju kamar yang di tunjuk oleh Leon. Ada dua kamar berjejer di sana dengan warna pintu yang sama.
" Yang mana kamarnya ya? Atau aku tinggal memilih saja?" Gumam Geral.
" Ya.. Mungkin aku tinggal memilih salah satunya." Monolog Geral.
Geral memilih kamar sebelah kiri.
Ceklek....
Geral membuka pintu kamarnya, ia masuk ke dalam mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan.
" Warna catnya seperti kamar wanita saja, ungu muda. Ternyata selera Leon rendah." Cibir Geral.
Tiba tiba...
Ceklek...
Geral menoleh ke arah pintu kamar mandi.
Glek...
Ia menelan kasar salivanya saat melihat Ruhi keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk yang menutupi bagian tengahnya saja. Ruhi menggosok rambutnya dengan. handuk kecil, saat ia hendak menuju almari pakaiannya tiba tiba ia menangkap sosok yang berdiri di samping ranjang, sampai...
" Aaaaaaaa." Teriak Ruhi. Ia menarik selimut lalu melilitkan ke tubuhnya.
" Apa yang kau lakukan di sini hah? Cepat keluar!" Teriak Ruhi.
" Sttt diam." Geral membungkam mulut Ruhi dengan tangannya.
" Hmptm.. " Ruhi memukul tangan Geral.
__ADS_1
" Jangan berteriak! Atau mereka semua akan ke sini dan mengira aku melakukan sesuatu padamu." Ucap Geral di balas anggukkan kepala oleh Ruhi.
Geral menjauhkan tangannya dari mulut Ruhi.
" Mau apa kau ke sini hah?" Tanya Ruhi menatap Geral tajam.
" Aku salah kamar, aku mau ke kamar tamu tapi nggak tahu yang mana kamar tamunya. Aku pikir ini juga kamar tamu, setelah aku masuknnggak taunya ini kamarmu." Sahut Geral dingin.
" Sekarang tunggu apa lagi? Cepat keluar dari sini dan jangan pernah berani masuk ke sini lagi!" Ucap Ruhi tak kalah dingin.
" Iya aku keluar, galak amat." Cebik Geral.
Geral melangkah menuju pintu tiba tiba...
" Ruhi kau tidak apa apa?" Tanya Leon dari luar kamar sambil mengetuk pintu.
Ruhi dan Geral saling melempar pandangan.
" Sebaiknya kau sembunyi Kak! Jangan sampai Kak Leon melihatmu di sini." Ujar Ruhi.
" Oke aku akan bersembunyi di kamar mandi." Ucap Geral.
" Ruhi..." Panggil Leon.
" Cepat Kak!" Ucap Ruhi menatap Geral.
Saat Geral hendak melangkah tiba tiba kakinya tersandung selimut yang Ruhi pakai sampai....
Brugh....
Keduanya jatuh di atas ranjang dengan posisi Ruhi di bawah Geral. Dan sialnya handuk Ruhi terlepas dari tubuhnya hingga menampakkan separuh gunung kembarnya.
Ruhi melongo membulatkan matanya sedangkan Geral malah menatapnya dengan tatapan mesum. Bagaimanapun Geral pria dewasa, melihat itu membuat sesuatu di bawah sana menegang.
Ceklek....
Ruhi dan Geral menoleh ke asal suara. Leon beserta yang lainnya berdiri di depan pintu menatap mereka.
" Apa apaan kalian ini hah?" Bentak Leon mendekati keduanya.
Geral segera bangkit menjauh dari tubuh Ruhi, Ruhi menutupi tubuhnya dengan selimutnya.
" Apa yang kalian lakukan di sini Ruhi? Beginikah Kakak mengajirimu? Apa ini yang Kakak ajarkan padamu hah?" Bentak Leon membuat Ruhi berjingkrak kaget.
" Tidak Leon, kau salah paham kepada kami." Ucap Geral.
Leon menatap Geral dengan tatapan tajam.
" Salah paham? Atau memang kau yang ingin melecehkan adikku?" Selidik Leon terpancing emosi.
" Bukan begitu Leon, ini tidak seperti yang kau pikirkan." Ujar Geral.
" Jangan hanya karena aku menikahi adikmu, kau bisa berbuat semaumu kepada adikku tuan Geral." Tekan Leon.
" Leon, dengarkan dulu penjelasan Kak Geral! Kakakku tidak mungkin melakukan hal serendah ini." Ujar Danesha.
" Apa kau tidak lihat apa yang kakakmu lakukan pada adikku? Jika dia tidak punya niat buruk pada adikku, untuk apa dia ke kamarnya?" Leon menatap Danesha.
Leon beralih menatap Geral.
" Ini kah alasannya kau ingin menginap di sini? Kau sengaja ingin mendekati adikku begitu? Apa kau pikir adikku akan termakan oleh rayuanmu? Tidak Tuan Geral... Adiku tidak mudah di takhlukkan oleh siapapun. Jadi hilangkan pikiran kotormu itu." Ucap Leon.
Danesha merasa emosi mendengar kakaknya di hina. Ia maju menghadap Leon lalu menatapnya dengan tajam.
" Sudah bicaranya? Sudah puas menghina kakakku di depan keluargamu?" Tanya Danesha.
__ADS_1
" Sayang aku..
" Diamlah! Sekarang giliran aku yang berbicara." Sahit Danesha memotong ucapan Leon.
" Kakakku mungkin tidak sengaja melakukannya, dia hanya salah memasuki kamar saja. Apapun bisa terjadi tanpa kita rencanakan. Misalkan kecelakaan seperti tadi di acara pernikahan kita. Asal kau tahu tuan Leon yang terhormat. Kakakku tidak akan pernah melakukan hal yang kau tuduhkan. Kakakku tidak tertarik pada wanita manapun karena baginya semua wanita sama dengan mantan kekasihnya yang telah meninggalkannya. Jika kau tidak percaya, tanyakan saja pada adikmu! Apa yang kakakku lakukan padanya?" Ujar Danesha membuat Leon sadar dengan kesalahannya.
Danesha menatap Ruhi.
" Katakan Ruhi! Apa yang kakakku lakukan padamu? Apa dia berusaha melecehkanmu? Apa dia berusaha menyentuh tubuhmu?" Tanya Danesha.
" Tidak Kak. Dia hanya salah masuk kamar saja. Kami panik saat kak Leon memanggil namaku, aku takut kalian berpikir macam macam kepada kami, itu sebabnya aku menyuruh Kak Geral bersembunyi di kamar mandi. Namun saat Kak Geral melangkah, dia tersandung selimutku, alhasi dia menubrukku dan kami jatuh di ranjang." Jelas Ruhi.
" Semua sudah jelas di sini, Kakakku tidak bersalah." Ucap Danesha melirik Leon.
" Ayo Kak kita pulang!" Danesha menggandeng Geral keluar kamar Ruhi.
" Dane tunggu!" Ucap Leon mengejar Danesha.
Dane dan Geral terus berjalan tanpa mempedulikan Leon.
" Dane tunggu! Maafkan aku!" Ucap Leon mencekal tangan Danesha.
Danesha menatap Leon begitupun sebaliknya.
" Kau tidak bisa pergi dari sini begitu saja." Ucap Leon.
" Kenapa? Ini bukan rumahku, ataupun rumah saudaraku." Sahut Dane.
" Ini rumahmu Dane, kita sudah menikah. Baiklah aku salah, aku minta maaf!" Ucap Leon.
" Tidak ada kata maaf untuk seseorang yang telah menghina kakakku, kau memang suamiku tapi kakakku lebih berarti bagiku." Ucap Dane melanjutkan langkahnya.
" Kakak ipar tolong maafkan aku! Jangan biarkan Dane meninggalkan rumah ini atau akan terjadi bencana dalam pernikahan kami. Kami baru saja menikah kakak ipar. Aku mohon buat Dane mengerti!" Leon mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
Geral menatap Danesha.
" Dane...
" Tidak Kak! Aku tidak akan berada di tempat dimana Kakakku tidak di hargai." Sahut Danesha.
Danesha menatap nyonya Rindu dan bibi Tuti di sana.
" Maafkan aku Bibi, Tante." Ucap Danesha.
Danesha kembali menarik tangan Geral menuju pintu. Ia keluar meninggalkan rumah Leon yang baru beberapa menit ia tinggali.
" Kak Dane." Panggil Ruhi berlari menghampirinya.
" Kak aku mohon maafkan kak Leon! Kau bisa menghukumnya tapi tolong jangan tinggalkan rumah ini!" Ucap Ruhi mengatupkan kedua tanganya.
" Kak Leon hanya melakukan apa yang seharusnya seorang kakak lakukan untuk melindungi adiknya. Aku yakin Kak Geral pun pasti akan melakukan hal yang sama dengan Kak Leon jika Kak Dane berada di posisiku. Pahami dari sudut pandangnya kakak ipar, aku mohon." Ujar Ruhi.
Dane menatap Geral yang menganggukkan kepalanya. Ia menatap Ruhi dan Leon bergantian.
" Kak." Ucap Ruhi.
" Aku.....
Mau pergi atau bertahan nih?...
Jangan lupa like koment vote dan 🌹nya author nantikan ya...
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu..
Miss U All...
__ADS_1
TBC....