Pada Akhirnya Aku Menyerah

Pada Akhirnya Aku Menyerah
Kecelakaan


__ADS_3

" Maaf sayang Itu semua......" Gavin menjeda ucapannya.


Ia menghampiri Vania.


" Dengarkan aku sayang." Gavin menggenggam tangan Vania.


" Aku tidak pernah melakukan itu, foto itu semuanya editan yang sengaja di kirim untuk menjebakku dan menghancurkan hubungan kita. Leon sedang mengejar orang yang melakukan semua itu padaku. Percayalah sayang aku tidak pernah menyentuh wanita lain selain dirimu. Hanya kamu dan hanya akan ada kamu bukan yang lainnya." Ucap Gavin menatap Vania.


" Apa aku harus percaya dengan ucapanmu?" Tanya Vania.


" Apa aku pernah berbohong padamu?" Gavin balik bertanya.


Vania menggelengkan kepalanya.


Gavin menangkup wajah Vania, ia mengusap air mata Vania.


" Aku akan membuat orang yang membuatmu menangis membayar setiap tetes air matamu sayang." Ucap Gavin mengecup kening Vania.


Vania memeluk Gavin ia menyusupkan wajahnya ke dada bidang suaminya. Nyaman... Pelukan Gavin terasa begitu nyaman untuk Vania.


" Untuk ke depannya jangan pernah percaya pada orang lain sayang, tetaplah percaya padaku dan hanya kepadaku." Ujar Gavin.


Vania menganggukkan kepalanya.


" Sekarang jangan menangis lagi! Istirahatlah sayang! Aku akan memelukmu sampai pagi." Ucap Gavin.


Keduanya berbaring di atas ranjang, Gavin memeluk Vania sambil mengelus kepalanya sampai Vania terlelap.


Drt drt..


Ponsel Gavin berdering tanda apanggilan masuk dari Leon.


" Bagaimana?"


" Dia tidak mau mengaku siapa yang menyuruhnya, dia memilih mati daripada mengkhianati tuannya." Ucap Leon.


" Aku akan kesana! Akan aku pastikan dia mengakui semuanya." Gavin mematikan ponselnya.


Gavin segera menuju ruang rahasia tempat Leon menyekap tersangka. Dengan langkah tegap Gavin menghampirinya yang duduk di kursi dengan kaki dan tangan di ikat tali.


" Katakan siapa yang menyuruhmu!" Gavin menarik kasar rambutnya.


" Aku tidak tahu!" Sahutnya.


" Jangan bohong!" Bentak Gavin.


" Aku tidak tahu, tapi dia seorang wanita." Ucapnya.


" Seorang wanita." Gumam Gavin.


" Apa dia yang ada di foto itu?" Tanya Gavin.


" Aku tidak melihatnya dengan jelas karena dia memakai masker." Sahutnya.


" Argh sial!!" Umpat Gavin.


Brak...


Gavin menendang wajah pria itu sampai memuntahkan darah.


uhuk uhuk...


Pria itu terbatuk batuk.


" Terus awasi dia dan jangan lepaskan dia sampai dia mau mengaku yang sebenarnya." Ucap Gavin.

__ADS_1


Gavin keluar dari sana. Ia yakin kalau wanita itu adalah Talita.


" Kalau sampai terbukti kau yang bertanggung jawab atas semua ini, aku tidak akan memaafkanmu." Monolog Gavin.


Gavin kembali ke kamarnya. Ia tidur sambil memeluk Vania.


...****************...


Pagi hari Vania sedang memakaikan baju Gava. Tiba tiba Gavin memeluknya dari belakang.


" Mas." Pekik Vania.


" Apa sayang? Jangan berteriak donk! Nanti di kira mama kamu di apa apain lagi." Ujar Gavin.


" Minggir ih! Keburu Gava kedinginan Mas kan kasihan." Ucap Vania.


Gavin melepas pelukannya membiarkan Vania melanjutkan kegiatannya.


" Anak Papa udah ganteng nih! Cepat besar ya sayang, Papa udah nggak sabar pengin ngajak kamu main." Gavin menoel noel pipi Gava.


" Iya Papa." Sahut Vania menirukan suara anak kecil.


" Gendong Papa yuk! Kita jalan jalan ke luar biar kena sinar matahari." Gavin menggendong Gava dengan hati hati keluar kamarnya.


Vania menuju dapur membantu mama mertuanya menyiapkan sarapan.


" Pagi semua." Sapa Vania menyapa nyonya Rindu dan bibi Tuti.


" Pagi sayang."


" Pagi Vania." Sapa keduanya bersamaan.


" Mau masak apa hari Ma?" Tanya Vania.


" Masak rica rica ayam, tumis kangkung, udang pedas sama gurameh goreng." Sahut nyonya Rindu.


" Sekali kali tidak pa pa." Sahut nyonya Rindu.


" Bi, Mas Rangga dimana?" Tanya Vania menatap bibi Tuti.


" Masih di kamar, sepertinya dia sedang persiapan menyambut hari pertama kerja." Sahut bibi Tuti.


" Oh." Gumam Vania.


Mereka bertiga bekerja sama dengan kompak. Setelah selesai memasak mereka semua sarapan bersama. Selesai sarapan Vania kembali ke kamarnya.


" Sayangnya Mama masih bobok sih! Bangun yuk kamu minum dulu!" Vania mengelus elus pipi Gava berharap Gava bangun.


Dan benar saja, Gava membuka matanya dengan lebar lalu ia menggejolkan kakinya.


Vania segera menyusuinya sampai Gava tidur lagi. Saat Vania hendak menidurkan Gava tiba tiba ponselnya berbunyi. Ia segera mengangkatnya.


" Halo."


" Halo Vania, Gavin mengalami kecelakaan di jalan xx. Kamu segera ke sini ya." Ujar Talita.


Tubuh Vania menegang saat mendengar ucapan Talita. Dunianya seakan runtuh saat ini. Bahkan ia sampai tidak bisa apa apa. Ia lupa dengan pesan Gavin kalau hanya akan mempercayai ucapan Gavin bukan yang lainnya.


" Baiklah aku akan ke sana." Vania mematikan sambungan teleponnya.


Tanpa berpikir panjang Vania segera pamit kepada mama mertuanya dan melakukan mobilnya menuju jalan xx yang lokasinya lumayan jauh dari rumahnya.


Sesampainya di jalan xx Vania turun dari mobil. Jalanan nampak sangat sepi bahkan tidak ada kendaraan yang melintas satu pun.


" Mana Mas Gavin? Apa dia sudah di bawa ke rumah sakit ya?" Vania memperhatikan sekitar.

__ADS_1


" Katanya kecelakaan tapi tidak ada tanda tanda kecelakaan di sini." Gumam Vania.


Tiba tiba tanpa Vania sadari mobil melaju dengan kecepatan tinggi ke arahnya. Vania tidak bisa menghindarinya sampai....


Brak....


Tubuh Vania terpental di tengah tengah aspalan. Tubuhnya terasa sangat sakit dan sepertinya tulang tukangnya remuk semua.


" Ya Tuhan jika ini akhir hidupku, aku ikhlas. Lindungilah anak dan suamiku dari orang orang yang berniat jahat pada mereka. Aku titipkan mereka padamu Ya Rob." Vania memejamkan matanya.


Pyarrr.....


Gelas yang Gavin genggam tiba tiba jatuh ke lantai.


" Kamu kenapa Vin?" Tanya Leon.


" Entah kenapa perasaanku tidak enak, tiba tiba aku kepikiran sama Vania. Apa jangan jangan terjadi sesuatu hal buruk kepadanya ya? Aku harus meneleponnya."


Gavin segera mendial nomer Vania, tersambung tapi tidak di angkat.


" Angkat donk sayang." Gumam Gavin cemas


Gavin mencoba meneleponnya kembali dan...


" Halo."


" Halo, kenapa ponsel istri saya ada pada anda? Dimana istri saya?" Tanya Gavin saat tahu bukan Vania yang mengangkatnya.


" Saya tidak tahu jelas dimana istri anda Tuan, tapi di sini terjadi tabrak lari kepada seorang wanita cantik bernama Arvania Rosaline."


Jeduar.....


" A... Apa?" Tanya Gavin tidak percaya.


" Ba... Bagaimana keadaanya sekarang Pak?" Tanya Gavin.


" Kondisi wanita itu memprihatinkan Tuan, saat ini warga membawanya ke rumah sakit aa." Ucapnya.


" Saya akan ke sana!" Gavin menutup sambungan teleponnya.


Gavin segera berlari menuju mobilnya. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit.


Sesampainya di sana Gavin segera menuju ruang ICU bertanya pada suster tentang keadaan Vania.


" Dokter sedang menanganinya Tuan." Sahut Suster.


Gavin menunggu dengan cemas. Ia berjalan mondar mandir sambil sesekali menyukai kasar rambutnya.


" Ya Tuhan tolong selamatkan istriku! Aku tidak mau kehilangannya, kebahagiaan kami baru saja di mulai, kenapa kau kembali memberikan cobaan kepada kami?" Monolog Gavin.


Tak lama seorang dokter keluar dari ruang ICU.


" Keluarga Nona Arvania." Ucap dokter.


" Saya Dok." Gavin segera menghampirinya.


" Bagaimana keadaan istri saya Dok?" Tanya Gavin.


" Maaf Tuan, Nona Arvania.....


Apa hayoooo


Jangan lupa tekan like koment vote dan 🌹nya buat Gavin biar kuat mendengar kenyataan.


Terima kasih untuk kalian semua yang telah mendukung Author semoga sehat selalu...

__ADS_1


Miss U All...


TBC...


__ADS_2