
Menyadari ucapan Ruhi, Geral segera menyusulnya.
" Sayang jangan lakukan itu!" Teriak Geral menghampiri Ruhi di dapur. Ia sedang memasak sarapan untuk mereka berdua.
" Sayang jangan jadi babby sister ya, aku tidak mau kamu dekat sama bapaknya anak yang nanti kamu asuh itu. Aku nggak rela sayang, lagian kamu berpendidikan tinggi masa' mau jadi babby sister sih. Kasihan Leon yang membiayai sekolahmu." Ujar Geral.
Ruhi tersenyum mendengar ucapan Geral yang terdengar sangat khawatir. Tiba tiba muncul ide jahil untuk mengerjai Geral.
" Aku nggak mau! Pokoknya aku mau jadi babby sister dari anak seorang duda tampan." Sahut Ruhi sambil memotong daging.
" Tidak.. Tidak. boleh. Bagaimana kalau aku mengijinkanmu mengajar lagi di sekolah? Aku akan menyuruh pihak sekolah untuk menarikmu kembali menjadi guru di sana." Ujar Geral.
"Mending jadi guru daripada jadi babby sister anaknya duda tampan. Bisa bisa kalap tuh duda lihat istri gue." Batin Geral.
" Aku sudah tidak tertarik jadi guru lagi Mas, saat ini aku lebih tertarik jadi babby sister. Udah lah kau tidak usah ngajak berdebat! Apapun yang kamu katakan aku tidak akan mendengarkannya, aku tetap mau jadi babby sister titik." Kukuh Ruhi menahan senyumnya.
" Aku tidak akan mengijinkan!" Ucap Geral.
" Aku tidak butuh ijinmu." Sahut Ruhi.
Geral merasa geram dengan sifat keras kepala Ruhi, ia mendekati Ruhi lalu memeluknya dari belakang.
" Lepas Mas! Aku harus masak, perutku sudah lapar." Ucap Ruhi.
Geral menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Ruhi membuat tubuh Ruhi meremang.
" Mas jangan seperti ini!" Ucap Ruhi mencoba terlepas dari pelukan Geral namun usaha kecilnya sia sia.
" Kenapa? Aku bebas melakukan apapun padamu, bahkan yang lebih dari ini." Bisik Geral di telinga Ruhi.
" Lepasin! Minggir sana aku mau masak." Ucap Ruhi.
" Aku akan melepaskanmu, tapi kau harus berjanji padaku. Jika tidak aku akan menggendongmu ke kamar dan aku akan memaksamu melakukan itu." Ancam Geral membuat Ruhi bergidik ngeri.
" Sial.. Senjata makan tuan ini mah. Aku yang mau ngerjain dia sekarang malah aku yang terpojok? Tapi kalau aku membantahnya pasti dia akan melakukan ancamannya." Pikir Ruhi.
" Ruhita... " Tekan Geral.
" Tidak tidak... Aku tidak mau melakukan itu sekarang. Baiklah aku akan berjanji padamu. Kau ingin aku berjanji apa?" Ujar Ruhi ketakutan. Geral tersenyum penuh kemenangan.
" Berjanjilah padaku untuk tidak menuntut pekerjaan mulai sekarang. Kau akan menjadi ibu rumah tangga yang mengurusku dan menungguku pulang dari kantor. Kau tidak akan bekerja dimana mana. Apa kau paham dengan janji yang harus kau penuhi itu?" Tanya Geral menempelkan hidungnya pada pipi Ruhi.
" Iya Mas aku berjanji aku tidak akan menuntut pekerjaan lagi. Maafkan aku!" Ucap Ruhi.
" Aku memaafkanmu, tapi jika kau sampai melanggarnya maka kau tahu pasti apa yang akan aku lakukan padamu." Ucap Geral.
__ADS_1
" Iya Mas aku tahu. Sekarang lepaskan aku! Aku mau melanjutkan memasak." Ujar Ruhi.
" Oke." Sahut Geral.
Tiba tiba...
Cup...
Ruhi melongo membulatkan matanya saat Geral mencium pipinya.
" Mas.." Kesal Ruhi.
" Apa sayang?" Geral menatap Ruhi sambil mengerlingkan matanya.
" Tau ah." Sahut Ruhi cemberut.
Ruhi melanjutkan acara memasaknya. Sedangkan Geral duduk di meja makan sambil terus menatap Ruhi. Gerakan gerakan yang Ruhi ciptakan nampak seksi di mata Geral. Geral benar benar merasa bahagia bisa memiliki Ruhi sebagai istrinya. Ia berharap Ruhi akan segera membalas perasaannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tiga hari berlalu, sikap Dane kepada Leon semakin manis. Ia tidak ragu bermanja manja kepada Leon. Malam ini Dane sedang mengambilkan makanan untuk Leon.
" Silahkan di nikmati Mas." Ucap Dane meletakkan piring Leon di depannya.
" Terima kasih sayang." Ucap Leon.
Mereka nampak makan dengan khidmat. Sesekali mereka bergantian menyuapi makanan.
" Mas aku ingin mengatakan sesuatu padamu." Ucap Dane.
" Katakan saja!" Ujar Leon menatapnya.
" Sebenarnya aku sudah tahu tentang penyakitmu."
Jeduarrr...
Bagai di sambar petir di siang bolong. Tubuh Leon terasa kaku, lidahnya terasa kelu.
" Maafkan aku yang telah lancang membuka lacimu dan membaca hasil pemeriksaan itu." Ucap Dane.
Leon menghentikan acara makannya. Ia menatap tajam ke arah Dane.
" Apa itu sebabnya kau bersikap baik padaku? Kau kasihan padaku? Dan kau ingin memberikan kenangan indah sebelum kepergianku? Apa ini sebabnya Danesha!!" Bentak Leon membuat Dane berjingkrak kaget.
" Bu.. Bukan itu maksudku Mas. Aku..
__ADS_1
" Aku tidak butuh di kasihani Danesha. Aku tidak butuh perhatian, kasih sayang dan cinta darimu jika semua yang kau tunjukkan ini hanya palsu. Aku tidak membutuhkannya Danesha. Hentikan semua ini di sini! Bersikap normal lah kembali, bersikaplah seperti sebelumnya!" Ucap Leon berlalu dari sana.
" Mas tunggu! Aku bisa menjelaskan semuanya. Aku mohon dengarkan penjelasanku dan keinginanku." Dane mengikuti Leon dari belakang.
Keduanya masuk ke dalam kamar. Leon membanting tubuhnya di atas ranjang dengan posisi tengkurap. Ia merasa kecewa yang sangat luar biasa. Pertanyaannya tentang sikap Dane terjawab sudah.
Dane naik ke atas ranjang, ia duduk di sebelah Leon sambil menatapnya.
" Mas dengarkan aku!" Dane mengusap kepala Leon. Leon memejamkan matanya mencoba meredam emosinya.
" Aku mencoba berubah karena memang aku ingin menjadi istri yang baik untukmu. Saat aku tahu tentang penyakitmu, semalaman aku tidak bisa tidur. Aku merasa takut kehilanganmu, aku merasa tidak akan sanggup hidup tanpamu. Bagaimana dengan aku? Bagaimana dengan anak kita nanti? Mungkin jika kau tiada, kami juga akan tiada bersamamu." Ucap Dane sedih.
Leon membalikkan tubuhnya, ia menatap wajah Dane.
" Jangan pernah berbicara seperti itu!" Ucap Leon.
" Untuk itu tetaplah berada di samping kami selamanya." Sahut Dane.
" Aku menyadari perasaanku padamu Mas. Aku tidak tahu apakah ini cinta atau hanya rasa keinginan saja. Tapi aku berharap kita akan bersama selamanya. Apa kau bisa melakukan itu untukku?" Tanya Dane menangkup wajah Leon.
" Bagaimana aku bisa melakukannya untukmu? Sedangkan aku di vonis terkena penyakit mematikan itu? Aku tidak bisa berbuat banyak untuk memenuhi keinginanmu sayang." Ucap Leon.
" Berobatlah pada ahlinya Mas. Aku sudah menyiapkan dokter terbaik untukmu. Aku rasa ada kesalahan dari dokter yang memeriksamu. Jika kau mengidap penyakit itu, seharusnya aku juga kan? Tapi saat pemeriksaan, aku dinyatakan sehat dari penyakit apapun." Ujar Dane pelan pelan agar tidak menyinggung perasaan Leon.
Leon nampak sedikit berpikir.
" Kau benar sayang, apa mungkin dokter itu salah mendiagnosa? Apa mungkin aku tidak sakit? Kalau benar, itu berarti aku bisa hidup lebih lama lagi." Ujar Leon.
" Kita berdoa saja apa yang terbaik untuk kita Mas. Aku akan membuat janji dengan dokter Jonson untuk pemeriksaanmu. Semoga apa yang aku pikirkan adalah sebuah kenyataan." Ujar Dane.
" Terima kasih sayang, maafkan aku telah membentakmu dan melukai hatimu." Ucap Leon.
" Aku memaafkanmu Mas." Sahut Dane tersenyum.
Leon menjadikan paha Dane sebagai bantalan. Ia menarik tengkuk Dane membuat Dane membungkuk. Leon mendekatkan wajahnya lalu..
Cup....
Leon mengecup bibir Dane. Sadar tidak ada penolakan, Leon merubah posisi keduanya menjadi berbaring. Leon menindih tubuh Dane lalu memperdalam ciumannya. Suara decapan memenuhi ruangan kamarnya. Leon nampak bahagia Dane tidak menolaknya.
Di rasa kehilangan pasokan oksigen, Leon melepas pagutannya. Ia mengusap bibir Dane dengan jempolnya. Sadar dengan perbuatannya, Dane memeluk Leon menyembunyikan wajahnya di dada Leon membuat Leon terkekeh.
Sangat di matikan like koment vote dan 🌹nya ...
Terima kasih...
__ADS_1
TBC....