
Gavin menatap Vania yang nampak senyam senyum sendiri.
" Kenapa sayang? Kenapa kau senyam senyum begitu?" Tanya Gavin mengerutkan keningnya.
" Nggak pa pa." Sahut Vania.
" Yang bener?" Gavin bertanya lagi.
" Iya ih.. Ya udah sana kamu temui mama sama Radit dulu! Hari ini adalah hari bersejarah untuk Sandia, dan jadikan hari ini sebagai hari bersejarah untuk keluarga kita. Akan ada tiga kebahagiaan yang keluarga kita dapatkan hari ini." Ucap Vania.
" Tiga? Apa saja?" Tanya Gavin menatap Vania.
" Satu hari pernikahan Sandia, kedua hari dimana keluarga kita bersatu, dan yang ketiga.... " Vania menjeda ucapannya.
" Apa? Katakan!" Ucap Gavin.
" Yang ketiga buat kejutan nanti saja, sekarang pergilah! Rangkul adikmu yang telah lama merindukanmu." Ucap Vania.
" Kalau dia adik tiriku, dia juga kakak tiriku donk. Kan dia anak dari mama tiri kamu." Ujar Gavin.
" Iya, tapi sekarang dia menjadi adik iparku. Udah sana keluar sebelum mama terlalu lama kecewa sama kamu Mas." Ucap Vania mendorong pelan punggung Gavin.
" Iya iya,,, bawel." Ujar Gavin.
" Biarin." Sahut Vania.
Gavin keluar kamar menuju ballroom. Ia menghampiri mamanya dan yang lainnya.
" Gavin." Ucap nyonya Rindu menatap Gavin yang duduk di depannya.
" Ya Ma." Sahut Gavin.
" Sandia sudah menerima Radit sebagai bagian dari keluarga kita, bagaimana denganmu?" Tanya nyonya Rindu.
Gavin menatap Sandia dan Rangga bergantian. Sandia menundukkan kepalanya tidak berani menatap Gavin. Ia takut membuat Gavin terlukan dengan menerima Radit.
" Bagaimana Gavin?" Nyonya Rindu bertanya lahi karena tidak ada pergerakan dari Gavin.
Gavin menghela nafasnya dalam dalam.
" Aku menerimanya Ma." Sahut Gavin membuat nyonya Rindu tersenyum bahagia.
" Aku menerimanya karena Mama dan Vania. Aku tidak ingin dia wanita yang sangat aku sayangi kecewa padaku. Tapi jangan harap aku bisa dekat dengannya. Hubungan kami tetap sama seperti sebelumnya. Karena saat aku melihat wajahnya aku teringat dengan luka yang kedua orang tuanya torehkan di hatiku. Mama dan Sandia mungkin bisa melupakannya tapi aku tidak. Aku tidak akan melupakan tentang apa yang telah kedua orang tuanya lakukan pada keluarga kita. Aku harap Mama mengerti akan perasaanku." Ucap Gavin.
" Mama mengerti Gavin, dengan kamu mau menerima Radit saja Mama sudah bahagia. Mulai hari ini Radit akan tinggal bersama kita." Ucapan nyonya Rindu membuat Gavin terkejut.
" Kalau begitu biarkan aku yang pergi, aku dan Vania akan pindah ke rumah baru kami." Sahut Gavin.
" Tidak Gavin, kau tidak boleh kemana mana." Sahut Radit.
Radit menatap nyonya Rindu.
" Ma, jangan membuat keputusan yang justru membuat keluarga kalian hancur. Biarkan seperti saat ini! Aku tetap tinggal di rumahku. Kalau aku merindukan Mama, aku akan main ke rumah Mama. Ini yang terbaik untuk kita semua Ma." Ujar Radit.
" Iya Ma, jangan biarkan kak Gavin keluar dari rumah itu. Rumah dimana banyak kenangan kita di sana Ma, baik kenangan indah maupun kenangan buruk." Sahut Sandia.
__ADS_1
" Baiklah, maafkan Mama jika Mama menyakiti hati kalian. Kalau begitu lanjutkan pestanya sayang, Mama akan menemui para tamu." Ucap nyonya Rindu.
" Iya Ma." Sahut Sandia.
Acara resepsi berlangsung dengan lancar. Sandia dan Rangga nampak benar benar bahagia. Sampai selesai acara keluarga Gavin kembali ke rumah. Sedangkan pasangan pengantin baru masuk ke kamar pengantin yang sudah di pesan oleh Gavin khusus untuk adik tercintanya.
Ceklek...
Aroma mawar dan aroma terapi dari lilin menyeruak di hidung Sandia dan Rangga. Mereka nampak terkejut dengan ranjang pengantin yang sudah di dekor dengan sangat indah.
" Sayang, indah sekali." Ucap Rangga.
" Iya Mas." Sahut Sandia mendekati ranjangnya.
Ia merebahkan tubuhnya di atas kelopak mawar merah, Rangga segera menghampirinya.
" Sudah siap untuk malam pertama?" Tanya Rangga menaik turunkan alisnya.
" Sudah, ayo!" Tantang Sandia.
" Beneran ya... " Ucap Rangga.
Tiba tiba Rangga menindih tubuh Sandia membuat Sandia terkejut.
" Mas." Pekik Sandia.
" Kenapa sayang?" Tanya Rangga mengelus pipi Sandia.
Sandia memejamkan matanya. Rangga menatap bibir merah milik Sandia lalu...
Rangga mengecupnya sedikit lama. Sandia membuka matanya menatap mata Rangga yang terasa begitu teduh di hatinya. Untuk sesaat keduanya saling melempar tatapan.
Jantung Rangga berdetak sangat kencang, ia menjauhkan bibirnya dari bibir Sandia.
" Kenapa tidak di lanjutkan?" Tanya Sandia.
" Mas tidak bisa Sandia." Sahut Rangga merebahkan tubuhnya di samping Sandia.
" Apa? Tidak bisa? Kenapa? Apa kau im.... " Sandia menjeda ucapannya menatap Rangga.
" Mas tidak bisa melakukannya karena gaunmu sayang, pasti akan susah dan membutuhkan waktu lama untuk membuka gaunmu itu. Jadi lebih baik sekarang kita mandi, baru kita akan melakukannya." Ucap Rangga.
" Syukurlah.. Aku kira kau itu Mas." Ucap Sandia bernafas lega.
Keduanya mandi bergantian, Rangga mandi lebih dulu lalu ia duduk di ranjang menunggu Sandia yang berada di dalam kamar mandi.
Jantung Rangga deg deg an.
" Kenapa aku nervous gini ya? Inikah yang di rasakan para pengantin baru?" Ucap Rangga terkekeh. Ia membayangkan malam pertama yang akan ia lalui dengan Sandia.
" Mas." Panggil Sandia.
" Iya sayang." Sahut Rangga mendekati pintu kamar mandi.
Sandia membuka pintunya, ia menongolkan kepalanya menatap Rangga.
__ADS_1
" Mas aku udah selesai mandi, tapi dimana bajuku?" Tanya Sandia.
" Baju? Bajumu ada di samping wastafel sayang, di dalam papper bag." Sahut Rangga.
" Tidak ada Mas, adanya ********** doank. Tidak ada baju sama sekali." Ujar Sandia.
" Masa' sih? Itu semua Gavin yang menyiapkan sayang. Apa mungkin Gavin lupa ya." Ujar Rangga menggaruk kepalanya.
" Jangan jangan kak Gavin sengaja tidak membelikan aku baju Mas." Ucap Sandia.
" Bisa jadi." Ujar Rangga.
" Terus aku gimana? Masa' aku tidak pakai baju sampai besok pagi, mana udah malam banget lagi. Mau pesan juga pasti nggak ada yang ngantar." Ucap Sandia.
" Apa ada bathrobe di dalam?" Tanya Rangga yang di balas gelengan kepala oleh Sandia.
" Astaga!!!! Sepertinya Gavin memang benar benar sengaja ingin membuatmu kedinginan sayang, kamu pakai baju Mas aja ya." Ujar Rangga.
" Nggak mau! Ambilkan selimut aja Mas!" Ucap Sandia.
" Baiklah." Sahut Rangga.
Di dalam kamar Gavin, Gavin sedang tertawa terbahak bahak setelah menceritakan sikap jailnya kepada Vania, Vania menggelengkan kepalanya. Ia tidak menyangka jika Gavin bisa melakukan semua itu.
" Kalau nanti Sandia masuk angin gimana Mas?" Ujar Vania.
" Ya enggak lah sayang, percuma juga kan pakai baju nanti juga di buka sama Rangga." Ucap Gavin.
" Aku benar benar nggak nyangka ternyata kamu bisa juga iseng. Kasihan Sandia harus jadi korban kejahilanmu." Ujar Vania.
" Sekali kali sayang... " Sahut Gavin merangkul pundak Vania.
" Mas ada yang ingin aku bicarakan padamu." Ucap Vania.
Gavin menatap Vania.
" Apa itu sayang? Tentang apa?" Tanya Gavin.
" Ini tentang cintaku padamu Mas." Sahut Vania.
" Cintamu? Memangnya kenapa dengan cintamu? Katakan dengan jelas biar aku tidak bingung sayang." Ucap Gavin.
" Cintaku terbagi untuk yang lain...
Jeduarrrrr .....
Nah loh... Kok bisa?
Jangan lupa like koment vote dan kasih 🌹yang banyak buat author...
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...
Miss U All...
TBC....
__ADS_1