Pada Akhirnya Aku Menyerah

Pada Akhirnya Aku Menyerah
KEHILANGAN MANTAN


__ADS_3

Hari ini Leon, Geral dan Dane meninggalkan hotel. Mereka menuju Bandara dengan mengendarai taksi. Saat di tengah perjalanan tiba tiba sebuah mobil menghadang taksi yang mereka tumpangi. Nampak Zian turun dari mobil itu menghampiri taksi yang di tumpangi Danesha.


Melihat itu Geral naik darah, ia turun dari taksi lalu mendekati Zian.


" Zian si pecundang." Ucap Geral menatap sinis ke arah Zian.


" Kak Geral." Ucap Zian menatap Geral.


" Jangan pernah panggil aku dengan sebutan kakak! Kita tidak sedekat itu. Dan aku katakan padamu kalau aku sangat membencimu. Bahkan seumur hidupku aku tidak akan pernah memaafkanmu." Ucap Geral.


" Aku tahu aku salah tapi aku di sini untuk meminta maaf padamu Kak."


" Jangan memanggilku dengan sebutan itu!!" Bentak Geral.


Tiba tiba Geral menarik kerah lehernya lalu...


Bugh... Bugh... Bugh... Bugh...


Geral memukul Zian membabi buta.


" Kakak jangan!" Teriak Danesha mendekati keduanya.


" Jangan menghentikan Kakak Dane! Kakak akan membunuh baj!ngan ini." Ucap Geral penuh emosi.


Bugh... Bugh...


Geral kembali memukuli Zian hingga Zian tersungkur di jalan aspalan. Darah segar keluar dari mulut Zian.


" Kak ingatlah ini bukan negara kita! Jangan sampai kau tidak bisa pulang karena di tahan di sini. Atau Ruhi akan meninggalkanmu. Ayo kita pergi! Kita sudah tidak ada urusan lagi dengannya." Danesha menarik Geral masuk ke dalam taksi.


" Dane tunggu!" Teriak Zian.


" Jalan Pak!" Ucap Danesha menutup pintunya.


Taksi mulai melaju kembali, melihat itu Zian segera mengejarnya dengan langkah tertatih.


" Dane tunggu aku! Aku perlu berbicara padamu."


" Daneee.. " Teriak Zian.


Mendengar teriakan Zian, Dane menoleh ke belakang tiba tiba...

__ADS_1


Brak....


" Zian!!!!" Teriak Danesha saat melihat tubuh Zian terpental setelah di tabrak sebuah mobil yang melaju kencang.


" Pak berhenti!"


Danesha segera keluar setelah taksi berhenti. Ia berlari menghampiri tubuh Zian yang tergeletak di jalan raya dengan bersimpah darah. Orang orang mulai mengerumuninya.


" Zian bangunlah!" Danesha meletakkan kepala Zian di pahanya.


" Zian bangunlah! Jangan seperti ini! Aku tidak mau melihatmu seperti ini Zian." Danesha menepuk pipi Zian.


Perlahan Zian mengerjapkan matanya, walaupun rasanya begitu berat namun ia memaksanya karena ingin melihat wanita yang pernah di sakitnya. ia tersenyum menatap Danesha.


" Aku tidak menyangka ternyata kau masih peduli padaku. Aku merasa senang Dane, aku bahagia. Di akhir hidupku aku bisa bertemu denganmu dan di beri kesempatan untuk meminta maaf padamu." Ucap Zian lirih. Ia menggenggam tangan Danesha lalu menciuminya.


" Aku minta maaf atas apa yang telah aku lakukan padamu. Aku sangat menyesalinya, seandainya aku tahu siapa Feni sebenarnya aku tidak akan mengkhianatimu. Aku sangat menyesal Dane, maukah kau memaafkan aku? Biarkan aku pergi dengan tenang."


" Hiks... Zian... Jangan berkata seperti itu! Kau harus bertahan demi keluargamu Zian. Aku memaafkanmu, aku sudah memaafkan semua kesalahanmu kepadaku. Tapi aku mohon bertahanlah! Om dan Tante pasti akan sedih kehilanganmu. Aku mohon Zian, bertahanlah!" Ucap Danesha. Air mata terus menetes di pipinya.


" Aku punya satu permintaan untukmu Dane, maukah kau mengabulkannya? Uhuk... Uhuk.." Zian terbaik batuk, nafasnya tersengal seolah hendak hilang dari tubuhnya.


" Katakan apa permintaanmu itu Zian! Jika aku bisa memenuhi maka akan aku penuhi." Ucap Danesha.


Danesha menatap Leon seolah meminta pendapatnya. Leon menganggukkan kepalanya.


" Baiklah, aku akan memberikan namamu pada anakku nanti." Ucap Danesha.


" Terima kasih Dane, aku doakan semoga kau bahagia. Maafkan aku! Selamat tinggal."


Setelah mengatakan itu nafas Zian kembali tersengal.


" Zian bertahanlah!" Ucap Danesha.


" A.. ku.. bahagia Dane.. Aku.. bi.. sa.. tiada... di.. pang.. kuan.. mu." Zian menghembuskan nafas terakhirnya lalu menutup mata untuk selamanya.


" Tidak Zian, bangunlah Zian! Sadarlah!" Dane menepuk pipi Zian namun tidak berhasil membangunkan Zian.


" Ziaaaannnnn" Teriak Danesha membawa tubuh Zian ke dalam pelukannya.


Bukan karena masih cinta namun Dane tidak kuasa melihat pria yang pernah membuatnya bahagia tiada di pangkuannya. Rasanya begitu miris menghadapi semua hal itu. Jika ia bisa memilih, ia tidak mau bertemu Zian saat ini.

__ADS_1


" Zian hiks... " Isak Danesha.


" Maaf Nona, kami harus segera membawanya ke rumah sakit." Ucap polisi.


" Ayo sayang!" Leon membantu Danesha berdiri, Danesha menatap Leon lalu berhambur ke pelukannya.


" Zian Mas... Hiks... Aku tidak menyangka jika kepergiannya akan setragis ini. Jika dia tidak mengejarku mungkin dia tidak akan mengalami hal ini." Isak Danesha.


" Tenanglah sayang! Ikhlaskan dia pergi seperti kau mengikhlaskannya selama ini. Semua sudah menjadi takdir Tuhan sayang. Tidak baik untuk anak kita jika kau stress begini." Ujar Leon.


Danesha baru menyadari jika sikapnya menyakiti Leon. Ia mendongak menatap Leon yang nampak terluka.


" Maaf! Aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku hanya bersimpati saja pada Zian. Walaupun dia telah meninggalkan aku, tapi bagaimanapun dia pernah menjadi orang yang membuatku bahagia Mas. Dia yang mengajariku akan cinta selama ini."


" Sebenarnya dia tidak bersalah, dia hanya korban Feni, dia tersesat karena rayuan dan tipuan yang Feni tunjukkan padanya. Maafkan aku jika tanpa sengaja aku menyakitimu." Ucap Danesha.


Leon menangkup wajah Danesha, ia mengusap air mata yang mengalir di pipinya.


" Aku tidak apa apa, aku memahami perasaanmu. Aku turut berduka atas kepergian Zian, apa kau mau ke rumah sakit untuk mengurus jenazah Zian?" Tanya Leon.


" Tidak Mas! Kita harus segera kembali ke Indonesia, kalau tidak Ruhi pasti akan curiga. Dia pasti akan terluka jika tahu kalau kita pergi ke sini untuk pengobatanmu walaupun pengobatan itu tidak jadi di lakukan." Ujar Danesha.


" Baiklah, ayo kita pergi sebelum kita ketinggalan pesawat." Ucap Leon.


" Aku akan mencari toilet umum untuk mengganti pakaianku lebih dulu." Ujar Danesha.


" Baiklah aku akan menemanimu." Sahut Leon.


Setelah Danesha mengganti bajunya mereka bertiga melanjutkan perjalanan ke Bandara. Beruntung kesehatan Danesha tidak menurun, jadi ia bisa melanjutkan perjalanannya kembali ke tanah air.


Selama perjalanan Danesha lebih banyak diam. Hal itu membuat Leon merasa gelisah. Ia takut jika hati Danesha kembali kepada Zian. Ia menggenggam tangan Danesha membuat Danesha menatapnya.


" Apa kau sedih karena kepergian Zian?" Tanya Leon.


" Kalau sedih pasti ada Mas, tapi aku lebih kasihan kepadanya. Dia begitu mencintai Feni hingga dia tega meninggalkan aku tapi Feni justru menyakitinya. Aku yakin setelah ini Feni tidak akan diam saja. Ia pasti merencanakan sesuatu untuk balas dendam pada kita, tapi entah apa yang akan ia lakukan aku tidak tahu. Yang jelas mulai saat ini kita harus hati hati. Kita harus menjaga hubungan ini dengan baik Mas." Ujar Danesha.


" Kau benar sayang, kita harus saling percaya satu sama lain apapun yang terjadi. Apa kau mengerti maksud ucapanku?" Tanya Leon menatap Danesha.


" Aku mengerti Mas." Sahut Danesha merebahkan kepalanya di bahu Leon.


Sampai di Bandara tanah air, mereka berpisah pulang ke rumah masing masing.

__ADS_1


**TBC....


Lanjut Leon, Geral, Rangga atau Gavin nih**?


__ADS_2