
" Katakan Ruhi! Jangan sampai kakakmu mengira kalau aku memaksakan hubungan ini atau mengancammu." Ucap Geral.
" Pinter banget dia ngasih kodenya, sialan. Gue yang masih mau mengejar cita cita malah harus terjebak dengan kakak ipar kakakku sendiri. Sabar Ruhi... Jalani saja apa yang telah Tuhan takdirkan untukmu. Jika memang berjodoh pasti akan bersatu, dan jika tidak pasti akan segera berlalu. Bismillahirrohmanirrohim." Ucap Ruhi dalam hati.
" Aku pikir mungkin ini yang terbaik untuk kami Kak, aku menerima lamaran Kak Geral dan siap menjadi istrinya." Ucap Ruhi memejamkan mata.
Geral mengembangkan senyuman di sudut bibirnya. Entah mengapa ia sangat bahagia.
" Kenapa hatiku terasa berbunga bunga seperti ini? Benarkah aku mencintai Ruhi? Semoga dia jodoh terbaik yang Tuhan kirimkan untukku. Ah tidak... Lebih tepatnya jodoh yang aku minta dari Tuhan." Batin Geral.
" Baiklah jika itu keputusanmu, selamat untuk kalian berdua. Aku akan menyiapkan pesta pernikahan kalian. Kapan kalian akan menikah?" Tanya Leon.
" Besok." Sahut Geral cepat.
" Apa???" Pekik Ruhi menatap Geral.
" Apa kau gila Kak? Malam ini kamu melamarku dan besok pernikahannya? Aku rasa kau memang tidak waras Kak. Memangnya persiapan pernikahan semudah membalikkan telapak tangan apa. Aneh aneh aja." Cibir Ruhi.
" Semakin cepat semakin baik, aku takut kamu berubah pikiran. Apalagi aku sudah mempersiapkan semuanya." Sahut Geral.
" Mempersiapkan apa?" Tanya Ruhi.
" Aku menyewa WO profesional yang akan mempersiapkan pesta pernikahan kita dalam waktu semalam. Di ballroom hotel King kita akan menikah besok pagi jam sembilan. Kau tinggal siap siap saja, akan ada sopir yang menjemputmu. Kau akan di rias pihak MUA jam tujuh pagi." Terang Geral membuat Ruhi melongo.
" Segitu ngebetnya dia mau nikah sama gue. Benar benar mengejutkan, gue rasa tidak ada pernikahan seextrem ini. Secepat mengejar dukun beranak saja." Batin Ruhi.
" Bagaimana Ruhi?" Tanya Geral.
" Bagaimana dengan cutiku? Besok aku ada jam mengajar seharian full." Ujar Ruhi.
" Aku sudah mengajukan lima hari cuti kepada pihak sekolah, dua hari untuk pernikahan dan tiga hari untuk honeymoon." Sahut Geral.
Lagi lagi Ruhi tercengang mendengar ucapan Geral.
" Li... Lima hari? Alamat numpuk semua tugasku." Gumam Ruhi menggaruk kepalanya.
" Rupanya kau sangat antusias dengan pernikahan ini Kak, sampai sampai kau telah menyiapkan semuanya dengan sempurna. Aku terharu padamu." Ucap Ruhi menatap tajam ke arah Geral yang sedang menyiapkan makanan ke mulutnya.
" Tapi kenapa aku merasa kalau kau ingin menikahiku karena cinta ya?"
Uhuk... uhuk...
Ucapan Ruhi membuat Geral tersedak makanan yang ia kunyah. Danesha segera memberikan segelas air putih kepada Geral. Geral meminumnya hingga tandas.
" Apa aku terlihat seperti itu?" Tanya Geral menatap Ruhi.
" Dari sorot matamu mengatakan semua itu." Sahut Ruhi.
__ADS_1
" Bukankah seharusnya kau bahagia jika aku menikahimu karena cinta?" Geral kembali bertanya.
" Tidak mungkin kau jatuh cinta padaku, kita baru bertemu satu kali, itu pun baru kemarin." Sahut Ruhi.
" Tepat sekali. Kau sudah tahu jawabannya tapi kenapa kau malah menanyakanya padaku?" Geral tersenyum pada Ruhi.
Ruhi mengepalkan erat tangannya, ia merasa di permainkan oleh Geral.
Tanpa mau berdebat lagi, Ruhi melanjutkan makannya.
" Oh ya Leon, aku mengundang semua kolegaku dan teman temanku. Siapa saja yang ingin kau undang?" Tanya Geral.
" Kebanyakan kolegamu orang yang sama dengan partner bisnis Gavin. Jadi tinggal nambah teman temanku saja." Sahut Leon.
" Kirimkan datanya saja, nanti akan aku kirimkan undangannya pada mereka." Ujar Gerald
" Kalau kau Ruhi. Apa ada teman temanmu yang ingin kau undang?" Tanya Geral menatap Ruhi.
" Aku tidak punya teman." Sahut Ruhi.
Geral mengangguk anggukkan kepalanya.
Selesai makan, Geral berpamitan pulang. Ruhi mengantarnya sampai ke teras.
" Aku pulang dulu sayang."
" Nggak usah sok panggil sayang sayangan deh. Geli aku dengarnya." Ucap Ruhi.
" Kau harus terbiasa sayang, sebentar lagi kau akan menjadi istriku." Sahut Geral.
" Apapun bisa terjadi sebelumnya, jadi jangan terlalu percaya diri dulu." Ucap Ruhi.
Geral memajukan wajahnya, sedangkan Ruhi memundurkan wajahnya agar wajah mereka tidak menempel. Geral menyelipkan rambut Ruhi ke telinga. Entah mengapa jantung Ruhi terasa deg deg an.
" Jangan pernah berniat kabur dari pernikahan ini, atau kau akan menanggung akibatnya." Bisik Geral.
" Bagaimana kalau aku memilih mementingkan diriku sendiri?" Ruhi menatap Geral.
" Apa maksudmu?" Tanya Geral.
" Aku menolak menikah denganmu dan membiarkan kak Dane meninggalkan kakakku, di sini pihakmulah yang akan di rugikan. Kau akan di permalukan karena adikmu telah hamil di luar nikah ataupun hamil tanpa suami."
" Ruhi!!!" Bentak Geral membuat Ruhi berjingkarak kaget.
" Jaga ucapanmu! Jika kau ingin lari dari pernikahan ini maka kau harus mengganti semua biaya yang sudah aku keluarkan." Ucap Geral.
" Kenapa harus aku? Bukankah kamu sendiri yang mengeluarkannya? Apa kau mengeluarkannya atas ijin dariku? Tidak.... Lagian aku tidak memintanya kan? Jadi jangan melimpahkan kesalahan pada orang lain. Sekarang pulanglah! Sudah malam, aku mau istirahat." Ucap Ruhi mendorong pelan tubuh Geral.
__ADS_1
" Lalu bagaimana dengan pernikahan kita Ruhi? Apa kau akan membatalkannya?" Tanya Geral.
" Tinggal kamu tunggu saja! Jika aku datang maka pernikahan akan di laksanakan. Tapi jika aku tidak datang berarti pernikahan di batalkan...
" Tap....
" No koment." Sahut Ruhi masuk ke dalam.
" Ruhi..." Teriak Geral.
" Arghhh!!!" Geral menarik kasar rambutnya.
" Niatnya aku yang mengancam, ini malah sebaliknya. Sial!!!" Umpat Geral berjalan menuju mobilnya.
Geral melajukan mobilnya menuju rumahnya.
Ruhi berbaring di atas ranjang sambil menatap langit langit kamarnya.
" Apa keputusanku sudah benar? Tapi bagaimana kami bisa bahagia sedangkan kami saja seperti tom dan jerry kalau berdebat. Hah... Sepertinya pernikahan ini akan menjadi pernikahan yang unik dan lain daripada yang lain." Monolog Ruhi.
" Hans... Maafkan aku! Dari awal aku memang tidak ada perasaan sama kamu, aku harap kamu bisa mengerti akan keputusanku ini. Lagian kau juga sudah di jodohkan dengan orang lain, tidak mungkin kau bisa menghindari perjodohan itu." Gumam Ruhi memejamkan matanya.
Di kamar Leon, Danesha baru saja keluar dari kamar mandi. Ia naik ke atas ranjang lalu berbaring di samping Leon. Leon memiringkan tubuhnya menatap Danesha.
" Sayang, aku tidak menyangka kalau kau akan bertukar tempat dengan adikku." Ucap Leon.
" Hmm... Semoga pernikahan mereka bahagia."
" Begitupun dengan pernikahan kita. Aku harap atas kesalahanku kemarin, kau tidak menyimpan dendam padaku." Ucap Leon.
Deg...
" Kenapa Leon berkata seperti itu? Apa dia mendengar ucapanku?" Tanya Danesha dalam hati.
" Aku berharap kau mau menerimaku sebagai suamimu sepenuh hatimu agar kita bisa hidup bahagia. Aku juga berharap kau mau membuka hatimu dan membiarkan aku melukis namaku di sana. Aku yakin dengan kita saling membuka hati maka cinta akan hadir dengan sendirinya. Suatu hari nanti kau pasti bisa membalas perasaanku. Dan aku akan sabar menanti sampai saat itu tiba." Ucap Leon menggenggam tangan Danesha.
" Aku, kamu, adikku dan kakakmu akan menjadi satu keluarga. Jadi mulai sekarang, mari kita saling menumbuhkan cinta dan kasih sayang untuk keluarga kita." Sambung Leon.
" Aku tidak tahu apakah aku bisa mencintaimu atau tidak. Aku merasa tidak ingin memiliki perasaan itu lagi pada siapapun. Tapi kau jangan khawatir, aku tidak akan memperlakukanmu dengan buruk. Karena aku takut adikmu akan membalasnya melalui kakakku." Sahut Dane cuek.
" Jangan berpikiran seperti itu! Adikku bukan orang pendendam. Sekarang tidurlah! Kau sangat lelah hari ini." Ujar Leon.
Danesha memejamkan matanya menuju alam mimpi. Ia tidak mau memikirkan apapun, biarkan waktu yang menjawab semuanya tentang perasaannya pada Leon.
Jangan lupa tekan like koment dan 🌹nya buat author ya..
Terima kasih..
__ADS_1
TBC......