
" Apa??" Pekik Sandia tak percaya.
" Iya sayang, saat ini Lukman tidak bisa berjalan. Dan Mas akan bertanggung untuk membiayai kehidupan mereka sampai Lukman bisa bekerja lagi." Ujar Rangga.
" Dimana suamimu sekarang?" Tanya Sandia menatap Reni.
" Ada di kamarnya." Sahut Reni.
" Aku mau menemuinya." Ujar Sandia.
" Baiklah." Sahut Reni.
Sandia dan Reni masuk ke kamar Lukman. Sandia menatap Lukman yang saat ini sedang duduk bersandar di atas ranjang.
" Siapa dia Reni?" Tanya Lukman.
" Aku Sandia, istrinya mas Rangga." Sahut Sandia.
" Oh Nona Sandia."
" Nona? Apa kau tahu darimana aku berasal?" Selidik Sandia.
" Ah tidak... Saya cuma terbiasa memanggil wanita dengan sebutan Nona. Apalagi melihat tampilan anda sepertinya anda dari kalangan orang berada." Ujar Lukman mengelus keningnya.
" Aku akan memberikan santunan sekaligus padamu, berapa yang kamu minta?" Tanya Sandia.
" Maksudnya?" Tanya Lukman tidak paham.
" Aku akan memberikan uang ganti rugi kepadamu sekaligus, aku tidak mau suamiku berlama lama berhubungan dengan kalian karena itu akan sangat mengganggu kinerjanya di kantor. Jadi berapa yang kamu mau?" Sandia menatap Lukman.
" E.. A.. Aku.. "
" Lima ratus juta." Sahut Reni.
Sandia beralih menatap Reni.
" Hanya segitu? Apa tidak kurang?" Tanya Sandia.
" Sudah cukup, berikan sekarang juga! Dan segera pergilah dari sini. Kami tidak akan mengusik hidup kalian lagi." Ujar Reni.
" Baiklah aku akan memberikannya, tapi setelah suamimu di periksa oleh dokterku." Sahut Sandia.
Reni dan Lukman nampak terkejut, mereka saling melempar pandangannya.
" Aku akan segera menelepon dokter spesialis syaraf untuk memeriksamu." Ucap Sandia menelepon dokter Budi.
" Kenapa kau membawa dokter sendiri? Apa kau tidak percaya dengan dokter yang memeriksa suamiku? Apa kau pikir kami berbohong?" Ujar Reni panik.
__ADS_1
" Kenapa kau terlihat panik seperti itu? Tenanglah! Jika kau tidak bersalah jangan takut! Aku tidak akan menggigitmu kok." Ujar Sandia.
Reni nampak memilin ujung bajunya.
" Sebenarnya apa yang mereka sembunyikan dari kami? Kenapa ada yang janggal di sini? Atau mereka hanya memanfaatkan kebaikan mas Rangga saja? Aku akan mengetahuinya setelah dokter Budi ke sini." Batin Sandia.
Sandia kembali menelepon dokter Budi lalu memintanya untuk segera ke sana. Sambil menunggu kedatangan dokter Budi, Sandia duduk di ruang tamu bersama Rangga sedangkan Reni menemani Lukman di kamarnya.
Sandia menatap Rangga begitupun sebaliknya.
" Mas aku merasa mereka menyembunyikan sesuatu darimu deh, atau mungkin mereka sengaja menggunakan kesempatan ini untuk memanfaatkan Mas saja?" Ujar Sandia.
" Mas tidak tahu sayang, apakah kecurigaan itu benar atau tidak." Sahut Rangga tersenyum manis ke arah Sandia membuat hati Sandia merasa sejuk.
Tak lama dokter Budi pun datang.
" Selamat siang Nona Sandia."
" Siang Dok, mari saya antar ke kamar pasien." Ucap Sandia
Mereka bertiga masuk ke kamar Lukman.
" Saya periksa dulu tuan." Ucap dokter Budi.
" Si... Silahkan Dok!" Sahut Reni.
" Bisakah saya melihat hasil pemeriksaan saat di rumah sakit?" Tanya dokter Budi menatap Reni. Reni menatap Lukman yang menganggukkan kepala.
" Bisa Dok." Sahut Reni.
Reni memberikan hasil pemeriksaan scan kaki Lukman kepada dokter. Dokter Budi segera melihatnya.
" Kenapa hasilnya seperti ini?" Tanya dokter Budi saat melihat hasil scan yang terlihat rusak.
" Iya Dok, kemarin hasilnya di buat mainan anak saya. Jadi rusak begini." Ujar Reni.
" Tidak apa apa, ini masih terlihat jelas di bagian lutut dan tumit. Lalu bagian mana yang mengalami patah tulang?" Dokter Budi menatap Lukman.
" Lutut."
" Tumit." Ucap Lukman dan Reni bersamaan.
Ketiga orang lainnya menatap ke arah mereka.
" Yang benar bagian mana Lukman?" Tanya Rangga menatap tajam keduanya.
" Lihat saja keduanya Dok, bagian mana yang mengalami keretakan ataupun patah tulang sehingga Lukman tidak bisa berjalan." Ujar Sandia.
__ADS_1
" Berdasarkan pemeriksaan saya tidak ada yang patah, dan berdasarkan hasil scan dari rumah sakit juga tidak ada tanda tanda keretakan ataupun patah tulang pada kaki tuan Lukman. Seharusnya beliau bisa berjalan dengan normal tanpa bantuan kursi roda." Terang dokter Budi membuat Rangga terkejut.
" Jadi maksud Dokter mereka telah membodohi saya?" Tanya Rangga memastikan.
" Sepertinya begitu Tuan." Sahut dokter Budi.
Rangga menatap tajam ke arah Lukman dan Reni.
" Kalian harus menjelaskan semua ini padaku! Kalau sampai kalian berani berbohong padaku maka aku akan mengirim kalian ke penjara." Ucap Rangga penuh penekanan.
" Kalau begitu saya permisi Nona Sandia. Jangan khawatir! Tidak ada luka serius pada kedua kakinya." Ucap dokter Budi.
" Terima kasih Dok, sampaikan salamku untuk Hans." Ucap Sandia.
" Akan saya sampaikan." Sahut Dokter Budi berlalu dari sana.
Sandia menatap tajam kepada kedua tersangka di depannya.
" Katakan apa tujuan kalian sebenarnya melakukan semua ini! Jika alasannya karena uang, haruskah aku memotong kakimu lebih dulu supaya aku bisa memberikan banyak uang padamu?" Tekan Sandia.
" Ja.. Jangan Nona! Baiklah akan aku katakan." Sahut Lukman.
" Dua minggu yang lalu aku di pecat dari tempatku bekerja. Aku bingung tidak tahu harus mencari kerja dimana, apalagi Reni sedang hamil anak kedua kami. Tiba tiba tanpa sengaja aku melihat Rangga yang baru saja keluar dari perusahaan GM Group, melihat tampilannya membuatku tahu jika Rangga bukan karyawan biasa di sana. Entah apa yang aku pikirkan saat itu, tiba tiba muncul ide buruk ini dalam pikiranku." Jelas Lukman menghela nafasnya dalam dalam.
" Aku mengikuti mobil Rangga menggunakan sepeda motorku, saat berada di jalan yang sepi aku mendahuluinya lalu aku sengaja menjatuhkan diriku ke depan mobilnya. Saat mobil Rangga berhenti aku memposisikan diriku seolah olah kakiku terlindas oleh mobilnya. Saat di rumah sakit aku sengaja tidak mengijinkan Rangga masuk agar dia tidak mendengar penjelasan dokter. Entah suatu keberuntungan atau apa, Rangga tidak bertanya kepada dokter tentang keadaanku. Hal itu memudahkan rencanaku, aku mengaku pada Rangga jika terjadi kelumpuhan pada kakiku. Dan dengan mudahnya Rangga percaya padaku tanpa mengecek kebenarannya ataupun melihat hasil scan itu." Sambung Lukman.
" Kenapa kau tega melakukan ini padaku Man? Kau teman baikku saat kita sekolah dulu, kau yang selalu menemaniku kemanapun aku pergi. Aku sahabatmu, apa kau pikir jika kau datang baik baik padaku lalu meminta bantuanku aku tidak akan membantumu?" Ujar Rangga tidak percaya.
" Kau salah Lukman, aku pasti akan membantumu, aku akan mencarikan pekerjaan untukmu. Tapi tak ku sangka kau lebih memilih cara ini di banding cara baik baik. Aku kecewa padamu Man, sangat sangat kecewa. Aku tidak pernah mengharapkan semua ini darimu." Ujar Rangga meluapkan rasa kecewanya.
Bagaimana tidak? Setelah sekian lama tidak bertemu dengan sahabat masa sekolahnya, kini ia di pertemukan dengan cara seperti ini. Ia merasa di khianati oleh temannya sendiri.
" Aku minta maaf Ngga! Aku tahu kesalahanku tidak bisa di maafkan, tapi aku mohon tolong pahami dari sudut pandangku. Aku malu jika harus mengemis bantuanmu dengan menemuimu. Bagaimanapun aku pernah membuatmu terluka karena telah merebut Maya darimu dulu." Ujar Lukman.
" Maya?" Sandia mengerutkan keningnya.
" Dengar Lukman! Maya memang suka padaku, tapi aku tidak pernah menyukainya. Lagian dulu kita masih sangat kecil, aku bahkan tidak tertarik dengan yang namanya cinta monyet. Jadi kau tidak perlu merasa bersalah akan hal itu." Ucap Rangga membuat Sandia mengerti.
" Apakah kau mau memaafkan aku atas kesalahan yang sekarang aku lakukan?" Tanya Lukman menatap Rangga.
Mau nggak ya? Kita lanjut besok lagi. Sambil nunggu update baca juga ya cerita yang lain. Author ada tiga belas novel lhoh.. Mungkin salah satunya belum kalian baca... Author tunggu di sana ya...
Di cerita TERJEBAK DUDA BERANAK SATU author masih menunggu tiga oendukung rerbanyak untuk mendapatkan pulsa sebesar dua puluh ribu rupiah... Buruan beri dukungan kalian di sana ya...
Terima kasih..
Miss U All....
__ADS_1