
Siang ini Vania mengendarai mobilnya menuju kantor Gavin. Ia ingin mengajak Gavin makan bersama di resto yang menyediakan aneka masakan seafood di pinggir pantai.
Sampai di kantor ia berjalan menuju ruangan Gavin. Tiba tiba Leon menghentikannya.
" Vania tunggu!" Ucap Leon.
" Ya, ada apa Kak?" Tanya Vania menatap Leon.
" Kamu mau ke ruangan Gavin? Gavin sedang tidak bisa di ganggu karena ada tamu penting. Mending kamu tunggu di ruanganku dulu sambil menunggu tamunya pulang." Ujar Leon.
" Lebih penting mana antara aku dan tamunya?" Tanya Vania menatap Leon.
Leon bingung mau menjawab apa, jika ia menjawab tamunya, maka ada akan ledakan besar di kantornya. Kalau ia menjawab Vania, tapi tamunya sangat penting karena merupakan salah satu partner penting dalam bisnis yang Gavin jalankan saat ini.
" Tamunya cewek apa cowok Kak?" Vania bertanya lagi.
Lagi lagi Leon hanya bisa diam saja. Melihat itu Vania sedikit curiga, tanpa menunggu jawaban Leon ia melanjutkan langkahnya mendekati pintu ruangan Gavin.
Ceklek...
Deg...
Jantung Vania berdetak sangat kencang, ia melihat Gavin menggendong anak kecil seusia Gava. Nampak seorang perempuan baru saja keluar dari kamar mandi sambil membenarkan bajunya. Dan baju itu merupakan baju Vania yang ia tinggal di kamar pribadi Gavin.
" Udah aku ganti bajunya, bagus kan? Ternyata body aku sama istrimu sama. Sini sayang sama Mama." Ucapnya.
" Iya, Mama kelihatan cantik pakai baju itu."
Jeduar...
Pikiran buruk menari nari di kepala Vania. Hatinya memanas terbawa emosi melihat semua itu. Ia masuk ke dalam menghampiri Gavin dan wanita itu.
" Inikah tamu penting yang kamu maksud sehingga kau tidak mau di ganggu oleh siapapun termasuk istrimu sendiri?" Vania menatap tajam ke arah keduanya.
" Sayang kamu kenapa? Ada apa?" Gavin balik bertanya karena ia memang tidak tahu apa maksud ucapan Vania.
" Siapa dia?" Tanya Vania menunjuk wanita yang saat ini menggendong putranya.
" Apa dia selingkuhanmu? Untuk apa dia ke sini? Apa dia ke sini ingin menghabiskan waktu bersamamu? Atau kalian sedang merencanakan sesuatu di belakangku?Katakan Mas!" Ucap Vania penuh emosi.
" Sayang kendalikan dirimu! Kau salah paham. Aku bisa menjelaskan semuanya." Ujar Gavin menyentuh kedua bahu Vania.
" Lepas!" Vania menepis tangan Gavin.
" Penjelasan seperti apa?" Tanya Vania.
" Sayang ini Rora, teman kuliahku dulu yang ternyata dia istri salah satu partner bisnisku." Ucap Gavin.
__ADS_1
" Apa kau sedang membodohiku saat ini? Lalu untuk apa dia kemari bersama putranya? Apa kau ingin beralasan jika dia ke sini mewakili suaminya untuk melakukan meeting bersamamu begitu? Bagaimana bisa dia melakukan meeting dengan membawa seorang anak? Apa kau pernah melakukannya bersama Gava? Tidak kan? Kau pasti sedang membohongiku saat ini setelah kau ketahuan berduaan dengannya." Ujar Vania kesal.
Gavin berdiri di depan Vania.
" Sudah selesai bicaranya? Sudah puas menuduhku seperti itu? Apa sekarang aku bisa menjelaskan semuanya?" Tanya Gavin menatap Vania.
Vania menghembuskan nafasnya kasar.
" Kau membuat putra Rora ketakutan dengan suaramu itu sayang, lihatlah dia! Dia bahkan sampai memeluk ibunya dengan erat seperti itu." Ucap Gavin menunjuk Rora dan putranya. Vania menatap ke arah mereka.
" Sekarang duduklah dulu! Redamkan emosimu." Gavin menuntun Vania menuju sofa. Keduanya duduk berdampingan.
" Dengarkan aku!" Gavin menyentuh kedua pundak Vania.
" Aku dan Rora tidak ada hubungan apa apa, tadi putranya muntah dan mengenai baju Rora. Itu sebabnya Rora mengganti pakaiannya dengan baju kamu karena dia tidak membawa baju ganti sayang. Lagian dia ke sini bersama suaminya. Saat ini suami Rora sedang membeli makanan untuk putra mereka karena di resto tempat kami memesan makanan tidak ada makanan untuk bayi." Terang Gavin.
" Kalian mau makan bersama di sini?" Tanya Vania menatap Gavin.
" Iya. Kau juga bisa makan bersama kami nanti." Sahut Gavin.
" Aku tidak mau. Aku ke sini karena mau mengajakmu makan di resto seafood yang ada di dekat pantai." Ujar Vania.
" Tidak bisa hari ini sayang, mereka sudah memesan banyak makanan. Masa' kita meninggalkan mereka di sini, nggak sopan itu namanya. Apalagi mereka tamu penting kita." Ucap Gavin.
" Tidak apa apa Gavin, kamu turuti saja permintaan istrimu. Kami bisa makan berdua di sini kok." Timpal Rora.
" Gimana sayang?" Gavin menatap Vania.
" Tidak perlu, aku bisa pergi sendiri. Kalian makan saja, maaf aku mengganggu." Ucap Vania beranjak.
" Sayang jangan seperti itu! Mereka tamu penting kita, jadi kita harus menghargai mereka. Kamu juga sudah sampai di sini, kamu ikut makan bersama kami. Kita bisa ke sana lain waktu." Ujar Gavin.
Vania menatap Rora begitupun sebaliknya.
" Maaf aku telah berprasangka buruk padamu. Aku harap kau bisa memahami jika tidak ada seorang istri yang rela melihat suaminya bersama wanita lain. Saya permisi." Ucap Vania segera berlalu dari sana.
" Sayang tunggu!" Ucap Gavin mengejar Vania.
Saat di depan pintu, Vania berpapasan dengan suami Rora.
" Nona Gavin anda ada di sini? Kebetulan sekali saat ini kami mau makan siang bersama, apa anda bisa bergabung bersama kami?" Ujar Mike menatap Vania.
" Tidak Tuan terima kasih, saya buru buru karena masih ada urusan, kita bisa makan bersama lain kali." Sahut Vania melanjutkan langkahnya. Mike menatap Vania dengan tatapan entah.
" Tuan Gavin, apa anda tidak mengejar istri anda? Kalau saya jadi anda saya akan meninggalkan segalanya demi nona Gavin karena sepertinya istri anda sedang marah." Ujar Mike.
" Tidak masalah tuan Mike, mari kita lanjutkan acara kita." Sahut Gavin masuk ke dalam di ikuti Mike.
__ADS_1
Mike, Rora dan Gavin duduk di sofa. Tak lama pelayan resto datang mbawa pesanan mereka. Seorang OB segera menyajikan makanan di meja.
" Selamat menikmati makan siangnya tuan Mike." Ucap Gavin.
" Terima kasih." Sahut Mike.
Mereka makan dengan khidmat. Sesekali Mike menatap ke arah Gavin.
" Dia sangat beruntung memiliki istri cantik secantik nona Vania. Apalagi rumornya nona Vania sangat penurut dan penyabar. Tidak seperti Rora yang selalu saja memaksakan keinginannya. Mengurus anak saja banyak dramanya, kerjaannya cuma keluyuran nggak jelas sambil menghabiskan uangku saja. Andai saja aku bisa mendapatkan nona Vania, pasti hidupku akan bahagia dan banyak warna. Apa aku coba memanfaatkan kedekatan Gavin dan Rora aja ya buat memisahkan Gavin dan nona Vania? Sepertinya itu bukan ide yang buruk. Apalagi sepertinya nona Vania terlihat seperti orang cemburu tadi. Aku bisa menggunakan peluang ini." Batin Mike tersenyum smirk.
Selesai makan siang, Mike dan Rora pulang. Gavin segera menelepon Vania untuk menanyakan keberadaannya.
Tut tut tut...
Telepon tersambung namun tidak ada di angkat.
" Sayang angkat donk!" Gumam Gavin mondar mandir di ruangannya.
" Ckkk tidak di angkat juga." Decak Gavin.
Gavin keluar menuju ruangan Leon.
Ceklek...
Gavin masuk ke dalam menghampiri Leon yang sedang sibuk dengan komputernya.
" Vania pergi bersama Rangga."
" Apa?" Seru Gavin.
" Ya, tadi Vania meminta Rangga untuk menemaninya makan siang. Katanya kamu tidak mau menemaninya." Ujar Leon.
" Oh ya, apa terjadi sesuatu di dalam saat Vania datang tadi?" Tanya Leon menatap Gavin.
" Dia salah paham denganku dan Rora. Sepertinya dia juga marah karena aku menolak untuk menemaninya." Ucap Gavin.
" Ya tentu saja dia marah, apalagi dia kan sedang hamil. Dia sedang dalam masa masa ngidam, dia bela belain ke sini pengin makan siang sama kamu tapi kamu malah menolaknya." Sahut Leon.
" Astaga aku lupa." Gavin menepuk jidatnya. Ia merutuki kebodohannya karena telah membuat Vania kesal.
" Kenapa gue bisa lupa kalau Vania sedang ngidam? Ya Tuhan... Pasti Vania sangat kecewa dengan sikapku tadi." Sambung Gavin.
" Rasain lo Vin, Vania tidak akan memaafkan lo dengan mudah." Ucap Leon mengejek.
" Sial... Bagaimana gue bisa lupa sih! Padahal gue sendiri yang membuatnya hamil. Bodoh bodoh bodoh kau Gavin." Gerutu Gavin membuat Leon terkekeh.
" Gue akan susul dia, lo handle pekerjaan gue. Oke." Gavin berlari keluar ruangan menuju parkiran.
__ADS_1
TO BE CONTINUE..