
Ruhi mengerjapkan matanya, hal pertama yang ia lihat adalah wajah tampan suaminya. Ia tersenyum saat mengingat kejadian semalam, dimana dia terus mendes@h menyebut nama Geral. Ruhi jadi merasa malu sendiri. Ia mengelus pelan pipi Geral, lalu ia menciumnya.
Ruhi turun dari ranjang dengan pelan takut mengganggu tidur Geral, dengan menahan rasa perih di bagian bawahnya ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dari sisa sisa penyatuan semalam.
Tak lama Geral membuka matanya. Ia menatap sekitar, sprei berantakan, bajunya berserakan di lantai. Sejenak ia mengingat kejadian semalam.
" Astaga!!" Geral langsung beranjak duduk bersila di ranjang.
" Apa yang aku lakukan? Aku melakukannya dengan siapa? Apakah benar aku melakukannya dengan Ruhi? Tapi semalam di club aku juga melihat Sofia. Atau jangan jangan..." Geral menarik rambutnya.
" Ya Tuhan.... Dengan siapa aku melakukannya? Apakah aku melakukannya dengan Sofia dan terbayang wajah Ruhi? Tidak tidak... Jangan sampai itu terjadi! Jika sampai itu terjadi matilah aku... Ruhi pasti akan langsung menceraikan aku. Aku tidak mau, aku harus meminta maaf padanya. Aku akan bicara terus terang padanya kalau ada yang sengaja menjebakku, aku yakin seseorang pasti menaruh sesuatu di minumanku. Tapi siapa? Apa mungkin ini pekerjaan Sofia.. Awas saja kalau terbukti benar, aku akan membuat perhitungan padamu Sofia." Geram Geral.
" Aku harus ke rumah Leon untuk meminta maaf pada Ruhi, semoga dia mau memaafkan aku. Tapi jika tidak maka aku hanya bisa pasrah, jika akhirnya perpisahan yang akan menang aku harus menanggungnya. Aku akan mengejar cintanya setelah perpisahan nanti. Ya Tuhan kuatkan aku! Bantu aku untuk menjadi pria yang berani mengakui kesalahannya." Ucap Gera turun dari ranjang.
Ia berjalan menuju kamar mandi.
Ceklek... ceklek...
" Lhoh kok terkunci, apa Sofia ada di dalam? Berarti Sofia belum pulang. Bagaimana kalau Ruhi ke sini untuk berpamitan? Aku belum siap menghadapi Ruhi dalam keadaan seperti ini. Mending aku pakai bajuku dulu." Gerla segera memunguti pakaiannya lalu memakainya. Ia menunggu seseorang yang ada di dalam kamar mandi.
Tak lama pintu pun terbuka, Geral segera mendekat tanpa memastikan siapa yang keluar dari sana.
" Sofia aku... "
Gera menggantung ucapannya saat ia melihat Ruhi yang keluar dari sana.
Glek...
Geral menelan kasar salivanya saat menyadari kesalahannya. Ruhi menatapnya dengan tajam.
" Sayang maaf aku...
__ADS_1
" Jadi kau menginginkan Sofia yang ada di sini, bukan aku?" Tekan Ruhi.
" Bukan begitu maksudku sayang, aku..
" Katakan Mas! Kenapa kau menyebut nama Sofia di sini. Apa aku tidak berarti lagi dalam hidupmu? Atau memang hubungan kalian sudah sejauh ini sebelumnya? Katakan Mas!" Ucap Ruhi dengan nada tinggi.
" Sayang, bagaimana aku bisa mengatakan jika kau terus berbicara dan menuduhku yang tidak tidak. Tenanglah! Akan aku katakan dan akan aku jelaskan semuanya biar kamu tidak salah paham padaku." Ujar Geral.
" Baiklah aku akan mendengarkannya." Ucap Ruhi berjalan mendekati ranjang, ia duduk di tepi ranjang menatap Geral yang berdiri di depannya saat ini.
" Saat kau memutuskan untuk pergi, pikiranku kalut. Aku merasa tidak bisa berbuat apa apa. Aku bingung, aku ingin marah pada diriku sendiri karena telah melakukan kesalahan itu. Aku berpikir pergi ke club untuk melupakan rasa sedih ini. Di sana aku minum banyak sampai aku melihat sosok Sofia. Di gelas yang terakhir aku minum aku merasa ada yang aneh dengan diriku. Aku merasa tidak bisa mengendalikan diriku. Saat itu Sofia mendekatiku, dia ingin mengantarku pulang tapi aku menolaknya. Dan dalam bayanganku setelah itu kamu datang dan membawaku pulang." Geral menatap Ruhi.
" Lalu apa yang terjadi Mas?" Tanya Ruhi.
Geral mengerutkan keningnya.
" Apa maksudmu apa yang terjadi sayang? Kau tahu jelas apa yang terjadi di sini." Ujar Geral.
" Apa semua ini bisa di artikan kalau kau melakukannya dengan wanita yang kau anggap aku Mas?" Selidik Ruhi menatap Geral.
" Sayang jangan bercanda. Aku memang melakukannya denganmu." Sahut Geral.
" Kenapa kau bisa seyakin itu Mas? Aku tidak merasa melakukan apapun denganmu semalam. Semalam aku masih di rumah kak Leon, kalau kamu tidak percaya tanyakan saja pada kak Leon atau kak Dane." Ujar Ruhi.
Jantung Geral berdetak sangat kencang.
" Benarkah aku melakukannya dengan wanita lain? Tapi aku sangat yakin kalau itu Ruhi. Apa saja yang aku lakukan padanya semalam ya? Kenapa aku tidak ingat? Setidaknya tinggalkan satu petunjuk untuk membuktikan jika itu Ruhi." Ujar Geral dalam hati.
" Kau telah mengkhianati aku Mas. Kau berbuat itu dengan orang lain, aku tidak percaya semua ini Mas. Kenapa begitu bodohnya aku telah mempercayaimu. Semalaman aku berpikir tentang keputusan yang terbaik untuk kita berdua tapi kau malah bersenang senang dengan wanita lain di sini. Aku merasa hidupku ini sangat miris." Ruhi menyugar rambutnya.
Tubuh Geral mematung, ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengannya. Ruhi menatapnya sambil menahan tawanya.
__ADS_1
" Aku pengin nyubit pipi kamu Mas, gemes deh. Katanya CEO tapi di jebak seperti ini aja udah KO. Gimana orang lain tidak ngejebak dia coba, kalau urusan hati benar benar payah. Aku ingin lihat bagaimana kamu mengatasi masalah ini Mas, kau akan berusaha membuktikannya atau hanya bisa pasrah." Ujar Ruhi menatap Geral.
" Kenapa diam Mas? Apa kau merasa kalah karena kau tidak bisa memberikan alasan lain lagi? Atau kau justru mau mengakuinya? Lalu setelah itu kau hanya bisa meminta maaf." Ujar Ruhi.
" Aku sedang mengingat ingat kejadian semalam sayang, aku yakin wanita itu adalah kamu. Aku tidak mungkin salah mengenali istriku sendiri. Bagaimanapun semalam aku melakukannya dengan menggunakan hati, cinta dan perasaan." Sahut Geral menatap Ruhi.
" Lehermu... Ya aku yakin aku membuat kissmark di sana." Geral meneliti leher Ruhi. Ia menghela nafasnya saat tidak melihat satu pun tanda merah di sana.
" Aku tahu kau bakal melakukan ini Mas, sayangnya aku lebih pandai darimu. Aku menutupinya dengan bedak concelar jadi tidak akan terlihat ha ha ha, puas banget ngerjain kamu Mas." Ujar Ruhi dalam hati.
" Kenapa dengan leherku Mas? Apa ada sesuatu di leherku?" Tanya Ruhi.
Geral memundurkan langkahnya, ia menatap Ruhi dengan tatapan yang sulit di artikan.
" Tidak mungkin aku melakukannya dengan orang lain, kalau aku melakukannya dengan Sofia pasti dia masih ada di sini. Dia tidak mungkin pergi begitu saja tanpa menuntut pertanggung jawaban dariku. Apalagi aku yakin kalau dia yang menjebakku." Ucap Geral sedikit berpikir.
" CCTV." Gumam Geral.
" Pintar juga." Batin Ruhi.
" Ya CCTV.. Aku akan memeriksa rekaman CCTV." Geral segera mengambil ponselnya lalu membuka hasil rekaman CCTV yang terhubung dengan ponselnya.
Ruhi beringsut dengan pelan menjauh dari Geral.
Geral membuka rekaman di jam setengah satu malam dimana Ruhi membawanya masuk ke dalam kamarnya. Hatinya merasa lega, ia baru menyadari jika Ruhi telah mengerjai nya.
" Sayang kau.... " Geral melihat sekitar mencari Ruhi yang lebih dulu kabur.
Geral tersenyum lebar melihat tingkah istri jahilnya itu.
" Awas kau sayang, setelah mandi aku akan menyeretmu ke ranjang itu lagi. Kita akan mengulangi apa yang terjadi semalam dengan kesadaran penuh." Seringai Geral.
__ADS_1
TBC...