
Sampai...
Cup....
Bibir Rangga menempel pada bibir ranum Sandia untuk beberapa saat. Mereka masih saling pandang seolah sedang tersihir oleh sesuatu. Jantung keduanya berdetak sangat kencang.
" Ya Tuhan... Apa ini? Kenapa jantungku berdebar debar seperti ini? Bahkan rasanya tubuhku gemetaran tak karuan. Jangan sampai Mas Rangga menyadarinya." Batin Sandia.
" Sungguh luar biasa ciptaanmu ya Rob, andai aku bisa memilikinya aku pasti akan sangat merasa bahagia." Batin Rangga.
Tak lama Rangga tersadar dengan apa yang telah ia lakukan pada Sandia. Ia menjauhkan wajahnya dari wajah Sandia.
" Maaf Sandia! Mas tidak berniat merendahkanmu." Ucap Rangga salah tingkah.
" Tidak pa pa Mas, aku maafkan." Sahut Sandia menyembunyikan senyumannya.
Sandia memainkan ponselnya begitupun dengan Rangga. Sesekali mereka melempar pandangan satu sama lain.
" Apa sih Mas." Ujar Sandia.
" Apa sayang?" Tanya Rangga menggoda.
" Nggak usah menatapku gitu deh." Ucap Sandia.
" Gitu gimana sayang?" Tanya Rangga pura pura tidak paham dengan ucapan Sandia.
" Tau ah." Cebik Sandia mengerucutkan bibirnya. Rangga terkekeh melihatnya.
Di tempat lain,
Di dalam kamar Gavin, Gavin juga sedang memainkan ponselnya. Tiba tiba ia mendapat pesan gambar dari nomer yang tidak di kenal. Gavin mengepalkan erat tangannya saat melihat foto Vania dan Gava sedang tertawa bersama seorang pria di sebuah taman.
Tanpa membuang waktu Gavin langsung menuju mobilnya. Ia segera melajukan mobilnya ke tempat itu.
Sepuluh menit Gavin sampai di sana. Ia mencari Vania sampai tatapannya melihat Vania yang sedang duduk di bawah pohon rindang. Ia segera menghampirinya.
" Apa yang kau lakukan di sini Vania? Siapa dia?" Tanya Gavin menatap tajam ke arah Vania.
" Dia...
" Aku kekasihnya." Ucap pria itu.
" Apa?" Pekik Vania dan Gavin membulatkan matanya.
" Bukannya tadi kamu bilang kalau kamu saudaranya Mas Gavin? Kamu mau bertemu dengan Mas Gavin kan? Ini dia orangnya." Ucap Vania.
" Sudahlah sayang kau tidak perlu bersandiwara lagi. Kita akui saja hubungan kita ini." Ucapnya.
Vania menatap Gavin yang sedang menatapnya juga.
" Tidak Mas! Aku tidak mengenalnya, kami kebetulan bertemu di sini dan dia bilang kalau dia saudara kamu. Aku percaya karena kalian terlihat mirip. Lalu aku mengobrol dengannya. Lihatlah wajahnya! Wajahnya sedikit mirip denganmu kan?" Ucap Vania berharap Gavin mempercayainya.
__ADS_1
Gavin menatap pria itu, memang sekilas mereka mirip namun Gavin sama sekali tidak mengenalnya.
" Kamu salah sayang, aku bukan mirip dengannya tapi aku mirip Gava. Putra kita."
Jeduarrrr...
Ucapan pria itu seperti sambaran petir di terik sinar matahari.
" Apa maksudmu Radit? Jangan membual soal itu! Aku tidak mengenalmu sebelumnya dan ingat! Jangan merendahkan harga diriku dengan mengatakan kalau Gava putramu. Gava putraku dengan Mas Gavin." Ucap Vania penuh penekanan.
" Wah sayang, kau yang membual di sini tapi kau yang menuduhku. Apa aku harus memberikan bukti pada Gavin tentang perselingkuhan kita?" Tanya pria yang bernama Radit.
" Bukti apa yang kau punya hah? Kita tidak pernah saling bertemu sebelumnya, dan kau bilang punya bukti tentang hubungan kita? Bulshittt." Ucap Vania.
Radit mengeluarkan ponselnya. Ia menunjukkan foto kedekatannya dengan Vania satu tahun lalu pada Gavin. Gavin membulatkan matanya, ia menatap Vania tak percaya.
" Apa ini sayang? Bukankah kamu yang ada di foto itu?" Gavin memberikan ponsel Radit pada Vania.
Vania membulatkan matanya sambil melongo.
" Wanita ini memang mirip denganku Mas, tapi aku tidak pernah mengalami kejadian ini. Mungkin foto ini editan Mas." Ujar Vania menatap Gavin.
" Foto itu real sayang, aku bahkan punya video saat masa masa indah kita dulu." Ucap Radit mengambil ponselnya dari tangan Vania.
Radit membuka sebuah video mesum lalu menunjukkannya pada Gavin.
" Benar benar menjijikkan!" Cibir Gavin menatap keduanya secara bergantian.
Gavin menatap Gava yang sedang tersenyum di kepadanya.
Tanpa mau menyahut celotehan Gava, Gavin pergi meninggalkan mereka.
" Mas tunggu!" Ucap Vania hendak menyusul Gavin namun Radit mencekal tangannya.
" Apaan sih! Lepaskan aku!" Bentak Vania.
" Kau tidak akan lepas dariku sayang, kau akan menjadi milikku lagi." Ucap Radit.
" Dasar pria gila." Ucap Vania.
Tiba tiba Radit melepaskan celakannya, ia menatap Vania dengan raut muka sedih.
" Kau menganggapku gila?" Lirih Radit.
" Ha ha ha ha." Radit tertawa lepas membuat Vania sedikit ketakutan.
"Jangan jangan dia memang benar benar gila. Ya Tuhan tolong aku, mana Mas Gavin sudah pergi lagi. Bego'nya kamu Vania... Kenapa kamu langsung mempercayainy begitu saja." Gerutu Vania dalam hatinya.
" Kau benar.. Aku memang gila. Aku gila karenamu Arvania!" Bentak Radit membuat Gava menangis karena kaget.
" Ush ush sayang... Jangan menangis ya." Vania mencoba menangkan Gava kembali.
__ADS_1
" Sayang maafkan Papa! Papa tidak bermaksud berbuat kasar padamu sayang." Ucap Radit mengelus pipi Gava. Vania menepis tangannya.
" Jangan sentuh putraku! Aku mau pulang dan kau jangan pernah menemui aku lagi! Aku tidak mau bertemu dengan orang sepertimu lagi." Ucap Vania.
" Pulanglah ke rumah kita sayang! Aku selalu menanti kepulanganmu." Ucap Radit.
Vania semakin tidak mengerti siapa sebenarnya Radit. Kenapa dia bisa bersikap akrab kepadanya. Tidak mau ambil pusing Vania segera berlalu dari sana meninggalkan Radit.
Radit segera mengejarnya lalu menarik tangan Vania masuk mobilnya. Setelah itu Radit segera melajukan mobilnya menuju rumahnya.
" Hentikan mobilnya! Aku mau pulang." Ucap Vania.
" Kau akan pulang ke rumah kita." Sahut Radit.
" Sebenarnya kau siapa hah? Kenapa kau berbuat seperti ini padaku? Jangan berlagak sok kenal karena aku tidak mengenalmu." Ucap Vania.
" Aku akan membuatmu mengingat siapa diriku sayang, untuk itu kita harus pulang ke rumah." Sahut Radit.
" Itu bukan rumahku Radit! Rumahku ada di tempat Mas Gavin berada. Biarkan aku pulang ke rumahku, sekarang turunkan aku!" Ucap Vania.
" Kalau kau tidak mau diam, aku akan melempar anak kita keluar mobil." Ancam Radit membuat Vania bungkam.
Vania mendekap erat tubuh Gava ke dalam gendongannya. Ia memilih untuk diam demi keselamatannya dan Gava.
Vania mengambil ponsel dari tasnya secara diam diam. Ia hendak membuka sandinya namun naas, Radit lebih dulu merebut ponselnya.
" Kembalikan ponselku!" Ucap Vania merebut kembali ponselnya, belum sempat ia menyentuhnya tiba tiba..
Prak...
Radit membuang ponsel Vania keluar mobil.
" Kenapa kau membuang ponselku hah? Aku harus mengabari mamaku karena aku pergi terlalu lama Radit. Dia akan mencemaskanku nanti kalau aku tidak mengabarinya." Ucap Vania.
" Aku sudah mengabari orang rumah kalau kau sedang jalan jalan bersamaku."
Lagi lagi ucapan Radit membuat Vania termangu. Kenapa Radit bisa tahu nomer telepon rumahnya. Siapa sebenarnya dia? Apa maksud dan tujuannya? Banyak pertanyaan bersarang di kepala Vania.
" Katakan padaku, siapa sebenarnya kamu! Kenapa seolah kau tahu seluk beluk keluargaku." Titah Vania dengan nada memerintah.
" Kau ingin tahu siapa aku sebenarnya?" Tanya Radit yang di balas anggukan kepala oleh Vania.
" Aku adalah.....
Siapa hayo.....
Penasaran? Kita lanjut bab berikutnya besok ya...
Jangan lupa berikan suport dengan like koment vote dan kasih 🌹 yang banyak buat author...
Terima kasih untuk readers yang telah mensuport author semoga sehat selalu...
__ADS_1
Miss U All....
TBC...