Pada Akhirnya Aku Menyerah

Pada Akhirnya Aku Menyerah
THE END


__ADS_3

Empat bulan kemudian, kini kehamilan Vania memasuki usia sembilan bulan. Ia mulai merasakan pegal dan tegang di area perut dan pinggangnya. Seperti malam ini, ia berbaring di atas kasur dengan gelisah. Pasalnya terlentang susah, miring susah apa lagi tengkurap membuatnya menjadi kesal.


" Sayang kamu kenapa? Apa ada yang sakit?" Tanya Gavin mendekati Vania.


Gavin duduk di tepi ranjang, ia mengelus perut Vania yang sudah membesar.


" Apa perutmu sakit? Apa perlu kita ke rumah sakit sekarang?" Tanya Gavin menatap Vania.


" Perutku rasanya kenceng nggak karuan Mas, aku pernah merasakan ini saat mau melahirkan Gava." Sahut Vania.


" Jangan jangan kamu memang mau melahirkan sayang." Tebak Gavin.


" Aku juga tidak tahu Mas, kita tunggu saja jika memang ada tanda tanda mau melahirkan kita ke rumah sakit saat itu juga." Ujar Vania.


" Baiklah, aku akan menemanimu di sini. Aku elus ya." Ucap Gavin di balas anggukkan kepala oleh Vania.


" Sayangnya papa, jangan nakal ya. Kasihan mama kamu kelihatan nggak nyaman gini. Kalau kamu mau lahir, lahirlah dengan cepat ya Nak. Papa selalu menanti kehadiranmu." Ujar Gavin terus mengelus perut Vania.


" Sayang aku sudah menemukan nama untuk anak kita." Ucap Gavin.


" Siapa Mas?" Tanya Vania mendongak menatap Gavin.


" Divya Mahardika." Sahut Gavin.


" Divya... " Gumam Vania.


" Gimana menurutmu? Entah mengapa aku suka dengan nama itu setelah aku tahu kalau anak kedua kita perempuan sayang. Tapi kalau kamu mau kasih nama lain juga nggak apa apa sih." Ucap Gavin.


" Nama itu juga bagus Mas. Divya kita panggil dia Divi gimana?" Ujar Vania.


" Boleh juga, Gava dan Divi." Ujar Gavin.


" Semoga kelak anak kita bisa saling menyayangi seperti aku dan Sandia." Ujar Gavin menatap Gava yang sedang tidur di samping Vania.


" Iya Mas." Sahut Vania.


" Shhhh." Tiba tiba perut Vania terasa sakit.


" Kenapa sayang?" Tanya Gavin cemas.


" Aku tidak tahu Mas, tiba tiba perutku sakit Mas. Seperti mau melahirkan gitu." Ujar Vania.


" Kalau begitu kita harus bersiap ke rumah sakit." Ucap Gavin.


" Iya Mas." Sahut Vania.


" Aku titip Gavin ke mama dulu." Ucap Gavin segera keluar kamar menuju kamar nyonya Rindu.


Tak lama Gavin kembali ke kamar bersama nyonya Rindu.


" Sayang apa kamu mau melahirkan? Apa sudah ada tanda tanda?" Tanya nyonya Rindu menghampiri Vania.


" Iya Ma, perutku mulas mulas dan panas pegal Ma." Sahut Vania.

__ADS_1


" Ya sudah sekarang mending kalian ke rumah sakit. Biar Gava sama Mama di sini." Ujar nyonya Rindu.


" Iya Ma." Sahut Gavin.


" Ayo sayang!" Gavin menggendong Vania keluar kamar.


Dengan perlahan Gavin menuruni satu persatu anak tangga. Sandia yang baru saja datang segera menghampiri mereka.


" Kak Vania kenapa Kak?" Tanya Sandia sedikit cemas.


" Kakakmu mau melahirkan." Sahut Gavin.


" Aku ikut ke rumah sakit." Ucap Sandia.


Gavin keluar rumahnya menuju mobil di ikuti Sandia dari belakang.


" Sayang Vania kenapa?" Tanya Rangga yang baru saja memarkir mobilnya.


" Kak Vania mau melahirkan Mas, ayo kita ikut ke rumah sakit! Kasihan kak Gavin sendirian." Ujar Sandia.


" Sayang ini sudah malam, apa tidak apa apa dengan kandunganmu?" Tanya Rangga menatap perut Sandia yang sudah terlihat membuncit.


" InsyaAllah aman Mas." Sahut Sandia.


" Baiklah ayo!" Rangga dan Sandia masuk ke mobilnya.


Gavin melajukan mobilnya menuju rumah sakit di ikuti mobil Rangga dari belakang. Dua puluh menit mereka sampai di rumah sakit bersalin ibu dan anak.


" Pembukaan delapan, tunggu pembukaan sempurna ya Nyonya." Ucap dokter atau Bidan yang bekerja di rumah sakit itu, Gavin sendiri tidak tahu.


" Berapa lama sampai pembukaan sempurna Dok? Saya tidak mau jika istri saya merasakan sakit yang terlalu lama." Ucap Gavin.


" Tergantung Tuan, biasanya bisa setengah jam, satu jam bahkan dua jam. Kita tunggu saja." Sahut dokter.


" Shhh Mas sakit." Rintih Vania mencengkeram tangan Gavin.


" Sabar sayang, semua rasa sakit ini akan terbayar dengan kehadiran anak kita nanti. Pasti dia menjadi seorang bayi lucu dan cantik, seandainya bisa aku gantikan pasti akan aku gantikan sayang, biar aku yang merasakan sakit ini, kau cukup melahirkannya saja." Ujar Gavin mengelus kepala Vania.


Sandia yang melihat Vania merintih menjadi ngeri sendiri. Ia bahkan hanya berdiri di depan pintu tanpa mau masuk ke dalam.


" Kenapa sayang? Apa kau takut? Kalau kamu takut mending kita pulang saja! Mas tidak mau sampai tekanan darahmu tinggi karena panik melihat proses kelahiran yang di alami Vania." Ujar Rangga menggenggam tangan Sandia.


" Iya Mas, aku jadi membayangkan bagaimana sakitnya besok saat aku melahirkan anak kita. Apalagi anak pertama, pasti sakit banget." Sahut Sandia.


" Ya sudah kita pulang saja, atau mau menunggu di luar?" Tanya Rangga menatap Sandia.


" Kita tunggu di luar saja Mas." Sahut Sandia.


Sandia dan Rangga duduk di kursi tunggu depan ruangan. Di dalam sana Vania terus mendesis merasakan sakit yang semakin mencekam pada perutnya. Di rasa sudah tiba saatnya melahirkan, Vania di pindah ke ruang bersalin. Gavin terus menemaninya dengan menggenggam tangan Vania.


Sampai di dalam ruangan bersalin, dokter segera memberikan instruksi kepada Vania untuk mengejan. Melihat itu, Gavin memejamkan matanya. Ia tidak tega mendengar rintihan sangat istri.


" Sekali lagi Nyonya! Kepalanya sudah terlihat." Ucap dokter.

__ADS_1


Vania mengejan sekali lagi dengan sekuat tenaga sampai....


Oek... Oek....


Bayi mungil segera menangis setelah terlahir ke dunia ini.


" Alhamdulillah." Ucap Gavin dan yang lainnya.


Vania bernafas lega karena telah berhasil menjalankan qodratnya sebagai wanita.


" Bayinya montok, cantik seperti ibunya." Ucap dokter menunjukkan bayi Vania kepadanya.


Gavin dan Vania menatapnya dengan perasaan haru. Gavin menciumi kening Vania berkali kali karena saking bahagianya.


" Terima kasih sayang, terima kasih telah memberikan kado terindah untukku. Aku tidak menyangka jika aku bisa melihat dan mendampingi proses persalinanmu. Maafkan aku yang pernah berbuat salah padamu. Maafkan aku yang pernah memperlakukanmu dengan tidak baik. Maafkan aku sayang!" Ucap Gavin meneteskan air mata.


" Aku sudah lama memaafkannya Mas, aku juga bahagia bisa memiliki kalian bertiga dalam hidupku. Aku berharap kita bisa selalu hidup bahagia Mas." Ucap Vania.


" Kita akan selalu bahagia sayang, aku janji itu." Sahut Gavin.


Setelah Vania di pindah ke ruang rawat, Sandia dan Rangga masuk ke sana. Sandia menatap wajah putri kecil Vania dengan perasaan bahagia.


" Aku punya keponakan lagi, dan sebentar lagi aku punya anak sendiri. Aku benar benar tidak pernah menyangka jika hidupku di usia sekarang bisa mendapatkan kebahagiaan yang tiada tara seperti ini. Dulu aku berpikir jika aku hanya akan hidup berdua saja dengan kak Gavin, tapi setelah kau datang kau merubah segalanya kak Vania." Ucap Sandia menatap Vania.


" Kau membawa kebahagiaan untuk keluarga kami, terima kasih telah hadir di tengah tengah kami. Kau merupakan wanita jelmaan malaikat yang Tuhan kirimkan untuk kami semua. Aku bangga memiliki kakak sepertimu. Kau bukan kakak iparku tapi kau kakak perempuanku. Terima kasih kak." Ucap Sandia. Tanpa terasa air mata menetes di pipinya.


" Jangan menangis Sandia! Hari ini hari kebahagiaan kita semua, jadi kita harus menyambutnya dengan bahagia." Ujar Gavin.


" Ini air mata kebahagiaan Kak. Aku benar benar bahagia punya kakak seperti kalian berdua, punya suami sebaik Mas Rangga dan punya ibu mertua sebaik ibu Tuti. Dan tentunya aku juga bahagia punya ibu sesabar mama. Kebahagiaanku akan lebih lengkap setelah kelahiran anakku nanti." Ujar Sandia mengelus perutnya.


" Semoga dia selalu sehat dan persalinanmu nanti lancar Sandia." Ucap Vania.


" Amin kak. Oh ya siapa nama keponakan cantikku itu?" Tanya Sandia.


" Divya Mahardika." Sahut Gavin.


" Nama yang bagus." Sahut Sandia.


Mereka nampak sangat bahagia dengan jalan takdir yang telah Tuhan tuliskan untuknya.


...THE END ...


Hai Hai readers tercinta tak terasa kita tiba di ujung cerita. Mohon maaf jika selama ini author banyak salah kata dalam menyapa kalian semua, ataupun banyak kekurangan dalam menulis cerita. Di maafin ya...


Terima kasih untuk kalian semua yang telah mensuport author.... Semoga sehat selalu... Banyak rejeki... Dan di mudahkan segala urusannya...


Author pamit undur diri...


Bye bye....


Eits... Jangan lupa! Author buat squel dari cerita ini lhoh dengan pemeran utama si Divya dalam kisah....


__ADS_1


__ADS_2