Pada Akhirnya Aku Menyerah

Pada Akhirnya Aku Menyerah
Ada apa dengan Vania?


__ADS_3

Rangga menggenggam tangan Sandia.


" Apa kau bisa menerimanya sebagai keluargamu seperti keinginan Mama?" Rangga bertanya lagi.


" Akan aku coba Mas." Sahut Sandia menganggukkan kepalanya.


" Semoga kau berhasil sayang." Ucap Rangga mencium kening Sandia.


Sandia menjadi salah tingkah, begitupun dengan Rangga.


" Ya sudah, sekarang kita kembali menemui tamu mereka pasti akan mencari kita. Nggak lucu kan kalau kita tidak ada, entar mereka mengira kalau pengantinnya kabur malam pertama duluan." Ucap Rangga terkekeh.


Rangga menggandeng tangan Sandia menuju ballroom hotel. Mereka kembali menemui tamu. Sandia menatap mamanya yang sedang duduk berdua bersama Radit sambil berbincang. Ia segera menghampirinya.


" Ma." Panggil Sandia membuat nyonya Rindu menoleh.


Sandia duduk di samping mamanya berhadapan dengan Radit.


" Aku pergi dulu Ma." Ucap Radit beranjak.


" Tidak usah! Kau tetap di sini saja." Sahut nyonya Rindu.


Radit menatap Sandia di balas anggukan kepala olehnya. Radit duduk kembali di kursinya.


" Ada apa?" Tanya nyonya Rindu menatap Sandia.


Sandia menoleh ke arah Rangga yang berdiri di belakangnya. Rangga tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


" Aku... Aku bersedia menerima.... " Sandia menjeda ucapannya sambil melirik Radit.


" Menerima kak Radit sebagai keluarga kita." Sambung Sandia.


Nyonya Rindu tersenyum sedangkan Radit melongo membuka mulutnya.

__ADS_1


" Apa?... Kau menerimaku sebagai bagian dari keluarga ini?" Tanya Radit memastikan.


" Iya Kak, aku sadar bagaimanapun darah papa mengalir di tubuhmu. Sekuat apapun aku menolakmu nyatanya kamu tetap anak papa. Kalau mama yang tersakiti saja bisa menerimamu, kenapa aku tidak? Tapi perlu kau ingat! Walaupun aku menerimamu sebagai kakakku, kak Gavin tetap yang nomer satu. Dia tidak bisa di bandingkan ataupun di gantikan dengan siapapun. Dia tetap kakakku yang terbaik di dunia ini dan selamanya akan menjadi yang terbaik untukku." Ucap Sandia.


" Terima kasih, aku tidak perlu jadi yang pertama ataupun nomer satu. Dengan kau menerimaku saja aku sudah bahagia, walaupun kau tempatkan aku di urutan terakhir yang sulit terlihat oleh mata sekalipun. Aku bahagia pada akhirnya keinginan papa terwujud. Papa sangat ingin kita bersatu dalam sebuah keluarga sejak lama, tapi baru kali ini aku bisa mewujudkannya. Itupun berkat kemurahan hati kalian semua. Semoga aku bisa menjaga hubungan ini, dan semoga aku bisa membawa kebahagiaan untuk kalian semua." Ucap Radit.


" Amin." Sahut mereka serempak.


Radit menatap nyonya Rindu.


" Terima kasih Ma, kau memang wanita terbaik di dunia ini. Bahkan kepada anak dari wanita yang telah menyakitimu dan membuatmu menderita. Semoga aku bisa menebus semua rasa sakit yang telah kau rasakan selama ini dengan kebahagiaan. Aku berjanji akan menjadi anak yang berbakti pada keluarga ini Ma. Aku akan menjaga Mama seperti kak Gavin menjagamu selama ini. Sekali lagi terima kasih." Ucap Radit.


" Mama akan menagih janjimu suatu hari nanti, tetaplah bahagia! Perlu kau tahu, rasa sakit hati Mama telah terhapuskan sejak kehadiran Vania. Dia membawa anugerah besar dalam keluarga kami. Dia seperti dewi penolong yang Tuhan kirimkan kepada kami. Dan karena Vania lah, Mama bisa berlapang dada seperti sekarang ini. Dan kini Mama bahagia memilikimu sebagai putraku. Semoga aku bisa menjadi Mama yang baik untukmu sampai kau menikah nanti." Ucap nyonya Rindu mengelus pipi Radit.


Radit menggenggam tangan nyonya Rindu lalu menciuminya.


" Aku tidak pernah merasakan kebahagiaan seperti ini selama hidup bersama mamaku sendiri Ma. Tapi baru dua kali bertemu denganmu kau sudah membawa kebahagiaan yang tiada terkira seperti sekarang ini. Aku menyayangimu." Ucap Radit di balas senyuman oleh nyonya Rindu.


Berbeda dengan Gavin yang sedang membujuk Vania agar tidak marah.


Ia duduk di samping Vania yang sedang duduk di tepi ranjang. Ya... Gavin memesan. kamar sendiri untuk istirahat jika Gava tidur seperti sekarang ini.


" Sayang maafkan aku!" Ucap Gavin menggenggam tangan Vania.


" Aku memaafkanmu." Sahut Vania.


" Memaafkannya tidak ikhlas, terdengar jelas dari ucapanmu." Ujar Gavin.


" Maafkan aku yang keras kepala ini. Aku...


" Kamu egois Mas, kamu selalu mementingkan perasaan dan egomu sendiri. Kamu tidak melihat kebahagiaan di mata Mama saat dia dengan bangganya menyebut Radit sebagai adikmu. Dan kamu tidak melihat bagaimana kecewanya Mama saat kau dan Sandia menolak kehadirannya. Aku tahu Mas... Aku paham dengan semua penderitaan yang kau rasakan saat itu. Tapi semua sudah berlalu, untuk apa kita terus terpaku pada masa lalu yang menyakitkan. Kita harus bangkit! Kita harus mengikhlaskan masa lalu demi masa depan yang bahagia. Harusnya kau paham setelah apa yang telah kita alami sebelum ini." Sahut Vania memotong ucapan Gavin.


Gavin menghela nafasnya pelan.

__ADS_1


" Aku...


" Kamu sadar nggak sih kalau kamu sudah menghancurkan impian Mama untuk menyatukan kalian bertiga. Aku benar benar kecewa sama sikapmu dan Sandia. Sebagai anak, kalian berdua tidak bisa memahami apa keinginan Mama. Kalian itu sudah besar Mas, sudah dewasa, sudah berkeluarga. Harusnya kalian bisa berpikir rasional dan berpikir jernih. Mana yang baik dan mana yang harus di lupakan demi kebaikan. Heran deh aku, ada juga manusia berhati baru seperti kamu." Cebik Vania membuat heran. Pasalnya Vania tidak seperti biasanya yang lebih banyak diam.


" Iya iya sayang.... Maafkan aku! Aku salah, aku egois. Aku akan...


" Perbaiki semuanya sebelum terlambat!" Timpal Vania lagi.


Kali ini Gavin menghela nafasnya dalam dalam. Entah mengapa Vania suka sekali memotong ucapannya. Pada akhirnya ia memilih untuk diam.


" Kenapa diam? Marah? Tidak terima aku bilang seperti itu? Kamu pasti berpikir kalau aku sedang membela Radit saat ini? Atau kamu berpikir aku ada hubungan dengannya?Terserah apa yang kau pikirkan Mas, aku tidak peduli." Ucap Vania.


" Astaga sayang kenapa kau jadi cerewet sekali? Kau seperti bukan Vaniaku, selama ini Vania yang aku kenal pendiam, sabar, tidak banyak bicara tapi banyak bertindak. Nah sekarang, kau nampak emosian, cerewet dan apa ini? Marah marah sama suami sendiri seperti emak emak berdaster yang kurang jatah belanja. Katakan siapa kamu sebenarnya!" Gavin menatap Vania.


" Benarkah aku seperti itu?" Tanya Vania membulatkan matanya.


" Iya... Aku diam salah, ngomong salah, giliran mau memberi alasan selalu kamu potong. Lalu aku harus bagaimana?" Tanya Gavin.


" He he maaf Mas kalau aku terlalu banyak bicara. Aku juga tidak tahu kenapa aku seperti ini. Rasanya aku tuh kesel, emosi melihat sikapmu seperti tadi. Aku cuma jadikan sama Mama aja. Jadi refleks deh ngomel seperti ini." Sahut Vania.


" Mungkin kamu lagi masa masa PMS kali." Ucap Gavin.


" PMS?" Vania mengerutkan keningnya. Ia mencoba mengingat ingat sesuatu, tiba tiba ia tersenyum simpul.


Kenapa nih?


Jangan lupa like komen vote dan kasih 🌹yang banyak ya...


Terima kasih untuk readers yang telah mensuport author semoga sehat selalu...


Miss U All...


TBC...

__ADS_1


__ADS_2