Pada Akhirnya Aku Menyerah

Pada Akhirnya Aku Menyerah
NGIDAM NASI GORENG


__ADS_3

Tengah malam saat sedang enak enaknya tidur, tiba tiba Vania terbangun. Ia menatap Gavin yang saat ini masih memejamkan mata.


" Mas bangun!" Ucap Vania mengguncang pelan tubuh Gavin.


" Engh." Lenguh Gavin mengucek matanya.


" Ada apa sayang?" Tanya Gavin menatap Vania.


" Mas aku lapar." Ucap Vania.


" Jam segini?" Gavin menatap jam pada dinding yang menunjukkan pukul dua belas malam.


" Iya, aku pengin makan nasi goreng." Ujar Vania.


" Jam segini mau beli dimana sayang?" Tanya Gavin.


" Aku penginnya kamu yang masakin." Sahut Vania.


" Aku tidak bisa memasak sayang, yang ada nanti kamu malah muntah muntah karena rasanya aneh." Ujar Gavin.


" Nggak pa pa Mas, aku mau kok. Buruan bangun terus masakin!" Rengek Vania.


" Sayang a...


" Ya udah kalau kamu nggak mau Mas. Lain kali nggak usah sok sok an bilang, jangan repotkan mama sayang, repotkan papa saja. Nyatanya sekarang anaknya cuma mau nasi goreng saja kamu nggak mau buatin. Apalagi kalau anaknya pengin yang aneh aneh dan mahal." Ucap Vania memanyunkan bibirnya.


" Walaupun mahal pasti akan aku belikan sayang, kalau masak terus terang aku nggak bisa. Mending kita tidur aja ya, besok pagi akan aku belikan nasi goreng yang kamu mau. Di jamin rasanya pasti sangat enak, tidak mengecewakan. Sekarang tidur lagi ya." Bujuk Gavin memeluk Vania.


Bukan tanpa alasan Gavin menolaknya, selain tidak bisa masak Gavin juga sangat lelah. Ada masalah di kantornya, sebuah gebrakan dari lawan bisnisnya. Seharian Gavin bolak balik Jakarta Bekasi, namun ia tidak memberitahu Vania karena ia tidak mau membuat Vania khawatir.


" Tidak mau, aku lapar mau aman nasi goreng." Ucap Vania.


Vania mengambil ponselnya.


" Mau apa kamu sayang?" Tanya Gavin menatap Vania.


" Aku mau menelepon Mas Rangga, biar dia aja yang buatin untukku." Sahut Vania membuat Gavin kesal. Mau menyuruh bibi Tuti juga kasihan.


" Jangan apa apa Rangga sayang! Rangga sudah berkeluarga sekarang, apa kamu tidak menjaga perasaan Sandia?" Ujar Gavin.


" Sandia mengijinkan kok, dia bilang kalau mau apa apa terus kamu nggak bisa beliin, suruh bilang aja ke Mas Rangga gitu." Sahut Vania.


" Tapi Vania sekarang sudah malam sayang, mendingan kita tidur aja. Aku juga ngantuk banget sayang." Ucap Gavin.


" Nggak mau! Kalau kamu nggak mau masakin mending aku minta Mas Rangga aja buat masakin nasi goreng buat aku. Aku mau meneleponnya."

__ADS_1


" Vania!!!" Bentak Gavin membuat Vania berjingkrak kaget.


Gavin duduk menatap Vania dengan tajam. Entah ia sadar atau tidak.


" Kenapa kamu sekarang keras kepala sekali? Jangan jadikan kehamilanmu sebagai alasan keinginanmu harus terpenuhi. Kau bisa menahannya kan. Lihat situasi kalau mau minta apa apa, tidak malam malam begini minta makan, menyusahkan saja." Ucap Gavin terpancing emosi.


Tes...


Air mata Vania menetes begitu saja. Ia memejamkan matanya menahan sesak di dadanya, hatinya merasa sakit mendengar ucapan Gavin. Ia berbaring miring memunggungi Gavin. Bahunya naik turun tanda ia semakin menangis. Ia menggigit bantalnya supaya tangisannya tidak terdengar oleh Gavin.


Menyadari hal itu Gavin merasa bersalah padanya. ia mengusap wajahnya kesal.


" Maafkan aku sayang!" Ucap Gavin memeluk Vania dari belakang.


Vania membuang tangan Gavin kasar menjauh dari perutnya. Ia menggeser tubuhnya ke tepi ranjang. Beruntung malam ini Gava tidur dengan omanya. Jadi ia tidak mendengar keributan kedua orang tuanya


Gavin menghela nafasnya pelan.


" Sayang bukan maksudku menyakitimu, tapi mengertilah sayang! Aku capek banget hari ini. Aku juga mengantuk sayang. Ku mohon jangan menangis lagi!" Ujar Gavin menatap punggung Vania.


Vania tidak bergeming, ia memilih diam dan mencoba memejamkan matanya. Walaupun ia kelaparan tapi ia paksakan untuk tidur. Ia tidak mau mendengar alasan apa apa lagi dari Gavin.


Melihat Vania yang mulai tidur, Gavin pun kembali tidur. Ia akan meminta maaf dan membujuk Vania besok pagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


" Kemana Vania sepagi ini?" Gumam Gavin menatap jam dinding yang menunjukkan jam enam pagi.


" Mungkin dia membuat nasi goreng di bawah, aku akan menyusulnya setelah mandi." Ujar Gavin turun dari ranjang menuju kamar mandi.


Selesai mandi Gavin turun ke bawah menuju dapur. Di sana hanya ada Mamanya dan bibi Tuti.


" Ma, dimana Vania?" Tanya Gavin menghampiri mamanya.


" Vania jalan jalan sama Gava." Sahut nyonya Rindu


" Maksud Mama Vania jalan jalan sambil menggendong Gava?" Tanya Gavin memastikan.


" Iya, tadi Gava menangis minta ikut Vania. Ya Mama kasih aja Gava ke Vania, terus mereka jalan jalan deh ke taman." Ujar nyonya Rindu.


" Kenapa Mama membiarkannya? Mama kan tahu kondisi Vania saat ini. Dia masih lemas, belum lagi harus gendong Gava. Kalau terjadi sesuatu padanya gimana Ma?" Ujar Gavin menarik kasar rambutnya.


" Astaga!! Mama tidak berpikir ke situ Gavin. Soalnya Mama keburu masak juga. Ya sudah buruan kamu susul gih! Mama juga tidak mau sampai terjadi apa apa sama menantu dan cucu Mama." Ujar nyonya Rindu.


Gavin segera berlalu dari sana. Ia menyusuri kompleks rumahnya menuju taman. Sampai di sana ia mencari cari Vania namun tidak ada.

__ADS_1


" Kamu dimana sayang? Jangan bikin aku khawatir donk! Maafkan aku yang telah bersikap kasar padamu." Gumam Gavin menyesali perbuatannya semalam.


Gavin kembali mencari Vania. Ia bahkan bertanya pada pengunjung taman, namun tidak ada yang melihat Vania.


" Kemana sih!" Ujar Gavin.


Gavin berjalan menyusuri trotoar pinggiran taman. Sampai matanya menangkap sosok Vania dan Gava duduk di sebuah kursi cafe. Ia memicingkan matanya saat melihat Vania tidak sendiri. Ada seorang pria yang sangat ia kenal duduk bersamanya.


Gavin mengepalkan erat tangannya, ia segera menghampiri Vania.


" Vania." Panggil Gavin.


Vania menoleh ke arah Gavin. Mengingat kejadian semalam, ia membuang mukanya.


" Ayo kita pulang!" Gavin menarik tangan Vania.


" Jangan kasar tuan Gavin!" Ucap pria yang bersama dengan Vania.


" Diam kau Viko!" Sahut Gavin menatap tajam ke arah Viko.


" Sans aja Gavin, aku tidak berniat jahat pada istri dan putramu. Aku hanya menemani mereka saja. Lagian pesanan juga belum datang, duduklah tunggu sebentar lagi! Biarkan istrimu mendapatkan pesanannya." Ujar Viko.


" Aku tidak sudi duduk bersamamu Viko." Sahut Gavin.


" Ayo sayang kita pulang! Jangan dekat dekat dengan orang jahat sepertinya!" Ucap Gavin.


" Apa sih Mas! Aku mau makan di sini, bukan dekat dekat dengannya." Ujar Vania menjauhkan tangan Gavin dari tangannya.


" Apa kau tidak lihat kalau tempat di sini penuh? Itu sebabnya aku duduk di mejanya." Sambung Vania.


Gavin mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, memang penuh karena banyak pengunjung di sana.


Viko tersenyum remeh menatap Gavin.


" Lagian apa sih masalah kalian? Kenapa membawa aku ke dalamnya? Aku tidak tahu apa apa, jadi jika ada masalah jangan libatkan aku di dalamnya. Kalau berani, berantem satu lawan satu saja." Ujar Vania kesal.


" Dia....


Dia siapa hayoooo.....


Penasaran? Jangan lupa tekan like dulu...


Terima kasih untuk readers yang telah mensuport author semoga sehat selalu...


Miss U All...

__ADS_1


TBC....


__ADS_2