
Empat bulan berlalu kini babby Gava sudah bisa tengkurap. Gavin bersorak seperti anak kecil saat pertama kali melihatnya.
" Sayang lihatlah! Gava bisa tengkurap." Teriak Gavin.
Vania yang sedang mandi pun akhirnya keluar hanya menggunakan handuk saja.
" Apa sih Mas teriak teriak! Bikin orang jantungan saja." Ujar Vania menatap Gavin.
" Gava bisa tengkurap sayang." Ucap Gavin menunjuk Gava.
Vania menatap Gava di atas ranjang.
" Alhamdulillah Gava bisa tengkurap." Ucap Vania.
" Sayang kita harus buat perayaan untuk ini." Ujar Gavin.
" Tidak perlu Mas, cukup bersyukur saja pada Allah karena Gava tumbuh dengan baik." Ujar Vania.
Tiba tiba Gavin menekan tengkuk Vania lalu mencium bibirnya membuat Vania melongo membuka mulutnya. Kesempatan itu Gavin gunakan untuk menyusupkan lidahnya ke dalam mulut Vania. Ia mengekspos setiap inchi nya.
Suara decapan memenuhi ruangan mereka. Gavin melepas pagutannya setelah keduanya merasa kehabisan nafas. Ia mengusap lembut bibir Vania dengan jempolnya.
" Sayang kapan aku bisa buka puasa? Udah empat bulan sejak kelahiran Gava lhoh. Apa aku harus menunggu lebih lama lagi?" Tanya Gavin menatap Vania.
" Tunggu sampai Gava berusia satu tahun Mas! Aku...
" Apa? Satu tahun? Kenapa lama sekali sayang? Aku akan sangat tersiksa kalau menunggu selama itu." Ujar Gavin memotong ucapan Vania.
Vania tersenyum menatap Gavin.
" Jangan membohongiku sayang! Aku mau buka puasa nanti malam jadi kau harus mempersiapkan dirimu." Bisik Gavin.
Vania kembali masuk ke kamar mandi dengan malu malu. Gavin menggelengkan kepalanya. Ia duduk di atas ranjang menjaga Gava.
Gava kembali terlentang menatap Gavin sambil sesekali tertawa.
" Apa sayang? Mau ngajak papa bercanda ya." Ucap Gavin.
" Ho... ho... ho" Celoteh Gava sambil mengangkat kedua kakinya.
" Mau main sepak bola sama Papa? Cepat besar ya buat kita bisa main sama sama."
" Ah ha ha... " Gava tertawa memamerkan gusinya.
" Ceria sekali anak Papa ini." Gavin menciumi pipi Gava.
Gavin merasa sangat bahagia bisa melihat tumbuh kembang Gava. Tidak pernah terpikirkan olehnya kalau Vania akan memaafkannya dan kembali hidup bersamanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Siang ini Sandia bertamu ke rumah Ruhi. Mereka berdua duduk di taman belakang rumah yang terlihat sejuk sambil mengobrol dan sesekali tertawa.
__ADS_1
" Ruhi, apa selama ini kakakmu ada perubahan?" Tanya Sandia menatap Ruhi.
" Perubahan? Maksudmu berubah yang gimana?" Ruhi balik bertanya.
" Ya menurut pengamatanmu Kak Leon gimana?"
" Sudah beberapa bulan ini kak Leon nggak pernah keluar malam lagi, dia juga menjadi rajin menabung San. Apa kau tahu? Dia juga rajin memasak ha ha ha... Aku tertawa melihatnya San, pria yang tadinya hanya keluyuran malam menghabiskan uang sekarang menjadi pria rumahan yang banyak uang." Ucap Ruhi sambil tertawa membayangkan sikap Leon empat bulan terakhir.
Sandia mengangguk anggukkan kepalanya.
" Kenapa kamu bertanya seperti itu? Apa perubahan kak Leon ada hubungannya denganmu?" Tanya Ruhi.
Sandia tersenyum menatap Ruhi.
" Apa kau dan kak Leon ada hubungan di belakangku?" Selidik Ruhi.
" Tidak!" Sahut Sandia jujur karena memang tidak ada hubungan apa apa antara dia dan Leon.
" Lalu?" Selidik Ruhi...
" Jangan tanya padaku! Tanyakan saja pada kakakmu!" Ucap Sandia.
" Ingin bertanya soal apa?"
Tiba tiba Leon menghampiri keduanya.
" Kak Leon." Gumam Sandia dan Ruhi bersamaan.
" Ehm ehm."
Deheman Ruhi menyadarkan keduanya. Sandia dan Leon menjadi salah tingkah.
" Sepertinya aku harus pergi San, perutku mulas sekali." Ucap Ruhi meninggalkan keduanya.
Sandia mengedarkan pandangannya ke segala arah menghindari tatapan Leon.
" Aku sudah meninggalkan kebiasaan burukku dan merubah diriku menjadi lebih baik demi kamu. Apa keputusanmu tentang hubungan ini?"
Pertanyaan Leon membuat Sandia melongo.
" Hubungan? Hubungan yang mana yang kau maksudkan Kak?" Sandia balik bertanya.
" Hubungan.... " Leon menjeda ucapannya. Ia juga bingung hubungan apa yang ia maksudkan.
" Hubungan apa? Kau bahkan tidak mengatakan apa apa padaku. Lalu kenapa kau menanyakan soal hubungan." Ucap Sandia.
Leon menghela nafasnya pelan.
" Sandia... Sebenarnya aku... Aku.." Ucap Leon gugup.
" Aku?" Ucap Sandia.
__ADS_1
" Aku... Aku... " Tiba tiba Leon seperti orang gagu.
" Aku mencintaimu!" Sahut Sandia membuat Leon melongo membulatkan matanya.
" Kau...
" Kau ingin mengatakan itu kan? Maka katakan dengan benar!" Sahut Sandia.
" Apa jika aku mengatakannya kau akan menerimanya?" Tanya Leon.
" Akan aku pikirkan! Yang jelas katakan dulu baru aku beri jawaban." Ujar Sandia.
Leon menghirup nafas dalam dalam lalu menghembuskannya lewat mulut. Sandia tersenyum melihat hal itu.
Leon menggenggam tangan Sandia dengan gemetar.
" Sandia... Sejujurnya selama ini aku.... Aku.. Mencintaimu." Ucap Leon cepat.
" Selama ini? Sejak kapan?" Selidik Sandia.
" Sejak aku mulai bekerja dengan kakakmu." Sahut Leon jujur.
" Sejak bekerja dengan kak Gavin? Berarti sudah lama sekali, aku mungkin baru masuk SMA Kak." Ujar Sandia.
" Ya... Aku tidak punya keberanian untuk mengungkapkan perasaan itu padamu. Aku sadar siapa diriku Sandia. Kau dan aku sangat jauh berbeda, dan aku juga takut kalau Gavin akan marah lalu memecatku sedangkan saat itu aku tidak punya apa apa. Aku menahan perasaan ini yang semakin hari semakin bertambah besar Sandia terlebih kau dan Ruhi berteman. Kita sering bertemu tanpa di sengaja. Hal itu membuat aku frustasi hingga aku memutuskan untuk menjadi cassanova. Semua itu aku lakukan untuk melupakanmu, aku bercinta dengan wanita yang berbeda beda namun tetap saja aku tidak bisa mengusirmu dari hati dan pikiranku. Aku tersiksa Sandia.... Aku sangat tersiksa." Terang Leon menundukkan kepalanya menahan sesak di dadanya.
" Waktu kau ke sini saat itu, entah mengapa aku merasa kau menyimpan perasaan padaku. Aku memberanikan diri untuk bertanya padamu. Dan kau memberikan harapan padaku, aku sangat bahagia Sandia. Dulu aku berubah menjadi buruk karena kamu dan sekarang aku berubah menjadi lebih baik juga karena dirimu. Aku harap kau mempunyai perasaan yang sama denganku. Aku harap kau mau menerima cinta dari pria berkelakuan buruk dan pria yang tidak punya apa apa sepertiku. Tapi percayalah aku punya cinta yang sangat besar untukmu. Aku berjanji akan membuatmu bahagia." Ucap Leon menatap Sandia.
" Apa kau benar benar mencintaiku? Bukankah seorang cassanova tidak bisa mencintai satu wanita? Dia tidak akan puas dengan wanita yang sama kan?" Tanya Sandia menatap Leon.
" Tidak... Aku melakukan semua itu hanya menggunakan nafsu saja tanpa adanya cinta di dalamnya karena cintaku hanya untukmu, baik dulu maupun sekarang." Ujar Leon.
" Kelihatannya so sweet." Sahut Sandia seolah ungkapan Leon tidak ada artinya. Sungguh di luar ekspektasi Leon.
" Lalu bagaimana Sandia? Apa kau mau menerima cintaku? Apa kau mau menikah denganku?" Tanya Leon menatap Sandia dengan jantung deg deg an.
Sandia diam tidak bergeming. Mungkin sedang mempertimbangkan keputusannya.
" Sandia, bagaimana? Apa jawabanmu?" Leon bertanya lagi.
Kira kira apa ya jawaban Sandia?
Penasaran?
Jangan lupa like koment vote dan kasih 🌹yang banyak buat author biar author makin semangat ngetiknya.
Terima kasih untuk kalian semua yang sudah memberikan suport pada author semoga sehat selalu...
Miss U All....
TBC...
__ADS_1