
Ruhi masuk ke dalam rumah Leon, ia berjalan menuju kamarnya. Saat melewati tangga ia berpapasan dengan Danesha.
" Ruhi kau pulang?" Ucap Danesha menatap Ruhi.
" Iya Kak, aku suntuk di rumah. Oh ya kalau ada yang mau bertemu denganku, tolong bilang kalau aku tidak ingin di ganggu ya Kak." Ujar Ruhi.
" Termasuk kak Geral?" Tanya Danesha mengerutkan keningnya.
" Iya, kak Leon juga." Sahut Ruhi melanjutkan langkahnya.
Ruhi masuk ke kamar, tidak lupa ia mengunci pintunya dari dalam. Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan posisi terlentang sambil menatap langit langit kamar.
" Aku tidak menyangka kau masih menginginkan mantan kekasihmu mas. Aku bagaikan payung yang akan pergi setelah pelangi datang menghampirimu. Aku benar benar tidak terima dengan pengkhianatanmu ini. Walaupun kau meminta maaf, jangan harap aku akan memaafkanmu. Aku akan memberimu pelajaran supaya kau tidak mengulangi hal seperti ini lagi." Monolog Ruhi memejamkan matanya.
Di bawah sana Geral berjalan menghampiri Danesha yang sedang menonton TV di ruang keluarga.
" Dane, apa Ruhi pulang ke sini?" Tanya Geral menatap Danesha.
" Ada di kamarnya, tapi dia bilang tidak mau di ganggu siapapun. Sebenarnya ada apa Kak? Apa terjadi sesuatu dengan kalian berdua? Kenapa tiba tiba Ruhi kembali ke rumah?" Danesha memberondong Geral dengan berbagai pertanyaan.
" Dia kembali Dane." Ucap Geral duduk di sofa.
" Dia?" Danesha mengerutkan keningnya.
" Maksudmu Sofia?" Tanya Danesha memastikan.
" Iya, dia datang menemui Kakak di kantor. Tiba tiba dia mencium Kakak, dan.... " Geral menjeda ucapannya.
" Dan Kakak membalasnya, terus Ruhi melihat semua itu. Bukankah begitu kejadiannya?" Tebak Danesha menatap Geral.
" Iya, tapi kau jangan paham! Aku membalas ciumannya hanya untuk memastikan perasaanku padanya, aku ingin tahu apakah aku masih ada perasaan sama dia atau tidak. Hanya itu saja, tidak ada maksud lainnya." Ucap Geral.
" Kau merindukannya, itu sebabnya kau membalas ciumannya."
Geral dan Danesha menoleh ke arah tangga dimana Ruhi sedang berdiri di sana.
" Tidak sayang, bukan seperti itu." Ucap Geral menghampiri Ruhi.
" Jangan mendekatiku! Aku ke sini bukan untuk menemuimu. Aku cuma mau ambil air minum saja. Dan ya.. Kalau kau ke sini mau menemuiku lebih baik kamu pulang saja! Aku tidak mau bertemu denganmu lagi." Ucap Ruhi.
" Sayang dengarkan dulu penjelasanku! Aku...
__ADS_1
" Aku punya penilaian sendiri, jadi jangan paksa aku untuk mempercayaimu." Sahut Ruhi berlalu menuju dapur.
Geral hendak mengejarnya namun Danesha mencegahnya.
" Jangan Kak! Saat ini Ruhi sedang marah, lebih baik Kakak pulang saja. Kembalilah setelah Ruhi merasa baikan." Ujar Danesha.
" Baiklah, tapi Kakak tidak akan pulang tanpa Ruhi. Kakak akan tinggal di kamar tamu selama Ruhi di sini." Ucap Geral menuju kamar tamu.
Danesha menghela nafasnya sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua kakaknya. Ia kembali duduk sambil menonton TV.
...****************...
Malam hari Leon pulang dari kantor langsung menuju kamarnya untuk mandi. Setelah itu ia ke dapur menghampiri Danesha yang sedang menyiapkan makan malam.
" Sayang aku melihat kamar Ruhi sedikit terbuka. Apa dia ada di dalam?" Tanya Leon duduk di meja makan.
" Iya Mas, ada kak Geral juga di kamar tamu." Sahut Dane.
" Kamar tamu?" Leon mengerutkan keningnya.
" Kenapa di kamar tamu? Harusnya Geral ada di kamar Ruhi kan? Atau mereka sedang dalam masalah?" Tanya Leon nampak khawatir.
" Jangan khawatir! Selama Geral tidak menyakiti Ruhi aku akan diam saja, tapi jika sampai Geral melukai Ruhi maka jangan cegah aku lagi." Sahut Leon di balas anggukkan kepala oleh Danesha.
Tak lama Geral masuk ke dapur menghampiri mereka.
" Malam Leon." Sapa Geral.
" Malam." Sahut Leon.
" Dane, apa Ruhi belum turun?" Tanya Geral menatap Danesha.
" Aku rasa Ruhi tidak turun untuk makan malam Kak, tadi dia sudah membawa makanannya ke kamar." Sahut Danesha.
Geral menghela nafasnya mendengar jawaban Dane.
" Aku akan ke kamarnya." Ucap Geral berlalu dari sana.
Sampai di depan kamar Ruhi, ia segera membuka pintu karena kebetulan pintunya tidak kunci. Ia menatap Ruhi yang sedang berdiri di balkon sambil telepon dengan seseorang. Dengan perlahan ia mendekatinya.
" Rupanya kau memang bisa menghiburku Lang."
__ADS_1
Mendengar kata Lang, hati Geral memanas. Ia ingin menyudahi pertikaian ini namun ia merasa Ruhi menarik ulur permasalahannya.
" Ruhi aku ingin bicara." Ucap Geral tegas.
Ruhi menoleh sebentar lalu menatap ke depan lagi.
" Oke lain kali kita bisa mengobrol lagi, aku tutup teleponnya."
" Malam." Ruhi menutup sambungan teleponnya. Ia duduk di kursi menatap Geral.
" Apa yang ingin kau bicarakan? Apa ini mengenai keputusanmu? Katakan saja! Setelah itu aku yang akan mengatakan keputusanku." Ucap Ruhi membuat Geral terkejut.
" Keputusan apa maksudmu sayang?" Selidik Geral.
" Keputusan tentang hubungan kita. Aku merasa tidak nyaman lagi hidup berdampingan denganmu. Aku tidak mau hatiku terus terusan tersakiti, entah karena hal yang di sengaja atau tidak. Untuk itu sebelum perasaanku terlalu jauh aku ingin mengakhir...
" Aku tidak akan pernah menuruti kemauanmu itu. Aku akui aku salah, kau bisa menghukumku apa saja tapi tidak dengan perpisahan. Karena sampai kapanpun aku tidak mau berpisah denganmu. Dan keputusanku tidak bisa di ganggu gugat lagi." Sahut Geral memotong ucapan Ruhi.
" Kalau begitu aku akan menghukummu. Sebagai hukumannya menjauhlah dariku. Aku tidak mau bertemu ataupun melihatmu berada di sekitarku."
Jeduarrrr...
Bagai di sambar petir di siang bolong, Geral tidak menyangka jika hukuman yang Ruhi berikan sama dengan perpisahan.
" Aku akan pergi ke Jogja untuk mengajar di sana selama dua tahun, selama itu aku ingin melihat kesetiaanmu padaku Mas. Akan aku biarkan wanita masa lalumu itu mendekatimu ataupun merayumu.Jika kau benar benar mencintaiku maka kau pasti bisa menunggu, tapi kalau ternyata kau lebih tertarik bersama masa lalumu itu, berarti cintamu palsu. Dan mau tidak mau kau harus menandatangani surat perpisahan." Ucap Ruhi.
" Tapi aku tidak bisa jauh darimu selama itu sayang, jangan hukum aku seperti ini! Lebih baik aku tiada daripada harus hidup jauh denganmu. Aku mohon pengertianmu sayang, aku benar benar mencintaimu. Hanya kamu, untuk kamu dan kamu Ruhi." Ucap Geral menggenggam tangan Ruhi.
" Maaf Mas! Itu sudah menjadi keputusanku. Sekarang aku hanya bisa pasrah, jika kita memang berjodoh pasti kita akan bersatu dan tidak akan terpisahkan. Sekarang pergilah! Aku mau istirahat." Ucap Ruhi.
Geral menatap Ruhi dengan mata berkaca kaca. Tak terasa air mayaenetes begitu saja di pipinya. Ruhi yang melihatnya segera membuang muka ke sembarang arah. Ia tidak mau luluh begitu saja hanya karena air mata Geral. Air mata yang menurut Ruhi air mata buaya.
Bagaimana kisah mereka selanjutnya?
Jangan lupa like koment vote dan 🌹nya ya..
Terima kasih untuk readers yang telah mensuport author semoga sehat selalu...
Miss U All...
TBC...
__ADS_1