Pada Akhirnya Aku Menyerah

Pada Akhirnya Aku Menyerah
SIKAP LEON


__ADS_3

Hari hari berlalu, tak terasa pernikahan Sandia dan Rangga sudah di depan mata. Sejak keputusan Sandia memilih Rangga, Leon selalu menghindarinya. Hal itu membuat Sandia geram dan ingin segera menemuinya.


Malam ini Sandia pergi ke rumah Leon. Ia ingin membicarakan sikap Leon padanya, ia merasa tidak nyaman dengan sikap Leon padanya. Sampai di sana ia segera masuk ke dalam seperti biasanya. Rumah nampak sudah padam dan sepi.


" Kok sepi banget yah, kemana Ruhi dan kak Leon? Apa mungkin mereka sudah tidur?" Gumam Sandia.


" Kak Leon." Panggil Sandia.


Tidak ada sahutan sama sekali, tiba tiba...


Prang...


" Astaga!!!" Sandia menyentuh dadanya sendiri.


" Apa itu? Suaranya dari dalam kamar kak Leon. Aku harus ke sana memastikan semuanya baik baik saja." Ucap Sandia.


Sandia membuka pintu kamar Leon. Aroma alkohol menyeruak di hidungnya.


" Kak Leon mabuk, aku tidak boleh mendekatinya. Ini sangat berbahaya, aku harus pulang." Ujar Sandia.


Sandia membalikkan badan, saat ia hendak melangkah keluar tiba-tiba...


Grep....


Leon memeluk Sandia dari belakang membuat tubuh Sandia mematung.


" Kak lepaskan aku! Aku harus pulang. Kita bicara lain waktu saja." Ujar Sandia.


" Tidak Sandia, kau tidak boleh pulang. Kau sendiri yang mengantar dirimu ke sini, jadi jangan pernah pergi lagi." Ucap Leon menyusupkan wajahnya pada tengkuk Sandia.


" Kak aku mohon jangan seperti ini!" Ucap Sandia mencoba melepaskan tangan Leon yang melingkar di perutnya.


" Aku mencintaimu Sandia, aku tidak bisa melupakanmu dan hari ini aku tidak akan melepaskanmu. Aku mencintaimu Sandia." Ucap Leon menarik tangan Sandia menuju ranjang.


" Apa apaan ini Kak! Lepaskan! Biarkan aku pergi!" Bentak Sandia.


Brug...


Leon mendorong tubuh Sandia ke ranjang, ia segera menindih tubuh Sandia membuat tubuh Sandia gemetaran.


" Jangan membentakku sayang, aku tidak menyukainya." Ucap Leon mengelus pipi Sandia.


" Apa yang kau lakukan Kak? Tolong lepaskan aku! Kita tidak bisa melakukan ini Kak, aku mohon lepaskan aku! Hiiks...." Isak Sandia.


" Kau selalu menolakku Sandia, malam ini aku akan menjadikanmu milikku seutuhnya." Ucap Leon mencium bibir Sandia.


" Hmmpttt." Sandia memukul mukul punggung Leon berharap Leon mau melepaskannya.


Setelah puas mencium bibir Sandia, ciuman Leon berpindah ke leher Sandia. Ia menyesapnya meninggalkan jejak merah di sana.


" Kak aku mohon hiks... " Isak Sandia.


" Aku mohon siapapun tolong aku!" Sandia mencoba berteriak.


Sandia berharap ada seseorang yang menolongnya. Tapi sepertinya harapan tinggal harapan saja.

__ADS_1


" Kak aku mohon... " Lirih Sandia.


" Sandia... Aku mencintaimu." Ucap Leon.


Setelah mengatakan itu Leon tidak sadarkan diri.


" Kak... Kak Leon." Sandia menepuk pipinya namun Leon tidak bergeming.


Sandia bernafas lega, tiba tiba...


" Apa yang kalian lakukan Sandia?"


Sandia menoleh ke arah pintu dimana Rangga menatapnya dengan nyalang. Bagaimana tidak? Rangga melihat Leon yang menindih tubuh Sandia saat ini.


" Mas Rangga... Aku mohon jangan salah paham Mas, bantu aku menurunkan tubuhnya." Ucap Sandia.


Rangga memejamkan matanya mencoba meredam emosinya saat menyadari jika Leon tidak sadarkan diri. Ia menarik Leon hingga tubuhnya ambruk di ranjang.


Sandia segera beranjak, ia merapikan penampilannya.


" Apa yang terjadi sayang?" Tanya Rangga menatap Sandia begitupun sebaliknya.


" Kau menangis?" Rangga mengusap sisa air mata Sandia di pipinya.


" Kak Leon hendak berbuat senonoh padaku Mas, beruntung dia tidak sadarkan diri. Kalau tidak, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku hiks... " Sandia memeluk tubuh Rangga yang segera di balas olehnya.


" Tenanglah sayang!" Ucap Rangga mengelus punggung Sandia.


" Aku ke sini mau memperbaiki hubungan kekeluargaan kami, sejak aku menolak kak Leon, dia selalu menghindar dariku Mas. Dia tidak pernah mau main ke rumah, hal itu membuat mama merasa sedih. Mama sudah menganggap kak Leon seperti anak kandungnya sendiri." Ujar Sandia.


Sandia mendongak menatap Rangga.


" Kenapa Mas bilang seperti itu? Pertemuan kita adalah takdir dari Tuhan Mas. Mas tidak boleh menyesalinya." Ujar Sandia.


" Apa Mas tidak bahagia mau menikah denganku?" Selidik Sandia.


" Mas sangat bahagia sayang, maafkan Mas." Ucap Rangga.


Sandia menganggukkan kepalanya.


" Sekarang ayo kita pulang!" Ajak Rangga.


" Bagaimana Mas bisa sampai sini?" Tanya Sandia.


" Rugi telepon Mas menanyakan keberadaanmu, Mas jawab kamu ke sini. Dan Ruhi bilang kalau di rumah hanya ada Leon yang sedang mabuk. Ya sudah Mas langsung gas ke sini." Sahut Rangga.


" Lehermu merah sayang." Ucap Rangga menyibak rambut Sandia.


" Kak Leon yang melakukannya." Lirih Sandia.


" Maaf Mas! Aku tidak bisa menjaga diriku untukmu." Sambung Sandia.


" Mas maafkan! Lagian ini musibah sayang bukan kemauanmu sendiri." Sahut Rangga.


" Terima kasih Mas." Ucap Sandia di balas senyuman oleh Rangga.

__ADS_1


" Ya sudah ayo kita pulang." Rangga menggandeng tangan Sandia keluar kamar Leon menuju mobilnya.


Rangga melakukan mobilnya kembali ke rumah. Ia terus menggenggam tangan Sandia, sesekali ia menciumnya.


" Tenangkan hatimu sayang! Jaga kesehatanmu, pernikahan kita tinggal menghitung hati saja, Mas tidak mau sampai hari H kamunya malah sakit." Ujar Rangga.


" Iya Mas." Sahut Sandia.


Sampai di rumah, Rangga masih menggandeng tangan Sandia masuk ke dalam. Di ruang tamu Gavin, Vania dan nyonya Rindu menanti kedatangan mereka.


Ya, tadi Rangga sempat mengirim pesan pada Gavin. Bukannya apa apa, tapi ia tidak mau menyembunyikan apapun yang terjadi dengan Sandia pada keluarganya sebelum mereka menikah.


" Sebenarnya apa yang terjadi padamu Sandia?" Tanya Gavin.


Sandia menatap Rangga, Rangga mengacungkan dua jarinya tanda peace.


" Biarkan Sandia duduk dulu Vin." Ucap Rangga.


" Duduk dulu sayang." Rangga menuntuj Sandia ke sofa.


" Katakan Nak! Apa yang terjadi padamu?" Tanya nyonya Rindu.


" Aku....


Akhirnya Sandia menceritakan apa yang terjadi padanya dan Leon dari awal sampai akhir.


" Kurang ajar Leon.... Beraninya dia melakukan itu padamu." Geram Gavin mengepalkan erat tangannya.


" Aku akan memberikan pelajaran pada Leon sekarang juga." Gavin beranjak dari kursinya.


" Jangan Mas!" Ucap Vania mencekal tangan Gavin.


" Kenapa?" Gavin menatap Vania.


" Saat ini kau sedang emosi, tidak baik berkendara saat emosi Mas. Aku tidak mau kau kenapa napa." Ujar Vania.


" Iya Vin, lagian saat ini Leon sedang tidak sadarkan diri. Kalau mau memberinya pelajaran besok pagi saja." Timpal Rangga.


Gavin menghela nafasnya. Ia duduk kembali di tempat semula.


" Lebih baik sekarang kita istirahat, kita akan bahas hukuman apa yang akan kita berikan pada Leon besok pagi saja." Ujar nyonya Rindu.


" Iya Ma." Sahut Gavin dan Vania bersamaan.


Mereka semua kembali ke kamar masing masing. Rangga mengantar Sandia ke kamarnya.


" Istirahatlah! Jangan pikirkan apapun!" Ucap Rangga.


" Aku takut Mas." Ucap Sandia.


" Mas akan menemanimu." Ucap Rangga.


Keduanya masuk ke dalam, Sandia naik ke atas ranjang sedangkan Rangga duduk di tepi ranjang sambil mengelus kepala Sandia.


Sandia memejamkan matanya menuju mimpinya. Ia berharap apa yang terjadi padanya hanya mimpi buruk saja.

__ADS_1


TBC....


__ADS_2