PAMALI

PAMALI
peringatan kedua


__ADS_3

"APA LAGI INI FIRMAN" teriak kai Burhan


Kini kai Burhan kembali kehutan itu lagi, tak seorang pun disitu selain dia, kai Firman tak terlihat seperti pertama kai Burhan dibawa kehutan itu.


'FIRMAN " teriak kai Burhan semakin kencang


Ssssrrraaakkkk


sesuatu menyayat lengan kai Burhan


Aaaaakkkkkk " pekik kai Burhan


Tangan kai Burhan berdarah merembes kebaju koko putihnya.


"Astagfirullah " pekik Nini siti


Nini siti kaget melihat tangan kai Burhan yang tiba tiba berdarah.


"Bah" panggil nini siti pelan menyadarkan kai Burhan yang tengah tertidur duduk diatas sajadahnya.


"Astagfirullah" kai Burhan tersentak


"alhamdulillah" sambungnya merasa sudah kembali kerumah.


"tangannya berdarah bah" ucap Nini siti


"Iya, tolong bisa suruh sari panggilkan nak Iksan suruh kesini" ucap Kai Burhan lirih


"inggih" jawab ni siti yang langsung bangun dari duduk bersimpuh keluar kamar mencari sari.


>>>>>


"Assalamualaikum " ucap Iksan dari luar yang masuk beriringan dengan sari dibelakangnya,Iksan terlihat gagah dengan memakai kemeja dan celana bahan kacamata bertengger dihidung mancungnya menenteng tas berwarna hitam ditangan kanannya.


"Waalaikumsallam " ucap Eva yang keluar dari kamarnya


"Ada apa sar ?" tanya Eva pada sari


"gak tau Nini yang suruh "


"Nak Iksan silahkan masuk" ucap Nini siti yang baru keluar kamar


"iya, " jawab Iksan yang langsung mencium punggung tangan Nini siti " Assalamualaikum " ucap Iksan saat masuk kekamar kai Burhan

__ADS_1


"Waalaikumsallam " ucap kai Burhan


"Ada apa kai? " tanya Iksan


"coba tolong diliat luka kai apa parah atau tidak ?" tanya kai Burhan sambil menyodorkan lengannya agar dilihat oleh Iksan


"Tidak terlalu dalam kai, tidak harus dijahit tapu apa Iksan boleh tau ini luka kenapa ?"


"jatuh nak " ucap kai Burhan berbohong


"Ini seperti luka pisau kai bukan luka jatuh" selidik Iksan


"sudah nak, ini rumit, bisa tolong obati saja boleh" tanya kai Burhan


"iya ,sebentar kai" ucap Iksan yang sigap mengeluarkan peralatan tempur yang nini siti bawa berupa kotak p3k kekamar.


>>>


Iksan pov


Aku merasa ada yang mengganjal kenapa kai Burhan orang yang dikenal alim dikampung ini harus berbohong soal luka tadi.


"siapa yang mencelakakan kai Burhan " gumamku


Disepanjang jalan pulang dari rumah kai Burhan aku taj hentinya berfikir ada sesuatu yang ganjil dengan keluarga itu.


sesuatu mengenai tas yang kubawa, aku menoleh kesampingku ternyata seorang kakek berdiri menatap kutajam, matanya seakan ingin keluar saat menatapku.


"Maaf kek" ucap ku meski aku tak bersalah sepertinya kakek ini sengaja memukulkan kayunya pada tas ku.


"Dia sungguh cantik sayang jika harus dimiliki orang lain" ucap Kakek itu membuatku tak paham


kakek itu berlalu meninggalkan ku yang masih mematung memikirkan perkataannya.


"maksud-" kata kata ku terhenti melihat kakek yang baru saja berbicara padaku tadi ternyata sudah tidak ada.


"kemana kakek itu "gumam ku seketika tengkuk ku merinding " apa aku berbicara dengan makhluk halus" lirihnku


Aku langsung ambil langkah seribu,berlari sekencang yang aku bisa agar segera sampai kepuskesmas.


"hah huh hah huh huh" nafas ku seakan terpotong saat aku sampai puskesmas


"kenapa dok ?" tanya seorang wanita yang membantuku disini santi namanya gadis asli desa ini.

__ADS_1


"Tidak apa apa " jawabku sambil ngos ngosan


"kirain dikejar setan" tanyanya mengejek


"saya tidak takut yang begituan, saya takutnya sama manusia yang baik didepan jelek dibelakang" ucapku pasti


" saya takutnya jatuh dok" jawab santi


" kenapa " tanyaku ingin tau


"saya takut jatuh cinta sama dokter" ucapnya sambil berlari meninggalkanku.


>>>>>


"saya pulang dulu dok " ucap santi sambil berjalan keluar puskesmas pendukung ini.


"iya" jawabku


"Assalamualaikum " ucap Hanif didepan pintu puskesmas


"waalaikumsallam ,masuk nif ,silahkan duduk"


"iya, maaf tadi kata sari kai Burhan luka ?"tanya hanif sambil duduk dikursi didepan mejaku.


"iya "


"luka kenapa? " tanya Hanif penasaran


"kai Burhan tidak mau bilang, tapi sepertinya terkena benda tajam sejenis pisau" ucapku yakin


Hanif terlihat tengah berfikir serius, entah apa yang difikirkannya.


"kenapa nif ?" tanyaku yang melihat Hanif beranjak dari tempat duduknya.


"mau kerumah kai Burhan"


"aku ikut" ucapku


Hanif menautkan alisnya mungkin merasa heran kenapa aku menawarkab diri untuk ikut padahal tak diajak.


"Eh ini mau kasih kai Burhan obat pereda nyeri" ucap ku


"ooh ayo" ajak Hanif yang langsung kujawab dengan anggukan

__ADS_1


kami pun keluar dari puskesmas tak lupa kumengunci puskesmas dulu.


"Ayo nif " ajakku semangat


__ADS_2