PAMALI

PAMALI
Doa bersama


__ADS_3

PAMALI>>>Do'a Bersama


Hari sudah beranjak sore Eva pulang kerumah didalam kamar ia membuka jilbabnya "Aaww"lirihnya saat berusaha menyentuh bekas cekikan tadi, energi makhkuk itu sangat kuat hingga mampu melukai Eva seperti itu


Sementara Hanif terduduk dikursi ingatannya kembali pada Eva yang terlihat kesakitan saat dirumah amang iwan tadi tapi keadaan yang riuh membuatnya tidak bisa mencari tau keadaan Eva.


"Abang Hanif"tegur Sari yang melihat suaminya melamun


Hanif terkejut saat sari memanggilnya "Ada apa? "tanyanya halus


"Abang melamun"ucap Sari "sudah sore Bang sebentar lagi sholat maghrib"sambungnya lagi


Hanif hanya mengangguk dan mengulas senyum tipis pada Sari kemudian berlalu pergi masuk kedalam rumah untuk mandi dan bersiap sholat maghrib.


Dimasjid banyak warga yang berkumpul untuk sholat berjamaah sekaligus setelah sholat maghrib mereka mengadakan doa bersama untuk Ria dan Ibunya, meski belum dikembumikan jasadnya sebab menunggu hasil otipsi tapi warga tetap ingin bersama sama mendoakan keduanya semoga tenang dialam sana.


Eva juga ikut juga dalam acara doa bersama itu, ditengah tengah acara saat semua khusyuk dalam doa sebuah kejadian aneh terjadi lampu yang dengan stabil menyala tiba tiba padam sesaat semua orang terkaget namun hanya berlangsung sebentar kemudian kembali lagi melanjutkan Do'a tapi berbeda dengan Hanif dan Eva yang bisa melihat sesuatu yang tidak kasat mata, keduanya bisa melihat betapa mengerikannya sosok yang berdiri jauh dari masijid namun saking besarnya makhluk itu masih bisa terlihat dengan jelas,tubuh tinggi besar berwarna hitam pekat seperti asap yang berbentuk manusia dengan mata merah menatap masjid yang diramaikan oleh warga, makhluk itu berjalan menjauh kearah hulu kampung Eva dan Hanif menyadari jika keduanya sama sama menatap makhluk itu sedari tadi.

__ADS_1


>>>>>


Disebuah ruang tahanan dikantor polisi Amang iwan duduk bersandar pada sebuah dinding, ruangan yang tidak begitu besar disana terdapat sebuah toilet yang hanya disekat dinding separuh badan orang dewasa cahayanya tidak begitu terang dia seorang diri menatap tak tentu arah keadaan terasa sunyi dan dingin semakin malam ruangan itu semakin dingin menusuk hingga ketulang bola mata amang iwan bergeriliya meraba setiap inci ruangan ia merasa ada sesuatu yang tidak beres malam itu.


Mata nya membulat saat melihat sosok yang seperti asap berdiri tepat didepannya, amang iwan segera berdiri namun tidak berani melihat keatas hanya kaki sosok itu yang ia tatap sedari tadi matanya memutar menatap jeruji besi yang terkunci tidak seorang pun yang terlihat diluar sana, perlahan matanya memandang kembali sosok itu yang masih berdiri dan perlahan mendekat "Ampun,,aaampuni ulun(saya) tolong ampuni ulun(saya) Datuk"ucapnya bersusah payah dengan tubuh yang gemetar namun makhluk itu seakan tak perduli dengan tetap mendekat pada amang iwan


Mata amang iwan memohon belas kasihan berusaha menatap makhluk itu yang tinggi menjulang,wajah makhluk itu rupanya sedari tadi manatap amang iwan dengan mata merahnya kedua tangannya lalu meraih tubuh amang iwan dan mengangkatnya tubuh amang iwan meronta ingin melepaskan diri teriakannya tidak ada yang mendengarkan mulut makhluk itu terbuka lebar dengan segera jiwa amang iwan terhisap olehnya "Riaaaaa" ucap amang iwan sebelum tubuhnya menjadi kering pucat dan tidak bernyawa lagi.


Tubuh kering hanya tersisa tulang dan kulit itu lalu tergeletak jatuh dilantai dengan mata melotot dan mulut yang menganga dilantai yang dingin dan ruangan yang gelap.


>>>


Eva menggeleng dan segera menggandeng lengan Nini siti untuk jalan bersama kembali kerumah dibelakang Eva,Hanif pun melakukan hal yang sama entah apa yang ada difikiran mereka berdua saat melihat makhluk itu,apa kah ada sesuatu yang sudah bisa mereka prediksi akan terjadi.


>>>>


Pagi itu masih sangat awal untuk mendengae riuh ambulan yang datang beriringan warga yang mendengar segera keluar dan berkumpul dirumah amang iwan untuk segera mengurus jenazah keluarga itu namun mereka terheran heran saat melihat ada tiga ambulans sekaligus yang datang, para warga riuh bertanya tanya siapa rupanya yang berada diambulance satu lagi.

__ADS_1


Kai Burhan selaku tetua dikampung mewakili warga untuk menerima jenazah agar segera dikebumikan dengan layak para warga hanya menunggu dengan harap harap cemas, tak lama Kai Burhab naik keteras rumah diiringi para pihak yang berwajib kemudian kai mulai berbicara "Innalillahiwainnalillahi innalillahiwainnalillahi innalillahiwainnalillahi "iya mengulang tiga kali "Telah berpulang kerahmatullah iwandar bin zainudin atau iwan tadi malam pukul 21:00 mudah mudahan diampunkan segala dosanya"


Semua warga terkejut saat mendengar pengumuman dari kai Burhan banyak yang tidak menyangka tapi ada juga yang penasaran kenapa amang iwan bisa meninggal dunia padahal kemarin dia terlihat sehat sehat saja.


Eva meremas tangannya ia sudah menduga jika makhluk yang menyerupai Ria itu ialah makhluk yang ia lihat tadi malam diluar masjid ,Eva tidak ingin mengambil kesimpulan dengan menggunakan prasangka tapi ternyata benar apa yang ditakutkannya jika makhluk itu hanya memanfaatkan keadaan amang iwan untuk mendapatkan pengikut dan mengambil jiwanya sebagai bayaran.


Hanif diam diam menatap Eva yang terlihat terkejut saat mendengar amang iwan meninggal, ia curiga jika itu ada hubungannya dengan makhluk yang datang tadi malam namun Hanif berusaha mengabaikan rasa penasarannya sebab Sari ada disampingnya.


"Kenapa? "tanya ustadz Ghifari yang melihat keterkejutan Eva, ustadz muda itu juga merasakan penasaran yang sama dengan reaksi Eva, ia menduga jika ada sesuatu yang Eva rahasiakan "makhluk itu membunuh Amang iwan "lirih Eva setengah berbisik


ustadz Ghifari terlihat kaget namun dihatinya belum mempercayai apa yang dikatakan Eva,


para pengurus jenazah memulai kegiatan sesaat setelah para pihak yang berwajib satu persatu pergi, ada yang menggali lubang kubur ada juga yang membuat tabla (peti jenazah).


Ustadz Ghifari membuka kain yang menutupi Tubuh Amang iwan yang sudah berbalut kain kafan matanya membulat saat melihat amang iwan terlihat mengerikan dengan wajah hitam seakan terbakar dan bagai tengkorang sebab hanya tinggal tulang dan kulit,


"Astaghfirullah, Astaghfirullah, astagfirullah "ucap orang orang yang juga ikut melihat dengan segera ustadz Ghifari menutupnya kembali.

__ADS_1


Ia kemudian duduk dan membacakan surah yasin untuk ketiga jenazah yang ada dihadapannya.


Hari beranjak siang iring iringan warga mengantarkan satu keluarga ketempat peristirahatan terakhir mereka sudah berangsur angsur kembali pulang hingga tidak menyisakan siapa pun lagi disana, rumah amang iwan pun kembali sepi sebab warga sepakat doa bersama dilakukan dimasjid saja hingga rumah itu tidak ada kegiatan apa apa lagi.


__ADS_2