
aku perlahan masuk hendak menghampiri pria itu,namun seperti ada angin yang menerpa tubuhku hingga terpental menjauh saat aku hampir mendekati mang yadi, "Astaghfirullah" pekikku
Kusisiri ruangan itu namun tak ada siapa siapa selain kami berdua, entah itu manusia atau makhluk lainnya,
" siapa itu " pekikku lagi
namun tak ada jawaban hanya hening yang ku rasakan, aku kembali bangkit hendak mendekat ke mang yadi namun langkahku terhenti saat kulihat dua sosok pucat seperti iman namun keduanya terlihat sangat menyeramkan,mataku membulat mulutku tercekat tubuhku terasa kaku.
Keduanya menatapku tajam seolah mengisyaratkan aku untuk tak mendekat kearah mang yadi dan mengurungkan niat ku.
__ADS_1
Ku kuatkan hati perlahan kutegakkan tubuh ikut menatap tajam makhluk tak kasat mata itu " minggir" ucapku tegas terlihat mereka bertambah marah hanya beberapa detik aku merasakan panas dileherku lalu semakin sesak tercekik, aku meronta ronta hendak melepaskan diri dari cekikkan gaib itu,leherku terasa semakin sakit dan panas "Mii-ng-gir" ucapku disela rasa sakit yang mendera "I-ma-n,,Iman" ucapku terbata bata leherku terasa semakin sakit perlahan pendengaranku pun hilang tapi aku bisa merasakan kehadiran Iman,lalu cengkraman itu seketika terlepas aku pun jatuh terduduk dan terbatuk batu tanpa menghiraukan reuni keluarga disampingku.
Tak ada kata kata dari ketiganya sesaat aku berfikir jika mereka akan berpelukan dan menangis bahagia saat aku membawa Iman kesini ternyata aku salah besar aura hitam semakin pekat dari kedua makhluk halus itu dendam mereka kembali membara saat melihat Iman.
Aku harus berbuat apa,tanpa berfikir panjang aku berlari kearah mang yadi melewati makhluk mengerikan itu,aku berdiri didepan mang yadi berusaha melindunginya sebisa ku agar nyawanya tak melayang dengan sia sia sama seperti keluarganya yang lain.
"Eva berdo'a lah kepada Tuhan dan selamatkan Orang ini " ucap Iman padaku lalu ia pun menghilang bagai debu yang tertiup angin
Aku berdiri tegak didepan Amang yadi lalu mengangkat tangan membulatkan konsetrasi memohon pertolongan dari sang pencipta dan aku mulai melafalkan ayat ayat yang aku bisa, tanpa menunggu lama kedua makhluk itu terlihat sangat kesakitan dan berusaha menggapaiku namun mereka tak bisa melakukannya.
__ADS_1
Ayat demi ayat terus kubaca tanpa henti memohon pertolongan dari sang pencipta,tubuh ku gemetar ketakutan tak kuhiraukan lagi karena inilah satu satunya jalan agar aku dan Amang yadi bisa selamat dari kedua makhluk astral ini.
Perlahan tubuh mereka seperti terbakar menjadi abu dan hilang tertiup angin suara pekikan mereka memekakkan telinga, lalu perlahan suara itu lenyap ,gubuk ini kembali sunyi dan senyap.
Kehilangan anak secara tragis membuat mereka hilang akal,apa lagi pelakunya orang terdekat yang menambah luka semakin dalam dan dendam mendarah daging hingga kematian tak membuat penghalang bagi orang tua Iman untuk menuntut balas kepergian anak mereka.
Sungguh menyedihkan nasib sahabat kecilku Iman, seorang anak kecil yang duduk termenung dikursi bandara diwaktu perjumpaan pertaman kami kini hanya lambaian tangan dari kejauhan yang bisa kulakukan saat aku meninggalkan gubuk Amang Yadi.
Syukurlah setidaknya nyawa Amang yadi masih bisa diselamatkan meski keadaan mentalnya sudah sangat buruk.
__ADS_1
Dendam tidak akan membawa kita pada kepuasan namun justru membawa kita pada kehancuran, maka alangkah baiknya jika kita bisa saling memaafkan tanpa mendendam.