
Flashback
Hanif pov
Dalam hati kutetap melafalkan surah surah yang kuhafal tanpa henti melihat tingkah mbak kun.
Lalu datang bola api kecil kecil namun banyak terbang kearah kami ,Eva tetap tak bergeming aku pun masih tak mampu bergerak mataku melirik Eva yang kembali menunduk tanpa memeperdulikan si mbak kun.
Api kecil itu semakin dekat melayang layang diatas kami seakan kami didalam wadah transparan tak mampu ditembus api itu lalu satu persatu pecah hingga habis.
mbakkun datang menghampiri kami namun tak mampu menggapai kami lalu cahaya putih datang dari belakang kami sangat menyilaukan hingga aku tak mampu membuka mata.
Suara teriakan mbak kun memekakkan telinga seakan kesakitan lalu menghilang tak terdengar lagi.
"Bawa keturunan firman keluar dari desa ini segera " suara wanita disampingku lalu tubuh Eva tumbang kedepan
kuangkat tubuh Eva merebahkan nya ditanah kepalanya kupangku dipaha,
kutepuk tepuk wajah Eva berusaha membangunkannya dan berhasil perlahan Eva mata Eva terbuka.
"Eva kamu sudah sadar?" tanya ku
"Hanif" lirihnya "Dimana aku ?" tanya Eva bingung
Dia duduk mengucek matanya memperhatikan disekitar kami.
"Bukanya ini dihutan itu" gumamnya
__ADS_1
"Iya" jawabku
"Kenapa kita disini? "
Aku diam tak bisa menjawab kami berdua diam duduk diatas tanah yang dingin memeluk kaki kami masing masing,
"TOLONG,,, TOLONG,, TOLONG"
Teriak seseorang dihutan itu, kami berdua saling tatap "apa itu manusia ?" tanyaku pada Eva
"Sepertinya "
"Apa harus kita cari "
kami berdua berdiri hendak mencari siapa yang meminta tolong namun orang itu sudah muncul lebih dulu keluar dari semak.
"Hanif, Eva" ucapnya sambil sempoyongan berjalan kearah kami.
Bruakkk
Iksan terjatuh kakinya tak mampu lagi menopang tubuhnya.
"Kamu kenapa disini " tanyaku
Iksan hanya menggeleng jawaban atas pertanyaanku
"Ayo kita segera pergi dari sini sebelum wanita itu kembali" ucap Eva
__ADS_1
Aku mengangkat tubuh Iksan membantunya berdiri lalu Eva merapatkan tubuhnya pada Iksan membantuku.
"Ayo" ucapnya
Hatiku terasa nyilu melihat pemandangan itu sebenarnya jika boleh aku hendak perotes pada Author tapi apalah dayaku.
Kami berdua memapah tubuh Iksan terus berjalan tak tentu arah ,kutanya pada Eva dimana jalan pulang ia pun tak tau harus kemana,
jalanan yang kami lalui beragam kadang jalan tanah merah, lalu masuk hutan bertemu sungai dan bertemu rumpun ilalang dan bahkan kami melalui tanah lapang yang luas.
Lelah kami berjalan meski tak merasa lapar tapi tubuh kami lemas terlalu lama berjalan.
Dan anehnya meski kami sudah berjalan sangat jauh ditempat ini seperti tak ada pergerakan siang dan malam atau bisa juga waktu disini lambat,matahari tetap condong seperti sore tapi tak kunjung malam namun jika kami masuk hutan baru terasa seperti malam,padahal pertama kami datang kesini saat malam hari.
"Bagaimana ini kita tidak menemukan jalan pulang" ucapku
"kita jalan saja, kita harus mencari desa itu"
"Desa apa " tanyaku dan Iksan
"Desa leluhurku"
"apa masih bisa lanjut ?" tanyaku pada Iksan
Iksan hanya mengangguk tanda mengiyakan, kami kembali berdiri diposisi semula lalu mengayunkan langkah mencari yang tak pasti kami temukan.
Lama kami berjalan hingga terasa hari semakin malam kami akhirnya sanpai disebuah desa yang sangat tertinggal,rumah mereka model rumah panggung dan memakai obor sebagai penerangan
__ADS_1
Rumah satu dan yang lainnya berjauhan halaman besar dan bersih dan tak ada satupun orang yang kami temui saat sampai didesa itu.