PAMALI

PAMALI
Ilmu Kekebalan


__ADS_3

Eva membuka matanya disampingnya ada sari yang masih pingsan" Aakkhh"pekiknya pelan saat merasakan sakit ditangan kirinya yang berbalut perban, ia tak begitu mengingat apa yang terjadi tadi malam


Eva perlahan turun dari tempat tidur keluar dari kamarnya setelah mengganti pakain dan mengenakan jilbab, Nini siti yang kebetulan ingin masuk kamar melihat Eva "Va, kamu sudah sadar ?" ucapnya sambil berlari kecil mendekat pada Eva


"Ni,, " lirih Eva "Mana kai Burhan ?"tanyannya Nini siti menggiring Eva kekamar mereka disana kai Burhan berbaring


"Kai,, " panggi Nini siti pada belahan jiwanya itu


kai Burhan bangun dari tidurnya lalu dengan hati hati mencoba duduk "Kai,, " lirih Eva matanya berkaca kaca


"Va,, terima kasih sudah menolong kai " ucap Kai Burhan tulus


Eva terlihat bingung ia tak begitu mengingat apa yang terjadi namun ia tak ingin terlalu memikirkan itu baginya kai Burhan baik baik saja sudah Alhamdulillah.


"Sari kenapa Ni ? " tanya Eva pada Nini siti


keduanya diam sejenak "Tidak apa apa dia cuma pingsan " ucap Nini siti


Kai Burhan tak menjawab ia juga tidak mengetahui kenapa sari bisa pingsan hanya Nini sitilah yang tau kalau sari pingsan karena Eva.


"Allhamdullilah Va kampung sekarang sudah tidak seperti dulu lagi, kini warga sudah bisa beraktifitas dengan bebas " Nini siti mengganti topik pembicaraan agar bisa melupakan kejadian tadi malam


"Alhamdulillah " jawab Eva


"Dukun itu sudah meninggal, sekarang warga sedang memakamkan dukun itu" jelas Nini siti


Eva hanya mengangguk saja tanpa berkomentar apapun sepertinya ia tak mengingat jika dukun itu tewas karenanya.


Saat ketiganya tengah berbincang, terdengar suara warga ramai ramai diluar sepertinya yang ikut melakukan proses pemakaman sudah kembali.


...****************...


Eva pov


Aku dan Nini serta kai saling pandang mendengar suara ramai diluar rumah "sepertinya warga sudah pulang dari pemakaman" ucap Nini siti


Aku pun ikut Nini yang akan keluar melihat,rasa penasaran dibenakku bagaimana pria tua itu bisa M*ti dan siapa yang sudah membunuhnya.

__ADS_1


Benar saja diluar rumah sudah banyak warga, suasana kampung sudah kembali kondusif dan aura auar hitam juga sudah menghilang


kupandangi satu persatu warga yang ada dihalaman rumah, mereka nyata banyak diantar mereka yang kukenal "ini nyata, aku yakin ini nyata" gumamku meyakinkan diri karena sedikit rasa tak percaya melihat banyak warga yang keluar rumah setelah sekian lama mereka mengurung diri demi menghindari gangguan ilmu hitam pria tua itu


"Bagaimana ini ustadz,apa tidak kenapa kenapa jasad dukun itu terbakar sebelum sempat dimakamkan? "tanya seorang warga yang merasa khawatir jika kampung mereka kembali diganggu karena jasadnya belum sempat dimakamkan


Aku menyimak pembicaraan mereka, ada yang tidak aku pahami kenapa pria tua itu besa tewas, siapa yang melakukannya aku berusaha mengingat kejadian setelah kai tertarik keluar rumah namun sayangnya aku tidak dapat mengingatnya sama sekali


"tenang bapak bapak insya Allah tidak akan terjadi apa apa"ucap seorang pria dilihat dari penampilannya ia yang biasa disebut ustadz


"iya, tapi kita juga harus menjaga agar kejadian ini tidak terulang lagi dengan selalu menjalankan perintah Allah dan ramaikan masjid perbanyak membaca al'quran " seorang lagi menyahut ucapan dengan memberi wejangan pada warga kampung


"iya, insyaallah ustadz " jawab warga kampung


warga pun berhamburan kembali kerumah masing masing, Hanif mempersilahkan ketiga ustadz itu untuk masuk kerumah Kai Burhan, aku pun mengikuti dibelakang mereka


mereka berempat duduk diruang tamu, aku dan Nini siti kedapur menyiapkan minum, saat aku hendak kedapur kulihat kedalam kamar dimana sari belum sadarkan diri disana, ada rasa yang janggal menganggu fikiranku


kuhampiri sari dengan pelan kubuka pintu kamar tepat diatas perut sari seorang kerdil berwajah dewasa rambutnya acak acakan wajahnya menyeramkan duduk berjongkok sambil memandangi wajah sari, aku yang melihat langsung terduduk dan berteriak sekuat tanaga


Teriakanku membuat semua yang ada dirumah berkumpul menghampiriku "Va ada apa? " tanya Hanif


"I, i, itu" jawabku terbata bata


Hanif melihat makhluk itu begitupun salah satu ustadz yang bersama Hanif tetapi kedua ustadz lainnya tidak bisa melihat makhluk itu


"Ustadz syarif" lirih Hanif ia terlihat khawatir pada Sari yang membuatku bertambah sakit hati


Nini siti mendekapku membawaku menjauh dari kamar Hanif dan ustadz bernama Syarif itu masuk kedalam kamar tetapi dengan segera makhluk itu menghilang


"Bagaimana nif? " tanya Nini siti


"Dia menghilang ni" jawab Hanif


Ustadz syarif itu menatapku dengan tajam membuatku merasa tidak nyaman aku merasa ada yang ingin ia katakan namun mungkin ini hal yang privasi atau hal yang akan membuatku malu


Kubiarkan saja perasaan yang menganggu ini aku yakin jika ini hal yang penting pasti dia akan membuka pembicaraan

__ADS_1


hari hampir sore kedua ustadz memutuskan kembali,ustadz syarif memilih tinggal disini untuk beberapa hari, kulihat ia berbicara serius dengan Hanif dihalaman depan namun aku tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan


Raut wajah Hanif berubah ia terlihat lebih cemas, apakah ini menyangkut kejadian yang menimpa sari siang tadi


Aku kembali kekamar sari masih belum sadar aku duduk disampingnya, kuperhatikan wajahnya nampak sehat tapi kenapa ia tak kunjung bangun


"Va" Hanif berdiri diambang pintu


" maaf aku cuma mengambil baju" ucapku salah tingkah, Hanif pasti ingin bersama sari ingin menjaga dan menemaninya


Aku bergegas keluar kamar setelah mengambil beberapa helai baju sebagai ganti "Va, " Hanif mencegatku yang sudah diambang pintu


"maafkan sari kalau dia ada salah"kata kata itu membuatku seketika membeku


Kupalingkan wajah kuberanikan menatap Hanif "Kenapa harus kamu yang minta maaf, kenapa bukan sari sendiri" kata kata itu meluncur bebas dari mulutku spontan terjadi tanpa kufikirkan


Tak ingin berlama lama aku pergi meinggalkan Hanif yang terdiam diambang pintu.


Entah kenapa hatiku terasa sakit tidak bisa kujelaskan dengan kata kata "Assalamualaikum " ucap Ustadz syarif


"Waalaikumsallam " jawabku


"Maaf,boleh saya bicara sebentar" ucapnya lagi


"Iya silahkan ustadz " jawabku ramah


"Saya hanya mengingatkan pada Eva untuk senantiasa berzikir dan mengelola amarah dengan baik" ia terlihat hati hati dalam menyapaikan hal itu pada ku


"Maksud ustadz ?" aku belum paham kemana arah pembicaraan ustadz Syarif


"tidak bermaksud apa apa, saya hanya ingin mengingatkan Eva "jawabnya ambigu membuatku semakin bingung


"Saya kemasjid dulu, mari" pamitnya padaku


"Apa ustadz tau sesuatu" aku sungguh tak bisa mengontrol diriku sendiri jika perasaan marah muncul dihati aku bisa berkata kata tanpa kufikirkan terlebih dulu


Ustadz syarif terdiam, mungkin ada yang dia sembunyikan atau kah memang belum saatnya aku mengetahuinya.

__ADS_1


__ADS_2