PAMALI

PAMALI
Mimpi


__ADS_3

PAMALI>>MIMPI


malam belum terlalu larut tapi suasana kampung sudah sangat sepi, malam itu Eva memilih berbaring dikamarnya sambil membaca buku pelajaran untuk sekolah dasar sebagai rujukan untuk ia mengajar besok.


Eva menarik selimut untuk menutupi tubuhnya saat ia merasakan hawa dingin yang perlahan masuk dari celah celah rumah, "Dinginnya"gumam Eva


ia pun menutup bukunya dan berbaring dengan benar "kayanya udah larut malam, lebih baik aku tidur sekarang"gumam Eva lagi


Eva berbaring kearah kanan tepat menghadap dinding menutup sekujur tubuhnya dengan selimut, ia tidak merasa ada yang mencurigakan padahal malam itu berbeda dari malam biasanya, hawanya terasa sangat dingin.


perlahan mata Eva tertutup rapat dan terlelap kealam mimpi,


Eva menatap tangannya lalu berkali kali mengepalkannya didalam hati Eva bertanya tanya bukankan tadi ia berbaring ditempat tidur tapi kenapa sekarang ia berdiri disebuah lapangan sambil menatap kedua tangannya,


suara teriakan mengagetkan Eva yang sedari tadi hanya melihat kedua tangannya, Eva mencari cari asal suara meski penglihatannya dihalangi oleh kabut yang lumayan tebal.


>>>


Eva pov


Aku berjalan selangkah demi langkah mencari sumber suara yang mengagetkanku tadi, suara teriakan itu cukup nyaring tapi kenapa tempat ini seperti tidak asing bagiku


Aku masih memperhatikan sekelilingku penuh dengan pepohonan rimbun aku seperti berdiri disebuah lapangan "ini lapangan bola"batin ku berucap


iya benar ini memang lapangan bola beralaskan tanah merah saat kulihat ada tiang gawang yang tidak jauh dariku, aku berusaha mengingat ingat dimana aku berada saat ini sebab rasanya aku mengenal tempat ini.


Kulihat dibelakang tiang gawang ada pohon akasia cukup besar dan rimbun yang berjajar dan dibalik pohon itu sebuah jalan setapak, aku berlari kecil dari tengah lapangan untuk mendekat kearah jalan itu tapi sekuat apapun aku berlari jalan itu tetap tidak bisa kudekati,kabut semakin pekat dan aku seakan tidak bergerak dari lapangan ini penglihatanku semakin hilang oleh kabut yang semakin menebal "Tolongggggggg"suara teriakan itu menggema disekitar ku dan mengalihkan perhatianku hingga sesuatu menarik kakiku dan menyeretku dalam pekatnya kabut.


Bbbrruuuakkk


Aku terbangun setelah jatuh dari tempat tidur hingga tubuhku sakit terbentur lantai "Astaghfirullah "ucapku saat mendapati diriku berada dilantai, belum aku berdiri dengan sempurna suara adzan subuh sudah terdengar


"Alhamdulillah sudah subuh"ucapku

__ADS_1


dengan segera aku berdiri melangkah keluar kamar mencuci muka dan berwudhu "sudah bangun Va"sapa Nini siti yang melihatku keluar kamar


"iya Ni"jawabku


Kulihat kai sudah siap untuk sholat berjamaah dimasjid "Kita sholat dirumah aja Ni? "tanyaku pada Nini siti


"iya"jawab Nini siti


kamipun segera melaksanakan sholat subuh diruang tengah ,hanya aku dan Nini siti.


>>>


Pagi pagi sekali aku sudah berjalan kaki menuju sekolah satu satunya dikampung yang terletak cukup jauh dihulu kampung beberapa anak sudah ada yang berangkat juga walau tidak banyak.


"Assalamualaikum "ucap seseorang


suara yang cukup familiar ditelingaku "waalaikumsallam "aku menjawab salam dari ustadz Ghifari


"gak kenapa kenapa, biar Eva ada temannya aja"jawab ustadz Ghifari santai


Aku hanya terdiam mendengar jawabannya, sementar ustadz Ghifari berjalan beberapa langkah didepanku juga tidak mengeluarkan kata kata apapun lagi, kami berjalan beriringan dalam diam.


sekitar setengah jam kami berjalan kaki hingga akhirnya bangunan sekolah sudah nampak didepan kami, beberapa anak sudah terlihat bermain dilapangan sepak bola yang luas tepat besebrangan dengan sekolah.


Langkahku terhenti saat perlahan aku mencoba mengingat mimpiku tadi malam "lapangan ini" batinku berkata


kuperhatikan ada pohon akasia berjajar rapi dipinggir jalan sebelum memasuki lapangan, perlahan kakiku melangkah mendekat pada lapangan yang hampir sama persis dalam mimpiku tadi malam, dengan hati hati kuperhatikan memang benar ini lapangan yang sama dengan dimimpiku malam tadi,


Saat aku tengah terhanyut dalam fikiranku suara klakson membuatku tersentak "Ka Eva"sapa Mia dan Nisa yang baru tiba dengan sepeda motornya, keduanya tersenyum sambil melambaikan tangan padaku yang terpaku menatap mereka


melihat sudah ada teman yang datang akupun menuju kantor sekolah untuk menunggu waktu mengajar dimulai, saat aku meninggalkan lapangan dengan tiba tiba tengkukku merinding dan suasana lapangan terasa seketika mencekam.


Aku berlari kecil agar segera sampai kekantor sekolah "Assalamualaikum "ucapku yang masuk dengan terburu buru

__ADS_1


"waalaikumsallam, kenapa ka? "tanya Nisa yang melihatku masuk


"Gak apa apa, saya lupa ada yang perlu dipelajari sebelum kelas dimulai"jawabku sedikit berbohong padahal aku merasa merinding dan tidak nyaman saat berada dilapangan tadi.


Tidak lama sari dan Hanif pun juga datang, aku hanya menyapa seperlunya saja bukan menghindari mereka hanya saja aku takut jika tidak bisa mengendalikan perasaanku dan merusak hubungan baik ini,


Kami mulai mengajar saat lonceng sekolah dibunyikan seperti hari kemarin aku mengajar anak kelas dua yang terlihat lebih banyak dari hari sebelumnya 3 orang anak bertambah hari ini membuatku memanjatkan syukur i,ni pertanda jika apa yang kami lakukan mulai ada kemajuan.


Eva pov end


>>>>


lonceng istirahat dibunyikan anak anak berlari keluar untuk bermain, anak yang hadir hari ini untuk bersekolah terlihat lebih banyak dari hari kemarin "Alhamdulillah hari ini ada tambahan anak yang masuk sekolah"ucap Mia memgobrol pada Nisa


"Iya sama, dikelasku juga ada satu anak tambahan yang masuk"jawab Nisa


"Kalau dikelas ka Eva ada tambahan berapa anak ?"tanya Nisa pada Eva yang baru saja masuk kekantor


"Alhamdulillah ada tiga anak "jawab Eva dengan senyum manisnya


"wah, alhamdulillah "sahut Nisa dan Mia


Ustadz Ghifari hanya diam tanpa mau ikut nimbrung dengan para wanita yang asik mengobrol "Tiga anak, bukan dua"batin ustadz Ghifari


...****************...


Seorang anak perempuan dengan baju sedikit lusuh duduk dibawah pohon akasia dipinggir jalan beralaskan sebatang pohon yang tumbang matanya menatap kosong pada bangunan sekolah


Anak anak yang berada tak jauh darinya seakan acuh pada anak perempuan itu dan mengabaikannya,tidak ada satupun dari anak anak yang bermain mau menyapa ataupun mengajaknya ikut bermain.


Dari kejauhan Hanif menatap anak perempuan yang termenung itu namun ia tidak ingin mencari tau apa yang terjadi dengan anak itu mengapa ia diabaikan oleh teman temannya dan seakan terasing, Hanif pun mengabaikannya dan berlalu pergi untuk kembali kekantor menunggu jam kedua pelajaran dimulai.


Sari melihat tingkah Hanif paham apa yang ada difikiran suaminya dan ia pun paham dengan apa yang Hanif lihat saat ini.

__ADS_1


__ADS_2