
PAMALI>>>MENYINGKAP TABIR BERAKHIR
Warga keluar dari kamar ustadz Ghifari dengan tangan kosong sementara amang iwan masih kebingungan dengan kemana perginya kertas itu "Wan"ucap kai Burhan
Amang iwan perlahan mendekat pada kai Burhan "Kuberi satu kali kesempatan akui semua kesalahan ikam (kamu) dan minta maaf ke ustadz ghifari "ucap Kai burhan "Hargai dia sebagai tamu kita, hormati dia sebagai guru anak anak kita dikampung ini"sambung kai Burhan
Namun amang iwan merasa tidak terima jika harus mengaku kalah "Ini pasti ustadz sudah menyembunyikan semua buktinya, makanya kami tidak bisa menemukannya disini"Amang iwan tetap kekeh pada pendiriannya menuduh ustadz Ghifari
Kai akhirnya tidak bisa lagi diam saja "Bukti yang mana yang ikam (kamu) maksud, bukti ini? "kai Burhan akhirnya membuka kartu amang iwan,ia menunjukkan kertas yang bertuliskan mantra itu
Amang iwan terkejut mulutnya seakan tercekat "ini bukti yang ikam (kamu) maksud, bukti yang sengaja ikam (kamu) taruh dilemari ustadz Ghifari tadi malam"jelas kai lagi
Ustadz Ghifari akhirnya buku mulut juga setelah diam sedari tadi "saya liat amang iwan masuk kekamar saya tadi malam dan meletakkan itu dilemari"ustadz Ghifari diam sejenak lalu melanjutkkan bicaranya lagi "Saya minta maaf mang, mungkin saya sudah berbuat salah dan melukai perasaan amang Iwan secara sengaja atau pun tidak, tapi saya benar benar tidak mengerti apa yang membuat amang iwan bisa berbuat seperti ini hingga memfitnah saya"semua terdiam termasuk amang iwan sendiri
Tapi bukannya merasa bersalah amang iwan justru membuat kesimpulan lain "Ternyata kai bersekongkol dengan ustadz tukang pelet ini"ucapnya geram
warga yang lain terkejut tak menyangka amang iwan berkata seperti itu
"Astaghfirullah "ucap Hanif "Istighfar mang, jangan asal tuduh saya saksinya kalau ustadz ghifari tidak seperti yang dituduhkan"jawab Hanif geram
"itu buktinya kai ternyata yang menyimpan mantra peletnya"ucap Amang iwan
Hanif yang geram langsung memukul amang iwan dengan sangat keras hingga membuat amang iwan jatuh tersungkur dilantai.
__ADS_1
Perhatian amang iwan teralihkan saat suara teriakan terdengar dirumahnya, ia bergegas lari "urusan kita belum selesai mang"ucap Hanif yang sigap mengejar amang iwan begitupun denga kai dan ustadz Ghifari serta warga seketika ikut mengejar takut jika Hanif berbuat diluar kendali.
sesampainya dirumah Amang iwan membuka pintu dan segera menutupnya kembali tanpa memperdulikan Hanif yang mengejarnya "Buka mang, Buka"teriak Hanif saat amang iwan kembali mengunci pintu rumah nya.
Didalam rumah tepatnya dikamar Ria, Eva tengah dicekik makhluk yang menyerupai Ria tanpa ampun "Di,,, a"Eva berusaha berbicara namun ia kesulitan
"Perempuan gila berani kau masuk kerumah ku"Amang iwan geram ia pergi kedapur mengambil sebilah pisau namun belum sempat ia kembali kekamar Ria pintu sudah Hanif dobrak hingga terbuka lebar,
"Orang orang sialan"gumamnya dengan pisau ditangan ia mendekati Hanif pergulatanpun tak bisa dielakkan, Amang iwan berusahan menusuk Hanif dengan pisau ditangannya sementara Hanif dan ustadz Ghifari berusaha sekuat tenaga untuk menghalaunya.
"kenapa kalian diam saja, tolong Hanif dan pak ustadz "Titah kai Burhan yang melihat Hanif kewalahan, Dibantu dengan Warga dan ustadz Ghifari akhirnya pisau yang ada ditangan amang iwan berhasil dibuang pria itu pun langsung disergap agar tidak melakukan hal yang berbahaya.
Ustadaz Ghifari masuk kerumah disebuah kamar ia melihat Eva yang masih tergantung didinding, ia tak henti membaca doa doa makhkuk yang menyerupai Ria tadi sudah sama sama merasakan sakit sebagian tubuhnya seakan terbakar namun ia tak menyerah tangannya tetap mencekik Eva , ustadz Ghifari mendekat sambil melantunkan surah surah alqur'an memohon pertolongan dari sang maha pemilik hidup hingga akhirnya makhluk itu hilang jua, lenyap tak berbekas.
Eva jatuh kelantai dan terbatuk "Kamu tidak apa apa? "tanya ustadz Ghifari, Eva tidak bisa menjawab yang bisa ia lakukan hanyalah menunjuk Ria yang terbaring ditempat tidur
"Ada apa ustadz? "tanya Hanif
"Anak amang iwan"lirih Eva sambil menunjuk Ria "Tolong"sambungnya lagi,rasanya ia belum bisa berbicara dengan baik lehernya masih terasa sakit
Hanif dan ustadz Ghifari mendekati Ria sementara kai membantu Eva untuk bangkit dan juga ikut menghampiri Ria "Bagaimana?"tanya kai Burhan pada Hanif dan ustadz Ghifari
Hanif memeriksa nadinya dan menggelang saat kai Burhan bertanya "Innalillahiwainnalillahirojiun"ucap mereka serentak
__ADS_1
Eva perlahan mendekat lalu menutup tubuh Ria dengan kain yang ada didekatnya "Ibunya juga sudah meninggal "ucap Eva
semua nampak syok "dimana jasadnya? "tanya Hanif
Eva menggeleng "saya tidak tau, tapi sepertinya masih ada dirumah ini"jawabnya
"Ayo kita cari"ucap ustadz Ghifari
sebelum mencari jasad istri amang iwan, Hanif lebih dulu menghampiri warga yang tengah menjaga amang iwan "mang, tolong panggil warga lain untuk berkumpul disini dan satu orang untuk menghubungi polisi"pinta nya
satu warga pun berlari keluar memanggil warga lainnya dan menghubungi polisi segera mungkin.
dengan cepat berita tersiar satu kampung dan mengundang warga berkerumun dirumah amang iwan, Hanif dan ustadz Ghifari akhirnya menemukan jasad istri amang iwan yang diawetkan menggunakan garam didalam tong wadah air namun mereka tidak bisa melakukan apapun hingga polisi datang ke TKP.
Keempatnya terduduk diteras rumah amang anwar melihat polisi yang lalu lalang masuk kerumah pertama yang dibawa keluar amang iwan dengan tangan yang diborgol, yang kedua jasad Ria yang masih terbungkus kain tadi serta yang terakhir jasad istri amang iwan dibawa dengan kantong jenazah,warga yang melihat seakan tak percaya ini terjadi dikampung mereka
"kai kira, Ria dan mamanya (ibu nya) mengungsi ditempat keluarga diluar kampung ini ternyata mereka meregang nyawa dirumahnya sendiri, Astaghfirullah "lirih kai Burhan penuh sesal
menyayangkan ini bisa terjadi dan baru saja terbongkar setelah sekian lama.
"Semua ada hikmahnya "lirih ustadz Ghifari menenangkan dirinya
ia pun tidak menyangka nasib buruk yang dialami Ria,bahkan ia sempat berburuk sangka pada putri amang iwan itu padahal Ria pun juga korban dari kejadian ini dan bahkan lebih parah Ria harus kehilangan nyawanya ditangan ayahnya sendiri.
__ADS_1
sosok Ria dan ibunya samar samar terlihat didepan rumah bersama orang orang yang masih banyak berkumpul, Eva menatap dua sosok tak kasat mata yang melambaikan tangan padanya
senyum tipis Eva sunggingkan pada dua sosok itu "Tenanglah dialam sana"batinya berucap tidak ada yang mendengar hanya dua sosok itu yang dapat mendengarnya.