
Eva berdiri menyapu air matanya merapikan bajunya ia kembali menatap sosok kecil yang sedari tadi menemaninya "Aku akan membantumu" ucap Eva mantap
Ia mengepalkan tangan diudara "Bismillah" ucap Eva sebelum melangkah keluar kamarnya
Perlahan Eva menuruni tangga dari lantai atas tempat kamarnya berada, keluarga masih berkumpul diruang tengah
Semua mata tertuju pada Eva yang menuruni tangga wajahnya terlihat sembab matanya masih terlihat Merah.
"Kenapa Va ? "
"Iya ada apa va, kamu istirahat aja kalau masih capek"
Eva tak menghiraukan kicauan dari para paman dan bibinya "Eva mau bicara " ucapnya yang masih berdiri dibawah anak tangga
"Bicara apa va? " tanya sang paman
"Eva akan kembali kekalimantan jadi jangan lagi bertengkar karena Eva" ucap Eva mantap
lalu ia menatap kesembarang arah tempat yang kosong "Yah, Eva baik- baik aja jadi jangan khawatir lagi istirahatlah dengan tenang"Timpal Eva
Ia kembali melangkah keanak tangga meninggalkan semua orang yang terdiam,saat Eva tak terlihat lagi semua mata menuju arah tatapan Eva tadi yang masih terlihat kosong tak ada siapapun disana.
__ADS_1
Semua yang ada diruangan itu menangis tersedu sedu menumpahkan rasa bersalah dihati mereka.
...****************...
Eva pov
Aku bersandar didinding berkali kali aku menyapu air mata yang berhasil menerobos keluar tanpa henti
Ada rasa bersalah dihatiku mendengar tangisan mereka karena telah membohongi paman dan bibi tapi aku juga merasa kecewa dengan perlakuan mereka yang memandangku rendah.
Malam tiba acara tahlilan sudah berlangsung dengan hikmat aku masih tak bisa beranjak dari kamarku kesedihan masih menyelimutiku kini aku seorang diri didunia yang kejam ini,
Aku terisak menumpahkan kesedihanku seorang diri dikamar kesayanganku.
...****************...
Hari terus berjalan 7 hari setelah ayah pergi yang mendadak karena serangan jantung kini aku ditinggal seorang diri dirumah kami,baru saja saudara saudara ayah dan keluarganya kembali pulang kerumah merek masing masing, ku bersandar pada pintu yang baru saja kututup setelah keluargaku pergi.
Niatku untuk kembali kerumah kai Burhan masih mantap tanpa bisa ditawar lagi meski ada sedikit kekhawatiran mengingat kejadian terakhir kali sebelum aku meninggalakan desa yang membuatku koma hingga sebulan lebih lamanya.
"Tidak, hidup harus terus berjalan aku harus bisa melawan rasa takut pada mereka" gumamku seorang diri
__ADS_1
"Setidaknya disana ada Hanif yang bisa membantuku, ada sari ,nini siti dan kai Burhan yang bisa memahami keadaanku saat ini" timpalku lagi
"kamu akan segera kembali" ucap sosok anak kecil yang selalu datang tak dijemput pulang tak diantar itu padaku membuatku terperanjat kaget
Kudekap dadaku erat erat agar jantungku tak loncat keluar "Sejak kapan kamu disitu ?" tanyaku pada makhluk halus yang duduk santai diatas sofa ruang tamu
Kuayunkan langkah mendekat padanya "Sejak tadi " jawabnya
"Benarkah ?"
Ia pun mengangguk "iya" ucapnya
"Iya aku akan kembali kekalimantan lagi"
"Apa Kamu akan segera membantuku ?" tanyanya riang khas anak kecil
"Iya aku akan membantumu, tapi janji jangan lagi muncul tiba tiba ya, sekarang aku tinggal sendiri kalau sampai aku serangan jantung tidak ada yang menolongku"ucapku
Ah kalau bicara penyakit dengan julukan silent killer itu membuatku teringat kembali dengan ayah, sungguh berat hidup yang ia lalui selama ini setelah kepergian mama hingga membuatnya tak lagi memperhatikan kesehatannya.
Tak terasa air mataku kembali berjatuhan, memang rindu yang paling berat itu ialah rindu pada yang sudah tiada karena sebesar apa pun rasa rindu kita tak akan bisa terobati.
__ADS_1