
Setelah 100 hari kepergian ayah akhirnya akupun bersiap untuk kembali kerumah kai Burhan lagi dikalimantan,harap harap cemas dihatiku menemani perjalanan yang panjang ini.
Sesampainya dibandara kota kecil ini pun aku disambut oleh Iman yang sudah menungguku ditempat pertama kami bertemu.
Wajahku mengukir senyum saat melihat tubuh mungil pucat itu duduk disebuah kursi, aku pun menghampirinya dengan senatural mungkin agar tak ada yang menatapku aneh
Kurogoh ponselku yang ada disaku dan kuletakkan dikuping "kemana kita selanjutnya? " ucapku sambil menatap Iman dengan ponsel yang masih menempel ditelingaku
Kulihat Iman tersenyum "Ikuti aku " ucapnya lalu menghilang dari pandanganku
Aku pun memasukkan kembali ponsel kedalam saku lalu menyaut koperku dan menyeretnya keluar bandara.
Aku memanggil taksi untuk mengantar mencari orang tuan Iman berada, aku mengarahkan supir taksi mengikuti arahan yang diberikan Iman yang duduk disampingku.
Tak butuh waktu lama untuk sampai ditempat yang Iman maksud, sebidang tanah lapang gambut yang sedikit berair hanya ditumbuhi tanaman liar dan sebuah rumah pondok reot ditengah tengahnya.
"Yakin ding tujuanya disini " tanya si bapak supir yang terlihat tak percaya ini betul tempat tujuan ku
Aku menatap Iman sebentar ia mengangguk pasti padaku "Iya pak betul disini " jawab ku yakin
"Ading ini siapanya amang yadi? " tanyanta lagi
__ADS_1
"Yadi? "
"Iya, yang tinggal disini namanya amang Yadi tapi setau saya dia itu tidak waras dan tidak punya keluarga semua anggota keluarganya meninggal setelah sakit G*la seperti amang yadi itu"
"Maksudnya mang? "
Bapak supir itu pun berbicara pelan padaku hampir bebisik takut ada yang mendengar pembicaraan kami "Kata orang orang sini dulu kainya ketauan menumbalkan keponakannya dibangunan bandara jadi semua keluarganya jadi g*la lalu meninggal dengan mengenaskan "
Aku yang penasaran berusaha mencari informasi lebih detail walau kulihat wajah iman terlihat sedih " kenapa bisa seperti itu pak? " tanyaku
"Katanya sih ponakannya itu jadi arwah penasaran lalu mengganggu mereka satu persatu sampai mereka g*la dan m*ti dengan sendirinya atau dengan bunuh diri" jelasnya
"Gak mungkin pak, masa Iman yang bikin begitu " jawabku sedikit kesal
Aku gelagapan saat tak sengaja menyebut nama Iman "emm tadi saya dengar orang cerita"
"ooo begitu, kamu yakin singgah disini "
"Iya pak, tapi saya cuma ada perlu sebentar bisakan bapak tunggu saya disini "
"memang ading ini ada urusan apa dengan amang yadi? "
__ADS_1
"Ada lah pak, rahasia " ucapku sambil keluar dari mobil
Iman sudah berdiri dipinggir jalan menatap pondok reot itu dalam diam.
Aku menghampiri Iman lalu ikut berdiri disampingnya menatap bangunan reot ditengah tanah gambut yang lapang
"Kalau mau kesana lewat titian itu ding " ucap pak supir padaku
Aku hanya mengangguk sambil menoleh padanya yang tak mau ikut turun dari mobil
Aku melihat sekilas pada Iman lalu melangkah menuju titian yang dibuat dari kayu batang pohon berukuran tanggung yang diikat sedimikan rupa.
Perlahan aku melangkah mendekat, hingga kedepan pintu pondok tak ada suara dari dalam sana hening hanya itu yang kurasakan.
"Assalamualaikum " pekikku namun tak ada jawaban hingga berkali kali aku menucapkan salam tak ada jawaban dari dalam
Kuulurkan tanganku mendorong pelan pintu yang ternyata tak berkunci
Kkkreeeeettt
Suara pintu terbuka saat kudorong dan terbuka yang langsung menampilkan dalam rumah sangat sederhana tak ada barang yang berarti didalamnya hanya sebuah bangunan tanpa ruangan dan perabotan bahkan tak ada alas untuk tidur.
__ADS_1
Seorang pria dewasa duduk meringkuk dipojokkan sambil memeluk lututnya tatapan tertuju padaku mulut nya seperti mengucap sesuatu namun tak dapat kudengar.