PAMALI

PAMALI
Perjalanan pulang


__ADS_3

Flashback


Hanif pov


kami bertiga masih menyusuri jalanan desa yang seperti tak berpenghuni itu.


"Bisakah kita berhenti " pinta Iksan


Sepertinya dia sangat kelelahan wajahnya terlihat sangat pucat, keringat bercucuran seluruh tubuh ya begitupun dengan aku dan Eva


"Iya, ayo kita pinjam pelataran rumah warga untuk istirahat sebentar" ucap Eva


Kami pun berjalan menuju salah satu rumah warga yang terlihat lebih gelap dari yang lainnya


Berharap tak ada penghuninya agar tak mengganggu.


Perlahan kami naik dan merebahkan tubuh masing masing saat mencapai pelataran rumah yang terlihat sudah tua itu.


"astagfirullah " ucapku tak henti juga disambung oleh Iksan dan Eva


Kami duduk melingkar saat dirasa tubuh sudah bertenaga.


"Apa selanjutnya rencana kita" tanyaku


"kita tunggu pagi saja dulu baru kita lanjut perjalanan" jawab Eva


"Betul, kalau harus berjalan lagi malam ini aku tidak sanggup lagi"sahut Iksan


"oke lebih baik kita istirahat disini malam ini"


>>>


Selesai berbincang kami bertiga hendak merebahkan tubuh kelantai papan itu namun tak sempat kami berbaring pintu rumah terbuka.


Kami saling pandang saat seorang keluar dari rumah.


"Ada tamu " ucap nenek tua pemilik rumah


"Assalamualaikum " ucap kami bersaaman sambil berdiri


"iya, cucu ini darimana "


"Kami tersesat ni "jawab Eva

__ADS_1


"Orang daerah sini "tanyanya lagi


"Iya" jawab kami bersamaan


"Silahkan masuk"


Kami bertiga saling dorong setelah nini itu masuk kerumahnya.


"Iksan aja" ucap ku


"Gak, kamu aja duluan kamukan orang sini asli" bantah Iksan


"gak apa apa kamu duluan aja" pintaku


"Eva aja" ucap Iksan


"kaliankan cowo "


"Tapikan biasanya ladies firts"timpal Iksan


"Gak, Hanif aja" tolak Eva


Aku pun akhirnya menyerah tak mau terlalu lama berdebat


Rumah berlantai papan itu terlihat sangat rapi, saat kami masuk diruang tamu tak ada pekakas apapun ruangan terlihat kosong hanya tikar purun yang terampar dilantai


"Kenapa masih berdiri " tanya nini mengagetkan kami "silahkan duduk"


Nini yang baru datang dari dalam membawa air dengan ceret dan gelas jadul


Kami bertiga saling pandang entah fikiran mereka sama atau tidak denganku yang bertanya tanya kenapa dijaman sekarang masih memakai peralatan jaman dulu


apa karena nini sudah tua jadi tak ada yang membelikan peralatan baru untuknya


"Perkenalkan ni saya-" ucapanku terhenti saat nini mengangkat tangannya


"Jangan sebut namamu pada warga desa ini kalau mau selamat" ancam nini wajahnya sangat serius


"Nini tinggal sendiri? " tanya Eva mencairkan ketegangan


"iya sendiri saja, cucu ini dari mana? " tanyanya kembali ramah


"Dari Desa harapan"

__ADS_1


"ini Desa harapan " ucap nini


Kami kembali saling pandang bingung hendak bicara apa lagi.


"Cucu ini sangat cantik " ucap nini sambil mejangkau wajah Eva


"Terimakasih ni" ucap Eva


"Apa ini buyutnya Dulah? "


Eva hanya diam tak dapat menjawab entah benar atau dia tak tau siapa Dulah itu


"Siapa Dulah itu ni " tanya ku memberanikan diri


"Dulah itu Cucu orang yang membangun desa ini "


"saya tidak tau siapa Dulah itu ni, tapi saya punya kai namanya Burhan dan Firman"


"Nah itu, Firman dukun itu dia menantunya Dulah" jelas nini


"Dukun " ucap kami kompak


"kita ini hidup berdampingan didesa harapan nama yang diberikan datu mu dulu untuk desa ini, tapi ada makhluk disini yang suka dan ditolong oleh datu mu dulu bersedia menjadi penjaganya dan keturunannya, hingga saat Dulah meninggal sudah banyak yang dikembalikan kesini walau masih banyak yang tetap mau jadi penjaga Firman menantu Dulah yang justru berbuat untuk kepentingannya sendiri memanfaatkan mereka"


"Maksudnya " tanya Iksan tak paham


"ini desa gaib " bisik ku pada Iksan agar dia diam


"Kalian ini sengaja ditarik kesini, pasti ulah peliharaan Firman" jelas nini


"Bagaimana kami bisa pulang ni " tanya Eva


" Nini akan antar kalian keperbatasan,tapi ingat disini ada juga yang bukan dari bangsa kami mereka dari bangsa kalian yang banyak ilmu menetap disini datu datu cucu cantik ini, jadi kalian harus berhati hati "


Kami tak berani bertanya lagi melihat wajah nini kembali serius dan mengerikan menurutku.


Kami berdiri bersamaan,nini kembali kedapur begitupun kami bertiga kembali keteras rumah menunggu nini yang akan mengantar kami


Nini terlihat keluar membawa colok (obor) yang langsung berjalan memimpin kami.


Kami berempat berjalan dalam diam tak ada yang berani berbicara,


kami melewati satu persatu rumah warga desa yang terlihat sangat sepi, kulihat keatas langit gelap tak ada bintang satu pun.

__ADS_1


__ADS_2