
Flashback
Hanif pov
Kami berjalan keluar desa menuju hutan rimbun penuh pohon raksasa berdiri gagah tak tergoyahkan
Aku dan iksan berjalan dibelakang Eva, nini memimpin kami bertiga sesekali nini menengok kebelakang agar kami tak ketinggalan olehnya
Meski sudah tua dia masih sangat bugar, apa karena bukan manusia makanya dia tetap sehat diusia senjannya
kami sampai disebuah pohon raksasa lebih besar dari yang lainnya akarnya saja lebih besar dari tubuh kami bertiga
"Sudah sampai, tapi buyut dulah jangan keluar" ucap nini
Kami kebingungan kenapa Eva tidak ikut kami kembali
"Tubuh mu ada yang mengisinya, jika kamu keluar dari batas ini kamu akan mati " ucap nini menatap Eva
"Lalu bagaimana agar dia bisa pulang ni " tanyaku khawatir
"kosongkan tubuhnya maka dia akan kembali"
Aku dan iksan saling pandang bagaimana bisa kami meninggalkan Eva sendiri disini
"Tidak , biar kamu yang pulang dulu biar aku dan dia tinggal " ucap Iksan pada ku
"Jangan kalian harus segera pulang, disini kampung leluhurnya mereka tidak akan berbuat jahat pada keturunannya"
"Tapi-" ucapan Iksan tak dilanjutkan saat Eva memegang tangnnya
"Tidak, kalian harus pulang, aku akan tunggu kalian disini" ucap Eva meyakinkkan kami
"Iya,kita harus membantu Eva kembali ketubuhnya hanya kita yang tau dia disini" timpalku terpaksa agar Iksan menurut saja
__ADS_1
"Jalanlah nanti akan ada gerbang desa jika kalian melawatinya roh kalian akan kembali ketubuh semula, tapi ingat jangan lupa bantu cucu ini kembali"
kami berdua mengayunkan langkah dengan berat hati meninggalkan Eva sendiri berkali kali kami berdua menengok kebelakang melihat Eva.
"Apa ini keputusan yang benar " Tanya Iksan padaku
"Bismillah" ucapku tanpa menjawab pertanyaan Iksan
perjalanan terasa melelahkan apa lagi Iksan tak selalu berjalan sendiri sesekali aku harus membantunya agar tak membuang waktu dengan banyak istirahat.
Saat kami keluar dari hutan terlihat jalan setapak ditengah tanah lapang berwarna merah
Kami tersenyum lega karena bisa kembali pulang.
"Ayo, kita harus segera pulang agar bisa membantu Eva"
Kami berdua berlari kecil agar segera sampai namun tak kami sadari semakin kami berlari semakin jauh juga gerbang itu.
Iksan sangat kelelahan hingga jatuh tersungkur tak mampu lagi berdiri menopang tubuhnya
"Kamu pulang saja sendiri" ucapnya lemah
"Tidak, kita akan pulang bersama"
"Biar aku kembali pada Eva saja" pinta Iksan
"Jangan, kehutan dan kegerbang itu sama jauhnya mungkin kamu tidak akan sampai pada Eva "
"Tapi kamu bisa lihat kita seperti jalan ditempat gerbang itu semakin jauh, liat"
"Jangan putus asa kita pasti bisa"
aku kembali berdiri menopang tubuh Iksan, meski sebenarnya tubuhku pun sebenarnya sangat lelah tapi aku memikirkan Eva jika kami tidak bisa pulang begitupun Eva dia tidak akan bisa keluar dari desa ini juga.
__ADS_1
"orang daerah sini"
Entah apa yang membuatku mengingat kembali pertanyaan nini itu sepertinya ada sesuatu yang tersembunyi dari pertanyaan itu.
"Kamu kenapa? " tanya Iksan melihatku tak fokus pada jalan kami berdua
"kamu ingat apa yang ditanyakan nini itu pada kita "
"apa, aku sudah lupa"
"dia bertanya apa kita orang daerah sini"
"Memang kenapa? "
"Dia bertanya seperti itu lalu menyuruh kita masuk,apa mungkin jika kita bukan dari desa ini dia tidak akan membantu kita? "
"Daerah sini?, berarti maksudnya orang desa sini? "
"iya, apa kita harus-"
"Harus apa? " tanya Iksan penasaran
"kamu ikuti aku " titah ku pada Iksan
"kami penduduk desa harapan jangan ganggu kami,bantu kami" ucapku
Iksan juga ikut mengulangi kata kata yang kuucapkan sambil berjalan kearah gerbang
Betul saja gerbang itu tak lagi menjauh semakin kami berjalan semakin dekat pula gerbang itu
Hingga terlihat olehku sesosok bertubuh tinggi sekali rambutnya putih berpakaian serba putih berdiri disamping gerbang
Matanya tak menatap kami seperti melihat kedalam hutan tak memperdulikan kamu yang berjalan melawati gerbang desa yang dijaganya.
__ADS_1