
Ku menangis sejadi jadinya didalam kamar rasa tak percaya dengan apa yang kulihat rasa iba bergelayutan dihatiku bahkan terasa seperti rasa bersalah pada anak kecil itu
Betapa sedihnya hidupnya namukn aku mengabaikannya hingga setahun lamanya
kurasa kan sosok itu kembali lagi kekamarku setelah entah pergi kemana tadi "Siapa namamu ?" tanyayaku
"Iman" jawabnya
Tangan dinginnya menyentuh pindakku "Tolong aku" ucapnya lagi
Kusapu airmataku ku paling kan wajah menatap wajah pucat disampingku "Apa yang bisa kulalukan untuk menolongmu"
"sampaikan aku sudah memaafkannya"
"kepada siapa? "
"pada orang tua ku"
Kutautkan alis tak paham kemana aku harus mencari orang tuanya
...****************...
Hari semakin malam sudah seminggu setelah Iman meminta tolong padaku tapi hingga saat ini aku belum bisa menolongnya.
__ADS_1
tok tok tok
Pintu kamar ku diketuk,kutatap dalam dalam knop pintu yang perlahan terputar pintu kamar didorong dari luar pelan
"Ayah" ucapku menatap lelaki hebatku yang tersenyum lebar diambang pintu
wajah ayah terlihat pucat tak seperti biasanya matanya juga terlihat sendu "Ada apa yah " tanyaku
Ayah seakan mengabaikanku ia hanya tersenyum padaku tanpa sepatah kata pun terlontar dari mulutnya
"Yah " sapa kulagi merasa heran melihat ayah yang berbeda dari biasanya
Ayah perlahan berjalan mendekatiku senyumnya masih terukir diwajah,ia mengulurkan tangan membelai lembut rambutku kugenggam tangan Ayah yang masih berada dikepalaku
Aku pun begitu,mataku juga berkaca kaca mendengar ucapan ayah "Eva juga yah" jawab ku perlahan buliran bening jatuh dari pelupuk mataku
"Tapi nanti tidak rindu lagi" ucap ayah
Tok tok tok
kembali pintu diketuk kutatap pintu dalam dalam knop pintu perlahan terputar dan pintu terbuka menampilkan Ayah yang berdiri diambang pintu dengan tersenyum padaku seakan Dejavu.
"Ayah " lirihku
__ADS_1
Ayah mendekat "Kamu kenapa menangis Va? " tanya ayah heran "Kepala kamu pusing? " timpanya lagi sambil menatap tanganku yang masih menepel dikepala
Aku hanya mampu menggeleng tanpa bisa berucap "Apa aku mimpi" batinku "Tapi aku kan belum tidur"
"Kok dari tadi ayah ketuk pintu gak ada jawaban? " tanya ayah
"Maaf yah Eva-"
"Dah gak usah dibahas, ayah cuma mau liat kamu aja, Ayah kembali kekamar dulu kamu jangan malam malam ya tidurnya"
Aku hanya mengangguk menatap nanar pada ayah yang mengayunkan langkahnya keluar kamarku menutup pelan pintu kamar sebelum pintu tertutup rapat Ayah kembali menatapku dicelah pintu ia kembali tersenyum "selamat tidur" ucapnya namun tak bersuara hanya dapat kubaca dari gerak bibirnya
Hari semakin larut,aku tak bisa memejamkan mata kejadian tadi diluar nalarku bahkan aku tak bisa mengatakan jika ini nyata atau hanya mimpi
Hatiku terasa gelisah berkali kali aku merubah posisi agar terasa nyaman namun itu sia sia
Mataku tak sedikitpun terasa mengantuk, aku bangkit dari tidur mengayunkan langkah kekamar mandi kuputuskan mengambil wudhu dan melaksanakan sholat malam agar hatiku merasa lebih baik.
Selesai sholat kupanjatkan doa pada sang pemilik dunia memohon perlindungan dan keselamatan dunia akhirat untukku dan kedua orang tuaku.
Kurasakan fikiranku terasa lebih tenang dan hatiku terasa lebih nyaman kembali kurebahkan tubuh kekasur
Namun masih saja mata tak bisa terpejam, mataku hanya menatap langit langit kamar dengan fikiran melayang entah kemana
__ADS_1
Perlahan kenangan tentang Hanif muncul difikiranku hatiku berdesir,kembali tersirat rasa rindu padanya terbayang dipelupuk mataku akan senyum nya.