
"Ah sial, kenapa aku jadi memperhatikan tahanan sialan itu??"
"Hei nona, apa kau sedang mengagumimu??" tanya pria itu dengan senyum genit
"Dasar gila" umpat Kezia langsung berbalik arah, ia merasa wajahnya memerah karena malu
Kezia memakai dirinya sendiri yang ketangkap sedang memperhatikan pria itu
"Kezia, Kezia..
kejombloan loe bikin loe enggak waras" gerutu Kezia lirih pada dirinya sendiri
"Siapa yang enggak waras????" tanya Meisya yang berjalan mendekati Kezia
"Ah bukan siapa-siapa.
itu tahanan yang enggak waras"
"Owh Simon??" ucap Meisya lalu duduk dia sebuah sofa yang memang terdapat di sana
"Simon???"
"iya Simon.
pria itu namanya Simon.
jangan bilang loe naksir dia???" ucap Meisya membuat Kezia tersendak saliva nya sendiri
"Sial loe, kalau nuduh yng bener dong, masa iya gue suka sama musuh???
Gila aja" ucap Kezia menutupi kegugupannya.
ia kembali terbayang wajah dan tubuh menawan pria itu, tina-tiba wajahnya merona merah
"Loe demam???" tanya Meisya yang melihat perubahan air muka Kezia
"Enggak, cuma..
cuma panas, AC nya enggak kerasa" ucap Kezia beralibi
"Perasaan AC nya pas aja, loe lagi enggak what kali Zia" ucap Meisya bingung
"Iya kali, gue mau buat minum, loe mau enggak??" tanya Kezia mengalihkan Pembicaraan
"boleh, lemon tea ya, pake gula diet" ucap Meisya yang memang selalu memperhatikan asupan makanan yang masuk dalam tubuhnya, oleh karena itu Meisya memiliki tubuh langsing, dan kulit yang mulusss.
bahkan lalat nemplok pun akan kepleset.
Kezia kadang iri, walau ia juga langsing, tetap saja ia kalah jauh.
",Baik Bu dokter* ucap Kezia lalu berjalan menuju pantry, kali ini ia memilih naik lift.
Sementara itu Meisya sudah berjalan menuju sel tahanan Simon dengan sebuah jarum suntik.
"Hei nona cantik, apa yang kau bawa???
awww takut" ucapnya dengan wajah di buat ketakutan membuat Meisya mendengus.
sudah seminggu pria itu di tahan, tapi mereka hanya mendapatkan sedikit informasi.
kali ini Meisya ingin menyuntikkan obat anti bohong racikan nya yang membuat siapapun yang dalam pengaruh obat ini tidak kan bisa bohon.
jika berbohong, dadanya akan terasa sakit
"Aku ingin kerjasama mu Simon, kah katakan kau tak tahu menahu.
jadi...."
__ADS_1
"Silahkan nona manis.
aku bahkan rela kau jadikan kelinci percobaan" ucap Simon ambigu.
tanpa menunggu dua kali, Meisya dengan gerakan cepat langsung menancapkan jarum suntik membuat Simon melotot dan tahu-tahu Meisya sudah selesai
"Astaga, kenapa kau langsung menyuntik ku.
aku juga ingin tahu obat apa yang kau berikan padaku.
setidaknya aku ingin tahu obat apa sebelum aku mati" ucap Simon menempelkan wajahnya ke jeruji besi dan memasang wajah teraniaya
ingin sekali Meisya menyuntik pria itu dengan racun.ia selalu frustasi menghadapi Simon.
benar kata Kezia , Simon pria aneh.
Simon lalu di bawa kesebuah ruangan khusus interogasi
namun karena sejak ditahan Simon tak menunjukkan perlawanan malah terlihat santai sekali, Meisya tak memborgolnya.
Lagi pula jika Simon main-main, Meisya dengan mudah bisa mengalahkan pria itu dan membekuknya hingga tak berkutik.
"Kau ahli ramuan???
hebat. aku hanya berfikir kau ahli beladiri
ternyata kau wanita Mukti talenta" ucap Simon tak menyembunyikan kekagumannya
"Apa ku masalah??"
"Tidak, aku malah tersanjung" ucap Simon dengan senyum kecil menghias wajahnya.
"apa ketika kau di bawa kesini kau mengalami gegar otak atau terbentur sesuatu???" tanya Meisya penuh selidik
"Hei, aku sehat dan tidak terluka apalagi amnesia.
"Aku tak percaya, jika penjahat semua mengaku..."
"Iya, iya kalau semua penjahat mengaku, penjara penuh, aku tahu"ucap Simon memotong ucapan Meisya
Obatnya akan bereaksi dalam lima menit dari sekarang.
jadi duduk manis lah dan jawab semua.
jika kau terbukti tak terlibat, kamu akan melepaskan mu
tetapi tentu kamu perlu menghapus memori mu sedikit"
"Ah baguslah, tubuhku sudah sakit semua harus tidur di kasur kecil itu
tidak baikan kau berikan aku kasur lebih besar, aku pria besar bukan kerdil" ucap Simon menggerutu.
ya tubuh Simon tinggi besar, mungkin lebih tinggi dari Rey dan wajahnya sangat tampan dengan bola mata berwarna hijau. tapi anehnya bahasa Indonesia pria itu sangat amat lancar.
Lima menit kemudian Simon sudah tak sadarkan diri, kedua matanya menutup rapat seperti orang tertidur
"Siapa nama lengkap mu?"
"Simon wong" ucap Simon, memang sejak awal i mengaku bernama Simon wong. anehnya Charlie tak mengenal pria muda itu.
membuat semua orang bingung tentang jati diri sebenarnya dari Simon Wong.
"Apa hubunganmu dengan keluarga wong?"
"Aku anak Sena wong dan Chandra wong" ucap Simon terlihat menitikkan air mata
"Bagaimana bisa??" gumam Meisya lirih.
__ADS_1
"Dia, dia anak wanita ular itu??" bisik Kezia yang sudah datang membawa dua gelas minuman untuk dirinya dan juga Meisya.
meja meletakkan jari telunjuknya di depan mulut tanda meminta Kezia untuk diam.
"Wanita tua itu ...
jika aku bisa memilih dilahirkan, aku tak ingin menjadi anaknya" ucap Simon.
sebulir air mata lolos dari kelopak matanya yang tertutup.
"Mengapa??" tanya Kezia buka suara yang membuat Meisya melotot
"karena aku anak yang tidak pernah diinginkan lahir di dunia ini. wanita itu memperlakukanku seperti benda.
ya tak pernah menyayangiku.
bahkan sejak aku lahir aku sudah berpisah jauh dari wanita itu. dia meninggalkanku jauh di negara orang sendirian tanpa sanak keluarga hanya ditemani oleh seorang pengasuh" ucap Simon dengan suara tercekat.
entah mengapa Kezia jadi merasa iba.
ya iya iba, ternyata pria yang kelihatannya ceria ternyata menyimpan kesedihan teramat dalam.
"Lalu bagaimana dengan Candra Wong???" lagi-lagi Kezia penasaran dan bertanya.
Meisya hanya bisa menghela nafas sambil memperhatikan reaksi Simon
sejauh ini pria tampan itu mengatakan sebuah kejujuran.
"dibanding dengan xenawong papa lebih hangat Dia pria yang baik hanya saja dia tidak menunjukkan sisi hangatnya. namun papa sering mengunjungiku walau tidak rutin. setidaknya itu ku artikan sebagai bentuk dari rasa sayangnya padaku"
"mengapa kau berada di markas tersebut Apa yang kau lakukan????"
"aku hanya membantu.
membantu wanita tua itu.
dia mengatakan akan menerimaku dan mengumumkanku sebagai putra kandungnya jika aku menuruti semua keinginannya termasuk memprogram keamanan gedung tua tersebut"
"apa sebuah pengakuan penting untukmu???" timpal Kezia
"bagiku ya. seorang anak yang disembunyikan selama .25 tahun tanpa tahu dunia luar dan tanpa dikenal siapapun. Aku hanya ingin mendapat pengakuan dan lelah bersembunyi"
hati Meisya dan Kezia terenyuh.
*apa kaulah kau tahu apa yang mereka lakukan di gedung tua itu????" tanya Meisya ingin memastikan keterlibatan Simon di dalamnya
"tahu"
"mengapa mengapa kau membantu Sena melakukan kejahatan???" tanya Meisya
"kau tak akan mengerti alasanku yang menurut orang sesuatu yang klise.
tapi bagiku itu penting"
"tahukah kau perbuatanmu bisa saja terkena jerat hukum????" Simon tersenyum masam sambil mengangguk.
"Apa kau yakin setelah kau melakukan semuanya Sena wong akan melakukan permintaanmu????"
Simon menggeleng pelan.
Kezia dan Meisya saling tukar pandangan.
wajah keduanya rumit.
akhirnya mereka membiarkan Simon istirahat di ruangan itu tanpa memasukan kembali ke dalam sel.
entah ini keputusan benar atau salah, yang jelas mereka merasa iba sekalipun Simon tetap bersalah.
__ADS_1