
Pada sidang selanjutnya, Sherly kembali dimintai keterangan perihal kaitannya dengan kepergian Camila Li dan beberapa kasus yang diduga berkaitan dengan keluarganya.
Sherly mengakui semua kesalahannya. Ia menjawab semua pertanyaan yang di ajukan oleh jaksa penuntut tanpa ragu sedikitpun, kali ini senyum terukir di wajahnya.
Sherly sudah bertekad dalam hati, apapun resikonya, ,ia akan menerima dengan lapang dada.
ada kelegaan yang tak bisa di ungkapkan oleh Sherly, seolah ada batu besar yang berhasil terangkat.
Sherly tak perduli berapa lama masa tahanannya, ia ikhlas menjalankan semua untuk menebus segala kesalahannya, yang terpenting putranya tak membencinya lagi.
Berbeda dengan Ferdinan, pria itu terus menyangkal sehingga pihak pengadilan memutuskan sidang terpisah untuk kasus Ferdinan.
Setelah mendengarkan keterangan saksi dan bukti di lapangan, putusan hukuman Sherly keluar
Sherly yang selama sidang di nilai kooperatif, mengikuti peraturan pengadilan , maka Sherly hanya di kenakan lima bulan tambahan masa tahanan dalam kasus ini, karena ia tak terbukti bersalah secara langsung.
walau pun hukuman Sherly ringan, namun Sena tak terima.
setelah sidang bubar, Sena langsung mendatangi Charlie dan memaki Charlie dengan sumpah serapah.
"Dasar anak sialan, tahu kau menjerumuskan mamamu, aku tak akan mengizinkanmu dekat dengan putriku"
"Nenek, mama melakukan yang benar, bukankah seharusnya...."
"Tutup mulutmu bocah sialan, jangan pernah memanggilku nenekmu.
kau bukan cucuku!!!" Bentak Sena Wong murka menyela ucapan Charlie.
ia sangat membenci Charlie.
sejak kehadiran Charlie, Sena yang menaruh harapan tinggi pada Sherly kecewa, hingga Charlie lahir dan tumbuh besar, Sena tak pernah mengakui Charlie
ia hanya akan bersikap datar pada Charlie sekalipun sejak kecil Charlie mendapat prestasi yang membanggakan.
tak pernah sekalipun Sena memujinya, jangankan memujinya, menata Charlie saja ia enggan.
"Nyonya wong, sebaiknya kita tinggalkan tempat ini.
apa yang Charlie lakukan benar, jika saja nyonya wong junior tak melakukanya, entah berapa lama lagi ia akan mendapatkan masa hukuman.
Charlie om permisi.
mari nyonya tua" ucap si pengacara membimbing Sena pergi.
Sena melirik sinis ke arah Charlie lalu menuruti perkataan pengacaranya.
"Kau...
kau... huh" Sena menurut dibawa keluar oleh pengacaranya.
kini tinggal Alexi Carter dan Charlie yang masih terdiam duduk di tempatnya.
Alexi Carter menghela nafas geram.
ia tak pernah melihat seorang nenek sangat membenci cucunya sendiri.
ia sungguh merasa kasian pada Charlie.
Alexi bisa membayangkan bagaimana kehidupan Charlie saat muda.
sementara charlie masih menatap kepergian neneknya dengan wajah sedih.
"Mau minum kopi????
__ADS_1
sepertinya kita butuh sesuatu agar tetap waras" ucap Alexi Carter tersenyum
"Ide bagus papa mertua" ucap Charlie bangkit
"Ya, kita harus kompak sebagai mertua dan menantu" ucap Alexi Carter lalu keduanya berjalan beriringan meninggalkan tempat itu.
Sementara di sel tahanan ya, Sherly masih menyimpan senyum, senyum kebahagiaan.
ia memandang foto Charlie dan mengecupnya.
"Tunggu mama sayang. mama akan jalani hukuman mama dengan ikhlas" ucap Sherly lirih.
seminggu sudah berlalu,
Sejak itu pula Sherly membuka diri, ia belajar prihatin, berbaur dengan yang lain. walau berat, Sherly berusaha sabar dan. menikmati hukumannya.
awalnya memang sulit, banyak rintangan.
diawal ia sering mendapatkan ucapan ketus dari rekanan sesama tahanan atau cibiran.
namun Sherly menanggapinya dengan senyum.
Bahkan pentolan lapas pun akhirnya bisa menerima Sherly karena melihat Sherly yang awal masuk dan kini sangat berbeda jauh.
Sherly sudah berubah menjadi pribadi yang berbeda, bukan wanita kaya yang sombong lagi.
Sementara itu sidang khusus dengan materi gugatan pembunuhan, kekerasan sedang di gelar.
Duduk di kursi pesakitan Ferdinan yang terlihat kusut dan terlihat menyedihkan.
Karena kasus perencanaan pembunuhan Ini akhirnya merembet ke semuanya.
beberapa saksi yang tak terduga akhirnya muncul ke permukaan.
beberapa kejahatan yang pernah Ferdinand lakukan akhirnya terkuak.
mereka mencari keadilan .
dalam persidangan tersebut terungkap sebuah fakta jika Ferdinand pernah membunuh salah satu sekretarisnya yang menolak saat ia mengajak berhubungan badan.
walaupun saat itu bukti menunjukkan jika wanita itu bunuh diri.
namun pihak keluarga menemukan bukti yang mereka simpan dan kini mereka keluarkan.
bukti sebuah ancaman yang terdapat pada ponsel sekretaris itu.
intinya Ferdinand akan memecatnya dan membunuhnya jika wanita itu menolak.
dan juga curhatan hati si sekertaris dan beberapa foto tindak kekerasan berupa penganiayaan yang di lakukan oleh Ferdinan.
semua bukti itu cukup membawa Ferdinan untuk mendapatkan tambahan hukuman
rupanya Ferdinand memiliki kelainan seksual,
iya cenderung termotivasi saat melihat lawan jenisnya ketakutan.
Sherly tak pernah menyangka jika pria yang ia nikahi ternyata seorang psikopat.
Selama ini Ferdinan tak pernah menampakan kelainannya, ia selalu bersikap sewajarnya saja.
rupanya Ferdinan adalah pernah aktor kawakan yang pintar bersandiwara dan berperan sebagai pria normal dan ayah yang penyayang.
di balik sikapnya yang penurut, rupanya ia seorang yang sangat menyeramkan.
__ADS_1
Setelah menelusuri bukti maka pihak pengadilan mendapatkan kesimpulan bahwa sekretaris itu korban pembunuhan yang di lakukan Ferdinan.
anehnya bukti lain secara tak terduga muncul begitu saja saat sudah sedang berlangsung.
Dalam map tersebut terdapat beberapa bukti kejahatan Ferdinand lainnya, termasuk lokasi dimana mayat korban pembunuhan ya Ferdinan simpan.
Di balik jeruji besi, Sherly menangis
ia menangis bukan karena sedih Ferdinan terancam hukuman mati, tapi Sherly menangis meratapi kebodohannya.
ya ia tak pernah benar- benar mengenal Ferdinan.
Ia menikahi Ferdinan karena hanya dia yang saat itu terpikir oleh Sherly.
Sherly jadi bergidik ngeri sekaligus muak.
bagaimana ia bisa tak tahu selama ini????
Lalu Findy???....
ya Findy anak siapa?????
Sherly masih ingat saat itu Ferdinan mengatakan jika sepupunya melahirkan dan suaminya pergi.
apa Findy adalah anak Ferdinan???? entahlah.
Sherly akan mencari tahu nanti.
yang jelas ia sangat bersyukur, di balik musibah yang menimpanya, tuhan membuka matanya dengan lebar.
membuka takbir kelam rumah tangganya dan suami macam apa yang ia nikahi.
Dalam sidang itu pula terungkap bagaimana Ferdinand menghabisi rekan kerjanya.
itu ternyata bukan kejahatan pertamanya.
ia juga pernah membunuh papanya sendiri.
Ferdinan seorang monster mengerikan, ah bukan, dia seorang iblis dari dalam neraka yang paling dalam.
keji, jahat, sadis.
Charlie merasa hatinya panas saat Ferdinand Engan tenang menceritakan kronologis pembunuhan rekan kerjanya yang tak lain papa biologis Charlie.
pria malang itu ia masukkan ke dalam pondasi sebuah gedung yang tak lain adalah gedung perusahaan wong!!!!!
Berkat bukti itu pihak berwenang langsung menuju TKP dan mencari bukti, sedikit kendala karena harus memakan waktu hingga dua Minggu, akhirnya dengan bantuan beberapa pihak, bukti di temukan kerangka manusia.
sidang berlangsung beberapa kali hingga memakan waktu berbulan-bulan.
Bak seorang pembunuh profesional dalam sebuah komik, ceritanya sambung menyambung.
akhirnya pihak pengadilan sepakat menjatuhi Ferdinan dengan hukuman mati,
Ferdinan tertawa, dia tersenyum sinis menatap Chandra wong.
sebuah pernyataan meluncur bebas dari bibirnya
"Chandra wong mengapa kau masih diam saja.
bukankah kau seharusnya berada disini bersamaku,??? duduk di kursi pesakitan????"
Semua mata memandang ke arah Chandra wong membuat kakek tua itu gelagapan.
__ADS_1
ia tak pernah menyangka Ferdinan akan berkicau.
padahal sebelumnya......