
Charlie berhenti di depan sebuah mansion megah, tempat yang dulu ia tinggali bersama dengan Camilla, wanita yang sangat ia cintai.
Charlie menatap ke mansion dimana setiap sudut mansion tersebut di penuhi kenangan dan tawa istrinya, betapa bahagianya mereka.
Charlie kini menyadari betapa bodohnya ia tidak bisa melindungi istrinya dari keluarga besarnya.
Ia teringat kembali bagaimana perlakuan keluarga wong pada Camilla, namun wanita itu tak pernah mengeluh, ia menyembunyikan dukanya di belakang Charlie.
Tanpa sadar Charlie berjalan masuk.
Seorang sekuriti langsung membuka gerbang dengan ekspresi terkejut dan juga senang
"Tuan Wong junior"
"Hmmm" sahut Charlie berjalan masuk, namun kemudian ia berbalik badan
"Apa ada seseorang yang datang, maksudku istriku???" tanya Charlie menatap sekuriti tersebut penuh harap.
Charlie berharap jawaban baik yang ia dengar.
Namun harapannya pupus, ajah sekuriti itu justru terlihat bingung
"Maksud saya Camilla"
"Maaf tuan muda junior.
nyonya muda tidak pernah datang kembali"ucap sekuriti itu terlihat sedih.
Charlie menepuk bahu sekuriti itu.
Ia mengerti mengapa semua penghuni mansion itu sedih, karena mereka kehilangan sosok majikan yang sangat baik dan penyayang.
Camilla tak pernah memperlakukan para pekerja di mansion sebagai bawahan, mereka memperlakukan mereka layaknya keluarga.
Bahkan Camilla sering memberikan uang bonus dan juga terkadang barang-barang.
walau terkesan sepele namun sangat berarti bagi semua pekerja di mansion tersebut.
mereka menyayangi Camilla dan terpukul dengan kepergian ya.
Namun mereka juga senang akhirnya Camilla bisa mengambil keputusan yang mereka nilai tepat.
Pasalnya bukan rahasia umum jika keluarga wong sangat membenci Camilla dan memperlakukan Camilla dengan sangat tak manusiawi.
setidaknya Camilla bisa lepas dari keluarga durjana itu.
"Masukkan mobilku, aku ingin jalan-jalan" ucap Charlie menyerahkan kunci mobilnya dan berjalan masuk ke dalam mansion.
Tak berbeda dengan sekuriti, para pelayan pun tak kalah terkejutnya.
Sudah empat tahun Charlie meninggalkan mansion itu dan memilih tinggal di apartemen karena ia tak kuat tinggal di mansion itu.
bayangan Camilla tersenyum dan tertawa menyiksanya.
"Tu...tuan wong junior????"
"Ah bi Suli, apa kabar???" tanya Charlie
"Baik tuan" jawab wanita paruh baya yang menggantikan Helen.
setahun lima bulan setelah Camilla pergi banyak yang mengundurkan diri termasuk Helen.
Hanya menyisakan bi Suli dan dua orang pelayan yang bertugas membersihkan mansion besar itu.
"Tuan, ada keperluan apa, eh maksud bibi tuan sudah makan belum??"
"Belum bi, bisa saya dapat makan malam saya bi???"
"Tuan mau menginap disini????
Baik tuan bibi siapkan"
"Panggil saya di kamar ya bi"
"Baik tuan, baik" ucap bi Suli senang.
Charlie berjalan menuju kamar utama, membuka pintu kamar itu dengan berat hati.
__ADS_1
Hatinya terasa nyeri
"Sayang, aku pulang" ucap Charlie lirih
di tempatnya bis Suli meneteskan air mata.
ia tahu kepedihan yang di rasakan Charlie.
pria itu sangat mencintai istrinya.
walaupun berita di luar mengatakan charlie bertunangan dan akan menikah dengan Jennie, Suli yakin pasti semua karena tekanan dari tuan Wong sepuh. dan juga papa Charlie.
Charlie menatap kamar tersebut, masih seperti dulu,p tak ada yang berubah.
Charlie memang meminta semua orang jangan pernah merubah isi rumah ini, terutama Kamar utama.
Kamar dimana menendang banyak kenangan bagi Charlie.
Charlie membuka lemari pakaian, menyentuhnya satu persatu.
Ia mengambil salah satu pakaian favorit Camilla, memeluknya dan menciumnya.
Masih bisa Charlie rasakan aroma tubuh Camilla.
tanpa terasa air mata Charlie lolos membasahi pipinya
"Sayang, aku sangat merindukanmu.
Apakah kamu juga merindukanku???" bisik Charlie lirih.
ia meletakkan kembali pakaiannya.
Matanya tertarik pada sebuah koper kecil di dalam lemari.
Ia membukanya dan melihat beberapa potong pakaian Camilla.
Sebelumny ia tak pernah memperhatikan itu.
"Jadi kau pergi tanpa membawa pakaianmu sayang?" tanya Charlie
matanya kembali tertuju pada benda diatas meja rias.
"Mengapa kau kejam sekali meninggalkanku membawa anak kita bersamamu?" Charlie jatuh terduduk.
namun alisnya berkerut melihat figura foto di pojok ruangan terlihat miring.
Charlie berjalan mendekat.
di balik dinding itu terdapat ruangan rahasia yang hanya Camilla dan dirinya yang tahu.
Charlie menekan tombol ruang rahasia dan terbukalah.
Bau pengap langsung menyeruak.
Berdebu dan nampak sudah banyak sarang laba-laba.
Charlie makin dibuat heran.
Ia menduga Camilla pergi dengan membawa setidaknya beberapa perhiasan untuk bekalnya, namun semuanya tetap pada tempatnya.
Dengan penasaran Charlie membuka brankas uang, ia masukin di but terbengong.
semuanya masih utuh.
emas batangan, uang dollar, semua utuh tak berkurang sedikitpun dan...
"Astaga, kartu ATM.
Kartu ATM Camilla dan ATM masa depan kami.
Mengapa ia tak membawanya???
Pantas saja mereka tak bisa melacak keberadaannya karena ternyata ATM itu berada di sini.
Charlie makin frustasi
ia meremas rambutnya.
__ADS_1
"Bagaimana kamu bisa bertahan di luaran sana bersama anak kita sayang, ya tuhan suami macam apa aku"Charlie menangis memegangi dadanya yang terasa sakit.
di saat ia makan dan tidur nyenyak, bagaimana dengan Camilla.
Rasa bersalah membuat Charlie sulit bernafas.
Saat Charlie ingi kembali meletakkan kartu atm-nya, sesuatu jatuh
Brakk....
Sebuah kotak perhiasan jatuh dan terbuka.
Selembar kertas menyeruak keluar
"Ya Tuhan, perhiasan anniversary kami, apa ini???"
Charlie mengambil selembar kertas itu dan membacanya
...Dear suamiku tercinta...
Maafkan aku harus pergi, bukan berati cintaku padamu sudah pudar,
Aku terpaksa pergi demi masa depan anak dalam kandunganku, anak kita lie.
Harusnya ini merupakan hari yang paling membahagiakan dalam hidup kita, setelah penentuan panjang selama empat tahun akhirnya Tuhan meniupkan roh dalam rahimku, buah cinta kita.
Maafkan ku yang egois meninggalkanmu, aku tak mau nyawa anak ini terancam. aku ingin dia lahir ke dunia walau nyawaku taruhanya.
Namun jika aku bertahan disini, aku khawatir dia tak akan bisa melihat dunia.
Maafkan aku tak bisa bertahan mengahadapi kedua orangtuaku dan keluarga besar mu.
aku hanya ingin anak kita selamat.
aku mencintaimu dan sangat mencintaimu
Camilla
Charlie jatuh terduduk.
betapa bodohnya ia tak mengetahui pesan ini lebih awal.
Keselamatan anak mereka.
Jelas Camilla pergi karena.....
Charlie kembali mengingat kejadian saat itu.
Camilla pergi tak lama setelah mama dan papanya datang, apa....
Rahang Charlie mengeras dengan tangan terkepal.
Ia menyimpulkan sesuatu.
"Pasti Camilla mendengar sesuatu yang mengancam dirinya dan anak kami.
Sial.....
mengapa aku punya ornagtua seperti Mereke!!!!!!!"
Charlie menendang pintu hingga terdengar suara kencang membuat bi suli terkejut dan berlari ke kamar majikanya
"Tuan muda....."
"Katakan, katakan padaku.
Apa diantara kalian ada yang melihat istriku sebelum ia pergi????
"Anu tuan, nyonya muda menangis setelah papa dan mama serta adik anda pergi" ucap salah seorang pelayan
"Aaaaarrrrgggghhhhhjh........"
Charlie berteriak penuh emosi.
ia tak pernah menyangka mama dan papanya sejahat itu.
Bi Suli dan dua pelayan menjadi ketakutan melihat tingkah laku majikanya.
__ADS_1
Tanpa berkata apapun Charlie langsung pergi, Bi Suli tak berani menghalangi tau bertanya.
wajah Charlie terlihat sangat marah, menyeramkan dengan mata yang memerah