
Walau mereka keberatan gadis kecil itu ikut dalam misi mereka, akhirnya mereka kembali ke tempat itu.
alexa, Charlie, dan Alexi memilih duduk di sebuah restoran sederhana yang letaknya tak jauh dari markas Sena.
Alexi langsung membuka laptopnya, begitu juga Charlie, keduanya mulai mencoba lagi meretas sistem keamanan tempat tersebut.
"Di dalam sana ada pintu baja, "
"Dari mana kau tahu sayang??" tanya Charlie pada putrinya
"Hei pa, aku kan sudah mengatakan jika robotku menyusup kesana dan menemukan pintu itu. aku akan mencoba lagi, dan memperlakukan kapan pintu itu di buka" ucap Alexa langsung melepaskan cicak nya.
robot tersebut bukan berjalan, tapi di angkat oleh robot burung dan di lempar ke atap bangunan tersebut
"Tadinya aku berfikir kau akan melepaskan begitu saja" ucap harlie nyengir
"Yang ada belum sampai tujuan, robot cicak ku jadi cicak geprek"
"Hiaaccxhhhh" jijik sekali membayangkan"
"hahaha memang gadis kecilku yang menggemaskan" ucap Charlie mencium pipi gembil Alexa
"cih" Alexi membuang pandanganya ke arah lain
"Apa kau iri kak???
papa cium Alexi juga"
"Bosan hidup" ucap Alexi dengan wajah ngeri membuat Charlie dan Alexa tertawa terbahak-bahak
Carter sengaja tidak ikut, ia ingin membiasakan kedua cucunya berinteraksi dengan Charlie, khususnya Alexi biar pria kecil angkuh itu luluh.
Alexi melirik sekilas pada adiknya yang sedang asik bercengkrama dengan papa biologis mereka.
Charlie bahkan berkali-kali mencium pipi Alexa dengan penuh kasih sayang, mengelus rambut panjang bergelombang Alexa.
semua Taj luput dari pandangan Alexi.
tanpa sadar ia tersenyum, senyum yang hampir Tan terlihat.
sebenarnya ia juga ingin di peluk, namun ia terlalu malu mengakui.
tanpa Alexi tahu, sebenarnya Alexa menangkap kelakuan kakaknya, senyum jahit terpasang di wajah gadis kecil itu.
ia lalu membuka laptop berwarna pink dengan stiker hello Kitty di depannya.
bahkan ia memakai hand free pink dimana ada kuping kecil bernama pink diatas rambutnya.
"kemana papa payah itu???" tanya Alexi
"Apa kau rindu papa kak???" ledek Alexa
"Lupakan, aku tidak bertanya" gerutu Alexi menyesal bertanya pada adiknya yang ember itu
"bilang saja kalau rindu, jangan di pendam hahaha"
"Berisik"
"Lagi mau sampai kapan kau membenci papa sih kak???
setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua,
__ADS_1
Tuhan saja maha pemaaf, kau hanya hambanya saja sombong sekali tak mau memaafkan papa.
lagi pula semua bukan murni kesalahan papa, dan papa tidak berpangku tangan, papa berusaha mencarinya dan mama...
kak... buang semua kebencianmu, cobalah ikuti kata hatimu, aku tahu kau merindukan papa" ucap Alexa, Alexi hanya diam menatap saudari kembarnya.
ucapan Alexa seolah menikam langsung ke jantungnya, pelan tapi berdampak besar.
Alexi menatap ke sudut dimana Charlie sedang memesan cemilan untuk Alexi.
Charlie berbalik badan seolah tahu sedang ada yang memperhatikannya,ia melambai sambil tersenyum lebar.
Alexi buru-buru menundukkan kepala gugup kedapatan menatap Charlie.
"Aku ingin berterus terang padamu kak.
aku ingin papa kembali pada kita.
aku mendukung papa sekalipun kau tak suka.
kau bisa memusuhi ku tapi tidak papa.
jangan sampai penyesalan itu datang belakangan" ucap Alexi menghentikan ucapannya saat Charlie datang dengan tiga gelas minuman dan beberapa cemilan. Rupanya Charlie membelikan minuman dan juga cemilan kesukaan Alexi membuat Alexi mendongak menatap Charlie lalu kembali menatap laptopnya
"Terima kasih ...pa" ucap Alexi canggung tak berani menatap wajah Charlie.
"Sama...sama.." ucap Charlie tergagap. tap bisa terbang akan betapa bahagianya pria itu.
ingin sekali Charlie memeluk Alexi, namun intan mau gegabah. Charlie tak ingin Alexi malah justru menjauh lagi jika ia tergesa-gesa.
Charlie menoleh pada putrinya yang di balas kedipan mata Alexa
"Aku yakin ini semua atas bantuan Alexa.
Charlie membalas kedipan pada pada Alexa kemudian kembali duduk di tengah-tengah anaknya.
ketiga orang beda generasi itu kembali sibuk dengan laptop mereka masing-masing.
"Sialan" maki Alexi kesal"
"Jangan menyerah nak, papa tahu kamu bisa" ucap Charlie menyemangati Alexi. Alexi tanpa sadar mengangguk
Alexa melirik sekilas dan tersenyum
"Baiklah kakakku yang baik, sepertinya kau butuh bantuan adikmu yang jenius ini" kekeh Alexi lalu membantu Alexa meretas.
hanya setengah jam Alexa sudah bisa menjebol sistem keamanan mereka
"Bingo, sekarang menunggu kakak payah ini pergi.
tapi bagaimana caranya ya??????" gumam Alexa memutar otaknya.
hanya beberapa detik, senyum Alexa kembali mengembang
"Om Rey bantu keponakanmu yng cantik ini" ucap Alexa dalam hati.
ia lalu mengirim chat dari laptopnya kepada Reymond, tak lama kemudian terlihat ponsel Alexi berdering.
namun sudah dua kali deringan Alexi tak berniat mengangkatnya.
ia hanya melirik malas ke arah ponselnya dan kembali mengabaikannya
__ADS_1
"Sial, dasar kakak aneh" gerutu Alexa dalam hati
ponsel Alexi kembali berdering
" berisik sekali, angkat apa" ucap Alexa pura-pura terganggu
"Ckkk" Alexali mengangkatnya, namun terdengar dia halo, halo lalu mematikan ponselnya lagi
Ponsel Alexi kembali berdering, Alexi kembali mengangkatnya. namun seperti nya sinyal Reymond tidak bagus.alexa menyeringai licik, om Reymond memang bisa diandalkan.
"Kak sungguh kau sangat menganggu, cari sinyal sana, berisik" ucap Alexa kesal
"Ahhhh baik lah" ucap Alexi berjalan menjauh dari mereka.
"Pa, aku minta tolong..." ucap Alexi dengan wajah memelas"
"Apa sayang???"
"Aku mau ditambah double cheese di burger ku, please" ucap Alexa memasang wajah memelas, Charlie tertawa kecil lalu mengelus puncak kepala putrinya
"Apapun yang kau inginkan, papa akan kabulkan sayang.
tunggu ya princess cantikku, papa akan kembali" ucap Charlie bangkit dan berjalan
"Ok tinggal menyambungkan koneksi ini.
jika bukan karena aku ingin papa memujimu dan hubungan kalian lancar, aku gak mau bantu kau kak" ucap Alexa cekikikan. setelah itu Alexa langsung mengetikan sesuatu, tak lama kemudian ia mencabut kabelnya tepat sebelum Alexi kembali ke meja mereka.
Alexa kembali membuka permainan game nya di laptop, kakinya sengaja ia ayun-ayunkan seperti anak kecil yang bahagia sedang main game kesukaannya.
tak ada yang terlihat aneh dia seperti gadis kecil pada umumnya, namun otaknya.....
Alexi kembali sambil ngedumel, begitu juga Charlie yang sudah kembali dengan senyum lebar sambil membawa burger di tangannya
"Sayang ini bertemu, habiskan ya? keju baik untuk pertumbuhannya" ucap Charlie meletakkan burger yang bawanya.
"Terima kasih papa"
"Dasar rakus, kau akan melembut sempurna seperti valin, memakan makanan tidak sehat" ucap Alexi
"Aku penyuka makan kak, aku tak mau menyiksa diri dengan makan seperti kambing" sindir Alexa melirik ke arah salad di depan Alexi
hampir saja Charlie ingin tertawa mendengar ucapan Alexa, namun ia tahan. bahaya jika Alexi liat ia tertawa, bisa-bisa Alexi kembali menutup diri untuknya.
Sementara di warung Indomie depan markas , Ryan, Reymond sedang mempelajari situasi, keduanya berpakaian gaya anak muda pasar.
lalu masuklah dua orang yang terlihat keluar dari gedung yang mereka intai. keduanya mengangguk bersiap menajamkan pendengaran mereka.
"Ah sungguh kejam dokter itu" ucap seorang pria bertubuh kurus
"Kenapa???? kau kasihan??? dia cuma robot" ucap pria bertubuh gendut
"Tetap saja, aku jadi teringat putriku, walau dia robot, tapi seperti anak usia tujuh tahun.
kaki dan tangan di amputasi ah..."
"Pelan kan suaramu, apa kau mau mati??" ucap pria bertubuh gendut membekap rekannya.
"Aku... aku ingin menyelamatkan gadis robot itu" ucap pria itu lirih
"Kau gila!!?!.bosan hidup!!!!
__ADS_1
kita cuma kecoa yang bisa di injak dengan mudah,
bro kita sudah berteman sejak kecil, aku anggap aku tak mendengar ucapan mu!!!!!"